
“Kenapa Tuan menyelamatkan saya?” Tanya Lisle lagi meski takut dengan kemungkinan jawabannya.
“Bukankah kau sudah tahu alasannya?” Kennard mengambil gelas di tangan Lisle dan mengembalikannya ke atas meja.
“Aku tidak tahu....” Lisle menggelengkan kepalanya sedikit tapi masih belum berani melihat pada lelaki di sebelahnya.
“Kau memang terlalu bodoh atau hanya pura-pura bodoh?” Kennard menatap tajam.
Lisle meringis dengan sindiran itu. Sejak kemarin dia terus disebut sebagai gadis bodoh oleh Celine dan orang ini.
“Berhenti mengatakan aku bodoh! Kalau aku bodoh, aku tidak akan mendapatkan beasiswa....” Muka Lisle menjadi merah karena kesal. Bicaranya sudah tidak formal lagi. Dia hanya berusaha melakukan yang menurutnya bisa dilakukan, tapi kenapa mereka terus mengatainya bodoh.
Kennard hampir tertawa tapi dia menahannya. Hanya sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum tipis. “Makanya aku sangat heran kenapa orang-orang di universitas bisa memberikan beasiswa pada gadis bodoh sepertimu. Apa mereka sama bodohnya denganmu?” Kennard mencondongkan wajahnya pada Lisle. Dia tertarik pada sikap Lisle yang mulai berani. Jadi dia terus memancing emosi gadis itu dengan sebutan bodoh.
Lisle membelalakkan matanya. Tampak indah dalam penglihatan Kennard. Jernih dan berkilau. Bibirnya yang kecil tampak gemetar menahan kemarahan. Kalau tidak ingat bahwa gadis itu baru sadar dari pingsan, mungkin dia sudah menciumnya lagi.
“Kau, apa yang kau inginkan sebenarnya?” Lisle memalingkan wajahnya ke arah lain ketika beberapa saat mereka saling berpandangan. Amarahnya mendadak reda ketika melihat ada senyum yang bermain di wajah lelaki itu. Sepertinya Kennard mencoba mempermainkannya.
“Aku senang kalau kau sudah merasa tidak sungkan lagi.” Jawaban Kennard tidak relevan.
Alis Lisle berkerut. Tapi dia malas berbantah lagi. Kepalanya pusing dan perutnya terasa perih. Dia baru ingat bahwa dia tidak mengisi perutnya sejak tadi pagi.
Kennard memperhatikan kerutan di wajah Lisle, seperti menahan sakit. “Ada yang sakit?” tanyanya. Waktu dilihatnya Lisle memegang perutnya bersamaan dengan bunyi berkeriut dari dalamnya, Kennard tak dapat menahan tawa. Dia berpaling pada Steve yang berdiri jauh di belakang.
“Apa yang kupesan sudah ada?” tanyanya.
__ADS_1
“Sudah, Tuan.” Steve mengangsurkan sebuah bungkusan.
Kennard menerima bungkusan tersebut dan mengeluarkan isinya, sebuah kotak makan. Lisle yang melihatnya mengira akan melihat satu porsi makan malam lengkap, tapi setelah Kennard membukanya, isinya adalah bubur dengan potongan sayur dan daging. Makanan itu tampak masih panas karena uapnya terlihat masih mengepul.
Sebuah meja kecil di letakkan di depan Lisle dan kotak makan itu ditaruh di atasnya.
“Makanlah! Kalau dokter sudah mengijinkan, kita akan kembali malam ini juga. Aku masih punya banyak pekerjaan besok tapi aku tidak mau meninggalkanmu di sini. Kalau kau masih merasa sakit, dokter pribadiku akan merawatmu sesampainya kita di sana.”
Lisle merasa aneh dengan kata-kata yang didengarnya. Kennard bicara seperti mereka sudah sangat dekat.
“Bagaimana dengan bibi Annie?” Lisle teringat dengan bibinya dan Bert. Tuan Aaron berjanji akan mengurusnya selama Lisle menyetujui kesepakatan yang dia tawarkan. Dan sekarang kesepakatan itu telah dibatalkan....
Tangan Lisle yang hendak menyendok bubur terhenti. Dia teringat sesuatu. Matanya melebar menatap Kennard.
“Apa... apa kalian membunuh tuan Aaron? Orang itu menembaknya. Ada darah...!” Lisle melepas sendok. Dia menjadi gemetar. Perutnya yang kosong kini terasa mual. Ditangkupkannya telapak tangan ke mulut menahan gejolak di lambungnya.
“Mengenai bibimu, dia adalah urusanku. Jangan kuatirkan dia.” Kennard memang sudah mengurus dua anak beranak itu. Wanita itu telah bekerja sama dengan Aaron untuk menjebak Lisle. Dengan pura-pura sakit parah, dia membuat Lisle menyetujui tawaran Aaron. Kennard sudah mengatur bibi Lisle dan puteranya agar dikirim ke sebuah negeri yang jauh. Lisle tidak akan mendengar kabarnya lagi setelah hari ini.
“Kau ingin kusuapi?” Kennard meraih sendok dari hadapan Lisle karena gadis itu tidak juga mulai menyuap.
“Tidak usah!” Lisle menyahut buru-buru. Direbutnya sendok dari tangan Kennard, lantas mulai makan dengan pelan meski perutnya masih tidak nyaman.
***
Karena tidak ada lagi hal yang dikuatirkan dari kesehatan Lisle, malam itu juga mereka kembali. Kennard beberapa kali mencoba membantu gadis tersebut berjalan naik ke pesawat dengan memapahnya karena Lisle terlihat gugup luar biasa, tapi selalu ditolak. Selain masih lemas, Lisle juga nervous karena ini merupakan pengalaman naik pesawat yang pertama. Tapi setelah tersandung beberapa kali, Kennard memaksa meraih bahunya dan menuntunnya hingga kursi penumpang.
__ADS_1
Lisle merasa perutnya benar-benar tidak enak. Baru beberapa menit mengudara dia sudah memuntahkan seluruh makan malam yang telah dihabiskannya dengan susah payah. Wajahnya menjadi lebih pucat lagi dari sebelumnya. Kennard beberapa kali membantu memijat tengkuknya dan memberikan minuman hangat untuk meredakan mabuk udaranya.
Untungnya itu adalah penerbangan yang singkat. Dalam setengah jam mereka sudah berada di bandara kota Black Mountain. Sebuah mobil telah menunggu kedatangan mereka dan mengantarkan hingga Palm Garden. Lisle yang merasa mobil berhenti bukan di depan tempat tinggalnya menolak turun.
“Bukankah kita punya kesepakatan?” Kennard menunduk pada Lisle yang masih duduk di dalam mobil. Meski masih lemas tapi wajahnya terlihat sudah kemerahan. “Apa kau lupa?”
“Ke... kesepakatan apa?” Suara Lisle terdengar gelisah. Jemarinya saling bertaut di pangkuan.
“Kalau begitu aku akan menyuruh Steve menuliskan kesepakatan itu agar kau tidak lupa. Ayo turun. Atau kau mau digendong?” Kennard masih berdiri di luar mobil menunggu. Dia bisa merasakan keresahan gadis itu.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri.” Lisle berkata buru-buru lantas keluar dengan cepat.
Sejenak Lisle terperangah pada pemandangan rumah besar bercat putih di depannya. Dia tadi terlalu larut dengan lamunannya sepanjang jalan. Kepalanya pusing dan dia mencoba mengusirnya dengan memejamkan mata. Keberadaan Kennard di sebelahnya juga membuatnya tertekan. Dia hanya tahu mereka berhenti di tempat asing.
“Apa ini rumah, Tuan?” Lisle menelan ludah melihat bangunan berlantai dua itu. Ada barisan pelayan yang berdiri di kiri kanan jalan sebelum teras. Mereka seperti sedang memasuki istana dengan puluhan pelayan yang siap diperintah.
Kennard tidak menyahut. “Ayo!” ujarnya sambil menarik Lisle mendekat dan meraih pinggang Lisle yang kelihatan ragu-ragu.
“Kenapa ke sini? Aku tidak mau. Aku ingin pulang ke apartemenku saja.” Lisle berontak dari rengkuhan tangan Kennard. Sia-sia. Lengan itu bagai capit besi yang mengungkungnya.
“Kau milikku. Tentu saja aku membawamu ke rumahku. Kau akan tinggal di sini sekarang. Aku tidak mau kebodohanmu itu menimbulkan banyak masalah pada dirimu sendiri.”
“Ti... tidak... tidak mau!” Lisle menggelengkan kepala dan kembali hendak kabur, tapi hanya dengan sebuah gerakan ringan Kennard sudah membuat gadis itu berada dalam gendongannya. Lisle berontak kacau. Memukul-mukul lengan dan dada lelaki itu, tapi dia hanya seperti membentur tembok yang kokoh.
----------------------
__ADS_1
Hai... Hallo semuanyaaa! Makasih sudah mau baca novel pertamaku ini. Maaf, baru bisa menyapa semuanya. Semoga semua bisa terhibur dengan tulisan ini. Hari ini aku up 2 bab. Tetap dukung aku ya dengan kasih like, komen, vote, saran. Hadiah juga boleh. Hehe...