
Langit siang hari masih sama seperti beberapa hari terakhir. Biru. Terang. Jernih. Serupa laut. Namun tak ada ombak.
Saat seseorang yang serupa dalam mimpinya itu datang, Celine sedang berada di halaman bangunan putih itu seperti biasa. Wajahnya terlihat lebih segar dari pada saat dia datang sebelumnya. Tapi matanya masih tak berubah. Terlihat kosong.
"Celine." Lisle datang siang itu setelah dokter memastikan cedera di kakinya telah pulih sempurna. Dia pergi sendiri.
Gadis yang dipanggil Celine menoleh. Suara itu terdengar tidak asing tapi sangat jauh. Ada keterkejutan yang berulang seperti saat lelaki muda tempo hari mengunjunginya. Kenapa dia tidak bisa mengingat mereka sementara mereka mengingatnya? Adakah mereka pernah bertemu dalam kehidupan sebelumnya?
Lisle bergegas mendekati gadis yang sedang duduk di bangku taman itu. Kenangan beberapa bulan sebelumnya melintas. Mereka kerap bertemu di belakang kampus dan menghabiskan sedikit waktu di bangku taman.
"Celine? Kau baik-baik saja?" Kebisuan Celine membuat Lisle mengejarnya dengan tanya berikutnya. Tatapan Celine yang asing menghentikan langkahnya.
Celine mendongak pada gadis cantik dengan terusan putih yang membuatnya tampak seperti peri itu. Ada latar langit dan segumpal awan putih di belakangnya. Celine terpana. Dia seperti pernah melihatnya.
"Siapa kau? Apa kau seorang peri?" tanya Celine terpesona.
Airmuka Lisle mendadak berubah. Semula dia merasa ada yang salah saat mobil yang mengantarnya berhenti di depan bangunan putih berlabel rumah sakit jiwa White Rose. Dia masih berpikir mungkin Celine hanya sedikit terguncang karena beberapa kejadian terakhir.
Tapi Celine tampaknya tidak hanya terguncang. Dia bahkan melupakan Lisle.
"Celine, kau… tidak mengingatku? Aku Lisle, sahabatmu. Apa kau lupa?" Lisle duduk di sebelah Celine dan meraih tangan gadis itu.
Tampak Celine memiringkan wajahnya. Dia berusaha mengais-ngais ingatan dalam kenangannya. Semuanya putih seperti kertas kosong.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Celine dengan wajah ingin tahu.
"Tentu saja. Kita teman satu apartemen." Lisle merasa tenggorokannya tersekat. Bagaimana Celine bisa menjadi seperti ini? Adakah tebakannya benar bahwa Celine menyukai Steve, saudaranya?
"Benarkah? Tapi aku tinggal di sini. Bagaimana kita bisa menjadi teman satu apartemen?" Celine terlihat berpikir keras. Lalu kepalanya mendadak sakit. Dia menyentuh keningnya dan memijit.
"Dulu kita tinggal di apartemen yang sama. Kita juga kuliah di kampus yang sama." Lisle kembali mencoba mengingatkan.
__ADS_1
Celine tidak lagi menanggapi. Dia mengembalikan tatapannya ke langit di atas sana. Bibirnya bergerak-gerak tapi tak ada satu kata pun yang keluar dari sana.
"Celine, ini pasti hanya amnesia sementara. Aku yakin sebentar lagi kau akan mengingat lagi semuanya. Saat itu kita bisa kembali lagi seperti dulu." Lisle menyusut sudut matanya yang nyaris menjatuhkan tetes bening.
Diangsurkannya sebuah tas kertas dengan kotak-kotak makan di dalamnya. "Aku membawakan makanan kesukaanmu. Makan yang banyak. Aku akan datang lagi ke sini. Katakan saja kalau kau ingin sesuatu." Suara Lisle bergetar.
Celine tidak bereaksi dengan perkataan Lisle. Dia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.
Lalu terlihat oleh Lisle gelang pemberiannya. Gelang itu masih terpasang di pergelangan kanan Celine.
"Apa kau ingat darimana kau mendapatkan gelang ini?" ujar Lisle sambil menyentuh gelang warna-warni di lengan Celine. Dia berharap Celine bsa mengingat sedikit saja.
Celine kini menoleh pada gelang di tangannya. Melihatnya seperti baru pertama kali menyadari keberadaan benda itu. Dia mengangkat lengannya, mendekatkan gelang itu ke depan wajahnya. "Ini… aku tidak tahu."
Ada juga selintas kenangan dalam putih ingatannya, tapi kenangan itu hanya berupa bayangan samar. Transparan. Selebihnya, dia tidak mengingat apapun.
Namun ada sudut hatinya yang mencair.
"Apa itu gelang yang sama?" tanyanya keheranan.
Lisle mengangguk kuat-kuat. Dia mendekatkan lengan yang memakai gelang itu pada Celine. "Bukankah ini sangat mirip? Ini menandakan persahabatan kita."
Ada kelip cahaya di mata kosong itu. Hanya sedetik. Setelahnya, nyala itu padam.
"Hebat," komentar Celine tapi terdengar tawar. "Apa kau yang memberikannya padaku?"
Lagi-lagi Lisle mengangguk. Tapi setelah beberapa saat tak mendapatkan reaksi yang lebih baik dari Celine, Lisle merasa kecewa. Setelah sejenak mengamati gelang di tangannya sembari memainkannya, akhirnya Lisle bangkit dari duduknya.
"Baiklah. Aku benar-benar harus pergi sekarang." Lisle menatap Celine sejenak. Gadis di depannya tak menyahut. Lisle berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu.
Adakah penolakan Steve yang sudah menghancurkan Celine? Ataukah kehilangan ibunya yang membuatnya begitu terguncang?
__ADS_1
Lisle terus memikirkannya sepanjang perjalanan di mobil.
Steve telah mengakui bahwa dia menjaga jarak dengan Celine karena meyakini bahwa gadis itu memiliki sebuah perasaan yang lain padanya.
"Kau tidak menyukainya? Celine gadis yang baik?" Lisle kecewa mendengar penolakan dalam kata-kata asisten suaminya sekaligus saudara laki-lakinya itu.
"Aku menyukainya sebagai seorang teman." Steve memandang pada deretan pohon palm di kejauhan.
Mereka tengah berada di beranda belkaang Palm Garden. Lisle menuntut Steve bercerita tentang semua yang terjadi pada Celine selama dia berada di pulau. Tempo hari saat Kennard memberitahu hasil tes yang menunjukkan hubungan persaudaraan antara dia dan Steve, saudaranya tidak sempat bercerita apa-apa. Setiap melihat pada Kennard, sepertinya Steve siap menghilang dari hadapan Lisle.
"Maaf," sambung Steve dengan sikap hormat. Dia tampak belum bisa menyesuaikan diri dengan hubungan persaudaraan di antara mereka. "Maaf jika tak sesuai harapanmu."
Lisle mendesah. Dia memang kecewa tapi tak bisa berbuat apa-apa. Awalnya dia memang berharap Celine dan Steve bisa menjadi pasangan. Cinta memang tak bisa dipaksakan sebagaimana cinta juga tak bisa dihindari jika dia sudah tiba.
"Apa kau mengatakan sesuatu padanya?" tanya Lisle. Barangkali saja ada perkataan Steve yang membuat Celine terluka.
"Aku tidak mengatakan apapun padanya. Aku pikir dengan menghindarinya itu lebih baik. Tak perlu mengatakan apapun. Aku tak mengira jika kejadiannya bisa seperti ini." Steve tampak ikut menyesal.
Lalu saat Steve hendak pulang, Lisle menanyakan juga sesuatu yang membuatnya penasaran. "Steve, apa kau memiliki seseorang yang kamu sukai?"
Steve menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Lisle dengan enggan. Dia tahu kesulitan tuannya menghadapi adiknya ini. Sekarang dia pun harus merasakan hal yang sama. Lisle takkan berhenti mencecarnya dengan pertanyaan jika dia merasa penasaran.
Lelaki itu menghela napas. Berat. Selama ini tak ada yang pernah mencoba menggali rahasianya. Bahkan tuan Kent juga tampak tidak peduli. Tentang hubungannya dengan Lisle terungkap hanya karena gadis itu memintanya. Hanya karena gadis itu adalah istrinya, tuan Kent peduli dan menyuruh orang untuk menyelidiki.
"Kakak, apa kau sudah memiliki seseorang di hatimu?" ulang Lisle. Kini dia mengubah panggilannya.
Steve tampak ragu sejenak untuk menjawab. Akhirnya dia hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi. Dia khawatir Lisle akan mengejarnya dengan pertanyaan baru.
Tapi harapannya tidak terkabul. Mata Lisle sudah melebar demi mendapatkan jawaban itu.
"Siapa?" kejar Lisle. Entah bagaimana gadis itu sudah berada di dekat Steve dan menarik-narik tangan lelaki itu sebagai bentuk rasa penasarannya.
__ADS_1
Steve merasa kepalanya sakit tiba-tiba.