Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 98. Akhir Pencarian


__ADS_3

Lisle hampir tidak mempercayai pendengarannya. Celine benar-benar menginginkan kematiannya. Hanya karena Lisle tidak berada di sisi Celine di saat-saat dia memerlukan seorang temankah? Atau karena sebab lain? Lisle tidak mampu memikirkannya.


"Kau sungguh-sungguh?" Kaki Lisle kini berada di bibir jurang. Dia teringat Kennard. Kenapa laki-laki itu belum tiba juga? Apa benar-benar sulit menemukannya? Adakah ini akan menjadi akhir hidupnya? 


Ada senyum mencemooh di bibir Celine. "Mungkin kau perlu diyakinkan," ujarnya. Tangannya bergerak. Dan….


Dor! Sebuah peluru melesat hampir mengenai kaki Lisle, membuatnya goyah.


Gadis itu menatap Celine dengan sedih. Saat kakinya tidak lagi memiliki tumpuan yang kokoh, tubuh Lisle terjatuh ke belakang.


Dalam beberapa detik yang terasa lama bagi Lisle, dia teringat semua kebaikan Celine. Dia memejamkan mata dan melihat kilasan-kilasan saat mereka di meja makan. Ketika Celine mengulurkan segelas susu dan sepotong roti pada perut kosong Lisle. Saat mereka berbagi kisah di kamar sempit mereka. Waktu Celine berlari menyambutnya di jalan belakang kampus. Rasanya sangat sakit. Mungkin lebih sakit dari kematian itu sendiri.


Dan pandangan mata Celine saat terakhir kali melihatnya, tidak ada sedikitpun rasa kasihan di sana.


***


Saat Kennard turun dari heli yang membawanya ke halaman sebuah bangunan mirip kastil tua, tidak ada seorangpun yang menyambutnya. Lucas memberitahu lokasi terakhir tanda-tanda keberadaan istrinya di sekitar tempat itu. Tetapi saat dia dan sepasukan orang-orang Ronald memeriksa, tempat itu telah kosong.


Tapi mereka menemukan bahwa Lisle memang pernah berada di tempat itu. Kennard mendapatkan tas istrinya tercecer di sebuah kamar.


Kennard menggertakkan giginya. Baru kali ini dia merasa dipermainkan. 


***


Bert menatap Celine yang terduduk di dekat jurang dengan tangan masih memegang senjata. Gadis itu tertawa-tawa tapi sudut-sudut matanya mengalirkan bening yang membasahi pipinya.


"Dasar gadis bodoh! Kau membunuh tawanan berharga tuan Alger." Bert menyumpahi Celine tapi tak melakukan apapun pada gadis itu. Seharusnya dia tahu kalau gadis ini telah terganggu sarafnya sejak pertama kali mereka membawanya.

__ADS_1


Dari informasi yang didapat Bert, Celine adalah teman dekat Lisle. Mengambil gadis itu ke pihak mereka pasti akan sangat berguna kelak. Dia bahkan sempat merasa senang saat melihat kebencian Celine pada Lisle. Namun tak pernah mengira kalau gadis itu akan bertindak sendiri. Sekarang dia tidak tahu apa yang akan dikatakan tuan Alger begitu tahu bahwa rencananya bertahun-tahun telah gagal gara-gara gadis ini.


Bert menghubungi Peter Alger.


"Apa kau sudah mendapatkan kembali gadis itu?" tanya tuan Alger dari seberang.


"Tuan, gadis itu telah tewas…." Bert melaporkan. Dia bersiap-siap mendapatkan kemurkaan lelaki tua itu. Tapi tak didengarnya apapun. Hanya bunyi 'klik' pelan. Lalu….


Semua terjadi begitu cepat. Si pelayan dan lelaki berjaket telah jatuh ke tanah dengan lubang merah pekat di kepalanya. Seseorang mengetuk kepala Bert dengan benda tumpul dan dia sudah tidak sadarkan diri. Ponselnya terjatuh dari genggaman seseorang lalu memungutnya.


"Zion?" desis Kennard.


Terdengar tawa buruk di seberang. Kennard mengenalinya. Dia tidak akan pernah lupa suara itu.


"Sayang sekali kita tidak bisa berjumpa hari ini, anak muda. Aku kehilangan mainanku sebelum menunjukkannya padamu." Peter Alger atau yang dulunya dikenal Kennard sebagai Zion terkekeh di ujung sana. 


Lucas memberitahu bahwa sinyal yang menunjukkan keberadaan Lisle kembali terdeteksi. Mereka mengejar hingga ke bibir jurang menemukan Bert beserta anak buahnya dan juga Celine yang terlihat tidak waras.


Tawa Peter kembali meledak. "Aku sangat tidak sabar menunggu saat itu."


Lalu sambungan diputus.


"Tuan, kami menemukan, Nyonya!" Sebuah suara membuat Kennard mengabaikan pikiran tentang Zion yang kembali. Jantungnya tiba-tiba menjadi tidak beraturan detaknya. Kennard tidak pernah secemas ini. Bayangan buruk tentang keadaan Lisle membuatnya bergegas ke asal panggilan.


***


Langit siang sebiru laut. Jernih. Nyaris tanpa awan.

__ADS_1


Celine mendongak pada sekumpulan burung yang melintas di atasnya dengan perasaan kosong. Tak ada sebentuk awan yang bisa membuatnya menebak-nebak serupa benda apa saja.


Pada halaman luas di belakang bangunan putih, Celine kerap menghabiskan waktunya akhir-akhir ini. Bukan karena dia menyukainya, tapi karena memang tak ada yang bisa dilakukannya. Lagipula dia tidak lagi bisa membedakan hal-hal yang disukainya atau tidak. Tidak lagi menginginkan sesuatu apapun. Di kepalanya hanya sesekali melintas bayangan beberapa orang. Seorang wanita tua, pemuda tanggung, seraut wajah seperti peri dan bayangan lelaki menawan. Dia bahkan memimpikannya hampir setiap malam.


Namun Celine tidak bisa mengingat nama-nama mereka. 


Setiap wajah itu hadir dalam bayangan atau mimpinya, perasaan yang berbeda-beda muncul. Perasaan sedih dan sakit yang  berlainan. Celine tidak mengerti. Dia ingin bertanya kalau-kalau seseorang bisa memberitahu padanya siapa mereka. Tapi bagaimana caranya dia bertanya, sedangkan wajah-wajah itu hanya dilihatnya dalam mimpi atau bayangannya saja.


"Nona, saatnya minum obat." Seorang wanita berpakaian serba putih mendekat. Dia tidak menunggu jawaban Celine, tapi langsung mengambil posisi di belakang kursi roda dan mendorongnya, mengarahkan ke pintu masuk bangunan putih.


Celine juga tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam di kursinya. Matanya masih menatap kosong pada pemandangan langit di atasnya hingga pemandangan itu berganti plafond ruangan yang berwarna putih. Gadis itu mengeluh. Setetes demi setetes airmatanya jatuh.


Ada bagian di dalam hatinya yang seperti berlubang. Sesuatu yang telah berakar di sana telah tercabut tapi dia tidak tahu apakah itu. Dia hanya merasakan kehampaan tanpa batas. Dan dia tenggelam dalam kekosongan itu. Menggapai. Meraba. Tapi yang teraih lagi-lagi kekosongan. Celine merasa lelah.


Menjelang sore, seseorang mengatakan padanya bahwa Celine kedatangan tamu. Gadis itu memiringkan wajahnya ke asal suara. Matanya masih pada langit sore.


Ini untuk pertama kalinya seseorang datang menjenguk setelah sebulan gadis itu tiba di sini.


Dia seorang pemuda berusia belasan dengan sepasang mata yang murung. Lelaki muda itu mendekat pada Celine dengan langkah lambat-lambat. Tampak goyah. Mereka telah tidak bertemu sebulan lebih. Sejak suatu malam Celine pamit untuk bertemu seseorang. Sejak itu gadis itu tidak kembali.


"Celine," tegur si pemuda dengan suara bergetar. Dia diberitahu bahwa Celine tidak mengingat apapun atau siapapun. Mungkin gadis itu juga melupakannya. Tapi dia menegurnya juga.


Celine sedari tadi memperhatikan pemuda itu dan langsung mengenali sebagai wajah di dalam mimpinya. "Kau?'


Mata Rey berkabut. Dia makin mendekat, meraih kedua tangan Celine. "Apa kau mengingatku?" tanya Rey penuh harap pada saudara perempuannya itu. 


Sayangnya, Celine menggeleng. Dia menarik tangannya dari raihan Rey.

__ADS_1


"Tidak." Lagi-lagi Celine menggeleng. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu."


__ADS_2