Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 37. Tuan Kent Memperingatkan


__ADS_3

“Katakan, berapa harga yang harus kubayar agar Lisle bisa bebas darimu?” Ralph berkata langsung tanpa basa-basi. Sorot matanya terlihat menantang.


Kennard tampak tidak terpengaruh. Tatapannya dingin waktu berpaling pada Ralph. “Apakah aku terlihat seperti kekurangan uang? Bahkan jika kau berikan seluruh kekayaan keluarga Caldwel, aku tidak berniat melepasnya,” ujar Kennard. Senyumnya terlihat mengejek.


Seorang pelayan membawa minuman di gelas dalam nampan. Dia menawarkan pada dua orang yang tampak berbicara serius itu. Ralph menolak, sedangkan Kennard mengambil segelas.


Tidak jauh dari sana Aland Caldwel merasa gelisah. Dia tak begitu mendengarkan pembicaraan beberapa orang yang tengah membahas sebuah proyek dengannya. Matanya terus-menerus mengawasi Ralph, berharap anak muda itu tidak akan mengatakan sesuatu yang akan menyinggung tuan Kent.


Ralph tertawa masam. Tuan Kent memang bukan orang yang mudah. “Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Kudengar kau tak pernah membiarkan seorang gadis pun terlalu lama di sisimu, apalagi jika gadis itu mulai bertingkah di luar sana....”


Kennard memiringkan wajahnya sedikit, tampak tertarik. Apa yang bisa dilakukan gadis itu? Meski tanpa pengawasan, Lisle akan sepatuh kelinci peliharaannya. Dia tahu, lelaki di depannya hanya bersiasat. “Hm, apa maksudmu?”


Terlihat seringai Ralph. Dia tampak senang melihat tuan Kent tertarik dengan perkataannya. “ Dia bilang kalau dia memiliki pacar. Apa itu kau? Atau dia memiliki hubungan dengan seseorang yang lain?”


“Ah, rupanya itu! Kami memang berpacaran. Lalu kenapa? Kau keberatan?” Kennard merasa tidak senang.


Jika orang yang disebut Lisle sebagai pacarnya adalah dia, entah kenapa bagi Kennard bukan masalah. Hanya saja dia tidak yakin Lisle menganggapnya sebagai pacar. Gadis itu selalu menganggapnya sebagai orang yang sudah mengambil kebebasannya. Dia tahu kalau gadis itu merasa terpaksa tinggal di sisinya.


Ralph tidak mengira tuan Kent bisa sangat menyukai Lisle. Adakah rasa suka lelaki ini sebesar rasa suka Ralph pada gadis itu? Karena tampaknya tuan Kent mengabaikan semua kebiasaannya selama ini.


“Kalau kalian memang berpacaran, kenapa kau datang dengan gadis lain malam ini?” Ralph menjadi kesal karena tuan Kent tampak hanya bermain-main dengan Lisle. Lelaki ini mengaku berpacaran dengan Lisle tapi datang ke pesta dengan gadis lain.


“Dia gadis yang rendah hati. Dia tidak ingin hubungan kami terekspos.” Kennard mulai muak dengan laki-laki di depannya.


“Omong kosong. Kau hanya bermain-main dengannya!” Ralph menjadi geram. Gadis mana yang akan bersembunyi dari dunia saat berstatus sebagai kekasih tuan Kent? “Kau pasti memaksanya untuk tinggal bersamamu.”

__ADS_1


“Jaga bicaramu, Ralph Caldwin. Kau tidak punya hak sama sekali untuk mencampuri urusanku.” Raut Kennard menjadi gelap. Lelaki ini benar-benar memiliki keberanian seorang yang sedang dimabuk cinta. Dia jadi ingin tahu apakah gadisnya akan tersentuh hatinya jika mengetahui hari ini Ralph telah memintanya dari tangan Kennard.


“Ralph, kau di sini.” Aland Caldwin tiba-tiba datang mendekat. Dia terlihat seperti tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “Tuan Kent,” sapanya sambil mengangguk sopan.


Kennard hanya menanggapinya dengan wajah datar, ditenggaknya cairan dari dalam gelasnya hingga tandas. Dia meletakkan gelas kosong itu pada nampan yang dibawa seorang pelayan yang kebetulan lewat.


“Tuan Caldwin, sebaiknya kau ajari adikmu sopan santun sebelum membawanya datang ke perjamuan bisnis. Kalau tidak, kau akan kehilangan banyak kesempatan untuk mendapatkan banyak proyek kerjasama di masa depan,” ujar Kennard tajam penuh peringatan lalu meninggalkan dua kakak beradik Caldwel.


“Apa yang sudah kau lakukan?” Desis Aland pada Ralph sambil matanya tidak lepas dari tubuh tegap yang berjalan di antara tamu itu.


“Aku hanya berkata kalau dia sudah memaksa gadis itu tinggal bersamanya. Kalau dia hanya ingin bermain-main dengannya....”


“Itu bukan urusanmu, Ralph!” Aland berpaling pada adiknya dan merasa menyesal telah mengajak anak muda ini datang ke pesta. Harusnya dia tahu tak akan ada hal baik yang bisa diharapkan dengan membiarkan Ralph berbicara dengan tuan Kent.


Namun Ralph seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia mengabaikan kekesalan Aland dan meninggalkan saudaranya itu. “Aku pulang duluan,” ujarnya tanpa menoleh lagi.


***


Lisle masih terjaga ketika mobil yang membawa Kennard kembali tiba di Palm Garden. Dia mendengar suara mesin mobil yang berhenti di luar dan menyingkap tirai jendela di sampingnya. Terlihat Kennard keluar dari mobil. Lisle kembali melanjutkan pekerjaannya menyelesaikan tugas kuliahnya.


Tak lama pintu ruang kerja di buka. Kennard melangkah masuk sambil melepas jasnya, melempar benda itu ke sofa di seberang Lisle. “Kau masih belum tidur?” Lelaki itu duduk di sebelah Lisle, mengamati lembaran kertas yang berserakan.


“Ini sudah selesai,” ujar Lisle sembari merapikan kertas-kertas di di depannya. Dia mencium bau alkohol yang menguar di udara.


Apakah Kennard mabuk? Tidak, dia tidak terlihat mabuk. Dia hanya terlihat tampan seperti biasa. Batin Lisle sibuk berdebat. Tanpa sadar dia menggeleng sendiri.

__ADS_1


“Apa yang kau pikirkan?” Kennard melihat kening Lisle yang berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.


“Bukan apa-apa....” Lisle tidak berani melihat pada Kennard. Dia tahu laki-laki itu tengah memperhatikannya.


Ketika dia hendak bangkit pinggangnya dipeluk sebuah lengan dan ditarik. Lisle terduduk di pangkuan Kennard.


“Kau wangi sekali.” Kennard mengendus pundak gadis itu, merasa puas teringat Ralph. Laki-laki muda itu sangat menginginkan gadis dalam pelukannya ini. Jangan mimpi! batinnya.


“Ken....” Seperti biasa Lisle menjadi gugup. Wangi parfum lelaki ini bercampur bau alkohol. Dia memang tidak terlihat mabuk tapi tingkahnya kemudian membuat Lisle berpikir kalau Kennard memang mabuk.


Pelukan Kennard mengerat.  Dia meraih wajah Lisle dan menunduk, mencium dengan penuh hasrat.


Gadis ini milikku. Aku bisa menyentuhnya kapan pun kumau.


Kennard membayangkan tatapan iri para lelaki yang menginginkan gadis ini, membuatnya makin bersemangat.


 Lelaki itu memperdalam ciumannya, mematahkan perlawanan Lisle yang berusaha mengunci mulutnya.


“Mmpt....” Terdengar gumaman tak jelas Lisle. Gadis itu hanya mengepalkan jari-jarinya, menyilangkan lengan di antara tubuh mereka, membuat perlindungan diri.


Lisle merasa telapak tangan Kennard yang hangat berkeliaran dimana-mana, membuatnya mulai gemetaran.


Sebelumnya Kennard tak pernah se-possesive ini. Kadang dia memang suka menggodanya dengan ciuman panjang, membuat Lisle kehabisan napas. Kali ini lelaki ini sedikit kasar dan kurang ajar.


Begitu ciuman itu berhenti membungkam mukutnya tapi malah turun ke leher dan selangkanya, Lisle meronta. Dia memukul-mukul dada lelaki itu. “Ken... apa yang kau lakukan? Berhenti. Tolong berhenti....” Lisle tersengal oleh hasrat yang tiba belakangan. Dia bukan saja tengah berjuang untuk melawan lelaki itu, tapi dia juga berusaha menghadapi dirinya sendiri yang mulai berkhianat.

__ADS_1


__ADS_2