Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 73. Siapa Sebenarnya Gadis Bernama Lisle?


__ADS_3

"Ayah, i… itu… tidak mungkin. Lisle cuma gadis murahan yang menjual dirinya pada laki-laki kaya. Gosipnya sudah menyebar di kampus. Tidak mungkin dia memiliki hubungan yang serius dengan seseorang yang berpengaruh. Paling-paling cuma hubungan beberapa saat…." Shopia tidak terima dengan perkiraan ayahnya bahwa Lisle menjadi penting bagi seseorang yang memiliki kekuasaan.


"Kita tidak bisa memastikannya. Dan kau, Gadis manja. Jangan menilai seseorang dari penampilan saja. Apa kau ingin menjerumuskan keluarga ini dalam lubang api dengan kelakuanmu itu? Bukankah kau yang menyebar rumor tentang gadis itu?" Tuan Harfey memandang putrinya dengan tajam. Dia tidak ingin putrinya bermain-main dengan nasib keluarganya. Jadi dia harus berhati-hati.


"Penampilan bisa menipu. Ingat itu!" Sang ayah menambahkan lagi dengan serius.


"Ayah, gadis itu cuma gadis yatim piatu miskin dari kampung. Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Dia kuliah dengan beasiswa. Bekerja di beberapa tempat dan tinggal di apartemen murah dengan seorang teman. Tidak mungkin dia bisa datang ke kampus dengan berganti-ganti mobil mewah. Kalau tidak menjual diri lalu apa? Dia juga tidak punya kerabat yang kaya. Lalu ada beberapa bukti tentang hubungannya dengan seorang mahasiswi bermasalah…."


"Lalu bagaimana bisa dia terlihat bersama tuan Steve, asisten tuan Kent pemilik Diamond Group? Kau tidak saja bodoh, Shopia. Matamu tidak cukup awas mengenali orang yang bersama gadis itu saat di mall. Dia tangan kanan tuan Kent yang berkuasa. Apa kau ingin cari mati?" Ayah Shopia memotong penjelasan putrinya yang berpikir bahwa dia sudah cukup pintar.


"Tangan kanan tuan Kent. Si tuan dengan pandangan membunuh itu?!" Kali ini nyonya Harfey memekik tidak percaya. Dia pernah bertemu Steve di beberapa perjamuan besar. Steve adalah bayangan tuannya. Terlihat menawan tapi sudah menakutkan dipandang dari kejauhan. Tak ada gadis yang memiliki cukup keberanian mendekatinya. Tapi gadis bernama Lisle ini konon terlihat bersama laki-laki dingin itu?


Tuan Harfey mengangguk. " Mengusiknya tidak kurang berbahaya dari mengganggu tuannya. Mungkin gadis itu kekasihnya. Dan ada kemungkinan lain juga. Bagaimana kalau gadis itu adalah kekasih tuan Kent sendiri."


"Tidak mungkin!" Shopia menukas cepat. Itu prasangka paling konyol yang pernah di dengarnya. Dia pernah melihat tuan Kent di sebuah pesta dan tidak berani mendekat. Tidak ada gadis yang berani mendekati lelaki paling mempesona di kota Black Mountain itu. Meski sosoknya terlihat menawan, dia cuma bisa terpaku di tempatnya berdiri. Konon tuan Kent sangat pemilih. Dia tak mungkin memiliki hubungan dengan Lisle. Bahkan pakaian yang dikenakan gadis itu saja cukup untuk meyakinkan Shopia.


"Kenapa tidak mungkin? Kudengar gadis itu sangat cantik." Ayah Shopia berkata pelan. "Tuan Kent tidak perlu mempedulikan statusnya. Siapa yang akan berani mentertawakannya?" Lagipula, memiliki hubungan dengan gadis dengan status sosial lebih rendah tidak lantas membuat kekuasaannya jatuh. Dia tidak akan mempedulikan hal-hal sepele yang mencemari otak banyak keluarga kaya itu."

__ADS_1


Tuan Harfey teringat dirinya sendiri. Kalimat barusan adalah sindiran bagi orang-orang yang dulu pernah berbicara miring tentang pernikahan beda kasta antara dirinya dan istrinya. Para keluarga kaya cenderung bertindak atas nama harga diri keluarga yang bertolak pada latar belakang dan materi. Untungnya keluarga istrinya lebih toleran dalam hal itu. Meski dia tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti, kepandaiannya mengelola usahalah yang jadi pertimbangan diterimanya dia sebagai menantu. 


Terdengar tawa Shopia, antara mengejek dan pasrah. Meski dadanya sesak oleh amarah, dia masih bisa berpikir sedikit jernih. Yang dikatakan ayahnya bisa diterima oleh otak kecilnya. Cukup beralasan. Tapi dia masih tidak bisa percaya seandainya kemungkinan itu benar. Lisle dan tuan Steve? Bahkan mungkin dengan tuan Kent. Yang benar saja. Ternyata dia sudah meremehkan musuhnya. 


Terdengar nada panggil dari ponsel tuan Harfey. Lelaki itu meraihnya dari atas meja, menekan ikon terima dan berbicara dengan seseorang. Beberapa saat kemudian wajahnya terlihat sangat serius. Sebelah tangannya terlihat mulai memijit kening. Dalam beberapa detik, kerutan yang semula samar di sekitar matanya menjadi makin dalam. Dia mengangguk perlahan dan bergumam pendek-pendek.


"Ya, teruskan selidiki. Aku tahu. Kau benar. Jangan berlebihan. Dia akan curiga."


Sambungan diputus. Layar ponsel menjadi gelap. Tuan Harfey tercenung sesaat. Kesunyian mendadak memenuhi ruang tamu besar itu. Sang dokter keluarga yang tadi hanya diam mendengarkan segala perdebatan keluarga memilih pamit pergi.


"Tuan, Nona tidak mengalami luka serius. Memarnya akan hilang dalam beberapa hari. Saya pergi dulu." Sang dokter merasa tidak nyaman jika terus berada di tempat itu. 


"Sayang, ada apa?" Nyonya Harfey bertanya denga penasaran. Sebentar tadi suaminya tampak penuh percaya diri berbicara dengan mereka. Kini lelaki itu tampak sangat cemas.


"Gadis bernama Lisle itu terlihat memasuki kediaman tuan Kent di Palm Garden. Dan orang yang kusuruh mengikuti mengatakan gadis itu tidak keluar lagi dari sana." Mata tuan Harfey memancarkan kengerian. Dia tidak berharap firasatnya benar.  


Palm Garden bukan tempat sembarangan. Tak banyak orang yang bisa keluar masuk tempat itu dengan mudah. Bahkan para gadis yang berhasil memanjat tempat tidur si pemilik hanya bersama tuan Kent di villa-villa lain yang bertebaran di sekitar kota. Gadis itu sedikit banyak memiliki hubungan tertentu dengan sang penguasa.

__ADS_1


Terdengar suara-suara tercekat dari anak istri tuan Harfey. Jika sebentar tadi mereka ribut tentang pembalasan dendam, kini keduanya terlihat bungkam dalam kelesuan.


Pantas Lisle begitu percaya diri saat membalas ancamannya, pikir Shopia. Kemudian mendadak gadis itu menjadi gentar. Bagaimana kalau ancaman Lisle padanya terjadi? Shopia tidak ingin mendekam di penjara bahkan walau cuma sehari. Itu akan menghancurkan citranya sebagai salah satu nona muda paling menawan di kota. Imejnya akan turun jauh hingga ke dasar jurang.


"Ayah, jadi bagaimana ini? Aku… aku… tidak mau dipenjara. Apa tidak ada kemungkinan kita menang? Dia sudah melakukan tindak kekerasan. Bukti dan saksi juga ada. Bagaimana mungkin aku yang dipenjara? Dan lagi… dia… dia berkata akan membuatku dikeluarkan dari kampus…." Mata Shopia kini berlinangan. Ekspresinya sungguh membuat iba.


"Ibu…." Shopia berpaling pada nyonya Harfey yang duduk di sebelahnya. Dia meminta dukungan dari ibunya. "Ibu, cepat katakan sesuatu. Pasti ada yang bisa kita lakukan. Tidak mungkin keadilan telah hilang dari kota ini."


Ibunya menggeleng sedih. Dia juga kebingungan memikirkan nasib putrinya. "Tenanglah. Ayahmu akan memikirkan jalan keluarnya." Tapi wanita itu juga meragukan sang suami bisa menemukan solusinya. Mereka telah membentur tembok yang paling kokoh. Ada kemungkinan mereka akan hancur jika terus bersikeras menabrakkan diri.


"Kita tidak akan menuntut apa-apa atas kejadian hari ini. Anggap saja itu hukuman atas kelancanganmu menyebar gosip buruk itu. Selanjutnya kita akan menunggu. Semoga tuan Kent cukup bermurah hati." Tuan Harfey menghela napas dengan berat.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2