Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 77. Pulau XXX


__ADS_3

Lisle sudah diberitahu tentang pulau yang mereka datangi. Pulau XXX alias pulau tak bernama. Konon orang-orang Kennard memiliki semacam pengkodean tertentu untuk menyebutkan nama pulau ini. Lisle tidak tertarik menanyakannya. Dia terlampau gugup.


Mereka diantarkan ke sebuah bangunan terpisah dua lantai. Beberapa bangunan lain bertebaran di sekitar dengan berjarak. Tapi bangunan yang mereka datangi ini terkesan mirip rumah tinggal yang nyaman.


Lisle langsung melemparkan diri ke ranjang besar yang ada di kamar begitu mereka memasukinya. Dia merasa penat setelah perjalanan beberapa jam tadi. Sementara Kennard memperhatikan istrinya yang tampak memejamkan mata menikmati kenyamanan itu.


"Masih terlalu pagi untuk tidur siang," ujar Kennard sambil melepas mantelnya. Dia berjalan ke lemari dan mengambil dua stel pakaian. Satu stel dilemparnya ke tempat tidur di sebelah Lisle.


Gadis itu membuka mata dan menangkap pemandangan indah yang entah kenapa selalu membuatnya malu. Dia masih belum terbiasa melihat tubuh telanjang suaminya yang sempurna.


"Kau… sedang apa?" tanya Lisle sambil mengalihkan pandang.


"Berganti pakaian yang lebih nyaman." Kennard menarik resleting baju berlatih yang tampak pas mencetak tubuhnya. "Kau juga, gantilah pakaianmu. Masih ada waktu sebelum makan siang. Kita akan mulai latihannya sekarang."


Mata Lisle melebar. Masih belum hilang kagetnya karena harus berlatih bersama para lelaki itu, Kennard malah menyuruhnya mulai berlatih saat itu juga.


Lisle bahkan merasa belum bernapas dengan benar.


"Apa boleh aku beristirahat sebentar?" Lisle mencoba menawar. Rasanya punggungnya masih belum bisa berdiri tegak.


Mata Kennard menyipit. Dia mengangkat sebelah tangannya, melihat pada arloji yang melingkari pergelangan. "Kau sudah beristirahat lima belas menit."


Rasanya seperti mata Lisle akan melompat keluar mendengar perkataan Kennard. Lelaki yang telah menjadi suaminya selama beberapa hari ini terlihat sangat serius. Dia baru berbaring beberapa saat dan Kennard sudah menghitung. Lisle mulai menyesali keputusannya meminta untuk berlatih.


"Jangan manja. Cepat ganti bajumu. Atau kau ingin berlatih di tempat tidur? Karena kurasa kau masih belum terlalu pintar untuk yang satu itu. Aku tentu saja tidak keberatan." Kennard membungkuk pada istrinya yang masih terlentang di atas kasur. Melingkupi Lisle dengan tubuh besarnya.


Lisle melotot mendengar perkataan Kennard. "Aku akan bangun. Menyingkirlah dariku." Tergesa Lisle berujar. Apanya yang berlatih di tempat tidur? Lebih baik dia berjemur di bawah matahari di luar sana dari pada harus teraniaya di kamar yang sejuk ini.

__ADS_1


Hampir Kennard tak bisa menahan tawanya melihat Lisle yang ketakutan. Dia heran kenapa gadis itu kadang masih terlihat takut dengannya? Apa dia sudah bertindak sangat kasar dengan istrinya itu?


Kennard menghela napas pasrah waktu melihat Lisle yang terbirit-birit ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


"Padahal apa yang belum kulihat darimu?" Kennard bergumam sendiri.


Setelah beberapa saat Lisle keluar dari kamar mandi dengan penampilan berbeda dari biasanya. Dia mengenakan setelan berlatih yang sedikit longgar meski lekuk tubuhnya masih membayang. Rambutnya diikat tinggi memperlihatkan leher putih jenjang. Dia berkedip-kedip lucu waktu Kennard menatapnya terpesona


 


"Apa aku terlihat aneh?" Lisle menggigit bibirnya dengan perasaan sedikit cemas. Bajunya terasa nyaman. Tapi dia merasa tidak percaya diri.


Kennard tersadar setelah beberapa detik. Apapun yang dipakai istrinya, menurutnya selalu tampak lebih baik dari orang lain. Fantasinya jadi berlarian tanpa bisa dikendalikan. Lelaki itu menelan ludah. Dia mempertimbangkan untuk melatih istrinya sendiri. Tak mungkin dia membiarkan para lelaki yang lama tidak melihat gadis cantik itu meneteskan air liur setiap melihat istrinya atau malah bersentuhan tanpa sengaja.


"Tidak. Tapi menurutku bajunya masih terlalu ketat," ujar Kennard memberikan komentar lalu tanpa menoleh lagi berjalan lebih dulu keluar ruangan. 


Dengan kening berkerut heran atas komentar suaminya, Lisle mengikuti lelaki itu berjalan ke luar.


Cuacanya sangat panas. Lisle mengernyitkan wajahnya yang tertimpa cahaya matahari, menudunginya sejenak sembari memicingkan mata mengamati sekeliling.


Suasana di sekitar deretan bangunan tampak lengang. Lisle tidak melihat seorang pun di sana. Kemudian dia bergegas menyusul Kennard yang sudah berjalan cukup jauh. Lelaki itu bahkan telah menghilang di balik bangunan besar.


Kennard baru menghentikan langkahnya di sebuah lintasan berlari. Terlihat beberapa lelaki  berlari di bawah panas matahari dengan keringat bercucuran. Kennard berpaling pada Lisle yang tampak setengah berlari mengikuti langkah lebarnya.


Tiba di sana, gadis itu membungkuk sambil memegang kedua lututnya yang sudah ngilu. Napasnya memburu. Padahal jarak dari tempat mereka tadi hanya beberapa ratus meter. Tapi keringat sudah membasahi wajah halusnya.


"Lelah sekali," keluh gadis itu sambil menegakkan tubuhnya. Tangannya sibuk mengipas-ngipasi wajah, berharap mendapat sedikit kesejukan. "Kenapa tempatnya jauh sekali?"

__ADS_1


Beberapa lelaki yang kebetulan melintas di depan mereka mendengar keluhan gadis itu. Mereka saling pandang sekilas lalu tersenyum geli. Dalam benak mereka memiliki pemikiran yang sama. Beberapa hari ke depan, bos mereka pasti akan sangat kerepotan menghadapi istrinya.


Kennard memejamkan mata sejenak, menahan emosi. Pada orang lain dia bisa bersikap sangat keras. Apalagi dalam latihan semacam ini perlu kedisiplinan yang tinggi. Mengeluh adalah pantangan. Tapi menghadapi istrinya, mau tidak mau dia harus menahan diri. 


Kini, saat mendengar keluh kesah istrinya, Kennard jadi tidak berharap banyak. Latihan bahkan belum dimulai tapi Lisle sudah tampak kelelahan.


"Berlarilah sepuluh putaran. Dimulai dari sekarang!" perintah Kennard dengan suara keras sambil melihat jam di tangannya. Dia mengabaikan keluhan Lisle berikutnya tentang cuaca.


Lisle sampai terlonjak mendengar instruksi itu. Dia jarang mendengar suara tegas Kennard padanya. Mulutnya nyaris melontarkan keluhan baru ketika dilihatnya raut keras suaminya. Apalagi kemudian beberapa orang lelaki berlari melewati mereka. Meski tidak kentara memperhatikan Lisle, tetapi gadis itu merasa malu jika harus berdebat dengan suaminya.


Dengan berusaha menekan kekesalannya, Lisle berlari lambat di sepanjang lintasan. Terlihat mudah melihat orang-orang yang berlari. Meski mereka juga tampak berkeringat, tapi Lisle yakin tak ada yang sepayah dirinya. Untuk satu putaran saja dia memerlukan waktu yang menyamai empat putaran secara normal.


Saat menyelesaikan putaran pertamanya, Lisle berpikir dalam rasa putus asa yang mulai membayanginya. Bagaimana ini? Untuk satu putaran saja dia merasa hampir kehabisan napas.


Tadi saat kembali ke tempat dia mulai berlari, dia memalingkan muka dari Kennard yang menunduk pada arlojinya dengan alis bertaut. Dia tahu lelaki itu sedang mengecek lama waktu yang diperlukannya untuk menghabiskan lintasan. Padahal dia sangat ingin berhenti sejenak dan mengatur napasnya. Tapi karena tak ingin mendengar celaan dari suaminya, Lisle meneruskan berlari.


Matahari makin meninggi di atas sana. Makin bersinar terik. Lisle menengadah, merasa terbakar. Kepalanya mendadak pening dan larinya makin melambat. 


Dia masih bertahan saat menyelesaikan putaran keduanya. Menjelang akhir putaran ketiga, dalam kondisi yang mengenaskan, Lisle ambruk.


----------------


Lho... lho... lho.. kok pingsan ya, Lisle. Ini bulan madu atau apa sih? Baru juga datang sudah langsung disuruh latihan. Kennard kok tega banget, ya sama istri. 😂😂😂


Hallo semuanyaaa.... Makasih banyak, ya sudah setia baca lanjutan cerita Lisle dan Kennard sampai bab ini. Semoga ngga bosan untuk terus dukung author biar tambah semangat. Klik like, komen, rate, vote, share, hadiah juga boleh. Tapi klo ngga bisa ato lupa karena saking asiknya baca juga ngga papa. Author ikhlas, kok. Ditengokin aja sudah seneng banget. Tapi jangan lupa kunjungi juga bab-bab selanjutnya. 🥰🥰🥰


Semoga semuanya diberi kesehatan, keselamatan dan rejeki yang melimpah. Doain author juga, ya. Tetap semangat menjalani hari dan jangan lupa untuk bahagia.

__ADS_1


Salam


__ADS_2