Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 24. Ciuman Bodoh


__ADS_3

“Tidak apa-apakah meninggalkan mereka seperti ini?” Lisle mendapati kota di depan sana semakin menjauh.


Kapal yang mereka tumpangi bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan. Muatan kini berkurang tiga orang. Tadi Kennard memerintahkan juru mudi untuk segera kembali malam ini juga. Bukan karena tergesa-gesa oleh suatu urusan, tapi sepertinya lelaki itu hanya ingin memberi sebuah pelajaran. Pesannya jelas, jangan bermain-main denganku!


“Kenapa? Apa kau kasian pada mereka? Pada orang yang sudah merendahkanmu?” Kennard melingkarkan lengan kuatnya di pinggang gadis itu, memeluknya dari belakang. Matanya ikut mengawasi Sun Imperial di malam hari, kota yang tenggelam dalam cahaya lampu.


Mendadak tubuh Lisle menjadi kaku. Lelaki itu bisa merasakan perubahan itu tapi dia malah mengendus rambut Lisle, mengosok-gosok dengan ujung hidungnya, membuat gadis itu menjadi makin gelisah dalam pelukannya.


“Mereka bisa pulang sendiri. Bahkan lebih dulu sampai ke Black Mountain bila mereka mau. Mereka bukan anak kecil lagi. Hanya tingkah mereka memang seperti anak kecil. Aku hanya tidak suka jika mereka mengganggumu meski cuma iseng. Percayalah, aku akan menyingkirkan siapa pun yang mencoba mengusik milikku meski itu adalah temanku sendiri.” Kennard mengutarakan tekadnya dengan suara pelan.


Lisle dapat merasakan bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri. Lelaki ini, dia tidak sungguh-sungguh mengenalnya selain dari yang dibacanya di internet dan penjelasan singkat Celine. Selebihnya hanyalah berupa bayangan gelap dalam kabut tebal di pikirannya. Dia hanya bisa mengira-ngira. Namun yang pasti uang dan kekuasaan telah membuatnya jatuh dalam genggaman lelaki ini. Dia memang telah diselamatkan tapi juga dicengkeram secara bersamaan.


“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Kennard saat melihat gadis itu cuma diam.


“Bukan apa-apa. Aku hanya teringat sudah bolos kuliah beberapa hari.” Lisle tidak berani berkata bahwa dia justru tengah berpikir tentang laki-laki ini.


“Bukankah kau sudah ijin?”


“Ijin mengunjungi bibi yang sakit, bukannya ijin untuk berlibur.” Lisle membantah.


Terdengar tawa pelan di atasnya. Lisle bisa merasakan ujung dagu lelaki itu menyentuh puncak kepalanya. Meski selalu merasa tegang bila berada dalam pelukan lelaki ini tapi saat ini Lisle juga merasa aman.


“Aku hanya merasa kau selalu takut denganku, karenanya aku ingin mengajakmu sedikit bersantai.  Tapi sekarang pun sepertinya kau masih takut padaku.”


“Adakah yang tidak takut padamu?” Lisle mendengar bahwa lelaki ini sanggup membuat orang mencium kakinya karena begitu takutnya.


“Itu tergantung siapa orangnya. Aku menyukaimu. Kenapa kau harus takut padaku?” Kennard meraih kedua bahu Lisle dan membuat gadis itu menghadapnya.

__ADS_1


Tentu saja dia takut pada lelaki ini. Mungkin juga pada lelaki mana pun. Dia tidak pernah sedekat ini dengan lawan jenis. Tiba-tiba saja dia diambil dari kehidupannya yang melelahkan, diletakkan dalam sebuah istana emas dengan seorang kaisar di dalamnya. Dan dia hanyalah sebuah mainan yang suatu hari akan dicampakkan jika sudah bosan.


Bagaimana dia tidak takut dengan semua itu? Dia bahkan takut hanya dengan sentuhan ujung jari lelaki ini. Seakan dengan sedikit sentuhan itu akan membuat tubuhnya langsung mengabu.


Kennard menjumput ujung dagu Lisle, menunduk bermaksud mencium tapi dengan halus gerakannya ditolakkan Lisle. Tangannya mendorong pelan seakan takut penolakannya membangkitkan kemarahan lelaki di depannya.


“Apa sebelum pagi kita sudah bisa sampai? Aku... aku ingin ke kampus kalau sempat.” Lisle mencoba mengalihkan perhatian Kennard. Ciuman Kennard membuatnya takut bukan karena lelaki itu tapi lebih pada dirinya sendiri. Dia tidak ingin terhanyut dan membiarkan dirinya jatuh ke dalam jurang yang lebih hina. Selama dia bisa menghindari, dia akan mencari celah untuk lari.


Pelukan itu dirasakan Lisle mengendur dan akhirnya terlepas.


“Begitu tidak sabar untuk menghindariku?” sindir Kennard tajam.


Mata Lisle melebar. Dia menggeleng cepat. “ Tidak... tidak! Bukan begitu. Bukankah sejak awal kita sudah sepakat? Aku boleh tetap kuliah dan bekerja. Kau sudah setuju.”


“Untuk kuliah aku bisa mengerti, tapi apa yang kau cari dengan bekerja? Semua keperluanmu bisa kupenuhi.”


“Aku tidak kekurangan uang. Akan kuberi berapa pun yang kau inginkan.”


“Aku ingin uang yang kudapatkan dengan keringatku sendiri.” Lisle merasa marah dengan Kennard yang terus menyombongkan uang dan kekuasaan di depannya.


Kennard tertawa kesal. Lisle membuatnya tak mengerti beberapa hal. Bukankah gadis ini begitu miskin? Bukankah dia mati-matian bekerja hanya demi uang yang tak seberapa? Lalu Kennard memberinya sebuah jalan paling mudah. Kenapa Lisle menyia-nyiakannya?


“Baiklah. Aku akan membiarkanmu tetap bekerja, tapi aku ingin imbalan dari kebaikan hatiku. Bagaimana menurutmu?” Kennard tiba-tiba menunduk hingga wajah mereka begitu dekat.


Lisle tergagap. “I... imbalan?”


Kennard mengangguk sambil memamerkan senyumnya yang membuat hati Lisle mencair hingga lambung. “Benar. Imbalan.” Suaranya membuat Lisle ketakutan.

__ADS_1


“Apa?” Tenggorokan Lisle mendadak kering.


“Cium aku!” ujar Kennard.


Lisle terlalu cepat menarik napas lega karena telah salah mengira, membuat Kennard menyeringai jahat. “Kau berharap imbalan seperti apa?”


Rona merah sekejap menghiasi pipi halus itu. “Pejamkan matamu!” ujar Lisle buru-buru. Dia ingin segera mengakhirinya. Hanya mencium ‘kan?


Sampai kapan pun rasanya Lisle tidak akan terbiasa dengan ciuman Kennard, ciuman yang melemahkan dan membuatnya merasa terintimidasi itu, tapi setidaknya bukan dia yang berinisiatif. Kali ini Kennard meminta Lisle yang menciumnya. Tak ada cara untuk menghindar. Demi mendapatkan sedikit kebebasan Lisle akan menuruti keinginan Kennard. Dilihatnya wajah menawan itu memejamkan mata, menunggu.


Tubuh Kennard terlalu tinggi untuk dijangkau bahkan saat Lisle berjinjit sekali pun.


“Apa... apa kau bisa menunduk sedikit?” ujarnya malu-malu.


Kennard membungkuk sedikit. Lisle tetap harus menggapai bahu lelaki itu untuk kemudian memberi kecupan singkat. Setelahnya dia terbirit-birit kabur dari hadapan laki-laki itu.


Ada keheningan sejenak yang tersisa. Kennard masih dengan posisinya semula, setengah membungkuk dengan mata terpejam. Dia mengira akan merasakan sedikit manis yang tertinggal dari gadis itu di bibirnya. Nyatanya dia hanya merasa sesuatu yang kenyal dan hangat menyentuh pipi kirinya. Saat dia membuka mata, gadis itu telah lenyap dari hadapannya. Kennard terkekeh sendiri antara kesal dan geli.


“Ciuman bodoh dari gadis bodoh!” Ujarnya sambil mengusap pipi yang tadi menjadi sasaran malu-malu gadis itu. “Tapi lumayan juga.”


Saat itu ponselnya berdering. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan benda pipih itu dari sana.


“Kau mengerjai kami, brengsek!” Benyamin memaki di ujung sambungan. Tak ada yang berani memaki Kennard seperti itu kecuali para sahabatnya.


“Bukan mengerjai tapi memberi pelajaran. Aku tidak mentolerir perbuatan kalian yang membuat gadisku merasa terganggu. Jadi jaga bicara dan sikap kalian!. Lagipula bukankah bagus, kalian bisa bersenang-senang sepuasnya di sana.” Kennard mematikan sambungan.


Setelah terdiam sejenak dia menekan sebuah nomor, membuat panggilan. Suara asistennya, Steve menyambut di seberang.

__ADS_1


“Apa sudah kau bereskan?” tanya Kennard. Pada wajah tampan itu membayang api hitam.


__ADS_2