
"Tentu saja," jawab Kennard penuh keyakinan.
"Orangtuaku bilang, aku mempunyai seorang saudara laki-laki. Sayangnya, dia menghilang di sebuah perayaan tahunan di kota kami. Usianya masih empat tahun saat itu. Aku bahkan belum lahir. Tapi aku tidak memiliki fotonya. Semua foto keluarga terbakar saat malam kecelakaan itu." Lisle menggigit bibir teringat musibah beruntun yang dialaminya malam itu. Kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil dan pada malam itu juga rumah yang mereka tinggalkan terbakar habis.
"Tapi koran-koran pernah memuat beritanya. Fotonya pasti ada di sana." Sebuah harapan bertemu saudara yang belum pernah dilihatnya bangkit kembali. Harapan itu pernah pudar dari hati kedua orangtuanya, dulu.
Konon, hari itu diadakan festival bunga tahunan yang terkenal di kota mereka. Meski hanya sebuah kota kecil, tapi festival itu sangat terkenal. Orang-orang dari seluruh negeri berdatangan. Beberapa juga bahkan datang dari luar negeri. Suasananya sangat ramai dan meriah. Saat itulah saudaranya menghilang dalam keramaian.
"Apa mungkin kita bisa menemukannya?" Lisle berpaling dan menatap penuh harap pada Kennard. "Kau bilang bisa menemukan apapun…."
"Aku akan mencarinya untukmu." Kennard memastikan. "Tapi mungkin perlu waktu karena kejadiannya sudah sangat lama."
"Tidak masalah. Aku tahu itu pasti tidak mudah. Walaupun nantinya akan menemui jalan buntu, setidaknya kita sudah berusaha." Entah kenapa, Lisle punya keyakinan akan bertemu dengan saudaranya itu kelak. Akan seperti siapa kira-kira dia saat ini?
Besoknya Lisle masih bersikeras untuk dilatih oleh Kennard sendiri daripada Andra. Kali ini dengan alasan yang berbeda. Dia merasa ngeri berdekatan dengan gadis itu setelah mendengar cerita Kennard.
Kennard hanya bisa menarik napas panjang menenangkan diri. Lisle selalu berhasil membuatnya hampir kehilangan kendali. Sebelumnya dia juga tahu memiliki sebuah hubungan dengan wanita akan sangat merepotkan. Tapi dia tidak mengira akan sangat merepotkan seperti ini. Anehnya dia sama sekali tidak keberatan. Meski Lisle kerap membuatnya emosi, dia tidak pernah berpikir untuk melepas gadis ini. Dia malah semakin ingin menggenggamnya erat.
Hari itu Lisle menjadi sangat bersemangat. Dia mulai membidik dengan benar meski tidak sebaik yang diharapkan Kennard. Tapi Lisle sudah sanggup menyasarkan peluru pada beberapa lingkaran bidik terluar. Dia hanya perlu sering berlatih lagi.
__ADS_1
***
Steve menatap gadis yang tengah menunggui ibunya di dalam ruangan sana dari balik pintu transparan. Dia tidak hendak ke dalam untuk sekedar menyapa. Sementara dokter James di sebelahnya hanya memperhatikan sang asisten presdir Diamond Group itu. Dia menautkan alisnya tidak mengerti. Selama ini Steve mengurus semua yang berhubungan dengan perawatan ibu si gadis. Tapi hari ini lelaki itu tidak ingin menemuinya. Dia hanya datang untuk melihat-lihat kondisi wanita setengah tua yang terbaring di dalam sana.
Dokter James punya kabar yang tidak terlalu bagus.
"Berapa lama dia akan bertahan?" tanya Steve. Dia diberitahu bahwa kondisi ibu Celine terus memburuk.
"Kami sudah melakukan segalanya." Dokter James tidak mengatakan secara langsung, tapi Steve mengerti sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi.
Steve mengangguk. "Hubungi aku bila terjadi sesuatu. Aku pergi dulu." Lalu lelaki itu beranjak meninggalkan tempat itu.
Steve baru melangkah beberapa meter dari sana ketika sebuah suara yang panik terdengar dari dalam ruangan. Dia berbalik dan melihat pintu ruangan perawatan terbuka.
Dokter James memburu masuk ruangan diiringi Celine. Steve melihat Rey yang baru tiba juga bergegas mengikuti.
Steve melihat kesibukan yang tiba-tiba di sana. Beberapa petugas medis berdatangan. Kemudian tampak Celine dan Rey keluar ruangan dengan raut cemas. Keduanya mondar-mandir di depan ruangan dengan gelisah. Mereka tidak melihat pada Steve yang berdiri terhalang sebuah pilar besar.
Sesungguhnyalah Steve sangat ingin berada di sana sekedar menghibur gadis itu agar dia tidak begitu panik. Mungkin gadis itu harus menghadapi sebuah kehilangan yang menyakitkan nantinya. Tapi Steve juga tahu, tindakan seperti itu hanya akan menciptakan sebuah luka yang lain. Dia tidak ingin menjadi terlalu dekat dengan Celine. Dia harus membuat jarak.
__ADS_1
Dari beberapa pertemuan mereka beberapa hari ini, Steve melihat sesuatu di mata gadis itu. Caranya menatap Steve menjadi berbeda. Dan Celine juga lebih sering gugup saat berhadapan dengannya. Steve telah bertemu banyak wanita. Dia telah hapal tatapan yang sama yang ditemuinya di mata Celine. Jika itu terjadi pada wanita lain, dia tak peduli. Dia tak akan peduli seandainya sebuah perasaan akan menjerumuskan wanita lain pada jurang-jurang pengharapan.
Tapi Celine gadis yang baik. Sahabat nyonya muda juga. Steve tak ingin memberi pengharapan jika tak memiliki keinginan untuk memberikan perasaan yang setara.
Ada Rey, adik Celine yang akan menemani. Paman dan bibinya juga akan datang. Akan ada yang menemani gadis itu. Steve tidak terlalu khawatir soal itu. Dia hanya perlu berdiri di kejauhan, memperhatikan dan mengurus hal lainnya untuk mengurangi beban gadis itu. Untuk yang lainnya, Steve tak bisa melakukan lebih.
Tuan dan nyonya akan kembali dua hari lagi. Steve sempat hendak memberitahu nyonya tentang masalah Celine, tapi gadis itu melarangnya. Katanya tak ingin mengganggu pasangan pengantin itu. Jadi Steve mengurungkan niatnya.
Setelah beberapa lama, pintu ruangan terbuka. Dokter James keluar. Celine dan Rey mendekati sang dokter sebelum dipanggil. Dokter James tampak mengatakan sesuatu yang disambut jerit histeris Celine. Rey tampak menggeleng tidak percaya. Pemandangan itu sungguh menerbitkan rasa iba bagi siapa pun yang melihatnya.
Di tempatnya berdiri, Steve tahu tanpa harus mendengar percakapan mereka. Ibu Celine telah pergi. Kini hanya tinggal kakak beradik itu. Lelaki itu menarik napas berat. Semua yang dilihatnya membuat dada sesak. Dia tahu sekali bagaimana rasanya kehilangan. Orangtuanya juga telah pergi satu persatu. Diapun sendirian di dunia ini.
Steve meninggalkan tempat itu. Sebelumnya dia sudah memberitahu dokter James untuk tidak memberitahu soal kedatangannya. Dia akan menemui Celine nanti. Mungkin saat di pemakaman.
Sepeninggal Steve.
Celine gemetar dalam pelukan adik laki-lakinya, Rey. Dia tidak mempercayai pendengarannya barusan. Ibunya telah tiada.
Sebelumnya mereka memang sudah diberitahu bahwa operasi itu memang sangat beresiko. Tapi mereka tidak punya pilihan lebih baik. Operasi itu adalah satu-satunya harapan. Meski begitu tetap saja rasanya Celine tidak bisa menerima. Lututnya terasa lemas. Dia ingin masuk dan melihat ibunya tapi Rey melarangnya.
__ADS_1
Mereka akan menunggu paman dan bibinya datang. Celine sudah menghubungi keduanya tadi pagi saat kondisi ibunya dikatakan memburuk. Pada waktu itulah teleponnya berbunyi. Sebuah panggilan dari nomor asing. Celine menerimanya. Sebuah suara tak dikenal terdengar dari ujung saluran.
"Hallo, Celine?" Suara seorang lelaki yang terdengar cukup menawan.