
Meski tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, Lisle terlihat gugup sejak pagi hari. Kennard kembali sehari sebelumnya ke Palm Garden dan masih belum menemukan Lisle di sana. Barulah pada esok paginya gadis itu tiba di rumah bersama Celine sahabatnya.
Meski itu sebuah pernikahan tanpa perayaan besar, Kennard mendatangkan juga seorang stylish untuk mendandani Lisle sekaligus memesankan sebuah gaun yang indah. Mereka akan mengambil beberapa foto pernikahan sebagai kenang-kenangan.
Lisle terlihat cantik hari itu dengan gaun putih selututnya. Sedangkan Kennard tampak makin menawan dalam balutan jas formal. Mereka terlihat sangat serasi saat bersisian. Bahkan ketiga tuan muda mengakui keduanya seperti sudah ditakdirkan untuk berpasangan. Yang lain tak henti memuji kedua mempelai.
Sementara itu, meski mengaku rindu saat Kennard berada di luar negeri, hari itu Lisle malah tampak selalu bersembunyi dari lelaki itu. Gadis itu tampak main kucing-kucingan dengan calon suaminya. Sementara ketiga tuan muda Nathan, David dan Benyamin hanya menonton dengan geli pengantin wanita yang tampak ketakutan itu.
Mereka hanya bersama saat penandatanganan buku nikah dan pengambilan foto. Setelahnya Lisle menghilang ke sisi Celine. Sesaat setelah makan siang dengan beberapa orang yang hadir, Kennard menarik Lisle ke sudut ruangan ketika dia tengah berbicara dengan Celine, gadis itu terlihat gugup.
"Kau pikir bisa terus menghindariku? Kau bilang kau rindu padaku saat di telepon. Beraninya kau menggodaku." Kennard berbisik di telinga sambil menekannya ke tembok dekat jendela yang mengarah ke taman.
"Aku… aku tidak bermaksud begitu. Lagipula kita 'kan tinggal di rumah yang sama. Mana mungkin aku bisa menghindari Tuan…."
"Jangan panggil aku tuan lagi. Sekarang kau istriku. Panggil aku Kennard!" tukas Kennard cepat.
"Hum…."
"Apa yang hum?" Kennard menunduk meraih dagu Lisle.
"Tidak… emh!"
Kennard membungkam mulut Lisle dengan sebuah ciuman yang sedikit kasar membuat gadis itu gelagapan.
"Hentikan… Tuan…." Lisle mencoba melepaskan diri ketika ciuman itu berhenti. "Banyak orang…."
"Tuan?" protes Kennard.
__ADS_1
"Ken…."
"Berterima kasihlah pada orang-orang itu. Kalau mereka sudah pulang, habislah kau." Mata Kennard menyiratkan ancaman.
"Aku harus menemui Celine. Akan aneh kalau kita tiba-tiba menghilang." Lisle tersipu sekaligus merasa gugup secara bersamaan. Dilihat dari gelagatnya, tuan Kent pasti tidak akan melepaskannya lagi nanti malam.
Kennard masih belum mau melepaskan istrinya. Sebelah tangannya masih menumpu pada tembok di sebelah Lisle. Dia mengelus pipi yang dipenuhi rona itu dan berpikir betapa menggemaskan istrinya ini.
"Bagaimana cincinnya, kau suka?" tanya Kennard. Dia memesan cincin itu sebelum pergi ke luar negeri dan mengambilnya begitu kembali ke Black Mountain.
"Suka." Lisle mengelus cincin yang tadi dipasangkan Kennard di jari manisnya.
"Apa kau ingin berliannya lebih besar lagi?"Senyum jahil bermain di sudut bibir Kennard.
Wajah Lisle memerah. Dia ingat jika suatu waktu pernah menanyakan apakah Kennard akan memberinya cincin dengan berlian yang besar.
"Apa kalian sudah sangat tidak sabar lagi. Haruskah kami semua pergi sekarang?" Sebuah suara tiba-tiba menyela dari belakang.
Kennard berbalik dan mendapati David yang berjalan mendekat sambil menyeringai. Sementara Lisle mendorong tubuh Kennard berusaha menjauh dari lelaki itu. Sejak kedatangan tiga tuan muda ini, Lisle kerap mendapatkan godaan yang memerahkan telinga.
"Aku pergi dulu." Lisle bergegas meninggalkan Kennard dan David. Dia tak peduli dengan senyum geli David dan kerutan di kening suaminya.
"Istri kecilmu sangat lucu. Aku baru menyadarinya hari ini." David tak bisa menahan tawanya. Dia sudah melihat Lisle yang terus hilir mudik di ruangan besar dengan hanya segelintir orang itu. Jelas sekali dia gugup dan berusaha menghindari suaminya sendiri.
Kennard tidak ikut tertawa. Garis bibirnya tampak datar saja mendengar ocehan David tentang istrinya.
"Ada apa mencariku? Apa sudah mau pulang?" ujar Kennard sinis.
__ADS_1
David terbatuk sesaat, mencoba meredakan tawanya. "Sebenarnya aku ingin sekali tinggal malam ini di sini. Malam pertama kalian pasti akan sangat menarik."
"Aku tak keberatan. Masalahnya, apakah istriku juga tidak akan keberatan." Kennard mengarahkan matanya pada Lisle yang terlihat menempel pada Celine, sementara di depan mereka ada Steve, Nathan dan Benyamin.
"Berhentilah berpura-pura. Kau tentu saja sangat ingin mengusir kami saat ini. Aku hanya ingin memberitahu bahwa mulai sekarang kau harus ekstra hati-hati menjaga istrimu. Kau kini memiliki kelemahan. Kalau sampai musuh-musuhmu tahu, mereka tidak akan melepaskan kesempatan untuk menghancurkanmu dengan memanfaatkannya. Apalagi kulihat, istrimu sangat polos. Dia akan mudah digunakan oleh musuh-musuhmu." David berbicara sambil ikut mengarahkan pandangannya pada kelompok kecil di ruang tamu yang sedang bercakap-cakap.
Petugas yang datang untuk mengurus dokumen pernikahan sudah pergi beberapa saat yang lalu. Celine tampak antusias bermain kartu dengan Steve dan kedua tuan muda. Lisle terlihat hanya memperhatikan sambil melamun. Sedangkan Thomas dan beberapa pelayan sesekali mengisi minuman yang kosong atau mengantarkan camilan. Suasana ruang tamu yang biasanya lengang menjadi sedikit lebih ramai dari biasanya.
"Aku tahu. Karenanya aku tidak keberatan saat Lisle minta pernikahan ini tidak dipublikasikan. Dia punya alasan sendiri. Meski aku sedikit merasa tidak suka. Sejak awal hubungan kami, dia selalu menolak kebersamaan di depan umum seakan dia malu mengakui hubungan kami. Saat sudah menjadi istriku dia masih tidak ingin orang lain tahu, aku kadang tidak mengerti jalan pikirannya yang berbeda dengan orang kebanyakan." Kennard bersandar pada tembok dan bersedekap.
"Tapi dipublikasikan atau tidak, keduanya sama-sama memiliki resiko. Saat ini aku sudah meminta orangku mengawasinya dua puluh empat jam. Mungkin Lisle akan merasa tidak nyaman jika mengetahui ini, tapi aku tidak ingin hal-hal buruk terjadi lagi padanya kelak. Aku akan merasa sangat bersalah."
***
Ketika orang-orang telah pergi menjelang sorenya, Kennard mendapati Lisle yang sibuk mengemasi ruang tamu yang berantakan. Padahal ada banyak pelayan yang juga melakukan pekerjaan yang sama.
"Pergilah mandi dan beristirahat. Biarkan pelayan yang melakukannya." Kennard menahan tangan Lisle yang sedang mengangkat gelas di dalam baki.
"Tidak apa, aku…."
"Lisle, dengarkan aku. Kau terlihat lelah. Jadi pergilah ke kamar untuk beristirahat." Kennard mengulangi perintahnya. Sebenarnya dia sangat ingin menggoda gadis yang telah resmi menjadi istrinya ini, tapi dia menahan mulutnya untuk tidak mengatakan hal yang akan membuat Lisle makin gelisah.
Kennard mengambil gelas di tangan Lisle, menarik lengan gadis itu dan membawanya ke kamar di lantai atas.
"Mandi dan tidurlah sebentar. Aku akan membangunkanmu sebelum makan malam. Sementara itu ada yang harus kukerjakan di ruang kerja." Kennard keluar kamar dan menutupkan pintunya.
Lisle masih terlihat bingung saat suaminya pergi. Setelah beberapa saat dia memukul-mukul keningnya sendiri karena merasa sangat konyol. Sesaat tadi beberapa pikiran liar memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1
"Apa-apaan kau, Lisle? Kau terus-menerus memikirkan hal menjijikkan. Apa kau tidak malu dengan diri sendiri?" Lisle berbicara sendiri. Kini dia menepuk-nepuk kedua belah pipinya seakan tengah mencoba menyadarkan diri.