
Mereka tiba di Black Mountain menjelang pagi hari. Sebuah mobil telah menunggu untuk mengantarkan ke Palm Garden. Lisle merasa heran ketika Kennard tidak ikut masuk ke mobil.
“Pulanglah lebih dulu. Aku ada sedikit urusan. Begitu selesai aku akan menyusul.” Kennard memberitahu ketika mendapati pandangan bertanya-tanya gadis itu.
Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya dia kecewa karena akhirnya tidak bisa ke kampus hari ini. Namun dia bertekad untuk datang ke kafe Cloud nanti siang.
Lisle sempat melihat Steve membukakan pintu sebuah mobil yang lain untuk Kennard sebelum akhirnya mobil yang ditumpanginya bergerak meninggalkan pelabuhan. Dipijitnya keningnya karena merasa sedikit pusing. Daisy pasti akan punya banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Belum lagi nanti saat bertemu Celine. Dia harus punya jawaban yang meyakinkan.
Setelah mandi dan sarapan, Lisle istirahat sejenak di kamarnya. Dia merasa aneh dengan keberadaannya di rumah ini. Sangat kontras dengan kehidupan sebelumnya yang serba sulit. Bahkan hanya untuk sarapan saja dia mesti menahannya agar keuangannya mencukupi untuk satu bulan.
Menjelang makan siang, Lisle minta sopir mengantarnya ke kafe Cloud. Mobil berhenti di ujung blok karena tidak ingin kepergok Daisy turun dari sebuah mobil mewah. Dengan sedikit bersemangat, Lisle melangkah menyusuri trotoar menuju kafe Cloud yang letaknya tidak terlalu jauh.
Kafe Cloud saat makan siang hari itu sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Lebih ramai. Lisle masuk dengan tergesa dan menemukan Daisy yang sibuk menyiapkan beberapa menu. Saat melihat kedatangannya, gadis pemilik kafe itu langsung menghentikan kegiatannya.
“Lisle!” Serunya gembira. Dia nyaris memeluk gadis itu ketika Lisle menolakkannya.
“Jangan berlebihan. Aku pergi tidak sampai seminggu. Jangan menyambutku seperti tidak melihat selama bertahun-tahun.” Lisle tertawa begitu melihat Daisy merengut. “Bertanyanya lain kali saja. Banyak pelanggan. Kita layani mereka dulu.” Lisle bergegas ke ruang istirahat, menyimpan tas dan memakai celemek.
Daisy mengenalkan Lisle pada karyawan barunya. Dua orang. Lisle mengerutkan alisnya. Apa perlu orang sebanyak ini? Pikirnya. Kafe memang terlihat lebih ramai dari biasanya, tapi tidak sampai memerlukan dua karyawan lagi. Tiga orang bila ditambah dengan Lisle.
Di antara kesibukan mengantar pesanan ke beberapa meja, Daisy sesekali melirik Lisle. Dia merasa penampilan gadis itu agak berbeda setelah beberapa hari tidak berjumpa.
__ADS_1
“Bajumu bagus.” Daisy mengomentari terusan krem sederhana yang dikenakan Lisle. Dia penggemar mode. Meski hitung-hitungan juga bila ingin membeli, tapi dia tidak ketinggalan informasi fashion terbaru. Gaun itu akhirnya dikenali Daisy sebagai edisi terbatas sebuah merk ternama dan baru rilis musim ini. Dalam hatinya mulai menebak-nebak.
Lisle sedikit terkejut dengan komentar Daisy. “ Oh, terima kasih.” Dia melanjutkan pekerjaannya mencuci piring sambil merasa kuatir kalau Daisy akan memperpanjang urusan baju ini. Dia tahu Daisy sangat paham mengenai merk pakaian. Temannya itu kerap membuka beberapa situs fashion. Ada kemungkinan dia mengenali baju yang dipakainya.
Padahal tadi di rumah Kennard, di kamar, dia sudah mengacak isi semua lemari, mencari gaun yang paling sederhana agar tidak menarik perhatian. Tapi harga mahal memang tidak bisa dilihat hanya dari model, bahan baju yang dipakainya memang sangat lembut dan nyaman, jahitannya sangat rapi dan meskipun sederhana tapi telah didesain oleh orang-orang yang profesional.
Hanya saja harapan Lisle tidak terkabul. Setelah pengunjung kafe mulai berkurang dan mereka sudah bisa lebih leluasa berbicara, Daisy kembali mengungkit masalah baju yang dikenakannya.
“Bukankah ini merk Sunny dari rumah mode Mr. Louis? Kalau tidak salah mereka hanya membuatnya lima. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” Daisy bahkan menarik bagian leher baju yang dikenakan Lisle dan mendapati tebakannya tidak keliru. Merk yang dimaksud tertera anggun di sana.
Lisle mengeluh dalam hati. Dia tidak bisa lagi berkelit. Sebelum dia menjawab, Daisy sudah memandangnya dengan curiga.
“A... aku tidak punya pacar. Dan dia bukan pacarku. Baju ini seorang kerabatku yang memberi. Aku baru bertemu mereka waktu mengunjungi bibi di Glassville.” Lisle membantah. Dia tidak bisa membiarkan Daisy berpikir bahwa Kennard adalah pacarnya. Tidak, dia hanyalah sebuah mainan bagi lelaki itu. Meski Kennard kerap menyebutnya sebagai pacar, kekasih, wanitanya, tapi inti dari hubungan mereka sebenarnya adalah uang dan kekuasaan. Lisle memerlukan uang untuk kesembuhan bibinya dan kekuasaan Kennard untuk berlindung dari kelicikan tuan Aaron.
“Kerabat? Kau bilang satu-satunya kerabat yang kau miliki hanyalah bibi dan sepupumu itu. Bagaimana bisa ada kerabat yang lain lagi?”
“Hanya kerabat jauh tapi kemudian kami menjadi cukup dekat. Mereka bahkan tinggal di kota ini. Aku... aku sekarang tinggal dengan mereka. Aku tidak tinggal di apartemen dulu lagi.” Tiba-tiba saja ide itu melintas mulus di kepala Lisle. Dipandangnya Daisy yang semula tampak bersemangat menghubungkan baju yang dipakai Lisle dan Kennard. Gadis itu tampak terdiam berpikir. Alisnya mengernyit seolah menyadari bahwa dia telah dibohongi.
“Kau yakin mereka kerabatmu?”
“He eh.” Lisle mengangguk kuat-kuat hingga lehernya terasa sakit.
__ADS_1
Akhirnya Daisy menyerah. Dia meninggalkan Lisle tanpa bertanya lagi.
Mereka beristirahat sejenak sambil bersiap untuk makan malam. Lisle berkenalan dengan dua karyawan baru Daisy. Cindy adalah mahasiswi seperti Lisle juga. Dia tinggal bersama ibunya yang tua dan adiknya yang masih kecil. Dia mengatakan pada Lisle bahwa dirinya sangat beruntung karena akhirnya punya pekerjaan. Sedangkan Laura adalah gadis putus sekolah. Dia tinggal di panti dan memutuskan bekerja untuk mengurangi bergantung pada belas kasihan pemilik panti yang sudah membesarkannya. Katanya suatu hari dia juga ingin kuliah di Diamond Ritz seperti Lisle.
Semula Lisle hendak menanyakan keputusan Daisy menerima dua pekerja lagi dan mengatakan bahwa itu sungguh tidak perlu. Dia dan Daisy sudah cukup untuk melayani pelanggan karena hanya pada jam-jam tertentu saja yang ramai. Namun kemudian dia membatalkan niatnya. Cindy dan Laura tampaknya sangat memerlukan pekerjaan ini.
Teringat oleh Lisle kalau Daisy pernah mengatakan bahwa mereka hanya bekerja sementara menggantikan dia yang ijin tidak masuk kerja. Jadi, akankah mereka akan diberhentikan setelah Lisle kembali bekerja? Satu hal yang dia tahu dari sifat Daisy, dia terlalu baik hati. Menerima Cindy dan Laura bekerja juga mungkin bukan hanya karena alasan bahwa dia memerlukan orang untuk membantunya di kafe, tapi lebih karena Daisy kasihan pada keduanya. Sedangkan Lisle, seperti yang Kennard katakan, dia sebenarnya tidak perlu bekerja.
Mereka cukup sibuk setelah makan malam. Kafe Cloud rupanya menjadi terkenal di sepanjang jalan itu. Lisle menghabiskan jam kerjanya dengan perasaan tidak nyaman. Kehadirannya di sini entah kenapa menjadi asing. Beberapa kali dia hendak melakukan sesuatu tapi selalu saja didahului Cindy atau Laura. Keduanya tampak rajin dan cekatan. Daisy yang menyadari hanya tertawa sambil menepuk bahunya dan mengatakan bahwa kedua gadis itu memang tidak suka terlihat menganggur. Namun bagi Lisle semua itu tampak sebagai upaya keduanya agar bisa terus bekerja.
Begitu pengunjung terakhir membayar pesanannya dan jam kerja berakhir, Lisle yang sudah tidak tahan lagi dengan suasana kerja yang tidak nyaman, pamit lebih dulu. Setelah menyelesaikan melap sebuah meja dan merasa tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan karena Cindy dan Laura yang cekatan tampaknya telah mengambil alih semua pekerjaan, Lisle melepas celemek dan mengambil tasnya.
“Daisy, aku merasa kurang enak badan. Aku pulang duluan,ya?” Ujarnya pada Daisy yang tengah menghitung pendapatan hari itu di meja kasir.
“Oh, baiklah. Selamat beristirahat. Kalau memang masih merasa tidak enak badan besok, sebaiknya kau tidak usah bekerja dulu.” Daisy melambai sekilas dan kembali menundukkan wajah pada kertas-kertas di meja.
Deg! Kata-kata Daisy entah mengapa membuat perasaan Lisle menjadi makin tidak nyaman. Padahal dia tahu Daisy mengatakan itu dengan maksud baik tapi bagi Lisle kalimat itu seakan menyatakan bahwa mereka tidak memerlukan dirinya di kafe.
Dengan lesu Lisle melangkah sepanjang trotoar menuju tempat tadi siang dia diturunkan. Sopir berjanji akan menjemputnya saat tutup kafe di tempat itu. Dari jauh dilihatnya sebuah mobil sudah menunggu, mobil yang mengantarnya tadi siang. Sang sopir membuka pintu belakang. Lisle segera masuk dan duduk, lalu terkejut dengan kehadiran seseorang yang lain di sana.
__ADS_1