Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 49. Makan Malam


__ADS_3

John Blackton tampak percaya diri saat melangkah memasuki Almer Restaurant. Dia sudah memesan sebuah ruang pribadi begitu Lisle menerima ajakan makan malamnya. Tentu saja John harus mengais isi kantongnya lebih dalam agar bisa menikmati makan malam yang sempurna di restoran terbaik Black Mountain. Namun semuanya sebanding dengan hasil yang akan didapatnya nanti.


Dalam benak John dipenuhi berbagai hal menyenangkan tentang makan malam nanti. Dia mengira-ngira respon seperti apa yang akan didapatnya saat pasangan muda itu tiba di sini. Lesli hanya karyawan rendahan yang pasti belum pernah makan di tempat semewah ini. Dan pacarnya pastilah lelaki muda yang hanya memiliki kemampuan mengajak gadis itu makan di restoran-restoran kecil. Sungguh tak akan bisa dibandingkan dengan John.


Bibir John tak bisa menahan sebuah senyum geli membayangkan ekspresi si lelaki saat dia nanti menanyakan soal pekerjaan. Apa dia akan mengenali lelaki itu? Bukankah Lisle sesumbar bahwa pacarnya juga bekerja di Diamound Group. Mungkin hanya karyawan kecil yang tak dikenalnya atau seseorang dengan tugas remeh di dalam perusahaan. Siapa pun itu, John tak akan percaya jika jabatannya akan  lebih baik dari yang dimiliki John saat ini.


Sambil memainkan ponselnya John yang datang lebih awal mulai menunggu dengan sabar.


***


Lisle duduk membuat jarak dengan Kennard dalam mobil yang dikendarai oleh Steve. Sang asisten yang bertugas menjadi sopir malam ini membuat gadis itu bertanya-tanya sendiri dalam hati. Dia baru saja berdebat dengan tuan Kent yang jahat itu tentang si manajer John.


“Tuan, jangan membuat John merasa tidak nyaman nantinya, ya. Kita hanya makan malam kemudian langsung pulang. Jangan katakan apa-apa padanya tentang hubungan kita. Juga jangan kaitkan ini dengan pekerjaannya di perusahaan....” Lisle mengatakan itu saat mereka berjalan menuju mobil yang diparkir di halaman Palm Garden.


 Sejujurnya keputusan tuan Kent menerima undangan John untuk makan malam membuat hatinya berdebar. John akan melihat bahwa Lesli memiliki hubungan tertentu dengan presdirnya.  Bukan mustahil bila esok harinya seisi perusahaan akan tahu. Dan Lisle akan menerima berbagai tanggapan yang semuanya pasti sama-sama tidak akan menyenangkan.


“Juga katakan padanya agar menutup mulutnya. Aku tidak mau besok semua orang tahu tentang kita....” Lisle masuk ke dalam mobil yang pintunya dibukakan oleh Steve.


“Tahu apa?” ujar Kennard begitu mereka sudah sama-sama duduk di kursi penumpang.


Lisle tergagap, tidak siap dengan pertanyaan itu. Tentu saja dia juga tidak mengerti dengan hubungan tidak jelas ini. Meski Kennard sering menyebutnya sebagai 'gadis milikku’ tapi itu adalah pernyataan yang ambigu. Bisa berarti kekasih atau hanya sebuah mainan miliknya.


“Eh, itu....” Lisle tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


“Apa?” tanya Kennard lagi sambil matanya menyiratkan tatapan menggoda yang sangat dikenali Lisle. Dia senang membuat gadis itu salah tingkah dengan pipi yang bersemu merah.


“Pokoknya aku mau seperti itu....” Lisle memalingkan wajahnya menghindari wajah  menawan yang sedang menatapnya. Diam-diam gadis itu menelan ludah. Tuan Kent selalu terlihat lebih tampan setiap Lisle mengamatinya.


“Aku tidak suka diatur,” ujar Kennard saat mobil mulai bergerak meninggalkan Parm Garden.


“Maksudku bukan begitu....”Lisle buru-buru menjelaskan. “Kau tentu tidak mau malu dikatakan memiliki hubungan tertentu denganku ‘kan? Bayangkan, seorang presdir dan si pengantar dokumen. Apa kata mereka nantinya? Kau akan direndahkan....”


“Siapa yang akan berani merendahkanku?” ujar Kennard dingin.


“Eh?” Lisle kebingungan harus berkata apa lagi. Dia tahu tak akan bisa menang jika berdebat dengan lelaki ini.


Sementara di depan kemudi, Steve mendengarkan pembicaraan dua orang itu dengan perasaan geli. Tuannya tidak pernah sesabar itu menghadapi kecerewetan seorang gadis. Dan nona ini, Steve selalu dibuat ingin tertawa oleh tingkahnya. Bagaimana Lisle menganggap tuannya bisa dilarang-larang melakukan sesuatu yang memang ingin dilakukannya? Seluruh Black Mountain dalam genggaman tuan Kent, dan gadis itu selalu mencoba berdebat tentang sesuatu hal yang sepele, berharap tuannya mau mengalah pada seseorang. Bukankah itu mustahil?


***


Lisle berjalan agak ke belakang di sebelah Kennard. Tingkahnya seperti anak kucing yang bersembunyi di belakang induknya. Tanpa sadar dia memegang bagian siku mantel yang dikenakan Kennard saat memasuki restoran yang diberitahu John pada gadis itu.


Pelayan membukakan pintu ruangan yang telah dipesan John, mempersilakan Kennard dan Lisle masuk.


John sudah mendengar suara-suara di luar. Dia mengira Lisle dan pasangannya sudah tiba, jadi John mematikan layar ponselnya dan  buru-buru berdiri untuk menyambut. Mereka terlambat hampir setengah jam, membuat John sedikit kesal dan menyumpah dalam hati. Dasar orang rendahan yang tidak bisa menghargai waktu, makinya dalam hati.


Seulas senyum telah disiapkan John waktu pintu terbuka. Namun seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan penampilan dan sikap yang elegan menyurutkan senyum John dalam sekejap seperti air sungai yang kembali ke hulu. Dia terkejut dan bingung dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Dimana gadis itu?  Kenapa tuan presdir ada di sini? Siapa yang sudah salah masuk ruangan? Deretan pertanyaan itu menggema di kepala John. Dia tak melihat Lisle yang berdiri terlindung di balik tubuh Kennard. Gadis itu berdiri nyaris menempel di punggung lelaki itu.


“Tu... Tuan presdir? Maaf, bagaimana anda bisa di sini?” John bicara gagap sambil menunduk dengan hormat. Otaknya benar-benar tidak bisa menebak kenapa lelaki ini bisa masuk ke ruangannya. Apa John yang telah salah mengambil tempat? Dari pandangan dingin tuan Kent, tidak mungkin lelaki itu yang keliru dengan keberadaannya.


“Bukankah kau yang mengundang kami makan malam, manajer humas John Blackton?” Kennard mengeja nama itu lambat-lambat dengan nada paling membekukan. Dia meraih ke belakangnya dimana Lisle menempel seperti anak kucing yang gugup, memeluk pinggang gadis itu dalam satu gerakan ringan.


Mata John membelalak dalam ketidakpercayaan kemudian berganti menjadi kengerian yang hebat. Lisle, gadis  itu dan tuan Kent, bagaimana bisa?


“Sayang, kau tidak menyapa tuan John?” Suara Kennard menjadi lembut dan lebih hangat saat berbicara pada Lisle. Dia memberikan gadis itu tatapan paling mesra, membuat pipi Lisle bersemu merah.


“Hallo, tuan John,” sapa Lisle lembut dan malu-malu.


John seperti lupa bernapas. Tidak mungkin ‘kan ini hanya sebuah sandiwara? Tuan Kent bukan orang yang bisa diajak melakukan ‘permainan pura-pura menjadi kekasih’. Tapi sekali lagi, bagaimana bisa si pengantar surat dan tuan presdir?


“Lisle... maaf, maksud saya, Nona Lisle dan Tuan.... Si... silakan duduk....” John tiba-tiba berkeringat dingin. Dia meraba dalam saku jasnya dan mendapatkan saputangan untuk melap wajahnya yang basah.


Di luar, angin awal musim gugur yang cenderung dingin membawa daun-daun kering maple berserakan hingga ke jalanan yang ramai. Dua orang seniman jalanan memainkan lagu sedih sambil merapatkan jaket mereka. Suaranya terdengar lirih dan menyayat perasaan.


 -----------------------


Kami di sini turut berduka untukmu, John 🤭🤭🤭


Hallo semuaaa... Yang akan merayakan lebaran sudah pada siap-siap, ya? Apa aja nih persiapannya? Semoga semuanya terus diberi kesehatan, kebaikan dan kebahagian hari ini dan hari-hari selanjutnya. Semoga semuanya juga masih tetap semangat baca tulisan ini. Dukung terus author dengan klik like, komen, vote, hadiah.... THR nya juga boleh 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2