Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 36. Sebuah Pesta dan Saingan Cinta


__ADS_3

Lisle memperhatikan Kennard yang terlihat sangat menawan dalam balutan jas mewahnya. Dia tengah membaca sebuah buku dan diam-diam mengintip dari baliknya saat lelaki itu mondar-mandir antara kamar mandi, walk in closet dan kembali ke kamar tidur. Sekali waktu ponselnya berbunyi dan lelaki itu berbicara sebentar di sana. Sepertinya Kennard tengah bersiap-siap untuk pergi ke suatu acara penting.


Saat pulang tadi siang Lisle terkejut menemukan lelaki itu makan siang di rumah. Dia berharap Kennard tidak tahu mengenai kejadian yang menimpanya di mall. Bagaimana pun Shopia hanya sedang emosi karena cemburu. Dia tak ingin seseorang disakiti karena dirinya. Terlebih lagi itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. Shopia berpikir Lisle memiliki hubungan tertentu dengan Ralph.


Namun Lisle kemudian menjadi lega karena Kennard tak sedikitpun menyinggung masalah itu. Dia pikir Steve pasti tidak melaporkan hal kecil seperti itu pada Tuannya.


Mereka tidak banyak bicara saat makan. Kennard pergi ke ruang kerja setelahnya dan tetap di sana menjelang sore. Sekarang laki-laki itu tengah bersiap-siap pergi. Lisle enggan bertanya karena merasa tak punya hak mencampuri urusan Kennard. Dia hanya sangat penasaran.


Wajah Lisle tenggelam dalam buku besar nan tebal itu. Dia tampak membaca tapi sebenarnya tengah melamun. Saat sebuah tangan merebut buku itu dari tangannya, dia menjadi sangat kaget. Laki-laki itu menunduk di depannya hingga wajahnya yang tampan menjadi sangat dekat.


“Membaca atau sedang melamun?” Senyum Kennard terlihat menggoda.


“Tentu saja membaca.” Muka Lisle memerah. “Kembalikan bukuku!” Dia bermaksud merebut buku itu dari tangan Kennard tapi tidak cukup gesit hingga buku itu tidak terjangkau olehnya.


“Aku tidak tahu kau punya kemampuan membaca dengan posisi buku yang terbalik.” Akhirnya Kennard meletakkan buku itu di sofa di sebelahnya.


“Apa? A... aku....” Lisle merasa malu luar biasa. Bukunya terbalik. Kenapa bisa?


“Ada perjamuan bisnis nanti malam. Kau mau ikut? Kalau sekarang bersiap, kita masih sempat tiba di sana meski sedikit terlambat.” Kennard tahu gadis ini beberapa kali mengintip dari balik buku yang pura-pura dibacanya. Rasa penasaran tampak jelas di wajah cantik itu. Tingkahnya yang seperti itu membuat Kennard hampir tertawa. Sangat kekanak-kanakan, batinnya.

__ADS_1


“Hah? Tidak. Aku tidak mau. Kau pergi saja.” Lisle menggeleng cepat hingga rambutnya yang dikuncir tinggi ikut bergoyang kesana-kemari.


Meski dia penasaran dengan pesta seperti itu, Lisle tidak berniat ikut dengan tuan Kent. Apa dia ingin wajahnya dilihat dunia bersama dengan makhluk luar biasa ini?


“Kenapa tidak mau? Takut dilihat orang?” tanya Kennard sambil lengannya menarik gadis itu hingga berada dalam pelukannya.


Lisle terlihat sangat menarik dengan kaos kebesaran dan celana pendeknya. Bagi Kennard baju itu benar-benar jelek tapi anehnya menjadi sangat menawan saat dikenakan Lisle. Gadis ini mengangkut semua pakaiannya ke Parm Garden dan memakainya hilir mudik di seantero rumah mewah itu, menimbulkan gosip di antara pelayan. Mereka heran, Kennard tak keberatan.


Aroma parfum yang maskulin memenuhi indera penciuman Lisle, menimbulkan perasaan yang aneh.


“Kau sudah berjanji tidak akan memperlihatkan hubungan kita.” Jika bisa, Lisle ingin tubuhnya menyusut beberapa senti agar pelukan itu menjadi sedikit lebih longgar.


“Kalau kau mau ikut, aku tak keberatan mengingkari janjiku.” Kennard meraih dagu kecil Lisle.


“Aku tidak memaksamu ikut. Aku hanya menawarimu.” Alis Kennard terangkat dan senyumnya membuat Lisle makin kesal.


“Sudahlah. Pergi saja sendiri. Aku tidak tertarik dengan keramaian.” Lisle melepaskan diri dari rengkuhan lengan besar itu. “Masih ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan.” Dia buru-buru keluar kamar menuju ruang kerja Kennard. Laki-laki itu mengijinkannya berada di sana jika hendak mengerjakan tugas-tugasnya.


Kennard memperhatikan kepergian Lisle hingga menghilang di balik pintu. Senyumnya segera menyusut.

__ADS_1


Awalnya Kennard tidak berencana mengajak gadis itu pergi. Asistennya Steve sudah menghubungi Alice, seorang model terkenal yang sempat membuatnya tertarik beberapa saat lalu untuk menemaninya ke pesta itu. Namun telepon dari Hans yang memberitahu bahwa Ralph Caldwin, lelaki yang beberapa hari ini berusaha menyelidikinya, tiba-tiba datang ke sebuah acara yang sama, membuat Kennard berubah pikiran. Kennard ingin tahu reaksi laki-laki itu bila melihat Lisle, gadis yang disukainya datang bersamanya.


Sayangnya gadis itu menolak seperti perkiraannya. Kennard juga tak ingin memaksa.


***


Para tamu tampak sudah saling berbaur ketika Ralph berjalan dengan langkah pasti ke arah seorang laki-laki paling mengesankan yang ada di pesta itu. Kennard datang paling akhir, seolah menunjukkan pada semua tamu bahwa dia sangat sibuk dan tak punya cukup waktu berada di sepanjang acara. Di sebelahnya bergelayut manja seorang gadis dengan penampilan memikat. Mereka tampak cukup serasi. Hanya saja pemandangan itu membuat Ralph semakin kesal saja.


Jika Kennard adalah pacar Lisle, kenapa bukan gadis itu yang menemani laki-laki itu malam ini?


“Tuan Kent, apa saya boleh meminta waktu anda sebentar. Saya ingin membicarakan sesuatu.” Ralph mengulurkan tangannya. “Saya Ralph Caldwin. Mungkin tuan pernah mendengar tentang saya.”


Kennard hanya melirik sedikit pada tangan yang terulur ke arahnya tapi mengabaikannya dan berbisik ke telinga Alice, gadis yang menemaninya. “Apa kau tak ingin berbicara dengan tuan Jackson? Aku melihatnya di dekat taman. Kudengar dia sedang merencanakan sebuah proyek film baru.”


Mata gadis yang dipanggil Alice tampak bersinar makin cerah mendengar kata-kata Kennard. Dia tahu tak bisa berharap lebih dari hari ini, menemani lelaki ini ke pesta. Jika beruntung dia masih bisa menikmati sisa malam ini dengan naik ke ranjang  tuan Kent yang menjadi impian banyak gadis. Di atas semua hal itu, dia bisa mendapatkan keuntungan lain lagi. Sebagai model yang sedang mencoba dunia akting, kebersamaannya dengan tuan Kent akan menaikkan nilainya di mata produser film. Ini kesempatan seumur hidup yang tak boleh dilewatkan.


Alice mengangguk sambil memamerkan senyumnya yang paling manis. Dia tahu ada urusan yang tak boleh didengarnya, tapi dia juga senang karena tuan Kent sedang menunjukkannya sebuah jalan bagi ketenaran. Dengan anggun dia meninggalkan kedua orang itu yang masih memandangnya hingga lenyap di antara para tamu yang berlalu lalang.


“Gadis itu telah sangat berusaha. Menurutku tidak terlalu buruk. Hanya saja akhir-akhir ini aku sedang tidak tertarik dengan tipe gadis seperti itu,” ujar Kennard lalu berpaling pada laki-laki yang lebih muda di depannya.

__ADS_1


Ralph merasa tuan Kent ini sedang ingin mengatakan sesuatu yang lain. Mungkin maksudnya saat ini dia sedang menyukai tipe gadis polos seperti Lisle. Ralph menahan diri untuk tidak meninju wajah lelaki di depannya.


“Katakan, berapa harga yang harus kubayar untuk melepaskan Lisle darimu?” Ralph langsung berkata tanpa basa-basi.


__ADS_2