Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 93. Memasuki Perangkap


__ADS_3

Lisle masuk ke dalam mobil yang pintunya telah dibukakan Bert dari dalam. Begitu masuk, belum juga selesai Lisle memasang sabuk pengaman, mobil telah dipacu meninggalkan tempat itu.


Berusaha tenang, Lisle berpaling pada Bert yang tengah mengemudi. Baru beberapa bulan mereka tidak bertemu, sejak kejadian di Glassville, penampilan Bert jauh berubah. Lelaki muda itu memangkas rambutnya dengan model terbaru dan pakaian yang dikenakannya juga tampak mahal. Sedangkan mobil yang dikendarainya, entah darimana Bert mendapatkannya.


"Kau kelihatan berbeda," ujar Lisle jujur. Lalu menatap lurus ke jalan.


Bert berkendara dengan kecepatan sedang karena tidak ingin menarik perhatian. Dia mengacuhkan komentar Lisle soal penampilannya. "Mana ponselmu?" Sebelah tangannya terulur.


"Eh?" Lisle menatap Bert dengan bingung.


"Ponselmu. Berikan padaku?" desak Bert. 


"Buat apa?"  


"Apa kau bodoh? Mereka bisa melacak keberadaan kita." Bert menjelaskan dengan tidak sabar. 


Lisle mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia baru saja menarik benda pipih itu keluar tapi Bert sudah buru-buru merampasnya. "Hei!"


Bert membuka kaca jendela dan melempar ponsel Lisle ke bak belakang sebuah mobil yang melaju bersisian dengan mereka. Di sebuah tikungan dia memutar kemudi dan berbelok. 


Mata Lisle terbelalak demi melihat yang dilakukan Bert pada ponselnya. "Apa yang kau lakukan dengan ponselku?"


"Itu akan mengecoh mereka." Bert berkata santai. Dia kini berbelok ke sebuah apartemen mewah, memarkir mobil dan keluar.


Dengan bingung Lisle mengikuti Bert keluar mobil. Dia setengah berlari mengikuti langkah cepat sepupunya itu menuju sebuah lift. 


Di dalam lift, Lisle tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. "Apa kau dan bibi tinggal di sini?" 


"Tidak. Aku hanya tinggal sementara di sini. Ibu ada di kota Efron."


Pintu lift menutup setelah mereka berada di dalam. Bert menekan sebuah angka dan lift bergerak naik.

__ADS_1


"Kupikir ibumu juga di sini. Lalu kenapa kita ke sini?" Lisle tidak mengerti kenapa Bert malah mengajaknya ke apartemen ini. 


"Kau akan tahu nanti." Bert berkata penuh arti.


Lisle menggenggam tali tas yang tersampir di bahunya kuat-kuat. Seketika perasaannya tidak nyaman. 


Beberapa saat kemudian lift berhenti. Pintu terbuka dan Lisle menatap keluar. Ternyata mereka berada di atap gedung apartemen. Gadis itu menudungi matanya dengan telapak tangan menghalau silau matahari. Sebuah helikopter yang sudah menyala mesinnya dan menimbulkan suara gemuruh berada di depan mereka.


Lisle berpaling pada Bert meminta penjelasan. Tetapi lelaki itu mengabaikan tatapan itu dan menarik lengan Lisle.


"Ayo!" ujar Bert sambil melangkah mendekati kendaraan udara itu. 


"Kita akan kemana?" Lisle mencoba melepaskan tangannya yang dicengkeram Bert.


"Efron. Kemana lagi? Bukankah kita mau bertemu ibuku?" Bert tampak jengkel karena Lisle memberontak.


"Itu sangat jauh." Lisle mencoba protes. 


*** 


Black Mountain. Toko Barnes. 


Setelah menunggu hampir satu jam, William dikejutkan dengan telepon dari Steve, asisten tuannya. 


"Kau dimana?" tanya Steve.


"Saya masih di depan toko Barnes menunggu nyonya berbelanja." William memberitahu. Dia sangat mengantuk karena hanya duduk bersandar di balik kemudi tanpa melakukan apapun.


"Kembali sekarang ke Palm Garden. Nyonya muda menghilang!" Steve memberitahu perintah tuan Kent. 


Beberapa menit yang lalu, orang yang ditugaskan mengawasi istri tuannya melaporkan dengan panik bahwa gadis itu menghilang.

__ADS_1


Lisle tidak keluar dari kamar pas tempat sebelumnya dia masuk sambil membawa beberapa pakaian yang tergantung di hanger. Setelah menunggu lebih dari setengah jam, Jill yang seorang prajurit pilihan di pulau XXX, memeriksa kamar pas. Dia hanya menemukan orang lain di sana yang kemudian menyumpahinya karena telah dengan lancang menyibakkan tirai saat orang itu berganti pakaian.


Jill bertanya pada beberapa pelayan. Tapi tak ada yang mengaku melihat nyonya muda karena mereka juga sibuk melayani beberapa pengunjung yang lain. Lelaki itu kemudian memeriksa sekitar dan menemukan pintu kecil yang mengarah ke lorong. Lalu pintu keluar di ujung sana menjelaskan kenapa sang nyonya menghilang.


Jill memaki keras sambil membanting pintu yang tidak bersalah lalu mengambil ponsel dari balik jaketnya. Dia tidak tahu nasib seperti apa yang menunggunya setelah dia melaporkan kejadian itu pada tuan Kent.


Sementara itu, William yang mendengar pemberitahuan Steve terperangah. Bagaimana bisa? pikirnya. Bagaimana bisa nyonya muda menghilang? Bukankah tuan Kent menyuruh orang terlatih untuk mengawasi. Kenapa mereka bisa sangat teledor?


Tapi berdasarkan pengamatannya hari ini, nyonya muda terlihat gelisah. Dan pilihan nyonyanya untuk mendatangi toko ini juga sempat membuatnya protes. Istri orang terkaya di Black Mountain berbelanja di Barnes, siapa yang bisa mempercayainya? Meski alasan nyonya terdengar cukup masuk akal, tapi sekarang William mengerti satu hal, nyonya sendiri yang merencanakan kepergiannya.


Sambil menggeleng bingung, William menyalakan mesin mobil, memutar kemudi keluar dari parkiran. Dia tidak mengerti kenapa istri tuannya itu selalu saja membuat masalah. Saat ini pasti tuan Kent sedang marah besar. Entah, apakah tuan akan menyalahkannya juga. William hanya bisa pasrah dan melajukan mobil menuju Palm Garden. 


*** 


Saat Kennard menerima telepon dari Jill di kantornya yang luas, dia sedang kedatangan tamu. David mengunjunginya di siang bolong hingga membuat Kennard mengernyitkan alis. Sahabatnya itu mengaku merindukan Lisle sambil memasang wajah serius. Walaupun Kennard tahu sahabatnya itu bercanda, tak urung dia menjadi kesal juga.  


Seseorang merindukan istrinya. Jika orang lain yang mengatakan itu, dapat dipastikan dia tidak akan selamat. 


David hanya tertawa melihat wajah dingin di belakang meja. Dia duduk di sebuah sofa dengan seenaknya meski Kennard tidak menyuruhnya duduk. Waktu sekretaris masuk untuk memberikan sebuah dokumen yang harus ditandatangani, David memesan secangkir kopi.


"Aku kebetulan lewat dan berpikir tidak ada salahnya untuk mampir. Kebetulan aku juga memiliki sebuah informasi. Mungkin penting bagimu." David mulai berbicara. Kali ini dia tampak benar-benar serius.


Kennard terlihat tidak tertarik. Lelaki itu memilah beberapa dokumen dan memeriksa.


David sudah biasa diabaikan oleh Kennard.


"Orangku di luar negeri menemukan jejak Zion. Tidak disengaja. Tapi saat menyelidiki sesuatu, dia malah mendapati data yang menunjuk pada sebuah nama asing dengan wajah yang familiar. Lalu ketika jejak itu diikuti, tebak apa yang dia temukan?"


Kennard menghentikan gerakannya dan mengangkat wajah. Kali ini David berhasil mengusik ketenangannya.


Nama Zion seperti sebuah luka yang tidak pernah berhenti mengalirkan darah. Padahal dulu Kennard telah memastikan orang itu dan seluruh keluarganya musnah sebagaimana Zion menghabisi keluarganya. Dia bahkan memerintahkan orang-orangnya membakar habis rumah besar itu. Namun entah bagaimana, Zion yang telah terluka parah bisa lolos dari maut.

__ADS_1


__ADS_2