
Tiga bulan kemudian.
Siang hari yang panas. Lisle menyusuri trotoar begitu turun dari bus yang membawanya. Dia sedang mencari pekerjaan baru setelah beberapa kali berganti pekerjaan hanya dalam waktu tiga bulan ini. Dia sempat mendatangi Daisy dan kembali bekerja di Cloud Cafe. Namun keputusannya dulu untuk keluar dari Cloud Cafe tampaknya sudah benar. Sebuah kafe kecil dengan satu pemilik dan tiga karyawan ternyata tidak terlalu effesien. Kafe milik Daisy memang lebih ramai dari sebelumnya, tapi tidak cukup ramai sehingga memerlukan tiga karyawan. Hanya pada jam-jam tertentu kafe itu menjadi terlalu sibuk. Akhirnya untuk kedua kalinya Lisle berhenti bekerja dari sana.
Setelah itu, Lisle mendapatkan beberapa pekerjaan kecil dengan upah yang juga kecil. Pekerjaan-pekerjaan itu tidak membuatnya betah dan hanya membuatnya bertahan beberapa lama kemudian berhenti hanya dalam hitungan minggu.
Airmata Lisle hampir jatuh. Dia hampir tak punya uang sama sekali. Terakhir kali dia keluar dari sebuah pekerjaan karena sang pemilik, seorang lelaki berumur lima puluhan mencoba melecehkannya. Dia tak mendapatkan gaji dari sana setelah bekerja kurang dari seminggu. Sementara semua pemberian tuan Kent telah dikembalikan tanpa setahu lelaki itu. Dia meletakkannya di laci meja dekat tempat tidur di Palm Garden, tak ingin ada sesuatu pun yang tertinggal yang akan menghubungkannya dengan lelaki itu kelak.
Dalam keramaian jalan di jam istirahat siang, Lisle mendengar deru lembut di atas sana. Gadis itu mendongak ke langit. Sebuah Heli hitam berlogo Diamond Group melintas di antara gedung pencakar langit.
Betapa jauh ternyata dia telah mendaki dalam tiga bulan lalu. Dia pernah berada di kendaraan yang sama suatu waktu dengan tuan Kent dalam sebuah perjalanan singkat. Saat itu yang ada di kepalanya hanyalah pikiran-pikiran buruk tanpa merasa betapa menakjubkannya hal itu sekarang. Hari ini dia melihat bahwa perbedaan mereka tak terukur jaraknya. Dulu dia bisa menatap wajah menawan itu secara bersisian hampir tak berjarak, tapi dari tempat dia berdiri sekarang bahkan dengan menengadah pun dia tak bisa menemukan mata kelam itu lagi.
Lisle mengerjap-ngerjapkan matanya mengusir titik embun yang mulai tercipta. Apakah dia sungguh-sungguh telah jatuh hati pada lelaki menakutkan itu? Apakah hari ini dia sudah menjadi rindu?
Tidak! Itu tidak mungkin! Tanpa sadar gadis itu menggelengkan kepala mencoba mengusir pikirannya yang mulai tidak masuk akal.
Lisle berbelok pada sebuah pelataran mall terbesar di Black Mountains. Celine memberitahunya sebuah lowongan di bagian cleaning service dengan perasaan enggan, takut kalau Lisle tersinggung karena harus melakukan pekerjaan bersih-bersih seperti itu. Tapi Lisle tak pernah memilih pekerjaan. Asal tidak menjual harga diri, dia akan dengan senang hati melakukannya.
Setelah melewati beberapa lantai mall yang ramai dengan eskalator, Lisle berjalan di sebuah lorong yang terdapat lift di bagian ujungnya. Lift itu akan membawanya ke bagian penerimaan outsourcing.
Semoga posisi itu belum terisi, doa Lisle dalam hati.
Tak ada seorang pun di lorong itu. Lisle berjalan pelan menuju pintu lift. Beberapa langkah lagi dia akan sampai di sana ketika pintu lift terbuka. Empat orang lelaki melangkah keluar. Orang yang berjalan paling depan adalah lelaki yang sangat di kenalnya, tuan Kent. Di belakangnya berturut-turut mengiring, orang-orang yang juga dikenal Lisle; Steve, David dan Nathan.
Hampir Lisle membalikkan dengan maksud menghindar, tapi itu terlalu berlebihan. Bukankah tuan Kent pernah berkata, begitu Lisle melangkah keluar dari Palm Garden, mereka adalah dua orang asing.
__ADS_1
Tap... tap... tap.
Dua orang asing.
Dua orang asing.
Suara langkah mereka bersamaan dengan detak jantung Lisle yang kacau.
Lisle menguatkan hati ketika mereka hampir berselisih jalan. Setengah menunduk Lisle menghindari bertemu pandang.
Tap... tap... tap.
Deg... deg... deg.
Dua orang asing.
Ketika Lisle tiba di dalam lift dan membalikkan badan, gadis itu melihat tak seorang pun dari mereka menghiraukannya meski sekedar melihat sekejap ke arahnya.
Airmata yang sebelumnya tertahan di pelupuk, jatuh juga....
***
“Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.” David menghempaskan diri di sofa kantor presdir diikuti Nathan. “Saling tak menyapa. Kekanak-kanakan sekali,” sambung David.
Steve meletakkan beberapa map di meja Kennard dan segera pergi setelahnya. Semenjak Lisle pergi dari Palm Garden hari itu, segala sesuatu di sekitar tuan Kent tampak kembali seperti semula. Dingin dan suram. Nama gadis itu tak pernah terucap sekali pun dari bibir tuannya seakan-akan tak pernah ada dalam hidup lelaki itu.
__ADS_1
“Kau tidak lihat tadi wajahnya yang hampir menangis?” Kembali David mengusik kediaman Kennard. Dia penasaran dengan sikap lelaki itu yang menyerah pada kebodohan Lisle. Gadis itu hanya perlu diyakinkan akan sebuah hal tentang perasaan. Sayangnya, si tuan Kent ini terlalu angkuh untuk mengakui kalau perlakuan istimewanya dulu pada gadis itu bukanlah atas dasar sekedar rasa suka.
“Aku tak peduli,” ujar Kennard dengan suara dingin.
Terdengar tawa sinis Nathan. “Kurasa Tuan Kent yang agung sedang jatuh cinta.”
“Hm, kurasa juga begitu. Kau tinggal serumah dengannya selama hampir sebulan tapi tak pernah menyentuh gadis itu sama sekali. Bukankah itu aneh? Seumpama kue sudah di tangan, kau tinggal memakannya.” David menimpali.
“Bukan urusan kalian.” Kennard memeriksa beberapa dokumen di mejanya. Ekspresinya datar seperti tidak terpengaruh dengan pembicaraan itu. Dia memanggil sekretarisnya meminta beberapa dokumen lagi.
“Apa kalian tidak punya pekerjaan selain mengurusiku? Kalau sudah tidak ada hal lain yang perlu dibahas sebaiknya kalian segera pergi.” Kennard berbicara tanpa melihat pada kedua temannya yang dia tahu masih tersenyum-senyum memuakkan.
Dua lelaki di depannya saling berpandangan. Mereka tahu Kennard memperlakukan Lisle dengan berbeda. Kenapa tiba-tiba melepas gadis itu begitu saja jika benar-benar suka? Mereka bisa memberi saran menemukan jalan untuk meluluhkan hati gadis tidak tahu diuntung itu seandainya Kennard memintanya.
“Jadi, kau sudah tidak berminat lagi pada gadis itu?” David menanyakannya hati-hati.
Kennard mengabaikan pertanyaan David. Dia bahkan tidak mengangkat wajahnya dari menatap lembaran dokumen di atas meja.
David menghela napas. Sedikit kesal dengan kekerasan hati laki-laki pemilik Diamond Group ini. “Kalau begitu, tentu tak apa kalau aku mendekatinya. Kupikir tak akan terlalu sulit. Dia gadis yang manis dan baik. Aku tak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk mendapatkannya. Lagipula, seperti kau bilang, dia masih bersih....”
David menunggu reaksi Kennard atas ucapannya yang memprovokasi. Namun lelaki itu masih tampak tenang dengan pekerjaannya, tidak sedikit pun terpengaruh.
“Kami pergi dulu,” ujar David lalu bangkit diiringi Nathan.
Keduanya meninggalkan kantor Kennard dengan hati dipenuhi rasa penasaran.
__ADS_1
Sepeninggal keduanya, Kennard menghentikan pekerjaannya. Ditariknya punggung ke sandaran dan memejamkan mata. Kedua tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.