Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 81. Cemburu


__ADS_3

"Apa dia benar-benar hebat?" tanya Lisle hati-hati. Dia kini sungguh-sungguh memperhatikan ekspresi Andra di sampingnya.


Andra hanya bergumam mengiyakan. Tatapannya masih fokus ke depan. Dia tampak seperti tengah melamun.


"Kau menyukai tuan Kent?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Lisle menyesalinya tapi sudah terlambat. Mana ada wanita yang mengaku menyukai suami orang.


Andra terlonjak dari lamunannya dan berpaling pada Lisle. "Tidak, Nyonya. Mana saya berani!" Tangannya bergerak-gerak di depan wajahnya sebagai penegasan bahwa dia tidak mungkin menyukai tuan Kent. Wajahnya yang biasanya terlihat tegas kini memerah.


Lisle mengeluh sendiri dalam hati. Bagaimanapun juga Andra adalah seorang gadis yang masih sendiri. Jelas sekali gadis itu menyukai suaminya. Tapi gadis manakah yang tidak menyukai tuan Kent? Dia memiliki semuanya. Kecuali hati. Laki-laki itu sangat tidak berperasaan bahkan pada istrinya yang lemah ini. Bagaimana bisa dia….


Tatapan Lisle kembali pada Kennard di sana. Lelaki itu tersenyum padanya. Tapi Lisle tidak ingin tertipu dengan senyum itu. Dia kini sudah menjadi cukup pintar untuk membaca. Senyum Kennard kali ini bukan pertanda baik. Sama sekali tidak menawan di matanya.


Lisle menelan ludah mengingat beberapa kejadian seusai melihat senyum seperti itu. Gadis itu mengabaikan suaminya dan kembali pada Andra.


"Kau menyukainya pun tidak masalah." Lisle melempar senyum paling manis. "Tak ada yang bisa melarangmu menyukai siapapun. Yang jadi masalah adalah jika kau menginginkannya."


Itu benar! Siapa yang bisa melarang gadis-gadis itu menyukai Kennard? Hanya saja mereka harus tahu diri sekarang. Tuan Kent sudah memiliki istri.


Hanya saja mereka belum bisa mengumumkannya sekarang.


Lisle memijit pelipisnya. Kepalanya sedikit pusing. Dia terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini.


"Tidak… tidak…. Mana mungkin saya memiliki pikiran seperti itu," bantah Andra. Dia menjadi gelisah. Sikapnya kembali formal seperti di awal.


"Sudahlah. Aku yakin kau tidak seperti itu." Lisle melambaikan tangannya ke udara.


Sesaat kemudian tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Seorang pemuda mendatangi mereka dan memberitahu bahwa makan malam telah siap. Lisle dan Andra bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati meja-meja besar dengan aneka barbeque di atasnya.


Lisle mengambil tempat duduk di sebelah suaminya begitu mendapat isyarat dari lelaki itu untuk mendekat. Dan sepanjang makan malam itu dia lebih banyak diam. Lisle hanya menanggapi perkataan Kennard dengan anggukan atau gelengan.

__ADS_1


"Ada apa?" bisik Kennard di telinga Lisle. Gerakannya terlihat alami saat memiringkan wajah ke samping. "Tidak enak badan?"


"Umh? Tidak. Aku cuma sangat lelah." Lisle berharap suaminya mengerti isyarat 'jangan menggangguku malam ini' yang diberikannya. Kennard memang berjanji tidak akan mengganggu istirahatnya di malam pertama mereka tiba tapi menghabisinya di malam ke dua. Dasar licik!


"Tapi hari ini kau sangat hebat dan terlihat cukup kuat. Kau sudah sanggup menghabiskan sepuluh putaran walau catatan waktunya masih buruk." Kennard bicara sambil menusuk seekor udang tanpa kulit dan memasukkannya ke mulut.


Lisle tidak bersusah payah menanggapi. Dia hanya meneruskan makannya dalam kebisuan. Perasaannya tidak nyaman. Waktu dia hendak meletakkan sendok garpunya, Kennard menambahkan beberapa udang dan cumi ke piring istrinya.


"Cobalah! Ini enak. Kau harus makan lebih banyak untuk tambahan tenaga. Hari-hari ke depan akan lebih sulit." Kennard menasehati istrinya.


"Apa maksudmu dengan tambahan tenaga? Apa kau akan membuatku semakin lelah? Apa kau ingin membunuhku? Tuan Kennard Kent, bukankah kita sedang berbulan madu? Kenapa kau malah menyiksaku seperti ini?" Lisle tidak tahan lagi. Dia meletakkan sendok garpunya. Mengambil gelas dan menenggak habis isinya lalu menyeka sudut bibirnya dengan kasar. Kemudian bangkit dari kursinya dan sambil menghentakkan kakinya dengan kesal dia berlalu meninggalkan tempat itu.


Ada keheningan yang aneh untuk sesaat. Semua terkejut melihat pemandangan luar biasa itu. Nyonya Kent marah dengan bos mereka. Siapa yang berani memarahi bos mereka? Tidak ada, tentu saja. Hanya istri kecilnya yang berani.


Namun tak satupun dari mereka yang berani berkomentar kecuali Max, si tinggi besar, pimpinan kelompok latihan mereka. "Tampaknya Nyonya kelelahan," ujarnya sambil tersenyum pada Kennard yang tidak mendapat tanggapan balik apapun.


Kennard sendiri menyelesaikan makan malamnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Wajahnya terlihat dingin bagi orang-orang di sekelilingnya tapi dari sudut mulutnya seperti sebuah senyum bisa muncul sewaktu-waktu. Itu aneh bagi mereka yang terbiasa merasa terintimidasi saat berada di sekitar bos. Kali ini, tuan Kent terlihat lebih manusiawi. Senyumnya lebih sering terlihat.


"Andai tuan Kent membawa istrinya setiap dia berkunjung ke sini. Pasti keadaan akan menjadi lebih santai dari biasanya." Seseorang pernah berandai-andai.


Kennard segera kembali ke kamar di bangunan terpisah itu begitu menyelesaikan makan malamnya. Dia mendapati istrinya berbaring miring menghadap arah yang berlawanan dari bagian kosong tempat tidur yang biasa ditempatinya. Tapi gadis itu masih belum tidur. Itu terlihat dari gerakan napasnya. 


Setelah melepas pakaiannya, Kennard naik ke tempat tidur, menyusup ke balik selimut yang sama. Dia meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukan.


Lisle menggeliat sedikit mencoba melepaskan diri. Tubuh terbuka suaminya seperti membakar menembus baju tidurnya.


"Ssst, diamlah. Aku cuma ingin memelukmu." Kennard menahan gerakan meloloskan diri istrinya.


Sebenarnya pelukan Kennard terasa sangat nyaman. Lisle selalu menyukainya. Bahkan di saat-saat mereka terpisah, dia pernah merindukannya. Hanya saja pelukan itu juga kerap menimbulkan getaran-getaran yang semula asing baginya tapi kini sangat dikenalinya. Pelukan ringan itu sanggup membangkitkan hasratnya.

__ADS_1


Lisle menelan ludah. Tubuhnya sangat lelah tapi api itu seperti nyala yang tak memliki rasa letih sedikitpun.


"Ken, lepaskan. Rasanya sangat gerah." Lisle merasa suaranya jadi terdengar aneh.


"Apa aku perlu membesarkan pendinginnya?" Kennard masih kukuh memeluk tubuh istrinya. Dia kini malah mengendusi leher polos istrinya.


Lisle menggeliat geli. "Ken."


"Hm?"


"Aku…."


Tangan Kennard menjelajahi tubuh istrinya. Gerakannya lembut tapi tak tertahankan bagi Lisle. Sebuah erangan lolos dari bibir istrinya itu.


Dengan gerakan pelan Kennard menghadapkan tubuh Lisle padanya. Wajah istrinya sudah memerah. Terlihat malu karena tak bisa menyembunyikan keinginan yang sama.


Kennard menunduk, menjadikan wajah mereka sangat dekat tapi tak bersentuhan. Hanya napas mereka yang saling menerpa wajah masing-masing.


Lisle menunggu dengan berdebar. Tapi Kennard hanya menatapnya sambil mengelus bibir istrinya yang setengah terbuka dengan ujung jarinya. Itu sungguh mengesalkan karena jarak mereka yang hanya beberapa senti. Lisle tahu rasa dari bibir yang mengatup rapat di depannya.


Seperti lupa akan resikonya, Lisle meraih leher suaminya, menciumnya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2