
Kennard melangkah mendekat. Lisle tanpa sadar mundur beberapa jejak. Lelaki itu mengerutkan alis melihat tingkah Lisle. Apa-apan ini? Takut pada penolongnya sendiri?
“Kau kenapa?” Daisy yang bicara. Dia heran Lisle seperti menghindari lelaki yang baru saja menyelamatkan hidup mereka. Lagipula bukankah mereka adalah sepasang kekasih?
“Eh, tidak apa-apa.... Daisy, ayo....!” Lisle malah menggamit lengan Daisy mengajaknya pergi dari sana, mengabaikan penolong mereka.
Tapi Daisy bergeming. Dia tidak mengindahkan ajakan Lisle. Rasanya benar-benar tidak sopan berlalu begitu saja tanpa sepotong ucapan terima kasih. Dia tak mengerti kenapa Lisle bisa sekonyol itu.
“Tuan, terima kasih sudah menolong kami. Kalau saja kalian tidak ada, mungkin besok nama kami akan muncul di berita kriminal pagi....” Daisy mengulas sebuah senyum ke arah malaikat penyelamat itu. Dia sedikit jengkel dengan sikap Lisle yang hendak main beranjak saja.
Kennard hanya menanggapi ucapan Daisy dengan datar. Pandangannya masih tertuju pada Lisle yang berdiri agak di belakang Daisy. Dengan langkah cepat dia mendekati Lisle yang seperti mau kabur dan meraih tangan gadis itu.
“Ayo, kuantar kalian pulang!” Lalu ditariknya tangan Lisle agar mengikutinya. Gadis itu terpaksa mengiring dengan langkah enggan. Hampir seperti diseret. Wajahnya tampak memelas ketika melihat pada Daisy.
Steve hanya memperhatikan adegan itu dengan perasaan geli. Akhirnya ada juga gadis yang membuat tuannya sedikit berusaha untuk mendapatkan. Karena selama ini tuannya lah yang kerap dikejar bukannya mengejar.
“Nona, mari biar kami antar.” Steve memberi isyarat pada Daisy agar ikut bersama mereka.
Daisy masih terbengong-bengong melihat bagaimana Lisle yang sesekali berupaya menarik tangannya dari genggaman makhluk tampan di sana. Sebuah pemandangan janggal sekaligus lucu.
Benar-benar gadis tak tahu diuntung! Daisy menggerutu sendiri dalam hati. Dia saja merasa sangat iri. Bagaimana bisa gadis itu terlihat sangat tidak menyukainya. Apa mereka pasangan yang sedang bertengkar?
Lisle duduk berjarak dengan Kennard di bagian belakang mobil. Pandangannya hanya terpaku pada jalanan di luar sana. Kennard tadi melakukan sebuah panggilan pada ponselnya sebentar kemudian menatap lurus ke depan. Daisy duduk di bagian muka. Sesekali matanya melirik ke belakang lewat kaca spion. Tadi Steve menanyakan alamatnya agar bisa mengantar Daisy lebih dulu.
__ADS_1
Tak ada yang berbicara hingga Daisy turun dari mobil. Dia melambai pada Lisle di tempat duduknya. Tiba-tiba Lisle mendorong pintu mobil dan hendak ikut turun di sana.
“Aku turun di sini saja....” Dia memberitahu pada entah siapa. Tapi sebelah tangannya yang lain telah ditahan.
“Untuk apa turun di sini. Sudah malam. Langsung pulang ke tempatmu saja.” Itu tampak menyerupai sebuah perintah bukan sebuah anjuran. Kennard menutup lagi pintu mobil. Sementara di luar Daisy sempat kebingungan. Dia tak ingin terlibat pertengkaran sepasang kekasih itu.
Setelah melambai sekilas, mobil itu bergerak meninggalkan Daisy yang kepalanya dipenuhi tanya. Dia sebenarnya merasa tidak asing dengan malaikat penolong tadi. Kemudian teringat olehnya Steve yang sempat memanggil dengan sebutan ‘tuan Kent’. Adakah dia lelaki yang namanya begitu enggan disebut orang-orang?
Lisle menyentakkan tangannya dari pegangan lelaki yang sudah menyelamatkannya. Dia membeku di tempat duduknya sambil matanya memandang ke luar jendela. Sesungguhnya dia takut dengan Kennard. Laki-laki ini sudah menciumnya sembarangan hingga menimbulkan perasaan malu yang berkepanjangan. Apalagi dia terus-menerus meyakinkan akan adanya hubungan di antara mereka. Bagaimana mungkin mereka berpacaran. Bertemu pun baru dua kali ini.
Kennard mengawasi Lisle yang terus memalingkan muka darinya. Presdir Diamond Group itu sangat gemas. Sejak pertemuan di kelab dia jadi terus memikirkan gadis ini dan merindukannya, membayangkan pertemuan berikut yang lebih baik. Tapi hari ini justru lebih buruk dari malam itu. Setidaknya waktu itu dia bisa menyentuh gadis ini secara nyata bahkan menciumnya. Malam ini gadis itu bahkan menyembunyikan wajahnya.
“Kita makan malam dulu,” ujar Kennard tiba-tiba. Dia tadi membatalkan untuk menghadiri makan malam dengan beberapa rekan bisnisnya.
“Grand Diamond.” Kennard menyahut cepat. Itu hanya sebuah rangkaian bisnis kecil namun ekslusive dari Diamond Grup. Restoran yang hanya menyediakan sepuluh meja. Antrian daftar tunggunya sangat panjang. Orang-orang harus memesan sebulan lebih dulu untuk bisa menikmati layanan restoran ini.
“Baik, Tuan,” sahut sang asisten.
Tentu saja tiba-tiba menginginkan makan malam di Grand Diamond bukanlah sebuah masalah bagi tuannya. Sebagai pemilik, dia memiliki ruangan pribadi sendiri di lantai dua yang bisa didatangi sesuka hati
“Tidak perlu. Aku... aku langsung pulang saja....” Lisle menolak dengan terbata. Dia hanya tidak ingin terlalu lama berinteraksi dengan sosok menawan ini. Sekarang dia merasa Kennard telah berubah menjadi semacam malaikat pelindungnya. Dia tidak ingin keterusan bergantung pada seseorang yang baru dikenalnya.
“Apa tidak ingin sekali pun berterima kasih?” Kennard masih menatap lurus ke jalanan di depan. Dia tahu hanya dengan sedikit memandangnya, gadis itu akan semakin tidak nyaman.
__ADS_1
Tanpa sadar Lisle menoleh bersamaan dengan Kennard yang juga berpaling ke arah gadis itu. Mata mereka bersitatap sejenak. Lisle yang buru-buru menarik pandang. Jantungnya seperti menghentak riuh seketika.
“Itu... terima kasih sudah mau menolong....” Terima kasih banyak, dia meneruskan dalam hati dengan tulus. Suaranya sangat pelan. Kepalanya tertunduk pada tangannya yang bertaut di pangkuan.
“Aku tidak dengar. Kau mau mengatakan apa?” Tiba-tiba saja Kennard bermaksud menggoda. Gadis ini tidak seperti yang lainnya yang akan menatapnya dengan pandangan tergila-gila. Lisle justru lebih sering mengalihkan pandang. Bukannya menampakkan rasa terpesona di matanya, Kennard malah melihat ketakutan yang nyata. Apa wajahnya tampak mengerikan di mata nona peri?
“Maaf.... Terima kasih sudah menolong kami....” Kali ini Lisle menaikkan volume suaranya sedikit. Tetap saja menyerupai bisikan yang menggemaskan bagi Kennard.
“Kau mau minta maaf atau berterima kasih?” Kennard masih belum berhenti dengan godaannya. Senyumnya membayang di bibir yang tampak menawan itu. Tapi kali ini dia tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan ekspresi gadis di sampingnya.
“Tuan!” Lisle menoleh kesal.
“Hm?”
Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Kulit wajah Lisle yang semula putih kini memerah. Kembali dia hendak memalingkan muka namun sebuah telapak tangan yang besar menahan sisi wajahnya membuatnya tengadah.
“Kau takut padaku?” tanya Kennard hati-hati. Dia tak ingin gadis ini tiba-tiba memberontak.
Mata Lisle terkunci pada manik gelap di depannya. Rasanya seperti tenggelam pada sebuah lubang tak berdasar. Pahatan rupa menawan di depannya begitu sempurna. Tanpa disadari dia menelan ludah.
“Tidak....”jawabnya pasti. Mata berliannya nyaris tak berkedip. Entah dari mana keberanian itu datang. Padahal beberapa saat sebelumnya Lisle masih berupaya kabur dari hadapan lelaki ini.
Terdengar gumaman tak jelas ketika lelaki itu menarik Lisle lebih dekat dan menunduk untuk menciumnya. Selalu akal sehatnya tak bisa dikendalikan. Dia benar-benar menyukai gadis ini dengan alasan yang tidak dimengerti. Karenanya dia sudah memperlakukannya berjanji untuk dengan hati-hati agar tak makin membuat gadis ini berusaha lari. Tapi melihat muka polos yang semula dipenuhi ketakutan itu mendadak dihiasi kilasan rasa terpesona yang jelas, Kennard akhirnya kalah. Rasanya dia ingin memakannya segera. Melahap habis tanpa sisa.
__ADS_1