
Meski terus gelisah Lisle akhirnya tertidur juga. Kennard datang membangunkannya sesaat sebelum makan malam. Lelaki itu tampaknya baru saja mandi. Lisle masih melihat tetesan air dari rambut Kennard. Gadis itu mengambil sebuah handuk dan berjingkat mengusap rambut suaminya yang basah.
"Apa ini bagian dari layanan pertama sebagai seorang istri?" Kennard setengah membungkuk agar istrinya tidak begitu sulit mencapainya. Dia mengendus aroma shampo dari rambut Lisle.
Lisle tidak berkomentar, hanya wajahnya yang terlihat merona. "Kau bilang saatnya makan malam. Ayo!" Lalu bergegas keluar kamar tanpa menunggu Kennard yang segera mengikuti dari belakang.
Sepanjang makan malam, Kennard berusaha untuk tidak menggoda istrinya. Dia membantu memotongkan daging dan menyuapinya beberapa potong hanya karena istrinya seperti kehilangan selera makan. Kennard tahu Lisle sedang gelisah. Gadis itu bahkan terlihat beberapa kali hampir menumpahkan isi gelasnya hanya karena kaget saat Kennard menawarinya sesuatu.
"Ayo keluar berjalan-jalan sebentar!" ujar Kennard usai makan malam yang terasa panjang. Dia menuntun Lisle yang mendadak jadi pendiam ke halaman belakang.
Pemandangan belakang Palm Garden sebenarnya sangat menakjubkan. Deretan pohon palm memagari perbatasan tanah yang luas. Ada sebuah danau buatan di bagian ujung. Lisle tidak pernah ke sana. Selama tinggal di sini, dia bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di bagian belakang rumah. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak tertarik dengan hal lainnya.
Kennard melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu, mengajaknya melintasi tanah berumput yang sedikit basah oleh embun.
Lisle baru sadar jika ada sebuah bagian di sisi danau yang dipenuhi rimbun pepohonan. Bagian itu tampak tersembunyi jika dilihat dari kejauhan. Sebuah bangunan mirip pondok kecil berdiri di sana dalam bayangan gelap pepohonan.
"Ayo, kau harus melihat ini!" Kennard mengajak Lisle duduk di teras pondok yang mengarah ke danau.
Suasananya sedikit gelap. Tak ada penerangan di sekitar danau kecuali lampu teras pondok yang remang-remang. Tapi langit yang terang dengan cahaya bulan yang penuh memantul pada permukaan danau yang tenang membuat pemandangannya tampak sebagai lukisan malam yang menakjubkan.
"Bulannya sangat cantik." Lisle tidak sedang mendongak ke langit tapi menatap pada permukaan danau dengan bulatan cahaya sempurna di atasnya.
Sudut bibir Kennard terangkat. Dia menarik tubuh Lisle ke pelukannya. "Kau lebih cantik," bisiknya di telinga istrinya.
__ADS_1
Meski tersipu karena pujian suaminya, Lisle menyahut juga, "Tentu saja."
"Hm, kau mulai berani menggodaku langsung, ya?" Kennard mengamati wajah kecil yang menatap lurus ke arah danau.
Sebenarnya Lisle tidak berani menoleh ke samping karena dia tahu Kennard tengah memperhatikannya dengan sangat dekat. Jika dia berpaling, wajah mereka akan bersentuhan langsung. Baginya, untuk malam ini, hal itu sangat berbahaya.
Setelah sama-sama terdiam untuk beberapa lama, Kennard mengajaknya kembali.
"Bagaimana kalau sebentar lagi? Rasanya di sini nyaman sekali." Suara Lisle terdengar memelas.
Hampir Kennard tak bisa menahan tawanya. Lisle terlihat sangat menggemaskan dengan raut cemasnya.
"Kau bisa ke sini setiap hari. Masih ada besok. Sebaiknya sekarang kita kembali. Aku sudah merasa lelah hari ini," ujar Kennard dengan nada yang sulit dibantah.
Sebenarnya Lisle enggan kembali ke rumah. Kalau bisa dia akan tinggal di sini hingga pagi tiba. Dia bahkan hampir menyuruh suaminya untuk kembali sendiri ke rumah. Setiap masuk ke kamar, pikirannya selalu memikirkan hal-hal yang membuatnya berdebar.
Akhirnya gadis itu menyerah. Dia mengiringi langkah Kennard dengan bibir terkatup rapat.
Sekembalinya ke kamar, Lisle tidak langsung berbaring meski pun sangat ingin. Kakinya terasa pegal setelah berjalan-jalan. Dia hanya duduk di sofa dan diam-diam memperhatikan suaminya yang tengah melepas kancing kemejanya satu per satu. Dia pikir lelaki itu akan mengganti kemejanya dengan piyama. Karena Kennard melepas kemeja di depannya, Lisle bisa melihat pemandangan menakjubkan yang terpahat nyaris sempurna di depannya.
Tanpa sadar Lisle menelan ludah. Suaminya adalah lelaki tertampan yang pernah ditemuinya. Setiap garis wajah dan tubuhnya mampu melelehkan hati wanita mana pun. Apalagi jika sedang tidak berpakaian seperti itu.
Lisle sendiri masih tidak percaya dengan yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Baru sebulan menginjakkan kakinya di kota Black Mountain dia sudah tertimpa banyak masalah. Namun masalah-masalah itu justru membawanya pada pertemuan dengan orang paling berpengaruh di kota ini, tuan Kent alias Kennard Kent. Dan entah kebaikan apa yang pernah dilakukannya dulu hingga membuat Lisle mendapatkan keberuntungan ini, menjadi istri tuan Kent.
__ADS_1
"Sudah puas melihatnya?" Tiba-tiba saja Kennard yang sudah berdiri di depan Lisle menegurnya.
Saat memperhatikan suaminya sambil melamun, Lisle tidak menyadari kalau lelaki itu berjalan ke arahnya. Gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Wajahnya memerah. Apalagi ternyata lelaki itu tidak mengganti pakaiannya dengan piyama seperti perkiraannya semula melainkan malah bertelanjang dada.
"Siapa yang memperhatikanmu?" Meskipun sudah tertangkap basah, gadis itu masih saja berusaha mengelak. "Dan ke… kenapa kau tidak memakai baju. Mana piyamanya?"
"O, bukan ya? Kupikir tadi seseorang sedang terpesona dengan ketampananku." Kennard terkekeh sambil mengambil posisi duduk di sebelah Lisle. Dia langsung merangkul bahu istrinya yang membuat Lisle meronta mencoba melepaskan diri. Kulitnya yang bersentuhan langsung dengan kulit lelaki itu terasa panas.
"Siapa yang terpesona? Aku melihatnya tiap hari jadi aku sudah bosan." Lisle menolak melihat pada Kennard. Dia tetap tidak mau kalah dan terus berbicara sambil masih berupaya meloloskan diri.
"O ya? Tapi kau baru melihatku…." Kennard menunduk pada sisi wajah Lisle tepat di sebelah telinganya, kemudian melanjutkan sambil berbisik, "Kau belum merasakanku."
"A… apa maksudmu?" Lisle tergagap.
"Kau benar-benar tidak mengerti atau hanya pura-pura?" Suara Kennard menjadi berubah dalam pendengaran Lisle, terasa makin menawan. Dan makin berbahaya.
Alarm peringatan sudah berbunyi di kepala Lisle, tapi ciuman Kennard pada lehernya membuatnya terabaikan. Sebelah tangan Kennard memeluk bahu istrinya, sebelahnya lagi merangkul pinggang. Lisle merasa seluruh kulit tubuhnya merinding.
"Ken… Lepas… lepaskan…."
Sebuah sesapan kuat membungkam mulutnya. Kennard menarik tubuh istrinya ke pangkuan dan mengunci setiap penolakan.
__ADS_1