
Keduanya berpandangan dengan canggung. Dean dengan pikiran bahwa segala upayanya mencari tahu lelaki yang menjadi pacar Lisle telah membawanya pada sebuah titik yang menakutkan. Sementara Lisle, setelah linglung sejenak dalam rasa malunya dia menemukan adanya kesengajaan dari kejadian ini. Tuan Kent telah membuat sebuah trik kecil untuk mengenyahkan Dean dari sekitar Lisle.
“Kau sudah melihatnya. Jadi sekarang keluar.” Kennard berkata dingin pada Dean.
Wajah Dean menjadi seputih kertas Semuanya jelas, tuan presdir telah memperlihatkan adanya sebuah hubungan dengan Lisle. Gadis itu ternyata milik lelaki di puncak tertinggi Diamond Group ini.
Dengan nyali yang menciut, Dean mengangguk sedikit pada sang presdir tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia juga tak sekali pun melirik pada gadis yang beberapa hari ini menarik perhatiannya.
Lisle tertegun menatap kepergian Dean hingga menghilang di balik pintu. Setelahnya dia berpaling pada Kennard yang sedang tersenyum sinis.
“Kau sudah merencanakannya, bukan?” tanya Lisle dengan tatapan tidak percaya. Kennard sengaja menciumnya di depan Dean. Itu sungguh memalukan bagi Lisle.
“Aku tidak pandai memberitahunya dengan cara lain.” Kennard mengangkat bahunya terlihat tak peduli.
“Tapi itu memalukan.” Suara Lisle nyaris pecah oleh tangis bercampur kemarahan. Itu sungguh-sungguh memalukan. Meskipun tuan Kent telah menciumnya beberapa kali tapi lelaki tidak pernah melakukannya di depan umum.
“Bagian mana yang membuatmu malu?” Kennard bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Lisle. Dia menunduk sedikit di depan gadis itu. Ada nada kesal dalam suaranya. “Berciuman di depannya atau ketahuan sebagai gadisku?”
Lisle mendongak dengan mata yang mengembun. “Dua-duanya,” jawab Lisle dengan pasti. Dia malu dicium begitu saja di depan orang lain. Dia juga malu menjadi gadis milik lelaki ini seperti seseorang yang tak punya harga diri dan kebebasan.
“Kau tidak tahu apa yang baru saja kau katakan.” Kennard berkata dingin. Sorot matanya menjadi sangat mengerikan. Pernyataan Lisle menyinggung harga dirinya bukan saja sebagai lelaki tapi juga sebagai seorang tuan Kent yang dihormati seluruh kota Black Mountain.
__ADS_1
“Aku sangat tahu. Jadi tolong, lepaskan aku. Kau bisa mencari gadis lain untuk kau permainkan.” Lisle memohon dengan suara gemetar. Dia benar-benar ingin lepas dari lelaki ini dan melakukan apa pun tanpa diawasi.
Kennard menggertakkan giginya. “Aku tidak menginginkan yang lain. Mereka membuatku bosan.”
Kennard menarik gadis itu dalam sekali sentakan ke arah sebuah pintu dan membukanya. Lisle didorong masuk seketika. Itu adalah sebuah kamar tidur tempat Kennard beristirahat di sela-sela kesibukannya. Lisle mendadak pucat waktu lelaki itu mendesaknya ke arah tempat tidur.
“Tuan....”
“Bukankah kau bilang akan melakukan apa saja untukku? Sekarang layani aku dengan baik dan aku akan melepaskanmu setelahnya.” Kennard melempar jasnya sembarang, melepas dasi dan meloloskan kancing kemejanya satu-persatu.
Mata Lisle terbelalak ketakutan. Dia bermaksud melarikan diri dari sana tapi tubuhnya keburu diraih dan di lempar ke tempat tidur.
Lisle berupaya berontak meski penolakannya tidak lebih dari sedikit gerakan yang terkunci. Gadis itu terus melawan, meski usahanya terpatahkan oleh lebihnya Kennard dalam hal kekuatan. Namun seluruh syaraf dan sel dalam tubuhnya tidak bisa menerima penghinaan. Dalam kemarahannya, Lisle merasakan kesedihan yang menghancurkan jiwanya. Airmatanya tumpah.
Di sela ciumannya yang penuh amarah, Kennard merasakan penolakan itu. Telapak tangannya yang menahan wajah Lisle basah oleh airmata. Dia menghentikan penjelajahannya dan mengangkat muka.
Selama ini tuan Kent dikenal sebagai laki-laki dengan kekejaman tanpa ampun. Jika dia memutuskan kematian bagi seseorang maka kematianlah yang terjadi. Kalau tuan Kent menghendaki kehancuran bagi seseorang, maka kehancuranlah yang berlaku. Kali ini Kennard menginginkan gadis ini dalam kemarahannya. Tak peduli sebesar apapun penolakan gadis itu, harusnya, dia akan mendapatkannya. Namun akhir-akhir ini, Kennard merasa telah menjadi lemah dan terlalu memanjakan gadis ini. Dia ingin menghukumnya, ingin memberi semacam pelajaran agar Lisle tetap pada kepatuhan yang diinginkannya. Hanya saja, begitu mendapatkan sepasang mata indah itu tenggelam dalam airmata, Kennard merasa sangat kesakitan di hatinya.
Dia mengusap sedikit darah di sudut bibir indah itu. Dan masih dalam posisi mengungkung tubuh indah itu, Kennard bertanya, “Kau ingin aku melepasmu? Apa kau benar-benar menginginkannya?”
Lisle masih gemetar dalam ketakutannya, tapi suara Kennard yang menanyakan itu terdengar lembut baginya. Tuan Kent bertanya apakah dia menginginkan kebebasan? Tentu saja!
__ADS_1
Gadis itu mengangguk perlahan.
***
Celine menatap Lisle yang tetidur dengan mata sembab. Gadis itu tiba-tiba kembali hari ini dalam keadaan kacau. Katanya, akhirnya dia bisa bebas dari tuan Kent.
Meski tak habis pikir dengan yang ada di kepala Lisle, Celine tak mengatakan apa-apa saat melihat airmata gadis itu. Lisle berkata lega telah terlepas dari tuan Kent yang menjeratnya, tapi terlihat menjadi sangat sedih di saat yang bersamaan. Lisle telah diberikan perlindungan dan perhatian yang besar oleh tuan Kent, juga limpahan materi yang sangat diinginkan gadis lain, tapi Lisle bicara omong kosong tentang kebebasan. Celine jadi sedikit kesal dengan kebodohan gadis ini. Bukankah Lisle tetap bisa kuliah dan bekerja? Gadis itu bahkan difasilitasi untuk bisa pergi kemana pun. Adakah itu tidak cukup bebas?
Dengan rasa tidak puas Celine ikut merebahkan diri di sebelah Lisle. Menurutnya, Lisle tidak tahu apa yang sudah dia lepaskan. Gadis itu akan menyesalinya suatu hari. Tadi pun, Celine merasa jauh di sudut hatinya, gadis itu sudah menyesalinya.
Keesokan harinya , Celine masih melihat Lisle bergelung dalam selimut saat dia bersiap-siap pergi ke kampus. Gadis itu terlihat nyaman dalam lelapnya hingga Celine yang bermaksud membangunkannya menjadi tidak tega. Akhirnya dia hanya meninggalkan sebuah catatan kecil untuk Lisle di atas meja lalu bergegas pergi.
Sementara di Palm Garden, Thomas masih kebingungan karena tidak melihat Lisle pulang kemaren. Pagi ini dia melihat tuannya sarapan dengan wajah yang sudah lama tidak dilihatnya, dingin dan tanpa sinar kelembutan yang akhir-akhir ini kerap dilihat Thomas. Apakah mereka bertengkar lagi. Apakah gadis itu kembali membuat ulah?
“Thomas, mulai hari ini gadis itu tidak akan tinggal di sini lagi. Aku ingin kau membersihkan kamarku dan membuang semua yang berhubungan dengannya.” Tuan Kent mengakhiri sarapannya dengan sebuah perintah yang membuat Thomas kecewa.
Jadi gadis itu benar-benar telah membuat masalah lagi. Kali ini tampaknya sangat serius sampai tuannya memberi perintah seperti itu.
“Baik, Tuan.” Thomas mengangguk hormat.
Kennard bangkit dari duduknya. Sebelum dia pergi dari ruang makan itu, dia berkata lagi, “O ya, aku juga ingin kau mengeluarkan gadis itu dari pikiranmu.”
__ADS_1