Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 9. Persekongkolan di Glassville


__ADS_3

Kota kecil Glassville


Annie bangun kesiangan hari ini. Dia melempar selimutnya demi melihat jam dinding yang menunjuk pukul delapan. Semalam dia pulang larut karena penasaran dengan permainan kartunya yang tak pernah menang. Teman-temannya yang mungkin telah sepakat menghabisinya dalam permainan itu telah bersiap-siap pulang ketika Annie mendesak satu sesi lagi. Kembali kekalahan menimpanya. Annie marah. Dan mengamuk.


Lagipula dia telah mabuk.


Setelah membuat onar di tempat Dwayne, dia pulang jalan kaki dengan sempoyongan menuju rumahnya yang berjarak setengah jam perjalanan. Bert putra satu-satunya entah di mana. Anak itu tak mengangkat panggilan telepon. Padahal Annie sudah merindukan kamar hangatnya, tapi Bert kali ini lupa menjemput.


Dengan tergesa Annie mengetuk pintu kamar Bert.


“Bert, kau sudah bangun?”


Tak ada sahutan.


Pintu kamarnya tak terkunci. Annie mendorong dan menemukan putranya masih bergelung malas di kasurnya. Kamarnya berantakan. Dia berdecak kesal.


“Bert, bangun. Kita kesiangan. Para pelanggan tidak akan mau menunggu penjual yang masih mendengkur di rumahnya!”


Annie mengguncang-guncang tubuh anaknya. Tapi pemuda dua puluh enam tahun itu masih tertidur seperti orang mati.


Kesal, Annie menarik selimut tebal itu sekuat tenaga. Selimut yang rupanya melilit seluruh tubuh Bert itu terlepas dan membawa serta Bert ke lantai. Suara jatuh dan erangan kesakitan Bert berbarengan dengan gedoran di pintu depan.


“Nyonya Annie!” Sebuah suara memanggil keras.


Dug-- Dug-- Dug


Pintu digedor lagi. Lebih kencang.


Annie mendadak pucat. Wajahnya yang mulai dihiasi keriput makin tampak tua.

__ADS_1


Bert yang telah bangun dan hendak melanjutkan tidurnya ikut terlihat gugup.


“Tuan Aaron....” Hati Annie berdebar. Dia tampak ketakutan.


“Temani mama keluar!” Annie menarik tangan Bert ke luar kamar menuju ruang tamu. Dia mencengkeram kuat agar anak pemalas itu tidak kabur meninggalkannya.


Bagaimana pun, mereka hanya tinggal berdua. Ayah Bert meninggal sepuluh tahun yang lalu. Dan sejak Lisle, keponakannya yang tak tahu berterima kasih itu pergi, dia kewalahan mengurusi toko. Bert tidak bisa diandalkan. Dia hanya tahu meminta uang dan pergi bersenang-senang. Bahkan saat Annie disudutkan masalah hutang yang menggunung, anak ini malah menyalahkannya. Sekarang saat  Aaron datang menagih pembayaran yang jatuh tempo, setidaknya Bert menemani ibunya menghadapinya.


Sedikit uang yang masih tersisa telah lenyap di meja judi tadi malam. Padahal Annie sangat berharap bisa menang dan melunasi setidaknya sedikit dari hutang-hutang itu.


Brak!


Aaron menggebrak meja dengan kesal.


“Uang tak ada dan gadis jaminan itu kabur?!” Aaron berbicara pelan namun penuh kemarahan. Gigi-giginya bergemeretak menahan emosi.


Annie dan anaknya hanya duduk dalam gigil ketakutan.


Semua penduduk di bagian selatan Glassville mengenal Aaron dan tangan kanannya Bay yang kejam. Mereka tak pernah ramah jika menyangkut hutang-hutang yang tak dilunasi. Selain memiliki perkebunan kopi dan beberapa bisnis peralatan berburu, Aaron juga kerap menawarkan bantuan keuangan dengan jaminan. Tentu saja bunganya sangat tinggi. Dengan begitu banyak jaminan yang berpindah ke tangannya bila hutang-hutang itu tak juga dibayarkan.


“Lalu dengan apa kau akan membayar hutang-hutang itu?!” Aaron menatap tajam pada anak beranak di depannya.


“Saya akan mengusahakannya dalam waktu dekat ini, Tuan. Mungkin.... Mungkin saya bisa menjual rumah ini....”


Sontak lelaki bertubuh gemuk pendek itu tertawa terbahak. Suaranya menggelegar dan terdengar jelek.


Bert mengkerut di kursinya. Dia tahu Aaron memiliki putri yang cantik, tapi dia meragukan bila itu benar-benar darah daging dari lelaki ini. Istri Aaron memang cantik, tapi akankah cukup sanggup mengalahkan kebusukan lelaki ini dalam hal keturunan.


“Bagaimana kau bisa memastikan rumah ini bisa  terjual cepat? Kalau pun terjual, harganya tidak akan mencukupi biar hanya setengahnya.”

__ADS_1


Annie terdiam. Dia tidak tahu lagi harus memberikan penawaran seperti apa. Jika dia juga menjual tokonya yang tak seberapa itu, belum tentu juga semua hutangnya bisa dilunasi. Dulu Aaron mau memberi pinjaman dengan jaminan Lisle, keponakannya yang cantik. Jika pinjaman itu tidak bisa dibayar dalam waktu yang sudah disepakati, Lisle akan diserahkan pada Aaron untuk menjadi wanita simpanannya.


“Begini saja, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menemukan keponakanmu. Sementara itu kau bisa mulai mengosongkan rumah ini. Aku akan mengambilnya sebagai jaminan sementara gadis itu belum ditemukan.”


Aaron bangkit dari duduknya. Sembari menambahkan, “Hanya memastikan bahwa kau tidak sengaja menyembunyikannya dariku.”


“Tidak, Tuan. Mana kami berani menyembunyikan gadis itu. Mungkin dia sudah tahu tentang jaminan itu sehingga kabur tiba-tiba.” Annie berusaha menjelaskan. Terpikir olehnya bagaimana dengan mereka jika rumah ini harus disita. Mereka akan tinggal di mana?


Teringat oleh wanita itu, sebulan yang lalu dia tak menemukan Lisle di mana pun saat pulang dari kafe Dwayne. Meski agak curiga karena Lisle hampir tak pernah pergi jauh, dia tak mengira gadis itu nekat meninggalkan rumah. Besoknya dia yang sering bangun kesiangan masih mengira Lisle sudah pergi ke toko pagi-pagi.  Tapi setelah berlambat-lambat menyelesaikan makan paginya, dia tahu bahwa dia sudah kehilangan gadis itu.


“Seorang temannya mengatakan bahwa ada yang melihatnya di Black Mountain, Tuan.” Annie berharap informasi itu bisa menghilangkan prasangka buruk Aaron padanya.


Bella, teman kuliah Lisle yang ditanyai Annie perihal keberadaan keponakannya, memberitahu. Tidak sia-sia dia berkendara berkeliling dari rumah ke rumah mencari informasi.


Lelaki setengah umur itu menghentikan langkahnya yang hendak beranjak ke pintu. Dia berbalik pada Annie. Tampak tertarik.


“Kau yakin?” tanyanya.


“Saya akan memastikannya lagi. Begitu saya dapat informasinya, saya akan memberitahu Tuan.” Annie merasa mendapat angin. Dia harus memberikan kesan memihak pada Aaron.


Aaron tampak berpikir sejenak. Dia mengangguk-angguk setuju.


“Baik. Hubungi aku secepatnya. Ah, tidak. Aku tidak suka menunggu lama. Malam ini aku sudah harus mendapatkannya. Jadi besok pagi orang-orangku sudah bisa pergi ke Black Mountain.”


Setelah mengatakan itu Aaron segera berlalu diiringi Bay yang tak mengeluarkan sepatah kata pun sejak kedatangannya ke rumah itu.


Annie hendak mengatakan bahwa waktu yang diberikan terlalu sempit. Bahwa jika waktunya lebih lama, dia bisa mengumpulkan informasi yang lebih banyak. Tapi dia segera menyimpan keinginan itu begitu mendapati lirikan tajam Bay yang menakutkan. Tanpa sadar dicengkeramnya lengan Bert yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


Wanita itu bergidik. Tahun lalu daerah ini digemparkan dengan kematian sepasang suami istri yang tewas dengan cara menggantung diri. Tapi ada desas-desus bahwa kematian mereka tidak seperti kelihatannya. Ada yang melihat seseorang sebagai Bay meninggalkan rumah itu sesaat sebelum mereka ditemukan. Penyelidikan polisi kemudian tidak menghasilkan apa-apa. Kasus ditutup setelah dipastikan bahwa itu adalah kematian yang disebabkan bunuh diri.

__ADS_1


“Kau dengar. Sebaiknya kau bersiap-siap. Kita mungkin akan berkeliling sepanjang siang  ini.” Annie melepaskan lengan putranya dan bangkit meninggalkan.


__ADS_2