Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 8. Membuat Tuan Hilang Kesabaran


__ADS_3

Kennard menyesap rasa manis dari bibir gadis itu dengan perlahan. Ada sedikit respon terkejut dari gerakan tubuh gadis itu yang refleks hendak menolak. Tapi rengkuhan kuat laki-laki itu di pinggangnya membelenggu Lisle dalam posisi yang rapuh.


Gadis itu hampir memejamkan mata sesaat terbuai dengan gairah asing itu ketika Kennard yang menginginkan lebih menarik Lisle kepangkuan. Gadis itu tiba-tiba memberontak dengan panik.


Tepat saat itu mobil berhenti. Steve memberitahu tanpa menoleh. “ Tuan, sudah sampai.”


Lisle yang terlepas dari pelukan Kennard tergesa membuka pintu mobil dan kabur tanpa sempat di cegah. Kennard terpaku sejenak seperti tak percaya bila gadis yang tadi sudah dalam genggamannya tiba-tiba menghilang. Dia mentertawakan dirinya sendiri dengan kesal.


“Kita pulang saja. Aku sedang tidak nafsu makan,” perintahnya dingin.


Suara tuannya yang nyaris tanpa tekanan justru membuat Steve merinding. Mungkin kali ini nona peri telah membuat tuannya hilang kesabaran.


Di ujung sana mereka sempat menyaksikan gadis itu menyetop sebuah taksi dan bergegas membuka pintunya. Mobil itu berlalu di bawah pandangan tajam Kennard. Lelaki itu tenggelam dalam pikirannya.


Di dalam taksi, Lisle berulang kali mengusap airmatanya dengan kasar. Dia merasa malu sekaligus marah dengan diri sendiri. Bisa-bisanya memberi laki-laki itu kesempatan untuk menciumnya lagi. Mirisnya sekejap tadi dia sempat menyukai perlakuan itu. Kennard Kent adalah orang asing. Mereka baru bertemu dua kali. Dan walau pun lelaki itu tampak sempurna dari segi apa pun tapi tak lantas Lisle boleh membiarkannya menyentuh dirinya dengan sembarangan layaknya wanita tanpa harga diri.


Siapa sebenarnya lelaki itu yang merasa bisa memiliki apa pun yang dia ingin?


“Nona....” Sopir taksi mengurai lamunannya yang penuh emosi. Mobil sudah berhenti di depan apartemen yang disewanya.


Sekali lagi Lisle menyusut sudut matanya yang memerah karena sepanjang jalan terus menangis. Dia membayar dan bergegas masuk ke dalam bangunan yang tampak berkarat itu.


Sebenarnya Lisle sangat jarang naik taksi. Dia lebih sering berjalan kaki bila tempat yang menjadi tujuannya tidak terlalu jauh. Sesekali naik bus bila memerlukan tiba lebih cepat atau jaraknya lumayan jauh. Dia sangat irit.


Seperti sekarang, Lisle merasa lambungnya perih. Begitu memasuki apartemen dan memeriksa isi lemari dapur, tak ada apa pun di dalamnya. Meski perasaannya kacau, dia tetap memiliki keinginan untuk makan. Tapi karena tak ada  sesuatu yang bisa menjadi pengganjal perutnya, Lisle akhirnya hanya mengisi perutnya dengan air dingin.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Lisle merebahkan diri di tempat tidur sempitnya. Bayangan kejadian beberapa hari ini silih berganti meresahkan.


***

__ADS_1


Lisle terbangun lebih pagi dari biasanya. Tapi Celine sudah lebih dulu berada di dapur. Dia tengah menyiapkan sarapan sederhana namun tak urung membuat Lisle menelan ludah. Dia hanya mengisi botol airnya diam-diam dan tak menegur gadis yang sedang membuat minuman dengan suara sendok yang berdenting beradu dengan gelas. Dia enggan terlihat memasuki dapur dan kepergok tidak sarapan.


“Menyelinap seperti pencuri, apa kau pikir aku tak melihat?” Celine berbalik dengan dua gelas mengepul di tangan. “Sarapan dulu!” Disodorkannya segelas susu panas ke tangan Lisle.


Lisle hanya meringis. Merasa malu sekaligus sedih. Diterimanya gelas itu dengan mata yang mulai berkabut.


“Duduklah. Aku membuat sarapan. Kau makan cepat.” Celine menggeser sepiring sarapan. Ada telur dan kentang panggang.


Bukan sekali dua Celine memergoki sahabatnya itu melewatkan pagi tanpa menelan sesuatu apa pun. Kadang dia tak mengerti bagaimana gadis itu bisa melalui harinya dengan perut kosong. Tapi satu hal dia maklum, gaji Lisle yang tak seberapa dari bekerja di kafe tak menutupi keperluan hidupnya selama sebulan.


“Kau?” tanya Lisle melihat Celine hanya duduk di seberangnya memperhatikan.


“Aku sudah makan.” Celine menghirup minumannya.


Lisle merasa ragu. Tangannya tak juga bergerak pada makanan.


“Tenang. Aku tidak sebaik itu, membiarkan diri sendiri kelaparan dan memberikan satu-satunya sarapan untuk temannya.” Celine seperti mengerti isi kepala Lisle.


Suatu hari aku akan membalas kebaikanmu, Celine....


Mereka pergi ke kampus bersama. Masih pagi dan waktu masuk kelas masih lama. Keduanya berjalan santai sambil terus sesekali bercanda. Meski tinggal di kamar yang sama, mereka jarang memiliki kesempatan berbicara. Sepulang kuliah, keduanya akan disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Celine pulang menjelang tengah malam. Dan Lisle yang pulang lebih awal akan terlelap duluan. Mereka hanya sempat bertemu di pagi seperti saat ini.


“Apa kau sudah dengar tentang Sally dan temannya?” ujar Celine tiba-tiba seperti baru teringat.


Lisle menggeleng tanpa minat. Mendengar nama itu disebut mengingatkannya pada kejadian tiga hari yang lalu, membangkitkan lagi perasaan tidak nyamannya.


“Keduanya dikeluarkan pihak kampus.” Celine terdengar senang dengan berita yang disampaikannya.


Langkah Lisle terhenti. “Dikeluarkan? Kenapa?” Pantas saja dia tidak melihat Sally dan temannya di kampus sejak kejadian malam itu.

__ADS_1


“Ada yang membuat laporan ke polisi kalau keduanya terlibat perdagangan manusia....”


“Siapa yang melaporkan?”


Celine mengedikkan bahu. “Mana kutahu. Tapi aku puas karena akhirnya mereka mendapatkan balasannya.”


Keduanya sejenak terdiam.


“Bagaimana pekerjaanmu di kafe?” tanya Celine tiba-tiba. Lisle sempat mengkhawatirkan kalau-kalau Cloud cafe tutup suatu hari dan dia akan kehilangan pekerjaan.


“Ah, itu....” Lisle teringat brosur dengan wajahnya di sana. Ada semburat malu yang tiba-tiba. Untungnya  Celine tidak memperhatikan. “Kemarin kami membagikan brosur....”


“O ya?”


Lisle mengangguk. “Kuharap hari ini ada perubahan....”


“Setidaknya kalian sudah berusaha.” Celine menghibur. “Semangatlah!”


***


Lantai 81, lantai teratas gedung perkantoran Diamond Group.


Kennard memainkan ballpoint emas di antara jarinya. Pagi sekali dia telah tiba di kantor. Bukan karena terlalu bersemangat hari ini. Hanya saja matanya nyaris tak bisa dipejamkan semalaman.


Petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang tampak terkejut ketika mendapati mobil presdir sebagai mobil pertama yang menyentuh lantai parkir. Dia terlihat gugup saat memberi hormat waktu mobil itu melintas. Pikirannya menduga kemungkinan suatu hal yang mendesak telah terjadi sehingga sang bos tiba pagi sekali.


Kennard mengemudikan mobilnya sendiri. Dari apartemen dia menghubungi asistennya untuk mengumpulkan beberapa informasi untuknya. Sekretaris yang biasa duduk manis di depan  pintu ruangan belum datang. Kennard masuk ke ruangan kantornya yang luas dan langsung menyalakan komputernya. Surel dari Steve sudah masuk.


Kennard harus menuntaskan rasa penasarannya tentang gadis itu bila tak ingin pikirannya kacau sepanjang hari ini. Ada rangkaian jadwal yang padat hingga akhir pekan. Dan minggu berikutnya dia harus berada di Kanada untuk sebuah kontrak kerjasama. Tak ada waktu lagi.

__ADS_1


Kemarin dia tidak ingin menyelidiki tentang gadis itu karena akan mencari tahu secara langsung. Tapi melihat perkembangan yang tak kunjung membaik dia menjadi tak sabar. Harusnya tak sesulit ini. Dia menginginkan semua informasi tentang Lisle. Segalanya hingga hal paling sepele pun. Mungkin dia akan memberi gadis itu sedikit pelajaran agar mengerti siapa lelaki yang sudah ditolaknya.


 


__ADS_2