
“Kau dimana?” Kennard menelpon Lisle dalam perjalanan pulang. Hari ini dia kembali ke Palm Garden lebih awal. Steve telah mmeberitahunya tentang kepergian Lisle dari rumah.
“Aku di apartemenku yang dulu....” Lisle merasa takut mendengar nada bicara Kennard yang seperti itu. Meski tak terlalu lama bersamanya, Lisle dapat mengenali amarah dalam suara itu.
“Kembali ke sini. Aku akan menyuruh Steve menjemputmu.”
Saat itu mobil yang dikemudikan Steve telah tiba di pekarangan rumah. Kennard turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah sambil masih berbicara di ponselnya.
“Aku tidak mau. Kesepakatan itu tidak berarti apa-apa. Kau berbohong padaku. Aku tidak berhutang apa pun padamu.” Lisle membantah perintah Kennard.
“Benarkah? Kau tidak berhutang apa pun padaku?” Kennard memasuki kamarnya dan merasa kemarahannya semakin menjadi begitu melihat ponsel dan kartu pemberiannya yang diletakkan di meja. Sedikit barang-barang gadis itu juga tidak ada yang tersisa.
“Apa... apa maksudmu?” Lisle tergagap dalam perasaan tidak enak.
“Kau tahu maksudku.” Kennard bertolak pinggang di dekat jendela besar dan memandang jauh keluar.
“Itu.... Itu yang kau maksud tidak ada dalam kesepakatan....” Lisle teringat kalau Kennard telah menyelamatkannya berkali-kali. Dia tahu tidak akan pernah bisa membayar hutang ini sampai kapan pun, tapi tindakan Kennard yang telah memaksanya menandatangani kesepakatan bodoh itu benar-benar tidak bisa dia terima. Dia merasa sangat konyol tidak bisa menolak setiap ciuman dan sentuhan laki-laki itu hanya karena merasa telah dimiliki. Untungnya dia belum kehilangan kesuciannya.
“Tetap saja itu sebuah hutang. Jadi berhenti membantah dan kembali ke sini!” Kennard mengeraskan suaranya.
Jantung Lisle serasa hendak melompat keluar waktu mendengar nada memerintah itu. Kennard tak pernah berbicara keras padanya. Selama ini laki-laki itu cenderung memperlakukannya dengan lembut.
“Kau memang menyelamatkanku dan aku berterimakasih karenanya. Kalau kau anggap itu sebuah hutang yang harus kubayar, aku menolaknya. Aku tidak memintanya. Aku tidak meminta kau menolongku....” Dan mata Lisle melebar saat teringat sesuatu.
“O ya?” Terdengar nada sinis dari seberang.
“Aku memang memintamu menolongku waktu di klub. Hanya itu....” Lisle teringat pertemuan pertama mereka, pertemuan kedua, pertemuan ketiga. Entah kenapa dadanya terasa sesak oleh ingatan itu.
“Aku tidak peduli dengan apa pun yang dipikirkan oleh otak bodohmu itu. Kembali ke sini hari ini atau aku akan melakukan sesuatu yang akhirnya akan membuatmu kembali juga dengan penyesalan.” Kennard memutuskan sambungan telepon. Dia tahu hal ini akan terjadi. Hanya dia tidak mengira akan secepat ini. Laki-laki dari keluarga Caldwell itu tidak masuk dalam hitungannya.
__ADS_1
Sementara Steve telah tiba di halaman depan apartemen Lisle. Dia keluar mobil dan berjalan masuk ke dalam bangunan jelek itu. Setelah menaiki beberapa anak tangga dia tiba di depan pintu kamar yang disewa Lisle dan sahabatnya. Steve mengetuk sebentar, menunggu dan mengetuk lagi. Pintu terbuka sedikit dan wajah Lisle terlihat terkejut menemukan Steve di sana.
“Steve....”
“Nona, tuan Kent menyuruhku menjemput. Sebaiknya Nona jangan membantah. Tuan Kent sangat marah sekarang dan Nona tidak akan tahu apa yang akan tuan lakukan jika sedang marah.” Steve mencoba membujuk.
“Tidak, Steve. Aku tidak mau kembali ke rumah itu seperti orang bodoh...” Lisle tetap menolak dengan keras kepala. Menurutnya hal terkejam apa yang akan dilakukan Kennard padanya? Membunuhnya?
“Nona, kau benar-benar tidak mengenal tuan.” Steve tahu apa yang akan dilakukan tuannya. Gadis ini tentu saja tidak akan disakiti. Orang-orang di sekitarnyalah yang akan menjadi sasaran. Dan itu akan dimulai dari Ralph Caldwin.
“Apa... apa dia akan membunuhku?” tanya Lisle polos. Dia dengar tuan Kent sangat kejam.
Steve hendak menyumpahi kebodohan Lisle. Tuannya menginginkan gadis ini dan beberapa kali telah menyelamatkannya. Bagaimana bisa dia berpikir kalau tuan akan membunuhnya?
“Itu tidak mungkin, Nona. Tuan menyukai Nona dan tidak akan menyakiti Nona. Tapi kalau....”
“Nona, dia akan menyakiti orang-orang di sekitar Nona. Terutama orang yang bernama Ralph itu....”
“Dia tidak ada hubungannya denganku. Sudahlah, Steve. Aku ingin istirahat.” Lisle sudah hendak menutup pintu tapi teringat sesuatu. “Apa kau tahu dimana bibi dan sepupuku sekarang?” tanyanya.
“Nona bisa menanyakannya langsung pada tuan. Saya akan mengantarkan Nona....”
“Sudahlah....” Lisle segera menutup pintu, membiarkan Steve di luar sana dengan wajah murungnya.
Ponsel Steve berdering. Dia menerima panggilan itu dengan perasaan kecut setelah melihat nama penelepon.
“Bagaimana?” Suara di seberang terdengar dingin.
“Nona menolak kembali, Tuan....” Tenggorokan Steve terasa tersekat. Dia membayangkan kehancuran keluarga Caldwell. Satu keluarga lagi. Dan semua ini hanya karena gadis polos itu yang tidak mengerti bahwa kenaifannya telah membuat banyak orang menjadi korban.
__ADS_1
“Biarkan saja. Kau segeralah kembali ke sini. Kita akan mulai rencananya malam ini.”
***
Celine pulang dari kerja malamnya seperti biasa. Dia terkejut menemukan Lisle telah tertidur di kamar tapi tak membangunkannya. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang sesuatu yang mungkin telah terjadi pada gadis itu.
Esoknya Lisle terlihat masih meringkuk di tempat tidur meski Celine sudah lama bangun. Dia seperti tak berniat untuk pergi kuliah.
“Ada masalah? Kau bertengkar dengan kerabatmu itu?” tanya Celine waktu dilihatnya Lisle hanya berbaring dengan lesu. Wajahnya sedikit pucat.
Lisle menggeleng. “Tidak. Aku Cuma merasa lebih enak tinggal di sini. Jadi aku kembali.” Senyum Lisle terlihat rapuh.
“Hm....” Celine tidak berkomentar. Tiba-tiba kembali tanpa alasan, tentu saja telah terjadi sesuatu tapi dia tidak ingin menanyakan lagi. “Kau tidak pergi kuliah?”
“Aku sedang tidak enak badan.” Lisle beralasan.
“Baiklah. Aku membuat sarapan tadi. Kalau kau lapar, kau bisa mengambilnya sendiri di dapur. Aku pergi dulu.” Celine beranjak dari sisi tempat tidur dan pergi keluar.
Lisle makin menenggelamkan dirinya dalam gulungan selimut sepeninggal Celine. Matanya terpejam tapi pikirannya berkeliaran kemana-mana. Ada perasaan yang sulit dijelaskan yang membuatnya ingin menangis saat ini. Perasaan itu seperti bongkahan batu yang mengganjal tapi Lisle tidak tahu bagaimana cara melepaskannya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Lisle menghela napas dan bangkit dari tempat tidur. Tangannya menggapai tas di meja samping tempat tidur dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Benda itu masih berdering sebelum Lisle menekan tombol terima. Gadis itu mengernyitkan alisnya karena hanya melihat deretan angka asing di layar.
“Hallo. Nona, saya Thomas....” Sebuah suara yang cukup dikenal Lisle terdengar dari seberang sambungan.
“Thomas? Ada apa?” Lisle merasa aneh karena kepala pelayan Palm Garden meneleponnya.
“Kapan Nona kembali?” tanya Thomas hingga membuat Lisle kebingungan.
Orang ini, pikir Lisle, apa dia menelepon dengan inisiatif sendiri atau atas suruhan tuan Kent?
__ADS_1