Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 55. Miss. Black Mountain


__ADS_3

“Dia sudah menjebakku dengan kesepakatan konyol itu. Apa itu bukan bermain-main namanya? Dia menggunakan kekuasaannya untuk memaksaku kembali tinggal bersamanya. Dia juga....” Lisle teringat saat tuan Kent menciumnya di depan Dean.


“Itu tidak membuktikan apa pun, Lisle. Kau pikir kalau dia tidak memaksamu seperti itu, kau akan mau tinggal bersamanya? Kau itu bodoh, karena tuan Kent tahu kebodohanmu makanya dia melakukan itu semua. Tapi sekali lagi karena kebodohanmu juga, kau dengan sangat keras kepala ingin pergi darinya.” Celine bicara dengan perasaan gemas. “Kau melupakan bagaimana tuan Kent telah menyelamatkanmu berkali-kali, menjagamu dari banyak masalah. Kau mengabaikan seribu kebaikan karena sedikit kesalahan.”


Kata-kata Celine terakhir terus terngiang di benak Lisle.


‘Kau mengabaikan seribu kebaikan karena sedikit kesalahan.’


“Lisle!” Terdengar sebuah suara memanggil.


Lisle tersadar oleh panggilan itu. Tadi dia hanya berdiri saja dekat sebuah baliho besar, memandang Celine yang sedang duduk di sebuah bangku taman.


“Hei, jangan melamun di tengah jalan seperti itu,” tegur Celine saat Lisle sudah berjalan mendekatinya. “Dari tadi aku memanggil tapi kau terlihat seperti orang linglung. Kau sudah dengar tidak?”


“Apa?” Lisle ikut duduk di sebelah Celine.


“Grand final pemilihan Miss. Black Mountain tahun ini diadakan di aula kampus kita. Dan acaranya itu besok.” Celine memberitahu.


Itu menjelaskan kenapa kampus hari ini tampak berbeda.


Lisle melongok ke dalam tasnya seperti baru teringat sesuatu dan mencari-cari di sana. “Lalu?” ujarnya tampak tidak tertarik.

__ADS_1


Celine menghirup napas sepenuh paru sebelum menghembuskannya dengan kuat. Dia seperti tengah bersiap mengabarkan sebuah berita besar.


“Tuan Kent akan hadir besok sebagai tamu kehormatan.” Celine mengatakan itu sambil menanti reaksi Lisle dengan penasaran.


Lisle tampak menghentikan gerakan mencarinya di dalam tas. Dia mengangkat wajahnya menatap Celine sembari tersenyum. “Aku menemukannya!” Lisle menarik sebuah gelang warna-warni dari dalam tas dan mengacungkannya di depan Celine. “Aku pikir, aku menghilangkannya tadi.”


Celine tampak tercengang. Dia tak percaya Lisle mengabaikannya. Sebelumnya dia berharap mendapatkan reaksi yang lebih memuaskan dari Lisle. Bukankah ini kesempatan bagi Lisle untuk bertemu lagi dengan tuan Kent?


Sayangnya, Celine tidak tahu bahwa sebelumnya Lisle telah bertemu dengan tuan Kent dan hal itu telah membuat perasaan sahabatnya hancur karena diabaikan oleh lelaki itu.


“Kau akan datang, tidak?” desak Celine kesal karena Lisle tidak merespon berita yang menurutnya sangat sensasional itu.


“Kau terlalu pesimis,” keluh Celine.


“Aku tidak pesimis. Aku hanya bicara sesuai kenyataan. Tidak mungkin aku menjadi begitu tidak tahu malu menemuinya di depan umum. Orang-orang akan tertawa. Siapa aku yang sudah begitu percaya diri berbicara dengan tuan Kent? Lagipula, apa yang akan kukatakan? ‘Tuan Kent, aku menyukaimu. Aku sudah jatuh cinta padamu. Bawa aku kembali bersamamu’, apa aku harus berkata seperti itu?”


Tidak terdengar bantahan Celine. Sahabatnya itu menjadi bingung harus mengatakan apa lagi. Dia ingin berbantah dengan Lisle tapi tidak tahu caranya.


“Ayo jalan!” Lisle bangkit dari duduknya, mengajak Celine untuk segera pergi. “Hari ini aku ingin tiba di tempat kerja lebih awal.”


***

__ADS_1


Hari grand final pemilihan Miss. Black Mountain.


Sebuah mobil mewah berhenti di pelataran parkir kampus, Steve tampak keluar dari bagian depan dan membukakan pintu belakang mobil. Seorang gadis cantik dengan dandanan modis keluar dari dalamnya, disusul seorang lelaki dengan penampilan luar biasa. Mereka tampak sebagai pasangan sempurna. Keduanya disambut pimpinan yayasan dan seorang dari universitas Diamond Ritz. Mereka berjalan beriringan menuju aula kampus tempat acara diadakan. Di belakang mereka beberapa pengawal mencoba menghadang para pemburu berita yang mencoba mendesak maju.


Para pengunjung tampak riuh menyambut kedatangan tamu kehormatan hari itu. Acara yang telah berlangsung beberapa saat sempat terjeda karena keriuhan di luar aula yang sempat memancing keributan. Beberapa petugas keamanan gedung mencoba membantu meredakan suasana dengan mengamankan jalan masuk menuju aula.


Kennard melangkah dengan tenang di antara desakan pengunjung. Di sampingnya si gadis masih sempat melempar senyum termanisnya pada sekitar. Dia tampak percaya diri dalam balutan gaun peraknya. Semua orang mengenalnya sebagai Miss. Black Mountain tahun lalu.


Beberapa gadis tampak histeris dengan kemunculan tuan Kent. Sebagian besar orang tidak pernah bertemu langsung dengannya. Mereka hanya tahu tentang sang pemilik Diamond Group dari berita di internet dan televisi. Bahkan wajah jelas tuan Kent juga jarang muncul di media.  Kalau pun ada, itu hanyalah berupa gambar buram yang diambil dari tempat yang jauh.


Lisle memandang semua keramaian dari kejauhan, tak ingin mendekat. Sebenarnya dia tak berniat ke kampus hari ini. Hanya karena dia memerlukan beberapa buku dari perpustakaan dan itu tidak bisa ditunda besok, akhirnya Lisle pergi juga.


Dia mengenali sosok lelaki bertubuh tinggi menjulang yang tampak menawan di antara kerumunan, tapi tak mengenali gadis yang berjalan di sampingnya. Pasangan yang sempurna, Lisle mengakuinya dalam hati dan tersenyum pahit. Entah mereka hanya pasangan sementara atau sejati, tak ada alasan baginya untuk cemburu. Namun entah mengapa hatinya menjadi nyeri. Rasanya sangat sakit. Karenanya perlahan gadis itu melangkah pergi dari sana, menghindari sebuah kemungkinan kecil pertemuan.


Sepanjang hari itu Lisle mencoba untuk berkonsentrasi dengan pekerjaannya, membersihkan lorong-lorong di antara beberapa toko, menyapu dan mengepelnya. Dia teringat sorot mata kasihan dari Celine yang ditujukan padanya saat dia hendak meninggalkan kampus, yang dibalasnya dengan tatapan ‘aku tidak peduli’.


Ketika jam kerja Lisle berakhir, gadis itu berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah halte bus. Lalu lintas di jalanan kota mulai surut. Lisle duduk sendirian di halte menunggu bus terakhir. Biasanya bus terakhir tiba satu jam setelah mall tutup. Lisle harus menunggu sekitar setengah jam lagi.


Ketika bus tiba, tidak banyak penumpang di dalamnya. Beberapa dari mereka adalah para karyawan yang bekerja di shift terakhir. Ada juga sepasang remaja yang duduk di bagian belakang. Seorang lelaki tua tampak terkantuk-kantuk di dekat pintu masuk. Lisle mengambil tempat duduk di bagian tengah, bersandar pada jendela bus, mengamati kota yang gemerlap dan merasa kesepian.


Rasanya sangat lama sampai bus berhenti di halte dekat tempat Lisle tinggal. Gadis itu turun dan kembali berjalan kaki menyusuri trotoar yang sepi. Di belakangnya sebuah mobil hitam berjalan perlahan mengiring. Saat hampir mencapai sebuah tikungan, mobil itu berhenti. Dua orang lelaki berpakaian warna gelap melangkah keluar. Keduanya menyusul Lisle dan menyergap gadis itu dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2