
Kenapa dia suka sekali menggangguku? Lisle dengan enggan melepas jubah mandinya begitu mendengar kata-kata Kennard yang membuatnya jengah. Mata Kennard yang tak lepas darinya kemudian membuat Lisle menjadi semakin malu. Kedua tangannya menyilang di depan dada seolah dengan berbuat begitu akan membuat dirinya tak terlihat.
Kennard masih terpaku pada pemandangan di depannya, Lisle dengan baju minim berwarna merah muda. Rok pendeknya yang hanya menutupi pinggul bergerak-gerak tertiup angin laut. Gadis itu tidak saja terlihat seksi, tapi juga imut dan lucu. Apalagi dengan pose malu-malunya itu, membuat Kennard tak tahan untuk tak menutup mulutnya.
“Aku jadi berpikir untuk memperpanjang liburan ini,” ujarnya sambil melangkah makin dekat. Diulurkannya tangan untuk meraih gadis itu.
“Ja... jangan dekat!” Lisle menggeleng memberi isyarat agar Kennard tak melangkah lebih jauh lagi. Dia bergerak mundur di tepian kolam. Tak dibayangkannya jika harus bersentuhan dengan kulit telanjang lelaki itu.
“Hm, airnya cukup dalam. Kau berani masuk ke kolam sendiri tanpa dipegangi?” tanya Kennard.
“Aku....” Lisle tampak ragu-ragu. Matanya kembali menatap jernih air kolam, mencoba mengira-ngira kedalamannya.
Kennard tiba-tiba melompat ke dalam kolam, menimbulkan percikan air ke sekitar. Tubuh Lisle sedikit basah karenanya. Lelaki itu berenang ke ujung kolam dan berbalik menyelam kemudian tiba di permukaan kolam di dekat kaki Lisle. “Ayo turun!” perintahnya.
Lisle melihat air kolam setinggi leher lelaki itu. Bila dia turun ke kolam, dia akan tenggelam karena tinggi badannya yang lebih rendah.
“Jangan membantah lagi!” Kennard mengingatkan melihat Lisle yang masih enggan.
“Tapi airnya dalam....”
“Aku akan memegangimu.”
Lisle akhirnya pasrah, dengan gugup masuk ke air kolam. Kennard langsung menyambut memegang tangannya. Tapi karena takut akan tenggelam, Lisle malah meraih bahu lelaki itu dan memeluknya erat. Wajah mereka jadi berhadapan. Sangat dekat. Kennard tampak tersenyum jahil.
Senyum itu membuat Lisle gugup. Apalagi posisi mereka yang begitu dekat mengejutkannya. Tanpa sadar dia melepaskan rengkuhan tangannya, membuatnya kesulitan menstabilkan diri. Otomatis dia tenggelam ke air dengan segera.
“Dasar gadis bodoh! Kenapa dilepas?!” Terdengar makian Kennard saat tubuh Lisle kembali ke permukaan. Lelaki itu membopongnya dari dalam air.
__ADS_1
Lisle masih tersedak oleh air yang masuk ke mulut dan hidungnya tadi. Wajahnya memerah dan airmatanya bercampur dengan air kolam. Dia memeluk erat leher Kennard dengan gemetar. Tenggelam beberapa saat tadi membuatnya tak berani melepaskan tangannya lagi dari tubuh Kennard.
“Aku ingin naik. Aku tidak ingin belajar berenang....” Terdengar ceracau Lisle yang cemas.
“Hm, jadi kau memilih berenang di kamar?” Kennard mengingatkan Lisle dengan pilihan yang diberikan.
Mata Lisle terbelalak. Dia tak mengira Kennard masih bersikeras mengajarinya berenang.”Ba... baik. Berenang di air....”
Setelah proses yang melelahkan, akhirnya Lisle mulai berani sedikit demi sedikit melepas tangannya dari Kennard. Dengan susah payah mengerak-gerakkan tangan dan kaki membuat dirinya tetap di permukaan beberapa saat.
Ternyata airnya tak sedalam yang dia pikir. Saat Lisle mencoba berdiri dengan benar di air, tingginya hanya mencapai lehernya. Dan ketika dia memperhatikan Kennard, air hanya mencapai setengah lengannya. Bagaimana tadi dia bisa mengira airnya setinggi leher lelaki itu? Apa mungkin dia salah lihat?
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa baru sadar kalau aku sangat tampan?” Kennard lagi-lagi menggodanya.
Meski tak pelak kata-kata itu menimbulkan semburat merah di pipinya, Lisle berujar juga, “Kupikir airnya tadi lebih dalam?”
Lisle melihat Kennard perlahan bergerak turun di dalam air. Sekarang permukaan air mencapai lehernya.
“Astaga! Kau... kau menipuku!” Lisle berteriak kesal. Teringat olehnya bagaimana dia merasa panik saat kakinya menyentuh air. Lalu karena kaget tiba-tiba melepas pegangannya pada lelaki itu dan tenggelam beberapa saat. Waktu itu dia begitu bergantung pada bantuan Kennard.
Dengan segera Lisle berbalik menuju tepi kolam. Dia tidak ingin lagi berada di sana dan menjadi bahan tertawaan Kennard, tapi tangannya tiba-tiba ditarik dan tubuhnya kini berada dalam pelukan lelaki itu.
“Merajuk?” bisik Kennard di telinga Lisle.
Gadis itu sudah membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu tapi bibirnya telah dibungkam dengan ciuman. Hanya terdengar gumaman dan keluhan. Laki-laki ini selalu saja menggunakan setiap kesempatan untuk menciumnya!
***
__ADS_1
Lisle makan sambil menunduk pada piring di depannya. Tak sekali pun mencoba melirik pada Kennard di seberangnya. Dia masih jengkel karena kejadian di kolam renang. Bisa-bisanya mengambil kesempatan dari kelemahannya!
Tadi lelaki itu begitu terampil memasak di dapur. Lisle hanya memperhatikan tanpa bersuara. Sesekali tangannya bergerak mengambil suatu bahan atau barang yang diperlukan bila Kennard memerintah. Entah dia hendak memasak apa.
Bibir Lisle masih tak henti ditekuk. Tapi dia tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat gerakan Kennard saat mengiris bawang dan sayuran. Saat lelaki itu memasukkan daging dan sayur lalu menaburkan bumbu-bumbu, dia tidak tampak canggung sama sekali. Lalu dalam waktu yang tidak terlalu lama aroma harum sup menguar di udara ruangan.
Ponsel Kennard berdering. Kennard meraih benda yang terletak di meja di sampingnya dan mendengarkan.
“Aku dengar kau berlibur. Kenapa tidak mengajak kami?” Suara Nathan menembus pendengaran Kennard.
“Aku sedang tidak ingin diganggu saja,” ujar Kennard dengan mengerutkan alis. Dia mendengar suara gemuruh samar.“ Lagipula, gadisku sangat pemalu.”
Kennard memandang Lisle di depannya yang sedang mendorong piring makan malamnya. Gadis itu berdiri setelah meliriknya sekilas kemudian membereskan semua peralatan makan di meja.
“Sudah kami kira. Kau menyembunyikan seorang gadis. Siapa? Apa seorang artis? Putri pengusaha? Ah, tidak perlu kau katakan. Kami pasti juga akan segera mengetahuinya.” Ada nada licik dalam suara Nathan.
“Jangan coba menampakkan wajah kalian di sini!” Kennard bisa menebak apa maksud perkataan sahabatnya itu. Dia hanya tak ingin Lisle menjadi bulan-bulanan ketiga lelaki itu. Mereka sangat kompak jika mulai usil. Sekarang pun tampaknya dia sudah menjadi sasaran keusilan mereka.
“Bagaimana, ya? David dan Benyamin sudah naik helinya. Aku tutup dulu teleponnya. Sebentar lagi kami akan sampai ke sana!” Nathan mengakhiri panggilan dengan suara yang lebih keras karena beradu dengan gemuruh putaran baling-baling.
“Sialan, mereka!” Kennard menggenggam ponselnya dengan erat nyaris membuat benda itu remuk. Kadang dia tak mengerti bagaimana ketiganya bisa memiliki kegilaan yang sama. Mereka adalah para pewaris utama dari tiga keluarga berpengaruh di Black Mountains. Tiga dari lima keluarga yang berbagi kekuasaan. Orang-orang mengenal mereka sebagai tuan muda yang sukses mengelola bisnis keluarga, terhormat dan disegani. Di depan Kennard mereka malah bertingkah kekanak-kanakan.
Lisle di depan menatapnya dengan pandangan bertanya begitu mendengar umpatan Kennard.
“Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu, teman-temanku. Mereka memang agak sinting, tapi sebenarnya cukup baik. Hanya saja mulut mereka tidak bisa diam. Kau kembali saja ke kamar lebih dulu. Aku akan mengenalkan mereka besok.” Kennard bangkit dari duduk dan meninggalkan ruang makan.
__ADS_1