Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 104. Bertemu Sang Gadis


__ADS_3

Lisle dan Steve kembali ke ruangan beriringan. Tapi Steve tidak lama di sana. Dia hanya pamit pada semua orang. Kennard terlihat tidak melirik sama sekali. Dia hanya peduli pada Lisle yang emosinya terlihat kontras dengan sebelumnya di kamar mandi. Jejak-jejak airmatanya bahkan terhapus sama sekali. Berbagai praduga memenuhi kepalanya. Dia menatap curiga pada Lisle.


"Apa yang kau katakan padanya?" Suara Kennard terdengar acuh. Itu bertentangan dengan perasaan yang sebenarnya. Dia sangat peduli.


"Aku hanya minta maaf padanya." Lisle meneguk sedikit air mineral dari botol. Tenggorokannya terasa kering.


"Itu bukan salahmu."


"Itu juga bukan salahnya." Lisle tidak mau kalah.


Mereka bicara dengan suara pelan hingga nyaris tidak terdengar oleh yang lainnya.


"Kau keras kepala," ujar Kennard lagi sambil menatap dingin pada seorang gadis yang terlihat penasaran dengan pembicaraan mereka dan berkali-kali melirik pada keduanya.


"Kau tidak masuk akal," balas Lisle. 


"Apa?" Kennard menoleh pada Lisle dengan pandangan tidak percaya. Tidak pernah ada orang yang mengatainya seperti itu.


"Kau, kau tidak masuk akal," ulang Lisle kalem. Dia tersenyum pada David yang menawarinya camilan lantas menggeleng. "Kau menyuruh Steve pergi. Lalu siapa yang akan mengurus semuanya? Bukankah pestanya tinggal sebulan lagi?"


"Kau mengkhawatirkan pestanya? Ada banyak orang yang bisa mengurusnya. Kau tidak perlu cemas." Kennard membelai rambut istrinya, mengendus dengan candu. 


"Aku ingin kakakku hadir di pesta pernikahan kita." Lisle membiarkan jari-jari suaminya bermain di rambutnya. Sedikit menghindar waktu lelaki itu mencoba menciumnya.


"Oke. Tidak masalah. Tapi dia harus pergi lagi setelahnya."  


"Ken." 


"Sayang, kau pikir aku tidak tahu isi kepala kakak kesayanganmu itu. Saat ini dia pasti sedang sibuk bersiap-siap menikmati liburannya. Sudah tentu dia akan menemui gadis itu. Cih, dipikirnya aku tidak tahu hubungan mereka." Kennard tertawa sinis.


"Jadi kau tahu hubungan Steve dengan gadis itu?" Lisle terbelalak menatap suaminya. Dia bahkan membuat semua yang ada di sana menoleh padanya. 


"Ehm, apa kalian sedang bergosip?" Nathan terlihat penasaran dengan isi pembicaraan suami istri itu. Sejak tadi dia memperhatikan keduanya seperti tengah membicarakan sesuatu yang seru.


"Kami sedang bergosip tentang kau dan artis baru itu. Aku dengar kau sampai berlutut di kakinya. Benar-benar memalukan!" Kennard mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungan dengan pembicaraannya barusan.


Wajah Nathan memerah. Kejadian yang membuatnya terlihat konyol itu sempat terekam kamera seorang paparazzi. Padahal kejadiannya tidak seperti yang dipikirkan orang-orang. Namun beritanya terlanjur meledak. Sang artis menjadi sangat populer setelahnya. Padahal setelah hari itu, Nathan tak sekalipun bertemu dengan gadis itu lagi. 


"Aku tahu bukan itu yang kalian bicarakan," gerutu Nathan lantas kembali pada permainan kartunya. Dia menyesal telah merasa penasaran.

__ADS_1


 


"Jadi, siapa gadis itu? Steve bilang aku mengenalnya." Dengan bersemangat Lisle memeluk lengan suaminya. Berharap Kennard menuntaskan rasa penasarannya.


"Steve tidak memberitahumu?"


Lisle menggeleng cepat. "Dia sangat pelit."


"Hm, Steve benar. Informasi ini sangat berharga. Kurasa kita harus melakukan pertukaran karena kesepakatan tempo hari batal." Kennard menyeringai jahat.


"Per… pertukaran?" Lisle langsung teringat kesepakatan mereka saat dia meminta Kennard menemukan Celine yang hilang. Sayangnya pertukaran itu batal karena Lislelah yang lebih dulu menemukan Celine. Kennard terus-menerus menyatakan penyesalannya kenapa bukan dia yang pertama kali menemukan gadis itu. Saat ini Lisle jadi ragu adakah penyesalan itu karena Kennard merasa telah gagal melindungi istrinya atau justru karena pertukaran konyol itu batal.


"Kurasa aku tidak ingin tahu saja." Lisle melepaskan lengan suaminya dan menggeser duduknya sedikit menjauh. "Simpan saja informasinya. Kupikir itu bukan hal yang penting. Steve akan memperkenalkannya juga nanti."


***


Di sebuah apartemen mewah di pusat kota.


Steve bangun lebih siang dari biasanya. Sebenarnya dia sudah terjaga sebelumnya tapi kembali memejamkan mata begitu teringat bahwa dia tidak perlu ke kantor hari ini. Ternyata sedikit malas itu cukup menyenangkan.


Setelah mandi dan sarapan yang terlambat, Steve mengambil ponselnya dan berjalan ke dekat jendela.  


Steve menekan sebuah nomor dan melakukan sebuah panggilan ke luar negeri. Setelah menunggu beberapa saat, sebuah suara manis menyambutnya, membuat perasaan lelaki itu seperti musim semi.


 Sudah lama mereka tidak bertemu. Hanya sesekali Steve mencuri kesempatan menemuinya bila kebetulan sedang mengurus sesuatu tanpa tuan Kent.


"Aku memesan penerbangan hari ini ke tempatmu," ujar Steve berusaha menekan luapan hatinya. 


Ada seruan tertahan di seberang sana. "Kau… apa tuan menyuruhmu melakukan sesuatu di sini?" Dari suaranya, gadis itu terdengar tidak percaya. 


"Tuan memberiku cuti."  


"Benarkah?" 


Steve hanya bergumam mengiyakan. 


"Dia tidak memecatmu, bukan?" tanya gadis itu masih ragu. Setahunya, tuan Kent tidak pernah memberi Steve libur resmi.  


Steve tertawa sumbang. Bahkan semua tahu jika dia tidak pernah mendapat cuti sungguhan. "Dia tidak akan bisa memecatku." 

__ADS_1


"Kau terlalu percaya diri. Apa ada yang tidak kuketahui?" Gadis itu cukup cerdas untuk menebak bahwa ada sesuatu yang membuat Steve bisa seyakin itu.


"Nanti akan kuceritakan. Katakan saja dimana aku bisa menemuimu?"


Gadis di ujung sambungan menyebutkan nama sebuah tempat. "Hubungi aku begitu kau tiba," tambahnya. 


Lalu sambungan terputus.


 


Steve masih mematung di tempatnya, mendengarkan keheningan yang ditimbulkan saat pembicaraan mereka berakhir. Setelahnya dia pun bersiap-siap untuk sebuah penerbangan panjang.


Selama tujuh jam berikutnya dihabiskan Steve dengan perasaan bosan. Dia hanya tertidur selama satu jam lagi selama penerbangan karena sebelumnya dia tidur cukup lama. Ponselnya dimatikan sejak panggilan terakhir yang dilakukannya. Dia buru-buru menonaktifkan benda itu begitu beberapa pesan dari Lisle masuk. Kalau tidak, gadis itu pasti akan menelpon dan mencecarnya dengan banyak hal yang mungkin tidak akan bisa ditanggungnya.


Yardley sedang di awal musim dingin. 


Steve tidak meminta gadis itu menunggunya di bandara, tetapi lelaki itu menemukan gadis itu berdiri di antara kerumunan orang yang sedang menunggu sambil memeluk dirinya sendiri. Dia tidak membawa selembar kertas besar dengan tulisan nama seseorang yang sedang ditunggunya. Dia yakin Steve akan langsung bisa melihatnya. Dan sebaliknya dia juga tahu akan bisa langsung mengenali lelaki itu. Steve bukanlah lelaki kebanyakan.


 Mereka berpelukan sejenak. Gadis itu sebenarnya bukanlah seorang pemalu, tapi dia tersipu juga saat Steve memandanginya dengan mata yang sarat kerinduan. 


"Kau makin cantik saja," ujar Steve sambil menyentuh wajah gadis itu. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Padahal sebelumnya ada banyak hal yang ingin dia bicarakan.


"Hm." Si gadis bergumam tidak jelas menutupi perasaan senangnya. "Aku sudah memesankanmu kamar di hotel terbaik di kota ini."


Si gadis menggandeng tangan Steve dan berbalik, menuntun lelaki itu ke parkiran. Namun Steve menahan tarikan tangan cantik itu. Si gadis menatap Steve kebingungan. 


"Ada apa? Kau melupakan sesuatu? Cepatlah. Di luar salju sudah mulai turun. Aku khawatir kita akan kesulitan berkendara."


Mereka berdiri berhadapan. Steve meraih sesuatu dari saku mantelnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil hitam dan mengulurkannya pada gadis di depannya.


"Apa ini?" Gadis itu menerima benda yang diberikan padanya. Hatinya berdebar saat membuka. Dia selintas dapat menduga isinya.


Benar saja. Sebuah cincin! 


Si gadis mendongak pada lelaki di hadapannya meminta penjelasan. Dia sudah melewati banyak hal yang memicu adrenalin. Tapi melihat benda indah di tangannya, suaranya menjadi bergetar. Bahkan tangannya juga gemetar.


 


"Ayo kita menikah," ujar Steve sungguh-sungguh.

__ADS_1


__ADS_2