
Lisle menggunakan seluruh kekuatan yang tersisa. Dia menerjang dengan cara yang tidak bisa dibayangkan oleh seisi tempat pelatihan itu. Memukul, menendang lalu mencakar dan menjambak. Andra benar-benar tampak terkejut. Dia menghindari pukulan dan tendangan tapi tak mengira Lisle akan menjambak dan mencakar. Kali ini Andra tak bisa mengelak. Mereka terjatuh bersama-sama ke matras dengan posisi Andra terhimpit tubuh Lisle. Tangannya membelit rambut Andra hingga kepala gadis itu terdongak ke belakang.
Seisi ruangan terhenyak. Sunyi. Hingga sebuah tepuk tangan memecah keheningan.
"Itu yang kumaksud. Dalam pertarungan sesungguhnya, lupakan teknik apapun. Kau sedang bertaruh dengan nyawa sendiri. Jadi gunakan segala cara." Kennardlah yang bertepuk tangan.
Lisle masih tersengal di atas tubuh Andra. Gadis di bawahnya meringis menahan sakit. Ketika Lisle tersadar, dia melepaskan tangannya pada rambut gadis itu lalu bangkit terhuyung. Seorang gadis lain yang mencoba memapahnya didorongnya. Dia terus keluar arena dan beranjak keluar gedung tanpa menoleh lagi.
***
Dirty Bay City. Kota misterius berjarak ribuan kilometer dari Black Mountain tapi tak terbaca dalam peta mana pun. Hanyalah sebuah daratan kecil dengan penduduk beberapa gelintir. Lebih menyerupai hutan gelap dengan kehidupan rahasia di dalamnya. Berada di perbatasan dua negara hingga menjadi tempat yang tidak ingin didatangi karena bisa menimbulkan resiko bahaya.
Pemuda itu bertubuh tinggi kurus tapi memiliki wajah cukup tampan. Kelopak matanya terlihat seperti selalu hendak menutup bagai orang mengantuk. Namun di baliknya ada sepasang mata yang tidak bisa dipercaya.
Di depannya, di sebuah sofa besar, seorang lelaki bertubuh besar dengan selisih usia setidaknya seperempat abad dengan pemuda itu, duduk dengan menumpang kaki. Di wajahnya yang tampak keras dengan bentuk persegi terdapat luka memanjang dari tengah pipi kanan hingga telinga. Luka itu tampak jelas menghiasi wajahnya yang mulai ditumbuhi kerutan.
"Kurasa sekarang sudah waktunya kau membalas budi," ujar si lelaki yang lebih tua. Dia mengenakan mantel berwarna gelap dengan kemeja sederhana di bagian dalam. Sebelah tangannya bertumpu pada tongkat dengan pegangan terbuat dari emas.
"Katakan saja apa yang harus kulakukan, Tuan Alger." Si pemuda bersandar santai ke sandaran sofa yang di dudukinya.
Tidak jauh dari sana, dari balik tirai pembatas ruang seorang wanita setengah tua terlihat ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kau tahu kita memiliki musuh yang sama. Dia memang sangat tangguh tapi bukan berarti tidak punya kelemahan. Aku sudah menunggu lama. Mengikuti setiap gerakannya dari jauh hanya untuk hari ini, hari pembalasan. Dulu dia tidak punya kelemahan karena semua yang menjadi kelemahannya telah musnah. Tapi kabar terakhir dari orang-orang yang menyusup ke sana, lelaki itu telah menikah." Tuan Alger yang bernama lengkap Peter Alger menerawang pada sebuah masa yang paling gelap dari hidupnya.
__ADS_1
"Kau tahu, wanita selalu menjadi kelemahan bagi pria. Itulah sebabnya aku enggan menikah lagi setelah kematian istriku. Wanita bagiku sekarang hanyalah alat untuk bersenang-senang. Tidak lebih. Kau sebaiknya mengingat ini." Peter menambahkan dengan suara tajam. "Wanita dimana-mana terbukti menjadi sebab kehancuran sebagian besar laki-laki."
Pemuda yang tadi hanya menunduk mengamati ujung-ujung kukunya yang terpangkas rapi kini mendongakkan wajah. Berita pernikahan si lelaki dalam pembicaraan mengejutkan sekaligus membuatnya tertarik. Namun dia tidak berkomentar apapun.
"Aku ingin kau memancing gadis itu keluar dari Black Mountain. Karena di dalam sana kita tidak leluasa bergerak. Orang itu menempatkan beberapa orang terlatih untuk mengawasi istrinya. Buat gadis itu memanipulasi pengawalnya sendiri." Sang lelaki tua meletakkan sebuah amplop besar coklat di atas meja.
"Kau akan masuk ke sana dengan identitas baru. Segala sesuatunya telah diatur. Aku menyuruh Barnes untuk menemanimu. Dia prajurit profesional. Kau akan memerlukannya. Dekati dan bujuk gadis itu." Tuan Alger menambahkan lagi instruksinya. "Ibumu akan tetap di sini sampai waktunya dia harus pergi. Jangan khawatir. Aku akan menjaganya. Kau tau sendiri, Dirty Bay sangat aman selama ini."
Ada seratus lebih orang-orangnya yang menjaga pulau. Mereka hidup seperti penduduk sebuah kota kecil yang terisolasi. Berkebun, berdagang hingga menjadi nelayan. Mereka juga memiliki keluarga yang tinggal bersama mereka. Tapi sejatinya, mereka adalah para prajurit terlatih yang siap melaksanakan perintah penguasa pulau, tuan Alger.
"Kapan saya harus berangkat?" Si pemuda bertanya setelah Peter mengakhiri instruksinya.
"Sore ini juga. Makan malamlah lebih awal. Aku menyuruh Berta memasak sup kepiting dan udang yang baru ditangkap seorang nelayan. Rasanya pasti sangat enak." Peter terbatuk sebentar. Setelahnya dia bangkit dari duduknya dan mengakhiri pembicaraan siang itu.
"Apa kondisinya sudah membaik?" tanya Steve saat mengunjungi ibu Celine yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Lelaki itu terlihat lelah dan sepertinya langsung pergi ke sana setelah pulang kerja. Kesibukannya selama kepergian tuan Kent bertambah karena semua pekerjaan sang presdir dilimpahkan padanya. Dan ini sudah memasuki minggu kedua.
Celine mengangguk sambil menahan napas. Rasanya sedikit sulit untuk mengatakan sesuatu. Steve beberapa hari ini sangat banyak membantu. Sampai-sampai paman dan bibinya yang hendak kembali ke kota mereka menitipkan Celine pada lelaki itu dan berharap Steve menjaganya. Gadis itu menjadi sangat malu dan mengatakan pada Steve agar tidak mengambil hati perkataan suami istri itu.
Tuan Sam suatu saat pernah menanyakan pada keponakannya tentang hubungannya dengan Steve yang dijawab Celine dengan jawaban yang sama berkali-kali. Ya, pamannya menanyakan hal yang sama berulang-ulang pada kesempatan yang berbeda karena tidak percaya pada jawaban Celine. Bagi mereka, tidak mungkin seorang teman yang bahkan tidak terlalu akrab bisa begitu perhatian. Apalagi Steve telah banyak membantu dalam hal keuangan.
Tentu saja Celine enggan mengatakan bahwa Steve adalah asisten tuan Kent yang terkenal. Uang tidak terlalu menjadi masalah baginya.
"Aku membawakan makan malam untuk kalian." Steve mengangsurkan beberapa bungkusan pada Celine. Tadi sepulang dari kerja dia singgah sebentar di sebuah restoran dan memesan beberapa menu untuk dibawa pulang.
__ADS_1
Ada perasaan hangat menyelimuti hati Celine saat menerima bungkusan itu.
Ternyata diperhatikan seseorang itu rasanya sangat menyenangkan. Walaupun sikap Steve tidak bisa dikatakan hangat. Tapi untuk ukuran seseorang yang selalu terlihat dingin, itu sudah lumayan. Mungkin di luar sana ada banyak gadis yang berharap sedikit saja perhatian dari lelaki ini dan kecewa. Karena sebagai bayangan dari tuan Kent, Steve hampir sama sulitnya untuk disentuh.
Selama ini Celine tidak pernah mendengar keterlibatan lelaki ini dengan gadis mana pun. Jika tuan Kent masih sesekali terlihat bersama dengan seorang gadis, Steve malah tidak pernah membawa pasangan bila menghadiri acara apapun. Hingga hal itu sempat membuat orang-orang berpikir kalau lelaki itu memiliki kelainan.
Tidak mungkin! Lelaki nyaris sempurna ini. Tidak mungkin Steve menyukai sesama jenis, kan?
Tanpa sadar Celine menggeleng sendiri. Steve di depannya mengerutkan kening.
"Kenapa? Apa kau tidak suka makanannya?" tanya Steve karena saat itu Celine tengah mengeluarkan isi bungkusan berupa kotak-kotak makan yang dipenuhi berbagai jenis makanan.
"Eh?" Celine mengangkat wajahnya dari atas meja tempat dia meletakkan makanan. Dia menemukan pandangan bertanya-tanya Steve. "Tidak. Ini malah sangat berlebihan. Terima kasih sudah membawakan kami makan malam."
"Baguslah kalau kau suka. Kalau ada yang diperlukan, kau bisa mengatakannya padaku. Tidak usah sungkan," ujar Steve lagi.
"Kami sudah banyak menyusahkan." Celine merasa malu sendiri. Padahal sebelumnya mereka tidak dekat sama sekali.
"Tidak masalah. Saya tentu tidak akan mengecewakan sahabat nyonya muda." Steve tersenyum juga sedikit. Lagi-lagi. Hanya sebatas itu.
Waktu Steve pergi, Celine merasakan nyeri luar biasa di hatinya. Jadi Steve melakukan semua kebaikan ini karena Lisle. Karena sahabatnya sekarang adalah nyonya Kent?
Celine tersenyum pahit. Lisle. Perasaan iri kini bagai tunas berduri yang tumbuh membesar. Sahabatnya itu sungguh memiliki keuntungan berlipat-lipat. Bahkan keberuntungan Celine pun adalah berkat sahabatnya itu.
__ADS_1