Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 47. Siapa Karyawan Yang Menjadi pacar Lisle?


__ADS_3

Lisle tidak berpikir sejauh itu. Dia hanya menjawab sekenanya. “Dia sedang dinas keluar.” Bukankah tuan Kent berkata dia sedang keluar. Entah luar kota atau negeri.


Mengingat itu membuat Lisle sedih tanpa sebab. Dia jadi benar-benar ingin mendatangi apartemennya dan tinggal di sana selama tuan Kent belum kembali. Meski mungkin Celine belum juga kembali dari menjenguk ibunya.


Dean tampak berusaha mengingat-ingat siapa karyawan yang dikenalnya yang sedang bertugas keluar kota. Tapi semuanya tidak cocok.  Mereka yang diberi tugas keluar semuanya bukan karyawan rendahan; ada seorang manajer dan asistennya, seorang direktur dan sekretaris. Ada juga seorang teknisi andalan yang ditugaskan ke salah satu cabang selama beberapa hari, tapi dia seorang introvert yang terlihat kaku, Dean meragukan lelaki itu bahkan bisa punya teman. Tentu saja dia mengabaikan tuan presdir yang pergi keluar negeri dua hari lalu. Pemilik Diamound Group itu tidak masuk hitungan.


Dean ingin mengatakan sesuatu lagi ketika lift berhenti dan Lisle menghambur keluar. Dia menunggu sebentar sebelum pintu lift kembali menutup. Tujuannya semula ke departemen perencanaan tiba-tiba berganti ke HRD. Dia ingin mencari tahu sesuatu.


***


Lisle meneguk jusnya sedikit sambil tangannya mengutak-atik ponsel pintar pemberian tuan Kent. Dia tengah berada di kafetaria perusahaan pada jam istirahat yang ramai. Menu hari ini tidak mampu mengundang seleranya. Jadi dia hanya minum segelas jus apel untuk pengisi perutnya.


“Wow, I-Phone keluaran terbaru.” Seorang gadis tiba-tiba duduk di depan Lisle dengan sebuah nampan berisi makan siang. “Kau tidak sedang menunggu pacarmu ‘kan?”


Lisle mengenali gadis itu sebagai Allison dari departemen keuangan. Dia hanya tersenyum sedikit mendengar komentar gadis itu dan buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Tidak,” ujar Lisle menjawab pertanyaan tentang menunggu pacar itu.


“Apa Dean dari departemen perencanaan itu masih mengganggumu?” tanya Allison di tengah kunyahannya.


“Tidak juga. Dia hanya berbicara sedikit denganku,” ujar Lisle jujur.


“Berbicara atau merayu?” Allison bermaksud menggoda.


“Dia tidak pernah merayuku. Dia tahu aku punya pacar.” Lisle membantah.


“O ya, kau sudah punya pacar. Sepertinya setidaknya setengah laki-laki di gedung ini tahu itu dan mereka menggosipkannya seperti para wanita tua yang nyinyir.” Suara Allison dipenuhi kecemburuan.

__ADS_1


Lisle memandang polos pada gadis di seberangnya. “Apa itu penting sampai mereka merasa perlu bergosip tentangku?”


“Yah, kau benar. Itu sama sekali tidak penting. Tapi entah kenapa mereka jadi penasaran dengan pacarmu itu. Kau bilang dia bekerja di sini. Dan Dean mendatangi mantannya, Diana di HRD untuk mencoba menemukan siapa pacarmu itu dengan melihat data karyawan yang sedang dinas keluar. Lalu entah kenapa mereka mulai bertengkar.” Allison tampak bersemangat saat menceritakannya.


“Kurasa gadis itu cemburu. Berita itu sudah menyebar, tentang Dean yang mengejarmu.” Allison menambahkan.


“Aaah....” Lisle menghela napas kesal. Baru tiga hari, dia sepertinya sudah membuat kekacauan di tempat ini.


“Tapi menurutku, Dean tidak berbahaya. Kau harus lebih berhati-hati pada si manajer humas. Kurasa kau sudah bertemu dengannya. Pria tua itu sangat licik. Sudah beberapa gadis menjadi korbannya.” Allison mengambil tissu dan mengelap tangannya kemudian meneguk setengah jus lemon yang tersisa.


“Apa kau tidak ingin mengatakan siapa pacarmu padaku? Aku janji akan tutup mulut.” Allison membuat gerakan menutup dengan tangan pada bibirnya.


“Tidak. Aku tidak ingin mengganggunya. Dia bahkan tidak tahu kalau aku bekerja di sini....” Lisle berkata jujur.


“Dia tidak tahu kau bekerja di sini? Bagaimana bisa?” Allison merasa heran.


“Kau pasti akan ketahuan. Apalagi kau harus berkeliling ke beberapa departemen. Suatu hari dia akan memergokimu. Tapi bukankah bagus kalau kalian bekerja pada perusahaan yang sama?” Allison bingung dengan sikap pacar Lisle yang tidak suka berada dalam satu tempat kerja yang sama dengan Lisle.


“Aku tidak tahu.” Lagi-lagi Lisle mengedikkan bahunya. Dia merasa semuanya menjadi seperti benang kusut, hidupnya, rasanya sangat sulit untuk diuraikan lagi.


Itu adalah akhir makan siang sekaligus akhir cerita Allison. Gadis dengan rambut keriting itu melenggang pergi, meninggalkan Lisle di mejanya yang terletak di sudut ruangan. Lisle mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati banyak pasang mata yang mencuri pandang. Dia buru-buru menghabiskan jus di gelas dan bangkit meninggalkan tempat itu.


Kenyataannya hari itu Lisle tidak bisa menghindari beberapa hal, salah satunya manajer humas, John Blackton.


Dokumen terakhir yang harus diantarkan Lisle adalah dokumen dengan tujuan departemen Humas. Hari ini jumlah dokumen yang harus diantarnya satu setengah kali lebih banyak dan dia menjadi lebih lamban dari biasanya. Hingga akhir jam kerja, Lisle masih menyisakan beberapa dokumen yang harus diantar. Dan sekarang telah lewat satu jam dari waktu kepulangan. Lisle berjalan memasuki ruang kantor Humas yang sudah sepi, meletakkan dokumen di meja biasa dan membalikkan badan bermaksud pergi.

__ADS_1


Seseorang yang tubuhnya lebih tinggi sedikit darinya sudah berada di depan Lisle.


“Ah, Nona Lisle, kebetulan sekali. Aku pikir kau akan menelpon, jadi aku terus menunggumu. Kartu nama yang kuberikan tidak hilang ‘kan?”  John Blacton berdiri seperti menghadang. Dia menyesali kenapa belum mendapatkan nomor ponsel gadis ini.


Jantung Lisle rasanya hampir melompat keluar. Dalam ruangan besar yang sunyi, lelaki itu tiba-tiba seperti hantu sudah berdiri di depannya.


“Tu... Tuan John?!” Lisle meletakkan tangannya di dada.


“Aku mengejutkanmu, ya”? Laki-laki itu menyeringai. Pandangannya menelusuri tubuh Lisle dari atas hingga bawah. Gadis ini telah menarik perhatian banyak lelaki di kantor ini. John tidak ingin terlambat mengambil kesempatan. Meski pun gadis ini meyakinkan semua orang bahwa dia sudah punya kekasih tapi John tidak percaya begitu saja. Dia lelaki berpengalaman yang tidak mudah dikelabui. Dan dia memiliki pendapatnya sendiri. Menurutnya, pacar yang diakui Lisle adalah fiktif semata sebagai upaya gadis itu menghindari semua lelaki yang mecoba mendekatinya.


“Mmm, aku harus pergi, Tuan.” Lisle  melangkah ke samping bermaksud melewati John.


“Sebentar. Bagaimana dengan makan malamnya, apa pacarmu setuju?” Ada kemungkinan gadis ini membawa seseorang yang akan mengaku sebagai pacarnya di depan John. Tapi laki-laki seperti apa yang sanggup dibawa gadis ini? Pastinya John akan mempermalukannya. Dia akan memesan ruang pribadi di sebuah restoran terkenal di Black Mountain dan datang dengan mobil terbaiknya.


Meskipun John sudah berusia empat puluhan, dia masih terlihat tampan dan merasa percaya diri. Dia masih sanggup bersaing dengan lelaki yang lebih muda darinya.  Apalagi dengan jabatan manajer yang dipegangnya sekarang, John telah banyak menaklukkan gadis-gadis muda.


“Eee, aku belum menanyakannya....” Lisle kebingungan menjawab. Bagaimana dia berani menanyakannya pada tuan Kent. Itu sama saja dengan cari mati.


John tersenyum merasa di ambang kemenangan. Tentu saja gadis ini belum menanyakannya. Memangnya dia akan bertanya pada siapa? Pacar itu pasti hanyalah bualan Lisle semata.


Saat itu ponsel Lisle berbunyi.


“Maaf,” ujarnya pada John. “Saya harus menjawab teleponnya.” Lantas dengan terbirit-birit Lisle berlalu dari sana. Dia merasa lega telah terselamatkan dari lelaki itu.


Sambil berjalan di lorong yang menuju lift, Lisle menerima panggilan tanpa melihat nama penelpon.

__ADS_1


“Hallo....”


“Apa yang kau lakukan di departemen humas?” Suara dingin itu langsung membuat jantung Lisle membeku.


__ADS_2