Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 54. Kami Adalah Tanah Dan Awan


__ADS_3

l“Jatuh cinta pada tuan Kent?” Lisle menggeleng. “Tidak. Itu tidak mungkin. Mana aku berani....” Semakin Lisle memikirkannya, semakin mustahil rasanya. Saat berada di sisi tuan Kent, dia bahkan tidak berani memikirkan menjadi kekasih sejati lelaki itu. Apalagi sekarang, saat dia melihat sendiri betapa jauhnya jarak yang membentang.


”Ini bukan soal keberanian, Lisleee....” Celine merasa gemas. “Kau tidak bisa menolak perasaan cinta itu, tidak peduli kau berani atau tidak. Kau ingin atau tidak.”


Lisle terlihat menunduk sambil memainkan selimutnya. Dia ingin membantah kata-kata Celine tapi tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau pun yang dikatakan gadis itu benar, lalu apa? Mendatangi tuan Kent dan menyatakan perasaan pada lelaki itu? Siapa Lisle hingga berani membahas cinta dengan sang penguasa Black Mountain. Apa akan ada artinya bagi lelaki itu? Apa pernah ada kata cinta dalam kamus hidup lelaki yang bisa mendapatkan banyak wanita dengan mudah?


“Aku mengantuk. Aku ingin tidur saja.” Lisle tiba-tiba kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Dia tidak berani melihat pada sahabatnya.


Celine yang sudah tampak bersemangat saat membahas hal yang selama ini terus membuatnya penasaran tentang Lisle dan tuan Kent menjadi terdiam. Dia tidak tahu lagi bagaimana meyakinkan Lisle. Mungkin orang yang jatuh cinta tidak selalu sadar bahwa mereka telah jatuh. Saat mereka tidak bisa bangkit lagi, barulah mereka sadar bahwa mereka telah jatuh terlalu dalam.


Lagipula, kenapa tuan Kent melepaskan gadis bodoh ini? Celine menggerutu dalam hati. Kenapa lelaki itu tidak mencoba lebih keras lagi untuk menaklukkan si bodoh tidak tahu diuntung ini? Mungkin dengan begitu Celine tidak akan terus-menerus disuguhi pemandangan suram di apartemennya setiap hari. Melihat Lisle yang terus murung dan kadang menangis tanpa sebab  sungguh bukanlah pemandangan yang ingin dilihat Celine.


Rasanya Celine ingin menyeret Lisle ke hadapan tuan Kent dan mengatakan bahwa gadis itu telah jatuh cinta padanya dan bertanya apakah lelaki itu juga merasakan hal yang sama atau hanya ingin bermain-main dengan Lisle. Mungkin setelahnya dia bisa memutuskan untuk mendukung keputusan Lisle yang sudah pergi dari Palm Garden atau malah mengusir gadis itu dari apartemennya untuk kembali pada tuan Kent.


***


Lisle menatap lurus pada Mr. Cedric yang memberi penjelasan di depan kelas. Lelaki berusia tiga puluhan itu mengatakan beberapa kalimat yang tidak dimengerti oleh lisle  karena pikirannya melayang entah kemana. Beberapa kali dia berkedip mencoba mengusir pikiran yang tidak seharusnya. Aku harus fokus, ujar Lisle dalam hati.


Ketika kelas berakhir, Lisle tidak segera keluar ruangan. Dia masih termangu di kursinya sambil terus memikirkan kata-kata Celine tadi malam. Mungkin sahabatnya itu benar, tentang Lisle yang sudah jatuh cinta pada tuan Kent. Hanya saja itu sungguh tak berarti apa pun bagi Lisle kecuali sebuah kesedihan. Lagipula itu bukan sesuatu hal yang luar biasa. Bukankah banyak gadis di luar sana yang memimpikan laki-laki itu? Lalu kenapa seorang seperti Lisle harus menjadi berbeda bila juga merasakan hal yang sama?


Lisle mengemasi buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Tadi Celine mengatakan akan menunggunya di dekat taman. Mereka akan berangkat kerja bersama dari kampus. Dengan perlahan gadis itu melangkah meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Mencapai taman yang tidak terlalu ramai, Lisle baru menyadari bahwa suasana kampus terlihat berbeda. Dia melihat baliho di sepanjang jalan kampus menuju aula. Beberapa spanduk besar juga tampak terpasang di mana-mana. Isinya sesuatu tentang kontes kecantikan atau semacamnya, Lisle tidak terlalu peduli. Dia bukan mahasiswi yang biasa terlibat dengan kegiatan kampus.


Di sebuah bangku taman, Lisle melihat Celine yang sudah merengut.


 Senyum Lisle tanpa sadar mengembang. Celine kadang terlihat lucu saat merajuk. Seperti tadi pagi waktu sarapan, sahabatnya itu terus-menerus menekuk bibirnya dan tidak sekali pun berbicara dengannya. Awalnya Lisle tidak sadar. Setelah beberapa saat, Lisle baru merasakan sikap Celine yang tidak seperti biasanya. Gadis itu tengah kesal akan sesuatu. Hanya saja Lisle tidak mengerti letak kesalahannya.


Dia merasa semua baik-baik saja sampai Celine berkata, “Jangan bicara denganku lagi. Kau juga tidak akan mendengarkan apa yang kukatakan?”


Lisle yang sesaat sebelumnya bertanya tentang pekerjaan gadis itu terperangah. Celine sedang marah? “Mendengarkan apa? Apa yang sudah kau katakan yang tidak kudengar?”


Celine meletakkan dua gelas susu dengan kasar ke atas meja membuat isi di dalamnya menciprat ke luar.


Lisle terdiam seketika. Gerakan menyuapnya terhenti. Dia merasa tenggorokannya seperti tersekat. Sesaat dia berdehem mencoba mengusir rasa canggung yang tiba-tiba datang. “Itu... tak ada apa-apa di antara kami. Semuanya berawal dari sebuah kesepakatan konyol. Kurasa tuan Kent hanya ingin bermain-main. Kalau pun sekarang yang kau katakan benar, kalau aku sudah jatuh cinta padanya, apa itu akan ada artinya bagi dia?” Lisle bicara perlahan sembari menekan rasa nyeri di sudut hati.


“Apa yang bisa kulakukan? Kami adalah tanah dan awan. Seperti bumi dan langit. Jaraknya terlalu jauh.” Lisle meletakkan sendok makannya dan menjadi tidak berselera. Sementara Lisle kadang tidak menemukan apa pun untuk sekedar pengganjal perut di pagi hari, lelaki itu akan makan di  meja makan besarnya dengan aneka makanan yang berlimpah. Saat Lisle tersaruk-saruk melangkah melintasi jalanan kota Black Mountain yang berdebu, tuan Kent sedang duduk nyaman di lantai teratas gedung Diamond Group, sembari menatap pemandangan kota di bawah kakinya. Laki-laki itu tak akan melihat Lisle dari atas sana. Dia mungkin juga sudah lupa pada seorang gadis bernama Lisle, seorang gadis yang kerap dicelanya sebagai gadis bodoh.


“Lakukan sesuatu. Apa saja. Buat dia melihatmu lagi. Bukannya bersembunyi dan makin tak terlihat.” Celine sangat kesal melihat Lisle yang tampak putus asa.


“Kau ingin aku melakukan apa?” Lisle terdengar lelah.


“Kembali bekerja di Diamond Group,” ujar Celine memberi saran.

__ADS_1


“Aku sudah berhenti dari sana. Semua orang di sana juga sudah menganggapku sebagai kekasih tuan Kent. Akan terasa sangat tidak nyaman bagiku untuk bekerja di sana.”


“Dekati tuan David. Dia akan membawamu suatu hari pada tuan Kent,” usul Celine lagi.


“Tidak. Aku tidak berani. Aku juga tidak mau. Celine, sudahlah. Jangan bahas ini lagi. Aku ingin melupakannya. Aku ingin fokus dan melanjutkan hidupku....” Lisle memohon dengan suara memelas.


Akhirnya Celine mengalah. Dia tidak lagi memberikan ide-ide agar Lisle melakukan sesuatu untuk memperjuangkan perasaannya. “Lisle, apa kau menyesal pergi dari tuan Kent?” Celine bertanya tiba-tiba. Menurut Celine, Lisle kini tengah menyesali keputusannya pergi dari laki-laki itu.


Namun Celine tidak mengira jawaban Lisle akan berbeda dari persangkaannya.


“Tidak. Aku tidak menyesal. Aku kini telah bebas dari sebuah hubungan yang tidak jelas. Rasanya pasti akan lebih menyakitkan berada di sisi seseorang yang dicintai sementara orang itu hanya menganggap kita sebagai barang mainannya.” Lisle tampak sangat yakin saat mengatakannya.


“Tapi Lisle, apa benar dia hanya bermain-main denganmu?”


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2