
Celine mendesah kecewa. Dia ingin marah tapi merasa tidak berdaya.
Tuan Eaton salah satu orang terkaya di kota ini memang telah lama menginginkan rumah mereka. Bukan karena rumah itu sangat bagus. Rumah keluarga Celine adalah rumah lama berlantai dua. Tidak terlalu besar. Merupakan peninggalan kakek mereka. Jadi bangunan itu sudah ada sejak sebelum Celine dan adiknya lahir. Dulu pertama kali di bangun, rumah itu berada di tempat yang sepi berdekatan dengan sebuah hutan kecil. Hari ini, rumah itu terletak angkuh di persimpangan jalan utama kota. Pembangunan di sekelilingnya telah membuat rumah itu menjadi incaran banyak pengusaha
Tapi sejak ayahnya masih hidup, mereka tak pernah punya niat menjual rumah warisan itu. Meski kehidupan keluarga pas-pasan tak sekalipun ayahnya berusaha mengambil keuntungan dari harganya yang melambung tinggi. Hari ini, tuan Eaton menawar dengan harga murah hanya karena mereka tahu Celine sangat memerlukan uang saat ini untuk perawatan ibunya.
"Tidak. Aku akan mencari uangnya tanpa harus menjual rumah itu," ujar Celine kemudian.
"Tapi bagaimana caranya? Kau tahu, paman dan bibi juga tidak bisa banyak membantu." Bibinya kini yang bicara. Wanita yang berusia lebih muda dari ibunya itu berbicara dengan nada sedih.
Celine tidak menjawab pertanyaan bibinya. Dia bersandar pada tembok ruangan sambil memejamkan mata. Lisle bisa membantunya, harusnya. Bukankah Lisle memiliki tuan Kent. Tidak mungkin sahabatnya itu mengabaikan permintaanya. Dia bisa menjadikan rumah itu sebagai jaminan dan akan membayarnya suatu hari.
Namun saat ini sahabatnya itu sedang berada di suatu tempat yang jauh untuk berbulan madu. Dia merasa sungkan untuk mengganggu. Meski Lisle pernah berpesan untuk menghubungi tuan Steve jika ada masalah, tapi itu juga bukan hal yang mudah bagi Celine untuk dilakukan. Dia tidak merasa cukup akrab dengan orang itu hingga bisa meneleponnya begitu saja.
Hanya saja saat ini situasinya membuat Celine sepertinya harus mengabaikan beberapa hal. Dia tidak mungkin membiarkan ibunya hanya karena sebuah perasaan sungkan.
Dengan ragu-ragu Celine mengambil ponsel dari dalam tas dan mencari di daftar kontak. Tuan Steve. Dia menekan ikon panggil dan mulai mendengarkan.
Adakah orang itu mau menerima sebuah panggilan dari nomor asing? Atau malah mengabaikannya? Bagaimana kalau dia sedang sibuk?
Terdengar nada tunggu yang panjang. Satu kali. Dua kali. Celine menjadi gugup. Pada bunyi ketiga, telepon tersambung. Gadis itu menarik napas mecoba mengatasi kegugupannya.
"Hallo?" Suara Steve penuh tanda tanya. Sangat jarang ada nomor asing yang menghubunginya.
"Tu… Tuan Steve?" Celine mengeragap mendengar suara itu. Baginya terdengar kaku dan membuatnya makin segan. "Saya Celine, teman Lisle. Bisakah Tuan menyampaikan pesan saya padanya? Saya ingin minta bantuannya."
Celine menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Dia mendapati tatapan dipenuhi rasa penasaran dari paman dan bibinya.
"Saya tidak bisa berjanji, Nona. Nona tahu mereka sedang dalam bulan madu. Tuan Kent sendiri sudah berpesan agar tidak mengganggunya untuk suatu urusan yang tidak penting." Perkataan Steve menghancurkan setengah harapan Celine.
Bagi tuan Kent, masalah Celine pastilah bukan hal yang penting. Lelaki menakutkan itu pasti akan sangat marah jika diganggu untuk urusan yang tidak berhubungan sama sekali dengannya.
__ADS_1
"Oh, ini… ini mungkin tidak penting bagi tuan Kent. Tapi Lisle berkata saya bisa menghubunginya lewat Tuan…." Celine mencoba memberi alasan. "Saya memiliki sedikit masalah di sini. Saya pikir Lisle bisa membantu. Setidaknya, saya mohon, Tuan bisa menyampaikannya dulu."
Untuk beberapa waktu tak ada sahutan dari seberang sana.
Ayolah, hanya menyampaikan. Bermurah hatilah padaku! Kau tidak akan rugi apa-apa.
"Tuan…."
"Coba katakan apa masalahnya? Siapa tahu saya bisa membantu," tukas Steve tiba-tiba.
"Eh? Ini…." Celine merasa malu untuk bercerita. Bagaimanapun hal ini menyangkut uang dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Apa ini terlalu pribadi hingga Nona keberatan menceritakannya?"
"Ah, bukan begitu." Celine menggeleng juga meski Steve tidak melihatnya. "Begini. Ibu saya sekarang ada di rumah sakit. Dia harus segera dipindahkan ke Black Mountain untuk menjalani operasi, sedangkan asuransi kami sudah lama tidak dibayarkan…."
"Saya mengerti masalahnya." Steve langsung memotong kalimat Celine begitu dia menangkap akar masalahnya. "Bawa saja ibu Nona ke sini. Saya menyarankan rumah sakit Diamond Saved . Akan saya hubungi orang-orang di sana."
"Tapi Tuan, rumah sakitnya…." Celine ingin mengatakan jika rumah sakit biasa pun tak apa asal memiliki kemampuan menjalankan bedah yang diperlukan ibunya. Dia ingin mengatakan bahwa kemungkinan besar mereka tak akan mampu membayar biaya perawatan di Saved Diamond. Tapi Celine bingung bagaimana mengatakannya.
"Jangan kuatirkan biayanya. Aku akan mengurusnya untuk Nona." Steve berujar menenangkan.
Celine akhirnya menyerah. Perawatan terbaik memang bagus untuk ibunya. Dia tidak ingin memikirkan yang lainnya lagi untuk saat ini.
"Baiklah. Kami akan segera bersiap-siap."
"Hubungi saya bila Nona sudah sampai di sini." Steve mengingatkan.
Lalu sambungan berakhir.
Celine menatap layar ponselnya yang menampilkan lama percakapan dan nomor tujuan. Dia masih tak percaya jika tuan Steve akan membantunya.
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Apa dia seorang teman?"
Hampir bersamaan pertanyaan itu dilontarkan oleh paman dan bibinya. Dari percakapan yang sepotong-sepotong, mereka bisa menangkap kalau Celine berhasil mendapatkan bantuan yang diharapkan.
"Teman dari teman. Sebenarnya, aku tidak begitu mengenalnya. Tapi dia bersedia membantu…." Celine menjelaskan secara singkat.
Tuan Sam dan istrinya saling berpandangan untuk beberapa waktu.
"Kau yakin tidak masalah?" tanya Tuan Sam.
Celine menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku tidak ingin memikirkannnya untuk saat ini.
Dalam beberapa jam kemudian ibu Celine sudah berada dalam penanganan para dokter Diamond Saved. Steve tiba di sana beberapa menit setelah Celine menghubunginya kembali. Gadis itu merasa sangat canggung saat bertemu langsung. Meski ini bukan yang pertama kalinya mereka bertemu, tapi sikap formal Steve padanya membuat Celine menjadi sangat tidak nyaman.
"Saya sudah mengurus semuanya. Nona tidak perlu memikirkan soal biayanya. Jika ada hal lain yang diperlukan, Nona bisa menghubungi saya." Steve berkata sopan.
Celine jadi teringat sikap Steve pada Lisle sahabatnya. Apa mungkin karena hubungan pertemanannya dengan Lisle hingga dia mendapat perlakuan istimewa ini?
"Saya pergi dulu. Ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan." Steve berpamitan sambil mengangguk hormat.
Tidak. Ini benar-benar sangat canggung. Lagipula Celine merasa tidak pantas diperlakukan sebaik ini.
"Tuan," panggil Celine menghalangi kepergian Steve.
Lelaki itu berhenti saat sudah mencapai pintu ruangan. Dia berbalik dan menatap pada gadis yang segera mengkerut dibawah tatapan itu.
"Anu… panggil aku Celine saja. Itu terdengar lebih baik." Celine tergagap.
Mata coklat itu tampak menyiratkan keterkejutan. "Jika Nona terus memanggil saya tuan, saya tidak akan berhenti memanggil Nona."
__ADS_1