
"Celine, aku sudah memukul orang." Lisle memperhatikan telapak tangannya yang tiba-tiba gemetar. "Aku juga mengancam banyak orang."
Celine menghela napas. Kekagumannya akan keberanian Lisle sebentar tadi mendadak buyar.
"Tidak masalah. Tuan Kent pasti akan membereskannya." Celine menghibur Lisle yang tampak ketakutan. Dia merangkul pundak Lisle, menariknya ke sebuah bangku taman.
"Ah, tentu saja suamiku yang hebat akan membereskannya…." Lisle bergumam sendiri sambil melamun. Seketika tubuhnya terasa lemas. Dia tahu Kennard akan membereskannya. Mungkin itu cuma masalah kecil bagi lelaki itu. Tapi dia merasa malu untuk mengadu. Dan setelah dipikir-pikir, ancamannya barusan terasa berlebihan. Baginya, cukup jika orang-orang tidak menghiraukan atau mengusiknya. Dia cukup rendah hati untuk menjadi tak terlihat oleh siapa pun.
Kemudian Lisle teringat sesuatu. Sejenak dia mengawasi sekeliling, tetapi tak menemukan apapun atau siapapun. Diambilnya ponsel dari dalam tas dan menekan sebuah nomor membuat panggilan.
Setelah nada tunggu beberapa saat, sebuah suara menyambut di seberang saluran.
"Hallo, Nyonya?" Itu suara asisten Kent.
Lisle agak malu sesaat dengan panggilan 'nyonya' itu tapi dapat memakluminya.
"Tolong jangan panggil aku seperti itu saat di depan banyak orang." Lisle mencoba mengingatkan.
"Baik, Nyonya."
Lisle bisa membayangkan Steve yang patuh mengatakan itu sambil menunduk hormat.
"Steve, aku ingin menanyakan sesuatu. Emm…. Apa aku diawasi? Apa tuan Kent menyuruh orang untuk mengikutiku kemana pun aku pergi?" Lisle bertanya hati-hati. Dia tidak yakin Steve akan jujur padanya. Bisa saja Kennard memerintahkan padanya untuk tutup mulut.
Terdapat jeda untuk beberapa detik sebelum Steve menjawab. "Benar, Nyonya. Tuan memerintahkan orang mengawasi Nyonya untuk memastikan kejadian dulu tidak akan terulang lagi. Tuan mengkhawatirkan keselamatan Nyonya."
__ADS_1
Terdengar keluhan Lisle. Suaminya sebentar lagi akan tahu kejadian barusan. Meski itu adalah hal yang wajar bahkan mungkin ada baiknya karena Lisle tidak perlu repot mengadu, tetapi mengetahui setiap langkahnya diawasi menciptakan perasaan tidak nyaman baginya.
"Ada apa, Nyonya? Apa terjadi sesuatu?" Steve seperti bisa membaca pikiran Lisle meski dia tidak berhadapan langsung. Ini hari pertama nyonya ke kampus setelah resmi menjadi istri tuannya. Dia tidak heran jika gadis itu sudah mendapat masalah. "Mungkin saya bisa membantu?"
"Bisakah kau menutupinya dari tuan?" tanya Lisle ragu.
"Apa masalahnya sangat serius?" Steve mencoba memastikan.
Lisle mengangguk keras tapi buru-buru berujar, "Sangat. Aku memukul dan mengancam orang. Kupikir, mereka akan menuntutku. Aku… aku sedikit takut." Sebenarnya dia sangat ketakutan.
Ada keheningan yang aneh dan bunyi tak jelas setelahnya. Kemudian Lisle dikejutkan dengan sebuah suara di ujung sambungan.
"Jadi istri kecilku sudah membuat masalah di hari pertamanya di kampus sebagai nyonya Kent?"
***
Shopia meraung saat dokter keluarga memeriksanya. Pipinya masih terasa panas dan bengkak. Warna kemerahan di kedua sisinya terlihat jelas.
"Bagaimana seorang gadis murahan seperti itu bisa sampai memukulmu?" Nyonya Harfey yang duduk di sofa di sebelah putrinya terus mengulang kalimat yang sama. Melihat putri kesayangannya dipermalukan membuatnya sangat marah.
Keluarga Harfey meski bukan keluarga utama di Black Mountain, tapi termasuk kelas keluarga terpandang yang disegani. Tuan Harfey memang hanya seorang lelaki yang terlahir dari keluarga sangat biasa. Namun kemampuan berbisnisnya membuat usaha yang semula kecil menjadi berkembang cepat. Di usia ke dua puluh lima dia dengan berani melamar nyonya Harfey yang saat itu merupakan primadona kota. Dan diterima.
Pernikahan mereka bukan tanpa pertimbangan dari pihak keluarga perempuan. Meski dalam hal status, keluarga mereka sama sekali tidak bisa dibandingkan. Nyonya Harfey muda berasal dari keluarga kelas satu. Tapi mereka cuma memiliki satu anak dan dia seorang perempuan. Mereka memerlukan seorang menantu lelaki yang pandai menjalankan bisnis besar keluarga mereka. Dan pilihan mereka tidak keliru.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak membalasnya, heh?" Lagi, nyonya Harfey mengguncang lengan putrinya yang masih menutupi sebelah wajahnya hingga gadis itu kembali meringis.
"Dan membiarkan gadis itu memiliki kesempatan membela diri?" Shopia membantah keras ide tentang balas memukul itu. Bukan dia tidak ingin. Menurutnya, dia cukup pintar untuk tak menyentuh gadis itu hingga hukuman baginya kelak akan sempurna. Kalau dia membalas, mungkin gadis itu tidak akan mampu berdiri dengan angkuhnya di depan orang-orang dan menyuarakan ancamannya yang terdengar bodoh.
Di antara kesakitannya, ide melempar Lisle ke sel membuat nyeri di wajahnya berkurang.
"Kita akan meminta pengacara terbaik di kota ini untuk menyeret gadis itu ke penjara," desis Shopia sambil memeluk lengan ibunya. "Lagipula, kita pasti menang. Ada banyak saksi mata di sana yang pasti tidak keberatan bersaksi untukku."
"Jangan terburu-buru. Sebaiknya suruh seseorang menyelidiki siapa sebenarnya gadis itu. Mungkin ada seseorang yang cukup kuat di belakangnya hingga dia memiliki keberanian itu. Kita tidak ingin menyinggung seseorang. Bisnis keluarga sedang stabil. Aku tidak mau gara-gara masalah sekecil ini bisnis keluarga menjadi berantakan. Kalian tahu sendiri, saham perusahaan bisa mendadak turun hanya karena sebuah berita kecil yang tidak menyenangkan." Tuan Harfey berbicara dengan bijak. Dia tahu gadis seperti apa putrinya. Dia memanjakannya tapi dia juga menggunakan akal sehatnya sehubungan dengan putrinya. Tidak lantas karena Shopia putrinya lalu dia menjadi buta dan menyerang sekeliling dengan mata tertutup.
Black Mountain kota yang kejam. Perangkap ada dimana-mana. Seseorang bisa saja kemarin masih berada di puncak kesuksesannya tetapi hari ini bahkan namanya sudah tidak lagi diingat. Tuan Harfey selalu mengingat itu. Dia telah melihatnya terjadi pada beberapa temannya.
"Jadi kau akan membiarkan putri kita dihina begitu saja?!" Nyonya Harfey merasa jengkel pada suaminya yang terlihat tenang itu.
"Tentu saja tidak. Kita akan menghubungi tuan Adam. Dia akan membereskan masalah ini. Tapi identitas gadis itu harus jelas dulu. Seorang gadis biasa mampu membuat nona dari keluarga Harfey di black list oleh mall terbesar di Black Mountain. Bukankah itu sudah cukup mencurigakan?" Tuan Harfey menarik punggungnya ke sandaran sofa. Tampak tidak terprovokasi dengan anak-beranak di depannya.
Mata nyonya Harfey terbelalak. Sementara Shopia tersedak saat menghirup kopi dari cangkirnya. Dia nyaris menyemburkannya. Kejadian di Mall Royal Diamond tidak pernah diceritakannya pada kedua orangtuanya. Shopia kaget ayahnya mengungkit kejadian memalukan itu.
"A… apa maksud, Ayah?" Shopia tergagap.
Sedangkan nyonya Harfey berpaling pada putri kesayangan di sebelahnya. "Bagaimana bisa? Apa itu benar, Shopia?"
"Sayang, bagaimana kau bisa mengatakan itu?" Nyonya Harfey menatap ayah dan anak itu bergantian. Dia tidak tahu apa-apa tentang kejadian di mall.
"Aku mendapat laporan dari orangku. Shopia menyerang gadis itu saat di mall. Kemudian mereka memanggil manajer. Putri kita tidak diijinkan lagi memasuki mall." Meski tuan Harfey tidak menjelaskan si pemberi laporan, tapi mereka sama tahu, Shopia diawasi oleh ayahnya.
__ADS_1