Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 80. Andra


__ADS_3

Celine menjadi kikuk sendiri. Senyum Steve, meski sedikit, membuat lelaki itu menampilkan sisi lain yang tak pernah dilihat Celine sebelumnya.


"Baiklah, mm… Steve. Terima kasih banyak." Wajah Celine bersemu merah.


Meski juga terlihat canggung, Steve berkata juga, "Kalau begitu, aku pergi dulu… Celine."


Sialan sekali! Kenapa jantungku jadi berdebar kacau seperti ini? Celine mengumpat dalam hati sambil menatap kepergian Steve. Lelaki itu bahkan memberinya sebuah amplop coklat tebal yang Celine yakin isinya adalah uang.


"Nona bisa menggunakannya untuk keperluan selama di rumah sakit," ujar lelaki itu tadi waktu dokter sudah membawa ibu Celine ke ruang pemeriksaan.


Kepala Celine mendadak pening. Begitu banyak hal mengejutkan di luar persangkaannya. 


***


Sementara itu, di sebuah pulau…. 


Ini adalah hari ke empat Lisle mendapatkan pelatihan. Dia tidak mengira jika Kennard tega memakannya juga saat dia merasa sangat kelelahan hingga nyaris mati tadi malam. Dia sudah sanggup berlari hingga sepuluh putaran mengelilingi lintasan meski harus dengan susah payah. Beberapa pemuda yang tidak dia ketahui namanya satu dua orang memberinya semangat diam-diam.


Di hari ke tiga kemarin, tiba di pulau lima orang gadis yang disambut keriuhan para lelaki yang sudah lama tidak melihat gadis-gadis cantik. Tapi mereka sedikit kecewa. Gadis-gadis itu tidak mudah. Mereka dikirim dari tempat pelatihan berbeda. Dalam level pelatihan, mereka sudah berada di level tujuh. Level yang tidak mudah dicapai.


Di malam kedatangan para gadis, diadakan pesta penyambutan bagi pasangan pengantin. Semua orang berkumpul di halaman depan asrama. Meja kursi diletakkan. Beberapa orang bertugas sebagai koki dan memanggang banyak daging, ikan, udang dan cumi.

__ADS_1


Lisle dikenalkan dengan kelima gadis dan mulai menjadi dekat dengan seorang yang bernama Andra. Ternyata dia adalah pemimpin kelompok itu. Konon gadis itu pernah bertugas menyelidiki seorang pengkhianat di perusahaan yang berada di luar negeri. Gadis itu menyusup sebagai seorang sekretaris.


Andra memang sangat cantik. Dia bahkan lebih tinggi dari Lisle. Tubuhnya langsing dan terlihat pas mengenakan apapun. Rambutnya lurus melewati bahu. Dia lebih kelihatan seperti seorang model dibanding seorang wanita dengan kemampuan beladiri yang tinggi.


"Sejak kapan kau berlatih?" tanya Lisle kagum waktu mendengar cerita tentng Andra. 


"Saya sudah berlatih sejak kecil, sejak berusia delapan tahun, Nyonya." Andra memberitahu dengan sikap hormat, membuat Lisle menjadi canggung.


Mereka duduk di sebuah kursi taman sambil memegang kaleng soda. Di tengah halaman beberapa orang membentuk lingkaran memainkan sebuah permainan. Kennard terlihat duduk di sebuah kursi, terpisah dengan para lelaki lain. Matanya terus mengawasi istrinya yang sejak tadi terus berbicara dengan gadis yang baru dikenalnya. Sesekali dia menyesap minuman di tangannya.


"Kau bisa memanggilku Lisle," ujar Lisle seperti berbisik. "Sebenarnya aku tidak suka dipanggil nyonya. Terdengar tua."


Andra tertawa sopan. "Mana saya berani, Nyonya."


"Baik, Nyonya… maksud saya… Lisle." Andra merasa lidahnya akan keseleo jika harus memanggil gadis di depannya ini dengan panggilan yang berubah-ubah. Bisa saja sewaktu-waktu dia salah ucap. Tuan Kent pasti akan menganggapnya tidak sopan. 


"Apa kau yang akan melatihku?" Lisle sedikit penasaran dengan tujuan kedatangan para gadis itu.  


Andra menggeleng. "Tidak. Setidaknya sampai hari ini tidak ada instruksi seperti itu. Kami ke sini untuk beberapa tugas rahasia.”


"Oh." Lisle tidak mau tahu apa tugas rahasia yang dimaksud. "Tapi bagaimana kalau selama kau di sini kau yang melatihku?"

__ADS_1


"Bukankah sudah ada tuan? Aku dengar tuan sendiri yang melatihmu." Andra merasa heran dengan nyonya muda di depannya ini. Tuan Kent adalah pimpinan tertinggi dalam pelatihan. Berada di bawah pelatihan langsung sang pimpinan bukankah hasilnya akan lebih baik? 


"Suamiku sangat kejam. Dia bukannya melatihku. Dia menyiksaku." Lisle berkata dengan kesal. Saat ini pun seluruh tulang-belulangnya seperti telah dilolosi dari tempatnya. Dia ingin pergi tidur saja tadi tapi kemudian urung saat melihat kilatan jahat di mata suaminya. Oh, dia tidak mengira di balik wajah menawan dan tubuh sempurna itu ada jiwa iblis yang bersemayam.


"Aku hanya memintanya untuk mengajariku beberapa teknik bela diri sederhana dan berlatih menggunakan senjata. Tapi dia malah menyuruhku berlari keliling beberapa putaran, memanjat, mengangkat beban, push up dan lain-lain. Rasanya aku sudah akan menyerah kalau tidak mengingat bahwa aku sendiri yang meminta latihan ini." Lisle mengeluh habis-habisan. Hal yang tak bisa dilakukannya beberapa hari ini. 


Andra tidak bisa berkata apa-apa. Tidak mungkin dia ikut memaki bos yang sudah memperlakukan istri kecilnya terlalu keras. Lagipula bosnya tidak bisa disalahkan. Pelatihan memang sudah seharusnya seperti itu. Bahkan dia pernah mengalami yang lebih kejam.


"Teknik bela diri yang tinggi saja tidak akan ada gunanya tanpa disertai kekuatan dasar. Apalagi sebuah teknik sederhana. Kau tidak bisa melakukan sebuah pukulan jika tidak disertai kekuatan, bukan?" Andra mencoba memberi pengertian pada gadis yang sedang cemberut di sebelahnya. 


"Berlatih menggunakan senjata memiliki tujuan mengenai sasaran dengan tepat. Untuk itu selain mengenali bagian-bagian dari senjata dan penggunaannya, kau harus bisa mengatur napas dan memiliki kekuatan untuk mengendalikan bidikan. Kau juga harus belajar memperhitungkan arah angin dan sebagainya. Tampak mudah tapi tak sesederhana yang terlihat." Andra melanjutkan memberi penjelasan. 


Ada kebisuan beberapa saat di antara mereka. Lisle ingin membantah tentang sesuatu tapi tak menemukan hal yang bisa dikatakan. Tentu saja yang dikatakan Andra benar. Lisle percaya seorang yang telah berlatih selama bertahun-tahun pasti tahu benar apa yang dikatakannya.


Akhirnya Lisle hanya bisa menarik napas menyerah. "Apa kau juga seperti aku saat pertama kali berlatih?"


"Tentu saja. Semua orang juga begitu. Tidak ada yang langsung menjadi kuat dan hebat. Kau juga pasti bisa." Andra memberi semangat. "Apalagi kau memiliki pelatih paling hebat."


Lisle berpaling pada Andra yang duduk di sebelahnya. Gadis itu tengah menatap lurus ke depan. Waktu Lisle mengikuti arah pandangnya, tatapan itu ternyata jatuh pada sosok tegap di seberang halaman. Kennard yang tengah duduk terpisah dari keramaian.


Selama beberapa detik yang terasa lama, Lisle melihat kilasan kekaguman dan terpesona yang saling berebutan membias di mata Andra.

__ADS_1


Perasaan itu seperti bara yang bergerak perlahan menyelimuti hati. Diam-diam. Tiba-tiba saja api cemburu menyala membuat Lisle tersentak.


Kembali dilihatnya Kennard di seberang sana. Lelaki itu kini tengah menatap ke arah mereka. Tapi siapa yang tengah dilihat Kennard. Diakah? Atau Andra?


__ADS_2