Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 43. Berhenti Bekerja di Cloud Cafe


__ADS_3

Ralph menatap kepergian Lisle yang tergesa-gesa dengan wajah muram. Dia tahu, Lisle menghindarinya.


Meski telah siap dengan segala resiko karena telah berani mengusik tuan Kent, Ralph tidak mengira pengaruh yang ditimbulkan lelaki itu begitu besarnya. Tuan Caldwell senior marah luar biasa begitu mendengar kekacauan yang telah ditimbulkan olehnya. Ayahnya yang sedang berada di luar negeri mendadak mendapat serangan jantung yang untungnya masih bisa tertolong. Kalau tidak, Ralph tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Sedangkan Aland, saudara sekaligus orang yang mengendalikan perusahaan keluarga selama ini tidak mengatakan sepatah kata pun ketika beberapa hal buruk yang tak terkendali menimpa perusahaannya. Dia langsung menebak siapa yang berada di balik semuanya itu.


“Apa dia kembali ke Palm Garden?” tanya Ralph pada Celine begitu telah sampai di tempat tadi Lisle berdiri. Matanya masih tak lepas pada arah kepergian Lisle meski bayangan gadis itu telah menghilang.


Celine menjawab dengan anggukan. Dia menjadi serba salah berhadapan dengan Ralph.


“Jadi semuanya sia-sia....” Ralph bergumam sendiri. Perasaannya hampa. Dia kehilangan harapan meraih gadis itu.


Tadi pagi dia mendengar saham perusahaan Caldwell mengalami perbaikan, ada beberapa investor lama yang kembali dan beberapa tambahan investor baru. Beberapa proyek besar yang semula dibatalkan sepihak kini dinegosiasi ulang. Aland tampak mati-matian memperjuangkan perusahaan keluarga. Namun Ralph tahu, seseorang kembali menggunakan pengaruhnya bermain-main dengan nasib keluarga Caldwell. Lalu dia mulai membuat satu-satunya perkiraan yang paling mungkin, Lisle, gadis itu, sepertinya telah berhasil membuat tuan Kent merubah keputusan.


Entah ada kesepakatan macam apa lagi di antara kedua orang itu, Ralph kali ini mencoba mengabaikan. Dia hanya berharap, gadis itu, entah bagaimana caranya, bisa bahagia di sisi lelaki yang menakutkan itu.


“Apa menurutmu tuan Kent menyukai Lisle? “ Tiba-tiba Ralph terpikir, bila seorang gadis sanggup membuat tuan Kent melakukan hal sebesar itu dan merubahnya dalam sehari, tentunya gadis itu memiliki tempat yang istimewa di hatinya.


“Menurutku juga begitu. Sayangnya gadis bodoh itu berpikir kalau tuan Kent melakukan semua itu sehubungan dengan harga dirinya yang tinggi. Semuanya tidak berhubungan dengan perasaan dan segala macam omong kosong lainnya.” Celine merasa kesal sendiri.


Ralph tertawa pahit. “Apa pun kemungkinannya, aku tetap dibuat patah hati oleh gadis itu.”


***


Lisle tiba di Cloud Cafe menjelang makan siang yang ramai. Dia tak mengira jika perkembangan kafe milik Daisy akan secepat ini. Dia telah absen hampir seminggu dan belum mengatakan akan berhenti bekerja, jadi dia bergegas mengambil celemeknya dan membantu tiga orang yang tampak kewalahan itu.

__ADS_1


“Akhirnya kau kembali. Aku sempat berpikir kalau kau ingin berhenti kerja. Kau lihat sendiri ‘kan ada juga saat kami kewalahan seperti ini.” Daisy memberikan segelas jus pada seorang pembeli dan menerima pembayaran dengan kartu. Antrian tampak mengular hingga pintu masuk.


Lisle tidak menyahut. Dia tidak ingin mengatakan saat ini bahwa dia memang berniat untuk pergi dari kafe. Gadis itu membawakan beberapa pesanan ke meja-meja dengan cekatan sambil sesekali tersenyum pada pelanggan.


Ketika waktu makan siang telah berakhir dan jumlah pengunjung mulai surut, Daisy dan Lisle menikmati makan siang mereka yang sedikit terlambat. Cindy dan Laura sebelumnya telah makan lebih dulu, jadi kini mereka bisa menikmati makanan tanpa terburu-buru.


“Jadi, apa kau sudah membereskan tugas-tugasmu?” Daisy bertanya di sela suapannya.


Lisle hanya mengangguk menjawab pertanyaan itu. Dia kebingungan mencari alasan yang tepat untuk berhenti bekerja.


“Baguslah! Jadi kau bisa mulai membantu kami. Aku pikir keputusanku mengambil dua karyawan sebagai tambahan cukup tepat. Mereka membawa keberuntungan bagi kafe ini....” Daisy terlihat sangat puas.


Lisle meletakkan sendok garpunya. Dia merasa tidak terlalu bernafsu untuk makan.


Daisy memperhatikan aksesoris dengan untaian batu alami warna-warni itu, ekspresinya biasa saja. Lisle menyadari kalau Daisy tampak tidak tertarik, tapi dia mengulurkannya juga dari seberang meja.


“Kau bisa memakainya kalau kau suka. Aku juga memakainya.” Lisle mengangkat tangan  kirinya di depan mata Daisy. “Tapi kau juga boleh menyimpannya kalau kau merasa tidak cocok. Jangan dibuang. Anggap saja itu sebagai hadiah perpisahan....”


“Eh, perpisahan? Apa maksudmu?” Daisy tiba-tiba merasa tidak enak saat mendengar Lisle menyebut-nyebut ‘perpisahan’.


“Aku bermaksud berhenti bekerja di sini. Aku mendapatkan pekerjaan lain....” Lisle menatap pinggiran meja, menghindari bertatapan langsung dengan Daisy. Dia tidak ingin ketahuan berbohong.


“Lisle, bagaimana bisa kau berhenti? Kafe ini ramai juga berkat kau. Apa... apa pekerjaanmu sekarang jauh lebih baik?” Daisy bertanya dengan tatapan menyelidik. “Kau bekerja di mana?”

__ADS_1


“Eee... sebuah perusahaan besar. Hanya part time karena aku ‘kan harus kuliah pagi harinya....” Lisle sejenak kebingungan menemukan jawaban yang pas. Kennard pernah menawarinya pekerjaan sebagai asisten.... Tiba-tiba ide itu muncul, membuat mata Lisle bersinar riang seketika. Mungkin dia bisa mencoba mencari pekerjaan di Diamond Group. Tentu saja tanpa sepengetahuan Kennard.


“Perusahaan besar apa?” kejar Daisy. Dia meragukan kebenaran alasan Lisle.


“Aku belum bisa memberitahumu. Belum saatnya....” Lisle tersenyum dengan isi pikirannya yang menurutnya sangat hebat.


“Hm, perusahaan macam apa yang mempekerjaan gadis bodoh sepertimu?” Daisy mencibir.


“Hei, aku mahasiswi penerima beasiswa Universitas Diamond Ritz. Kau pikir mudah untuk masuk ke sana?” Lisle protes dengan sebutan ‘gadis bodoh’ itu.


“Tapi kau bodoh untuk beberapa hal. Terutama ketika kau mencoba berbohong!”


“Kau....” Wajah Lisle memerah. Daisy tidak mempercayai alasannya berhenti kerja.


“Kenapa denganku? Kau yang tak pandai berbohong. Kau pikir aku percaya dengan alasanmu itu. Katakan saja kau terganggu dengan dua karyawan baru itu, iya ‘kan?”


Lisle terdiam. Dia tak mengira jika Daisy bisa seakurat itu menebaknya. “Pokoknya, aku ingin berhenti. Itu saja....” Suara Lisle terdengar rendah. Dia bangkit membereskan sisa-sisa makan siang mereka dan membawanya ke dapur. Setelahnya dia pamit pada Daisy. “Aku pergi dulu,” ujarnya.


***


Gedung Diamond Group terletak di pusat kota yang ramai. Itu tidak terlalu jauh ditempuh dengan berjalan kaki dari Cloud Cafe. Lisle berdiri di depan bangunan tinggi menjulang itu untuk kedua kalinya, mendongak pada puncak tertingginya. Apa tuan Kent ada di salah satu ruangan di atas sana? Lisle membayangkan laki-laki itu duduk di depan meja besar dalam ruangan kantornya yang luas.


Lisle menemukan bagian resepsionis dengan meja tinggi hingga hanya memperlihatkan sepertiga badan gadis yang berjaga di sana.

__ADS_1


“Nona, apa lowongan sebagai asisten presdir masih kosong?” tanya Lisle tanpa pikir panjang. Begitu tersadar kalau dia sudah salah bertanya, Lisle membekap mulutnya sendiri. Sepanjang jalan tadi dia terus teringat tawaran tentang menjadi asisten Kennard dan itu memenuhi pikirannya hingga tak sengaja terlontarkan begitu saja.


__ADS_2