Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 60. Dia Masih Peduli


__ADS_3

Lisle masih merasa pusing saat dia dibangunkan dan dibawa turun ke lantai dasar gudang. Dia melihat beberapa orang berjaga di pintu depan dan belakang gudang dengan senjata di tangan. Tuan Adolf mencengkeram lengan Lisle dengan sebelah lengan dan sebelah tangannya lagi menggenggam sebuah pistol, sedangkan orang bernama Tony berdiri di sisi mereka. Keduanya tampak tegang dengan pandangan menatap lurus ke arah pintu masuk.


Siapa yang mereka tunggu? Lisle bertanya-tanya dalam hati. Tidak mungkin tuan Kent, bukan? Menoleh padanya pun laki-laki itu tidak mau lagi. Bagaimana dia bisa datang hari ini?


“Kau yakin dia sendirian yang datang?” tanya Adolf pada lelaki di sebelahnya.


“Orang-orangku sudah mengawasinya. Dia hanya sendiri. Kurasa dia cukup berani juga.” Tony menyahut tanpa menoleh. Dia sudah mendengar tentang lelaki yang dipanggil tuan Kent ini. Namun bagi seorang yang sudah lama  berkecimpung di dunia kriminal, tak ada yang cukup bisa membuatnya takut. Kekuasaan boleh dimiliki seseorang, tapi jika sebutir peluru saja bersarang di kepala maka akan lenyaplah semua.


“Kau sudah memastikan jalur pelarian kita cukup aman?” Kembali Adolf bertanya. Sesungguhnya dia sangat tegang. Tuan Kent ditakuti bukan tanpa alasan. Dia tidak cuma berkuasa dan kaya, lebih dari itu dia terkenal juga dengan kekejamannya.


“Bisakah kau berhenti bertanya? Kau hanya membuatku makin tegang. Aku cukup berpengalaman untuk hal-hal seperti ini.” Tony tampak kesal. Menurutnya Adolf menjadi sangat cerewet justru di saat-saat dia memerlukan konsentrasi ekstra.


Adolf akhirnya menutup mulutnya. Namun tangannya memperkuat cekalannya di lengan Lisle. Dia tahu gadis ini istimewa tapi masih tak mengira jika tuan Kent yang tak tersentuh itu akan datang sendiri untuk menebusnya. Lalu kenapa gadis ini berulang kali berkata bahwa kekasihnya ini tidak akan datang? Apa mungkin dia mengkhawatirkan keselamatan laki-laki itu?


“Sudah datang!” Seseorang memberitahu nyaring. Bersamaan dengannya terdengar suara mesin mobil yang berhenti di luar gudang.


Semua orang tampak bersiap dan pandangan mereka hampir tak berkedip mengarah ke pintu masuk.


Lisle mengangkat pandangannya yang tadi terus menunduk pada lantai gudang. Dia jadi ingin tahu siapa yang datang. Jantungnya berdebar kencang. Kalau bukan tuan Kent lalu siapa yang mau bersusah payah bertaruh nyawa datang untuknya? Dia tak memiliki bayangan sedikit pun tentang seseorang itu.


Tak terdengar suara langkah kaki ketika seseorang itu masuk. Tubuhnya tinggi menjulang dalam balutan jaket dan celana hitam. Sebagian wajahnya yang tampan tertutup bayangan topi hitam yang dikenakannya. Ekspresinya yang dingin menjadi tidak terlalu jelas terlihat. Di tangan kirinya tampak sebuah koper hitam yang berat.

__ADS_1


Lisle mengeluarkan seruan tertahan. Meski wajah orang itu tidak jelas terlihat, apalagi dari jarak yang cukup jauh seperti ini, tapi perawakan dan sebagian garis wajah itu dikenalinya. Tuan Kent!


“Tuan?!” Mata Lisle langsung mengembun. Ternyata laki-laki itu masih peduli padanya.


Kennard hanya melirik sekilas tapi tak mengalihkan arah pandangnya pada dua orang di sebelah Lisle.


“Periksa apakah dia membawa senjata?” Tony memerintah seseorang.


Seseorang mendekati Kennard dan memeriksa. Dia menemukan sebuah senjata yang diselipkan di pinggang laki-laki itu dan mengacungkannya ke udara sebagai isyarat dia mendapatkannya.


“Mungkin Tuan bisa menunjukkan isi tasnya.” Kini Adolf yang bersuara. Dia sudah tidak sabar ingin melihat uang yang dijanjikan tapi juga tidak ingin percaya begitu saja.


Kennard melepaskan pengunci koper dan membuka tanpa mengatakan apa pun. Tampak tumpukan uang kertas memenuhi bagian dalam tas. Adolf menelan ludah begitu melihatnya.


Mata Kennard menyipit. Itu bukan sebuah metode pertukaran yang adil. Si penculik bisa saja membawa serta tawanan atau malah membunuhnya setelah mendapatkan uang. Namun tentu saja dia berada di pihak yang tidak bisa menawar. Jadi Kennard melempar koper itu begitu saja ke lantai gudang dan berjalan mundur beberapa langkah. Seorang anak buah dari para penculik mendekat dan mengambil koper tersebut lalu membawanya pada Tony yang disambut lelaki itu dengan seringai licik.


Tony dan Adolf dengan Lisle yang masih dalam cengkeramannya bergegas mundur ke arah pintu belakang. Lima orang anak buahnya mengiringkan sambil masih mengarahkan senjata mereka pada Kennard. Seluruhnya hampir mencapai kebebasan saat Tony mengeluarkan jeritan panjang. Sebuah peluru bersarang tepat di tengah keningnya tanpa tahu siapa yang sudah melepaskan tembakan. Laki-laki itu roboh setelah mengeluarkan suara tersedak. Darah mengalir dari lubang bekas peluru.


Sementara bertepatan dengan itu seseorang yang datang dari lantai atas melempar sebuah senjata pada Kennard yang langsung disambut lelaki itu dan mengarahkannya pada Adolf yang masih sangat terkejut dengan tewasnya Tony. Lelaki yang masih memegangi Lisle itu bahkan tidak sempat tahu siapa yang sudah menembak ketika akhirnya dia juga ambruk ke lantai menyusul rekannya. Sedangkan Lisle terlihat menjerit untuk kesekian kalinya saat tubuh-tubuh para penculik berjatuhan di sekitarnya dalam genangan darah pekat.


Kennard menarik Lisle dari kubangan darah di sekitarnya, menyeret gadis itu menjauh dari mayat-mayat para penculik.

__ADS_1


Seorang laki-laki dengan senjata di tangan mendekat. “Tuan, semua sudah dibereskan. Tidak ada yang berhasil lolos satu pun. Orang-orang kita sudah menyisir semua area gudang.”


“Bagus. Aku ingin ini dibersihkan. Bakar tempat ini. Jadikan semuanya abu. Jangan sampai ada yang tersisa.” Kennard memerintah dengan suara dan ekspresi yang dingin.


Lisle di sebelahnya masih gemetar dan airmatanya tak henti mengalir. Dia belum sepenuhnya bisa mencerna semua kejadian.


“Aku pergi dulu,” ujar Kennard lagi.


“Baik, Tuan.” Laki-laki penjaga villa sekaligus orang kepercayaan Kennard, Hans, mengangguk hormat.


Kaki Lisle hampir tak bisa digerakkan. Lemas. Saat Kennard mengajaknya pergi dari sana, gadis itu malah terduduk di lantai. “Aku... aku... rasanya kakiku tak bisa digerakkan....”


Kennard mendengus kesal. “Dasar manja,” ujarnya lalu mengangkat gadis itu dalam satu gerakan ringan. Lelaki itu menggendong Lisle hingga mencapai mobil yang diparkirkan di luar gudang, membuka  pintunya dan meletakkan gadis itu di kursi penumpang di sebelah pengemudi. Dia membuka pintu bagian pengemudi dan menyalakan mesin. Perlahan mobil bergerak meninggalkan tempat itu.


***


“Berhentilah menjadi gadis bodoh!” ujar Celine di akhir pembicaraan. Dia mendapat kabar dari asisten tuan Kent, Steve, bahwa Lisle telah ditemukan dan sekarang sedang dalam perawatan di rumah sakit. Gadis itu pun bergegas datang.


Lisle tampak malu saat Celine mengatakan itu. Kedatangan tuan Kent yang menyelamatkannya dari tangan para penculik menolakkan semua pikiran bahwa laki-laki itu tidak peduli lagi dengannya. Dia tidak mau berdebat dengan Celine karena masih sibuk dengan pikiran tentang apa yang harus dikatakannya jika bertemu dengan tuan Kent. Saat mereka meninggalkan gudang itu kemaren, dia terlampau shock hingga tidak bisa memikirkan apa pun.


Pintu ruang perawatan tiba-tiba dibuka. Keduanya menoleh dan melihat Kennard masuk diiringi seorang dokter dan perawat.

__ADS_1


Celine memandang kembali pada Lisle. “ Aku pergi dulu. Ingat, jangan lagi punya pemikiran bodoh.” Kemudian gadis itu bangkit dari duduknya. Saat pandangannya bertemu dengan Kennard, dia mengangguk sekilas lalu keluar.


Tinggallah Lisle yang merasa gugup sendiri.  Saat Kennard berjalan mendekat, Lisle hanya duduk menunduk sambil memainkan jarinya. Dia tidak berani menatap laki-laki itu.


__ADS_2