
Belum pernah Steve merasakan ketakutan yang sedemikian rupa pada tuannya. Dan semua itu hanya disebabkan oleh seorang gadis kecil yang tidak lain adalah adiknya sendiri. Dia ingin menjelaskan. Tapi dia juga tahu kemungkinan besar tuannya tidak akan mau mendengarkan. Kecuali....
“Ken, aku... aku tidak apa-apa. Ini bukan salah Steve.” Lisle menyela dan buru-buru menyusut airmata di pipinya.
Ada sedikit perasaan lega di hati Steve. Sebentar tadi dia sempat khawatir Lisle akan merajuk pada Kennard dan mengadu yang tidak-tidak. Entah bagaimana dia akan membela diri.
“Tapi kau menangis karena laki-laki brengsek ini.” Kennard merasa puas berkesempatan memaki Steve. Hal yang sangat jarang dia lakukan.
“Tuan....” Steve merasa kesusahan menelan ludah. Terakhir kali tuannya memaki, dia sudah lupa. Dia tidak sakit hati, tapi itu benar-benar terasa tidak nyaman di telinganya.
Kennard tidak mempedulikan asistennya itu. Dia mendekati Lisle dan meraih wajah yang memerah karena barusan menangis. Bukan dia tidak pernah melihat istrinya menangis. Namun Lisle menangis karena Kennard yang kadang terlalu bersemangat menghabiskan malam. Selain itu, tentu saja masalahnya jadi lain.
Bila Lisle menangis, dia terlihat sangat kasihan. Itu juga yang dirasakan Kennard dulu saat pertemuan mereka kali pertama. Sekarang gadis yang telah jadi istrinya ini menjatuhkan airmata karena saudaranya sendiri. Sayangnya, Lisle justru membelanya. Itu membuat kekesalan Kennard menjadi berlipat-lipat. Dia ingin sekali mencekik mati asistennya ini kalau bukan status saudara yang disandangnya.
“Mulai besok pergilah berlibur. Kurasa kau sudah lama tidak mengambil cuti.” Kennard mengatakan itu pada Steve tanpa melihat sedikit pun pada lelaki itu. “Lagipula aku sedang tidak ingin melihatmu,” sambung Kennard.
Steve mengeluh tapi tak ada yang bisa dilakukan untuk membantah tuannya.
“Pergilah kemana saja. Yang pasti jangan sampai aku melihatmu. Jangan kembali kecuali aku perintahkan.”
“Ken, Steve tidak melakukan apa-apa. Dia... dia tidak bersalah.” Lisle berusaha membatalkan keputusan Kennard atas Steve.
“Dia bersalah karena menjadi saudaramu dan kakak iparku.” Kennard berkata acuh. Ditariknya lengan Lisle dan membawanya berlalu dari sana.
Lisle seperti tidak percaya dengan pendengarannya. Jawaban Kennard terdengar tidak masuk akal. Kenapa dia menyalahkan hubungan darahnya dengan Steve? Kalau tahu akan seperti ini jadinya, mungkin lebih baik dulu dia tidak meminta pada Kennard untuk menemukan saudaranya. Lisle merasa bersalah pada Steve.
Sampai di luar kamar mandi, Lisle menarik tangannya dari pegangan Kennard.
“Aku ingin bicara sebentar dengan Steve,' ujar Lisle.
__ADS_1
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengannya.” Kennard tetap menahan lengan Lisle dalam genggamannya.
“Ken....” Lisle menatap suaminya dengan pandangan memelas.
Salah satu yang dibenci Kennard adalah bila Lisle mulai memohon dengan mata berliannya yang berkaca-kaca. Seakan gadis itu sangat tahu jika Kennard tidak akan bisa menolaknya.
Kennard melepaskan pegangannya dari lengan Lisle dan tanpa mengatakan apapun lantas berjalan meninggalkan tempat itu.
Lisle menarik napas sepenuh paru-parunya dan berbalik menemui Steve yang masih tertegun di depan wastafel. Lelaki itu sesaat merasa terkejut dengan kembalinya Lisle. Dia masih belum bisa menerima keputusan yang baru saja dititahkan tuannya. Tiba-tiba gadis yang menyebabkan semua itu sudah kembali ke hadapannya. Bagaimana nyali Steve tidak menciut dibuatnya. Dia bahkan lupa bahwa mereka adalah dua saudara.
“Steve. Aku minta maaf. Ini semua salahku.” Lisle melihat wajah Steve yang kembali memucat dan tidak mengerti apa yang sudah membuat Steve tampak ketakutan seperti itu. “Walau aku sendiri tidak tahu dimana salahku....”
Steve tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mengeluarkan suara keluhan.
Baiklah! Ini bukan murni kesalahan Lisle. Gadis itu tidak bermaksud buruk pada Steve. Mungkin dia hanya sedikit bersemangat karena menemukan lagi saudaranya yang hilang. Steve berusaha maklum. Lagi-lagi. Sepertinya dia memang tidak bisa marah pada gadis di depannya ini.
Oh, tidak! Bukan cuma dia. Sepertinya tuannya juga tidak bisa marah pada Lisle. Setiap mata indah itu mulai berkabut, tuannya akan mati-matian menghibur. Walaupun Steve tahu pasti, tidak jarang tuannya membuat jengkel istrinya ini.
Kening halus itu berkerut. “Cemburu? Kennard cemburu pada kakak iparnya sendiri?” Lisle tidak tahu harus tertawa atau menangis karenanya.
Steve mengangguk yakin. “Berhati-hatilah bila bicara atau bersikap di depannya. Dia tidak akan suka jika kau memuji seseorang apalagi jika orang itu laki-laki.”
“Sekalipun itu kau, kakakku?” Lisle merasa tidak percaya dengan nasihat Steve. Dia merasa itu sangat konyol.
“Sekalipun orang itu adalah kakakmu sendiri.” Steve menegaskan dengan mengulang kata-kata Lisle.
“Itu tidak masuk akal,” Lisle meringis sendiri mengetahui jika suaminya bisa juga bertindak sekonyol itu.
“Dia memang orang yang tidak masuk akal sejak dulu. Setelah bertemu kau, dia menjadi makin tidak masuk akal.” Steve tersenyum masam mengingat jika dia sekarang sudah menjadi korban dari tindakan tidak masuk akal tuannya.
__ADS_1
“Jadi pada akhirnya kau menyalahkanku juga.” Lisle ikut tersenyum masam.
“Dia hanya terlalu mencintaimu.” Steve tidak menghiraukan perkataan Lisle. Semua bisa dikatakan bersalah. Tapi semua juga tidak bisa dikatakan salah.
“Aku akan membujuknya agar segera memanggilmu kembali.” Lisle berjanji.
“Aku percaya kau pasti bisa membujuknya. Tapi kupikir ada baiknya juga buatku pergi berlibur. Seperti kata tuan, aku sudah lama tidak cuti.” Steve tiba-tiba seperti teringat sesuatu.
“Aku harus menemui seseorang....” Steve berujar setengah melamun. Wajah tampannya terlihat lebih cerah.
“Pastikan kau datang di pesta pernikahan kami.... Eh, apa kaubilang barusan? Menemui seseorang? Apakah dia gadis yang kau katakan kau sukai tempo hari?” Lisle ingat jika saat itu Steve berkeras bungkam tentang gadis yang disukainya.
Steve tersenyum penuh misteri. Sepertinya cukup menyenangkan bisa menggoda Lisle dengan membuatnya penasaran. Untunglah saat itu dia cukup kuat untuk tidak mengatakan siapa gadis yang disukainya.
Lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Siapa?” Lagi-lagi Lisle tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Apa aku mengenalnya?”
“Kau mengenalnya.” Sekejap Steve sudah melupakan kekacauan yang sudah ditimbulkan Lisle sebelumnya.
“Tapi siapa?” Lisle mulai merengek dan mengguncang lengan Steve.
Steve menatap ke arah lengannya yang dipegang Lisle. “Satu lagi. Jangan pernah sekalipun bersikap seperti ini di depan suamimu. Kau tidak tahu betapa buruk wajahnya saat melihatnya.”
“Eh, benarkah?” Lisle melepas pegangannya pada lengan Steve. “Kau ‘kan saudaraku. Bukankah tak apa-apa....”
“Sudah kubilang....”
“Ya ya ya.... Sekalipun kau adalah kakakku, suamiku yang terlihat hebat itu tetap akan cemburu.” Lisle memotong cepat teringat nasihat Steve sebelumnya. “Aku tidak tahu kalau dia juga bisa menjadi bodoh seperti itu,” lanjutnya menggerutu pada diri sendiri.
__ADS_1
Steve tertawa kini. “Cinta kadang bisa membuat orang hebat menjadi terlihat bodoh.” Dia menyaksikan sendiri seluruh perjalanan cinta tuannya. Jadi dia tahu persis apa yang dikatakannya.