Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 71. Kejutan yang Tidak Menyenangkan.


__ADS_3

Saat Lisle tiba di gerbang belakang kampus, dia merasakan suasana yang janggal. Ada yang berbeda yang membuatnya tidak nyaman.


Seseorang kadang tanpa disadari memiliki semacam sistem alarm tanda bahaya di otaknya. Semacam peringatan akan terjadinya hal-hal buruk. Lisle merasakannya tapi tidak cukup peka. Dia mengacuhkan perasaan itu dan meneruskan langkahnya di bawah tatapan puluhan pasang mata.


Baru berjalan beberapa meter, Lisle sudah disambut oleh pandangan cemas Celine, sahabatnya. Gadis itu terburu-buru mendatanginya lantas menyeret Lisle ke tempat yang agak tersembunyi di balik sebuah pohon besar yang tumbuh berbaris di sepanjang sisi tembok pembatas.


 


"Celine, ada apa?" Terengah-engah Lisle bertanya setelah mereka berhenti. Napasnya terasa hampir putus setelah melangkah begitu cepat.


Celine mengatur napasnya sebelum berkata menyalahkan. "Kenapa ke kampus hari ini. Bukankah kau baru menikah? Apa kalian tidak pergi berbulan madu?"


Segenap pertanyaan itu membuat Lisle yang mengira ada sesuatu yang gawat mendadak jadi kesal. "Aku hanya bosan di rumah. Kami memang berencana bepergian akhir pekan ini. Tapi kupikir dua hari ini aku bisa pergi ke kampus dulu…."


"Gadis bodoh! Kenapa tidak tinggal saja di rumah. Cuma dua hari. Setelahnya kau bisa bersenang-senang tanpa terganggu kekacauan di sini…." Celine berkata dengan nada tinggi.


Lisle menatap sahabatnya dengan pandangan bingung. "Memang ada kekacauan apa?"


Belum sempat Celine menjawab pertanyaan itu, sebuah suara menyela. "Jadi ini gadis murahan itu?"


Kedua gadis bersahabat itu berpaling pada sekelompok mahasiswi yang tiba-tiba sudah ada di sekitar mereka.


Seorang gadis bertampang cemberutlah yang berbicara. Lisle tidak mengenalnya dan tidak mengerti kenapa kata 'gadis murahan' itu ditujukan padanya.


"Apa maksudmu?" Lisle menatap bingung pada puluhan orang yang mulai tertarik pada keramaian itu. "Celine, ini…." Pandangan meminta penjelasan pada Celine kentara di matanya.


"Ada yang menyebar rumor kalau kau… ehm…." Celine merasa tidak tega mengatakannya langsung dan tengah mencari kata-kata yang lebih halus untuk menjelaskan.


"Bukankah kau menjual diri pada pria-pria tua kaya? Itu bukan rumor. Buktinya sudah cukup. Hari ini semua melihat sendiri. Gadis miskin sepertimu mana mungkin bisa datang ke kampus dengan berganti-ganti mobil mewah." Si Cemberut berbicara lagi yang dibenarkan dengan anggukan dan komentar yang menggaung di udara pagi.


Celine mengeluh tanpa sadar. Dasar orang-orang dengan otak udang. Pikiran mereka terlalu dangkal, mengambil kesimpulan dari sebuah hal yang tidak pasti. Namun gadis itu juga kesulitan untuk menjelaskan. Meski sebenarnya dengan mengatakan sesuatu semacam bahwa Lisle memiliki pacar yang sangat kaya atau sekalian saja dengan membuka kebenarannya bahwa Lisle adalah istri dari lelaki paling berkuasa di kota ini, masalah akan selesai dengan cepat. 


Tetapi adakah juga yang akan percaya? Apa mereka tidak malah ditertawakan?

__ADS_1


Berpaling pada Lisle dan mencoba menebak apa yang akan dikatakan gadis itu sebagai penjelasan agar orang-orang yang merasa dirinya paling suci itu percaya, Celine malah mendapati raut kebingungan Lisle.


"Aku… aku… punya kerabat yang lumayan kaya." Lisle berbicara terbata-bata. "Kadang-kadang aku menginap di tempat mereka…."


Celine nyaris muntah darah mendengarnya. Siapa yang akan percaya dengan penjelasan itu? Dari cara bicara Lisle saja sangat tidak meyakinkan.


Terdengar dengusan mengejek di sekitar.


"Ya, sepertinya kau memang punya banyak kerabat kaya." Sebuah suara terdengar jijik saat mengatakannya. "Tapi kenapa mereka membiarkanmu menghuni apartemen kumuh itu?"


Semua orang memandang pada si pengata yang baru tiba. Shopia melangkah di antara kerumunan dengan gaya anggun bak putri raja. Sosoknya memang terlihat menonjol di antara banyak mahasiswi.


"Lalu bagaimana kau menjelaskan hubunganmu dengan Sally yang dikeluarkan berbulan-bulan yang lalu? Meski pihak kampus menutupinya, semua juga tahu kasus itu." Sally tiba di depan Lisle dan Celine. Tangannya angkuh terlipat di depan dada. Pandangannya merendahkan pada kedua sahabat itu terutama pada Lisle. Sosoknya ternyata lebih tinggi dibanding keduanya. 


"Sally dikeluarkan dari kampus karena terlibat perdagangan gadis-gadis. Bukankah malam itu dia sudah menjualmu? Kau korban yang keterusan mencari uang mudah dengan menjual tubuh…."


Plak! 


"Gadis sialan! Beraninya kau…." Shopia memekik histeris sambil memegangi sebelah wajahnya yang memerah. Dia tidak mengira gadis yang sering disebutnya kampungan itu berani menamparnya di depan umum. 


Plak!


Sebuah tamparan lagi mendarat di pipi Shopia yang lainnya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Gadis itu hampir terjatuh ke samping.


Shopia meraung murka. "Kau…!" Dia menunjuk-nunjuk wajah Lisle dengan tangan gemetar. "Akan kupastikan kau dikeluarkan dari kampus ini kemudian membusuk di penjara. Lihat saja nanti!"  


Bola mata indah milik Lisle memerah dan ada genangan di sana. Tapi dia menahan diri untuk tidak menangis. Rasa marah kadang memang ajaib, membuatnya terlihat angkuh.


"Kita lihat saja siapa yang akan dikeluarkan dari sini," ujar Lisle dingin. Teringat olehnya tatapan tuan Kent yang sinis pada siapa pun yang tidak disukainya. Dia membayangkannya. Kalau bisa menirukannya. Saat ini dia tahu, dia bisa melakukan apapun dengan bantuan suaminya bila dia menginginkannya.


Sebelumnya Lisle tidak pernah berpikir akan memanfaatkan hubungannya dengan orang terkuat di Black Mountain itu. Hari ini dia berubah pikiran. Tuduhan  Shopia kepadanya begitu serius. Nama baiknya dicemarkan pada seisi kampus. Lalu apa gunanya dia bekerja keras selama ini bila memang dia bisa mendapatkan uang dengan mudah? Black card pemberian Kennard di dompetnya bahkan tidak pernah digeseknya.


"Kau berani mengancamku?!" Wajah putih Shopia merah padam. Selain karena bekas tamparan Lisle barusan, kemarahan juga menambah rasa panas di kulitnya.

__ADS_1


"Kau yang mengancamku duluan," timpal Lisle tak mau kalah.


Shopia tidak berkata-kata lagi. Dengan menghentakkan kakinya dia berbalik meninggalkan tempat itu diiringi dua gadis temannya.


Lisle memandang sekeliling, pada orang-orang yang tampak shock dengan kejadian itu. "Dan kalian semua, akan kupastikan siapapun yang ikut menyebarkan rumor itu, siapapun dia. Dia akan ikut dikeluarkan dari kampus ini. Ingat ini baik-baik!" 


Seumur hidup Lisle, dia tidak pernah mengancam orang. Dan sepanjang pertemanan mereka, Celine baru kali ini melihat sisi lain dari Lisle. Adakah ini pengaruh tuan Kent yang mendominasi? Hingga sang istri yang dulunya manis seperti peri, kini menjelma sebagai setan kecil yang berani menggertak lawan-lawannya.


Tapi itu lumayan keren! pikir Celine saat melihat bahwa efek dari sisi lain itu cukup berpengaruh. Kelompok orang-orang itu , meski terdengar juga dengung ketidakpuasan dari beberapanya, akhir nya membubarkan diri dengan tergesa setelahnya.


 


Untuk beberapa saat Lisle tampak mematung di tempatnya semula berdiri, menatap kosong pada kumpulan orang yang beranjak pergi. Tangannya mengepal mencoba untuk tidak gemetar. Gadis itu tidak percaya kalau dia baru saja memukul orang.


"Lisle?" panggil Celine ragu-ragu.


Lisle tampak lebih shock daripada Shopia yang mendapat serangan.


"Kau baik-baik saja?"


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2