
Saat kepulangan Kennard dan Lisle, hampir seisi pulau merasa kehilangan. Kennard tampak berbicara dengan Lucas, sementara Lisle berpamitan juga dengan Andra. Bagaimanapun Andra beberapa kali menjadi teman berlatihnya. Gadis itu tak bersalah apa-apa padanya. Dialah yang cemburu sendiri.
"Suatu hari, kita akan bertanding lagi. Aku pasti akan mengalahkanmu," ujar Lisle penuh tekad.
Andra hanya tertawa mendengarnya. Dia terlihat sangat cantik menurut Lisle. Dalam hatinya bertanya-tanya, benarkah Kennard tak sekalipun pernah menyukainya?
"Nyonya sudah mengalahkan saya." Andra mengingatkan kejadian tempo hari waktu Lisle membuatnya terjatuh di matras.
Lisle merasa malu mengingat kejadian itu. Kemenangannya tampak sangat konyol. Dia menggunakan jurus paling tua andalan wanita sejak jaman dulu.
"Jangan sebut-sebut kejadian itu lagi. Aku sangat malu setiap mengingatnya." Wajah Lisle memerah. "Aku akan belajar sungguh-sungguh nanti. Dan kau harus tingkatkan kemampuanmu. Saat kita bertemu, aku akan sungguh-sungguh mengalahkanmu."
Lisle memeluk gadis itu yang disambut dengan kaku oleh Andra. Dia tidak biasa diperlakukan sehangat itu. Hari-hari terakhir ini nyonya muda menghindarinya entah karena apa. Tapi sekarang nyonya ini terlihat sangat ramah. Andra menjadi bingung sendiri.
"Kau…. Apa kau benar-benar menyukai tuan Kent?" bisik Lisle di telinga Andra saat mereka berpelukan.
Sontak Andra melepas pelukan itu. Dia menatap Lisle tidak percaya jika nyonya muda ini menanyakan hal itu lagi. Dia merasa tidak nyaman. Seandainya bisa jujur, dia akan balik bertanya, siapa yang tidak menyukai lelaki seperti tuan Kent?
"Tidak Nyonya. Saya hanya kagum pada Tuan. Itu saja." Andra mencoba membantah. Ya, dia hanya kagum pada lelaki pemilik pulau ini.
"Lalu, apakah ada seseorang yang kau sukai? Tentunya dia seorang lelaki hebat." Lisle merasa penasaran. Secantik Andra, tidak mungkin tidak ada lelaki yang mencoba mendekati.
Andra menjadi salah tingkah membuat Lisle lupa bahwa gadis di depannya pernah menggunakan kedua tangannya untuk menghabisi orang. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa.
Kennard memperhatikan istrinya dari kejauhan dan dapat memastikan jika gadis itu pasti membicarakan hal-hal bodoh dengan Andra. Dia melangkah mendekati keduanya.
"Saatnya berangkat. Helinya sudah siap." Kennard meraih lengan Lisle yang masih menunggu jawaban Andra dengan wajah penasaran.
Lisle berpaling pada suaminya. "Sebentar lagi," ujarnya setengah merengek.
"Jangan mendesak Andra dengan pertanyaan bodoh." Kennard menarik Lisle menjauh dari Andra.
__ADS_1
Terdengar gerutuan istrinya bersamaan dengan suara baling-baling helikopter yang bergemuruh. Meski tak mendengarnya dengan jelas, Kennard tahu Lisle merasa tidak puas.
"Aku pikir kita akan naik kapal seperti kemarin?" Lisle berseru nyaring mengatasi suara baling-baling.
Kennard tidak mempedulikan perkataan istrinya. Dia memasang peredam suara di kepala istrinya dan memberi isyarat agar gadis itu menutup mulutnya.
***
Sudah beberapa kali Lisle mencoba menghubungi Celine tapi ponsel milik sahabatnya itu tidak aktif. Keningnya berkerut memikirkan beberapa kemungkinan. Dua minggu tidak mendengar kabar tentang Celine membuatnya merindukan gadis itu. Dia tidak bisa menggunakan ponselnya selama di pulau karena Kennard menyita ponselnya.
"Aku tidak ingin ada yang mengganggu bulan madu kita," ujar Kennard sambil mematikan ponsel milik Lisle sekaligus miliknya.
Bagi Lisle itu cukup adil. Jadi dia tidak mengatakan apapun sebagai bentuk protes. Tapi dia tidak setuju dengan kata 'bulan madu' itu. Mana ada berbulan madu di tempat pelatihan.
Lisle mencoba bertanya pada Thomas yang tengah sibuk dengan ovennya di dapur. "Apa Celine pernah menelpon ke rumah?"
Thomas tanpa ragu menggeleng. Dia bahkan merasa tidak perlu mengingat-ingat lagi. "Tidak, Nyonya. Nona Celine tidak pernah menelpon kemari."
Besoknya pagi-pagi sekali Lisle sudah berada di apartemennya yang dulu. Apartemennya terkunci dan kunci yang dulu dimilikinya tidak bisa dipakai untuk membuka. Sepertinya Celine telah mengganti kuncinya. Dia bertanya pada penjaga apartemen dan mendapat jawaban bahwa Celine tidak pulang selama beberapa hari.
Lisle mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. Mungkinkah Celine pulang ke rumahnya? Apa terjadi sesuatu lagi pada ibunya? Dengan kecewa, Lisle pergi ke kampus sendirian. Tadi dia berharap bisa bertemu Celine dan menceritakan bulan madunya yang mengenaskan di pulau.
Di kampus Lisle malah bertemu Shopia di dekat kelasnya. Dia ingin menghindar tapi tak menemukan jalan yang lain. Tujuannya memang kelas di depannya. Bukan karena takut. Dia hanya tidak ingin mengulang keributan yang sama.
Shopia kali ini sendirian. Tidak tampak kedua temannya yang biasa selalu mengiringkan kemanapun gadis itu pergi. Shopia tampak terkejut. Jelas dia tidak mengira akan bertemu Lisle.
Tapi Shopia menyapa juga. Tampak canggung. Tidak ada sikap angkuh yang biasanya dia perlihatkan setiap bertemu Lisle. "Lisle?"
Lisle menghentikan langkahnya tepat di depan Shopia. Dia tidak menyangka akan mendengar namanya disebutkan dengan cukup ramah oleh gadis itu. Tadi dia bermaksud mengabaikan keberadaan Shopia yang berpapasan dengannya.
"Ya?" Lisle menatap gadis di depannya dengan sedikit heran. Entah apa yang diinginkan Shopia kali ini.
__ADS_1
"Aku… minta maaf soal kejadian tempo hari. Itu…."
Lisle menggeleng cepat. "Tidak masalah." Dia memotong permintaan maaf Shopia. "Maaf juga soal tamparan itu."
"Ah, itu… salahku. Aku yang mulai lebih dulu." Shopia jarang sekali meminta maaf. Dia tidak pernah membayangkan suatu hari akan meminta maaf pada gadis yang sering dikatainya kampungan. Anehnya, meski awalnya terasa berat, tapi setelahnya Shopia merasa lega. Ternyata ini tak seburuk yang dia pikirkan.
Karena tak mendengar apapun lagi dari Shopia, Lisle bermaksud pergi dari sana. Dia hendak masuk ke kelas dan mencoba menemukan seorang teman untuk bertanya tugas-tugas yang mungkin ada saat dia pergi.
"Aku pergi dulu," ujarnya pada Shopia.
Terlihat Shopia ragu-ragu saat membalas anggukan sopan Lisle. Tiba-tiba dia memanggil Lisle, menghentikan gerakan gadis itu.
"Lisle, tunggu!"
Lisle berbalik. Dia menatap Shopia dengan penuh tanya. "Ada apa?"
"Aku menemui Sally di penjara kota. Dia yang mempunyai ide tentang rumor itu."
Lisle ingat Sally, gadis yang dulu mencoba menjualnya. "Maksudmu, kau bekerja sama dengan gadis itu?"
"Oh, tidak… tidak! Bukan begitu." Shopia menggerak-gerakkan tangannya di udara sebagai isyarat bahwa yang dikatakan Lisle itu tidak benar. Dia ingin melepaskan diri dari jerat permusuhan dengan Lisle. Gadis itu malah mengira dia bersekongkol dengan penjahat itu.
"Lalu?"
"Kuakui, aku dulu memang membencimu. Dan aku memang menyebarkan rumor itu. Tapi itu bukan salahku semua. Aku…."
"Sudahlah. Aku juga tidak ingin mengungkitnya lagi." Bagi Lisle, penjelasan Shopia terdengar sama saja baginya. Gadis itu tetap bersalah.
"Tapi… ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Shopia buru-buru menambahkan waktu dilihatnya Lisle terlihat enggan berbicara lagi dengannya.
Shopia tidak melihat ketertarikan di wajah Lisle. Jadi dia melanjutkan. "Sally bercerita kalau beberapa orang sedang berusaha untuk menghancurkan tuan Kent."
__ADS_1