
“Lisle?” Sebuah suara menegur Lisle dari arah belakangnya. Gadis itu berhenti sejenak dari pekerjaannya mengepel lantai di depan sebuah toko. Dia membalikkan badan.
Seorang lelaki muda berwajah tampan berjalan mendekat. Dia memakai setelan jas yang tampak mahal. Lisle mengenalinya sebagai David, sahabat tuan Kent. Gadis itu tiba-tiba teringat pertemuan mereka di atas kapal. Dan liburan yang dulu dianggapnya konyol, hari ini menjadi kenangan yang menyerupai mimpi. Indah tapi terasa tidak nyata baginya.
“Tuan David....” Lisle mengangguk sedikit. Hatinya merasa sedih tanpa bisa dijelaskan. Melihat lelaki ini mengingatkannya pada seorang yang lain.
“Apa yang kau lakukan di sini?” David tiba-tiba menjadi geram melihat penampilan Lisle yang menyedihkan. Gadis itu masih terlihat cantik dan lembut seperti biasa, masih membangkitkan gairah dan rasa sayang. Namun dalam balutan seragam kebersihan yang dikenakannya, Lisle terlihat tidak bahagia. Bukan, bukan seragam itu yang membuat David merasa kasihan. Kenyataan bahwa ada seseorang yang berada di puncak sana yang sebenarnya menyukai gadis ini, tapi telah begitu angkuh untuk tidak mempedulikannya lagi membuat David merasa ngilu hati dan kesal secara bersamaan. Ingin rasanya dia menyeret Kennard ke sini menunjukkan pada tuan angkuh itu penampilan gadis yang pernah menjadi sangat istimewa baginya. David tidak percaya sahabatnya itu tidak akan luluh hatinya.
“Aku bekerja di sini, Tuan.” Lisle tersenyum sedikit. Dia tidak malu mengakuinya di depan tuan muda ini.
“Apa Ken tahu?” David mencoba memancing.
Lisle menggeleng. “Ini tidak ada hubungannya dengan tuan Kent, Tuan. Kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi....” Gadis itu menghindari mata David. Dia mengamati ujung pel dalam genggamannya.
“Ehm, jadi yang kudengar itu benar, kau sudah tidak tinggal di Palm Garden lagi.” David memandang sekeliling mall yang tidak terlalu ramai. “Bagaimana kalau kita mencari sebuah tempat untuk bicara. Mungkin di kafe sana.” David menunjuk sebuah tempat yang tidak terlalu jauh.
“Sekarang waktunya jam kerja, Tuan. Saya tidak bisa.” Lisle mencoba menjelaskan kalau dia tidak bisa sembarangan meninggalkan pekerjaannya.
David terdiam. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kalau tak masalah baginya meninggalkan pekerjaan sebentar. David bisa mengurusnya. Namun karena tak ingin berbantah dengan Lisle, akhirnya dia berjanji akan menunggu gadis itu seusai jam kerja.
***
Mereka bertemu di kafe yang tidak jauh dari mall. Lisle sebenarnya enggan bertemu lagi dengan siapa pun yang ada di sekeliling tuan Kent. Tapi karena David memintanya dengan sopan, Lisle tidak enak untuk menolaknya.
“Maaf, tempo hari aku mengacuhkanmu. Kupikir kalian akan saling bertegur sapa. Ternyata Ken bisa sekekanak-kanakan itu.” David memesan dua cangkir kopi dan cake pada pelayan kafe.
“Tidak apa,” ujar Lisle sambil mencoba tersenyum. Dia merasa canggung berada di keramaian dengan David bersamanya. Sejak mereka masuk, tuan muda ini langsung menjadi pusat perhatian. Apa laki-laki ini tidak malu berjalan bersisian dengannya yang memakai seragam petugas kebersihan mall? Lisle jadi bertanya-tanya sendiri. Namun karena di antara mereka tidak ada hubungan apa pun, Lisle sedikit santai.
__ADS_1
“Apa kau sudah lupa dengan perkataanku dulu?” David menatap Lisle yang tampak melamun.
Gadis itu mengangkat pandangannya dari cangkir kopi di depannya. “Kata-kata yang mana?” Dia memang ingin melupakan apa saja yang berhubungan dengan tuan Kent meski sebenarnya malah makin tak bisa.
“Kalau suatu hari kalian putus, kau bisa mencariku.” David mengingatkan Lisle dengan sesuatu yang pernah dikatakannya dulu saat liburan.
“Untuk apa?” Lisle terlihat berpikir. Apa dia harus melapor pada tuan muda yang satu ini?
David mengeluh dalam hati. Gadis ini pikirannya terlalu sederhana. Apa Lisle tidak tahu kalau kata-kata itu berarti menyiratkan sebuah tanda bahwa dia tertarik dengan gadis itu? Bahwa jika Ken tidak menginginkannya lagi, David bisa menjadi tempat bergantungnya yang lain. Namun menerima tatapan polos Lisle, David tidak mengatakan hal itu.
“Sebagai teman, aku bisa membantu bila kau sedang dalam kesulitan. Misalnya, aku bisa memberimu pekerjaan yang lebih layak di perusahaan milikku....”
“Terima kasih tuan David. Aku sudah punya pekerjaan. Lagipula aku tidak mau bekerja dengan mengandalkan koneksi.” Lisle memotong cepat. Apakah aku tampak sangat menyedihkan dengan seragam ini? Pikir Lisle. Dia mengangkat cangkir kopinya dan meminumnya sedikit.
“Ah ya, kau punya pekerjaan....” David menjadi bingung harus mengatakan apa lagi. “Siapa tahu nanti kau punya masalah lain, aku bisa membantumu. Aku juga bisa melakukan apa yang Ken lakukan untukmu. Kau tahu, bukan cuma dia seorang yang punya segalanya....”
David merasa putus asa mendengarnya. Pantas saja si Tuan Kent merajuk. Lisle yang tampak polos ini bukan gadis yang mudah ternyata. Bahkan saat jelas-jelas dia menawarkan segalanya, Lisle tampak tidak tertarik.
“Aku akan mengantarmu.” David bangkit dari duduknya.
“Tidak usah. Aku naik taksi saja,” tolak Lisle.
David tidak memaksa. Dia membantu mencarikan taksi untuk Lisle, membayar ongkosnya di awal. Tak lupa dia meletakkan sebuah kartu nama ke tangan gadis itu dengan sebuah pesan, “Hubungi aku jika kau perlu bantuan. Ah, tidak. Kau juga bisa menelponku kapan saja. Tak perlu alasan apa pun.”
Namun dalam perjalanan pulang, Lisle meloloskan kartu nama David di celah kaca jendela mobil, membiarkannya terbawa angin, menghilang dalam kegelapan malam yang pekat. Dia tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengan orang-orang di sekeliling tuan Kent, orang-orang yang hanya akan terus mengingatkannya pada laki-laki itu.
***
__ADS_1
“Kau tampak tidak bersemangat.” Celine menegur Lisle yang baru tiba di apartemen.
Lisle tersenyum sedikit, tak menanggapi ucapan Celine. Dia meletakkan tasnya di meja dan pergi ke kamar mandi. Sebentar kemudian dia sudah kembali ke kamar, memakai baju tidur dan langsung merebahkan diri membelakangi Celine yang sedang mengerjakan sesuatu di meja belajar.
“Apa ada masalah?” Celine memandangi punggung Lisle yang tampak bergetar. Tampaknya gadis itu tengah menangis.
Lisle menggeleng di sela isaknya yang nyaris tanpa suara.
Celine menghela napas. “Lalu kenapa menangis?” Tidak mungkin gadis itu sedih tanpa sebab, pikir Celine.
“Aku juga tidak tahu.” Lisle tiba-tiba bangkit dari berbaringnya, menyeka airmatanya sekilas. “Aku bertemu tuan David hari ini....”
“Tuan David?” Celine mencoba mengingat-ingat seseorang dengan nama itu yang mungkin dikenalnya.
“Dia sahabat tuan Kent....” Lisle menjelaskan.
“David Garren?” tanya Celine agak ragu.
Lisle mengangguk.
Keluarga Garren sangat terkenal, jadi tentu saja Celine pernah mendengarnya. Dia takjub Lisle bisa mengenal banyak orang ternama. Dengan bersemangat, Celine memperbaiki tempat duduknya. “Lalu?”
“Kami hanya bicara sebentar. Hanya itu,” ujar Lisle.
“Kau bertemu teman tuan Kent, berbicara sebentar dengannya kemudian pulang dengan sedih. Pasti dia mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih.” Celine tidak percaya kalau tidak ada sesuatu alasan yang membuat gadis itu menangis.
“Tidak ada yang penting. Dia hanya menanyakan hubunganku dengan tuan Kent dan kubilang sudah berakhir....”
__ADS_1
“Itu dia!” Celine tiba-tiba berseru. “Dia membuatmu teringat dengan tuan Kent makanya kau sedih. Lisle, kau sudah jatuh cinta pada tuan Kent. Tidakkah kau menyadarinya?”