
Lisle terus cemberut sepanjang pagi. Gadis itu sesekali menatap sengit ke arah Kennard yang tampak santai di seberangnya. Mereka tengah menikmati sarapan tapi Lisle hanya mengaduk-aduk isi piringnya tanpa sekalipun memasukkannya ke mulut. Hatinya sedang kesal
Semalam Lisle nyaris pingsan di tempat tidur. Kennard telah berubah menjadi binatang buas yang memakannya tanpa sisa. Gadis itu menggerutu di dalam hati berkali-kali, tak mempedulikan tatapan Kennard yang sesekali jatuh padanya.
Kenapa lelaki menjadi begitu bersemangat setelahnya dan wanita kehilangan kekuatannya? Lisle kewalahan dengan isi kepalanya. Akhir- akhir ini dia menemukan banyak hal yang tak masuk akal.
"Apa kau akan terus mengaduk seperti itu?" tegur Kennard saat selesai dengan sarapannya, tapi di seberangnya istrinya belum juga menyuap satu sendok pun. Kennard tahu Lisle sedang marah karena tadi malam dia kehilangan kendali. Mungkin karena terlalu lamanya dia menginginkan gadis itu.
Lisle menekuk bibirnya, dia bahkan tidak mengangkat wajahnya dari piring sarapan.
"Apa kau tidak enak badan?" Tatapan Kennard menyelidik.
Tidak ada sahutan.
Kennard menjadi gemas dibuatnya. Jika tidak memikirkan bahwa dia akan menyakiti istrinya lagi, mungkin dia sudah akan membawa Lisle kembali ke kamar.
"Kalau merasa tidak enak badan, kau istirahat saja." Kennard memperhatikan jari-jari lentik itu memainkan sendok. "Bila ingin sesuatu makanan, kau bisa mengatakannya pada Thomas. Dia koki yang baik. Tidak ada jenis masakan yang dia tidak bisa."
"Aku tidak ingin makan apapun. Rasanya perutku tidak nyaman." Tiba-tiba Lisle meletakkan sendoknya dan mengambil gelas jus, meneguk isinya sedikit. Dia sangat lapar. Tubuhnya terasa lemas dan sakit. Tapi dia kehilangan nafsu makan.
Kennard mengangkat wajahnya, tengadah pada Lisle yang sudah berdiri hendak meninggalkan ruang makan. "Kau harus makan sesuatu kalau tidak ingin sakit."
Aku sudah sakit. Aku sangat kesakitan! Lisle meneriakkan itu tapi cuma dalam hati. Bagaimana pun dia masih segan dengan suaminya.
Lisle mengangguk lemah. "Baik…. Aku akan ke kamar…." Lalu matanya menangkap kilatan samar di mata suaminya. Lisle buru-buru memalingkan muka dan bergegas meninggalkan ruang makan. Jangan sampai Kennard berpikir macam-macam sehubungan dengan kamar tidur. Lisle merasa cemas.
Kennard menyeringai melihat raut istrinya yang menjadi panik tiba-tiba, lantas bangkit menyusul Lisle ke kamar.
__ADS_1
Sesampai di kamar, Lisle terkejut melihat suaminya sudah ada di belakangnya. Begitu sampai, Kennard memeluk Lisle dari belakang dan berbisik pelan. "Kau terlihat sangat cemas. Maaf, semalam aku kehilangan kendali. Apa masih sakit?"
Meski Lisle masih kesal, tapi pelukan suaminya terasa nyaman. Walau diakuinya, jantungnya berdebar-debar juga karenanya.
Lisle hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia menunduk pada lengan kuat yang melingkari pinggangnya.
"Sebenarnya aku sangat ingin menemanimu di rumah hari ini. Tapi banyak pekerjaan yang tidak bisa kuserahkan pada Steve. Lagipula, jika terus bersamamu, aku kuatir kehilangan kendali lagi." Kennard mencium pipi Lisle sekilas. "Jangan lupa makan nanti bila perutmu sudah baikan. Aku tidak ingin kau jatuh sakit."
***
Sementara di kampus….
Seusai kelas pertama, Celine menyelinap dari kelas yang ramai, bergegas menyusuri koridor kampus. Akhir-akhir ini dia merasa sedikit kehilangan. Lisle beberapa kali tidak masuk kuliah hingga hari ini dia tidak memiliki teman untuk bicara. Entah sampai kapan sahabatnya itu akan bolos kuliah. Mungkin juga Lisle akan pergi berbulan madu seperti suatu hari pernah dikatakannya.
Uh, kau memang sangat beruntung! Celine bersungut-sungut sendiri dengan rasa iri.
Di dekat perpustakaan, sebelah tangga ke lantai dua, tiga orang gadis mencegatnya. Celine mengenali mereka sebagai Shopia dan teman-temannya.
"Mana Lisle?" tanya Shopia garang.
Sebenarnya gadis itu lumayan cantik. Apalagi dengan dandanan dan baju-baju yang dikenakannya, dia terlihat lebih cantik dari yang seharusnya. Namun tingkahnya yang sering tidak masuk akal membuat gadis itu kehilangan beberapa poin di mata Celine.
"Mana kutahu!" sahut Celine ringan. Dia tidak tertarik untuk berbicara dengan nona muda di depannya ini.
Celine tidak tahu tentang insiden di mall antara Shopia dan Lisle. Dia hanya tahu bahwa Shopia sepertinya cemburu dengan kedekatan Lisle dengan orang yang disukai Shopia suatu ketika.
Musuh sahabatnya tentu saja musuh Celine juga.
__ADS_1
"Bukankah kalian tinggal bersama? Aku dengar bangunan buruk itu bahkan akan diruntuhkan. Tidak mengira kalian ternyata tinggal di apartemen jelek itu." Shopia mengatakan hal itu dengan nada mengejek. Dia telah menyuruh seseorang untuk menyelidiki tempat tinggal Lisle. Ternyata Lisle tinggal satu apartemen dengan Celine.
Gadis miskin hanya berteman dengan gadis miskin! pikir Shopia merendahkan.
"Bukan urusanmu kami mau tinggal di mana pun…." Celine bergerak maju hendak meneruskan langkahnya. Dia malas berurusan dengan gadis itu. Hanya buang-buang waktu.
Pikirnya, syukurlah Shopia tidak sampai tahu jika Lisle sekarang tinggal di Palm Garden. Dulu juga sahabatnya itu beberapa saat pernah berdiam di sana. Hingga beberapa kali bolak-balik karena kebodohannya. Sesekali Lisle memang pulang ke apartemen tapi itu tidak lama. Mungkin saat Shopia atau seseorang yang disuruhnya menyelidiki tempat tinggal mereka, Lisle kebetulan sedang pulang ke apartemen mereka.
Namun ketiga orang di depannya membuat semacam pagar penghalang hingga Celine tidak bisa melewatinya tanpa bersinggungan dengan mereka.
"Apa yang kalian inginkan?" Celine menatap masam Shopia. Sayang Lisle memutuskan menyembunyikan identitasnya sebagai istri Kennard, jika tidak, tentulah Shopia tidak akan berulah seperti ini.
"Katakan pada gadis kampungan itu untuk segera meninggalkan kampus ini…."
Celine terperangah dengan peringatan itu. Bagaimana bisa gadis ini mencoba mengusir Lisle? Bahkan jika dia seorang ratu sekalipun, dia tidak punya hak menyuruh orang berhenti belajar di sini tanpa alasan yang jelas. Apalagi Lisle tidak bersalah.
Oh, ingin sekali rasanya Celine mengadukan ini pada Tuan Kent.
"Kalau tidak?" Celine menyipitkan matanya. Dia ingin tahu ancaman seperti apa yang bisa dikatakan gadis itu.
"Kalau tidak, jangan salahkan aku bila menggunakan sebuah cara untuk memaksanya keluar." Shopia tersenyum licik.
Celine mendengus sebal. Ralph sudah pergi ke luar negeri sesaat setelah penculikan. Tapi rupanya Shopia masih terobsesi dengan lelaki itu. Sekalipun Ralph masih di sini, Lisle tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu.
"Yaaah, lakukan sesukamu. Aku tidak peduli." Celine mendesak maju sambil mendorong ke samping hingga membuat Shopia terjajar ke tembok.
Mata Shopia melotot mendapat perlakuan kasar Celine. "Celine!"
__ADS_1
Tapi Celine sudah buru-buru pergi dari tempat itu. Membuat keributan di kampus bukanlah tindakan yang bagus. Jadi, Shopia hanya mengatupkan bibirnya sambil menahan kekesalan.