
Berita itu tersebar dari mulut ke mulut dan dari grup ke grup chat kampus. Seorang gadis yang baru resmi menjadi mahasiswi Golden Ritz beberapa bulan terlibat sebuah bisnis memalukan, menjajakan dirinya sebagai pemuas kesenangan para pria tua kaya.
Mulanya identitas gadis itu masih sebuah tanda tanya yang membuat penasaran para penyuka gosip di kampus. Sebagai sebuah institusi pendidikan terhormat di kota Black Mountain, Golden Ritz telah dicoreng nama baiknya. Ironisnya, pelaku pencemaran adalah seorang mahasiswi baru. Konon pula hanyalah seorang penerima beasiswa. Gadis miskin yang tidak tahu diuntung yang tergoda oleh kemewahan materi karena telah terbiasa bergaul dengan teman-teman kaya.
"Mungkin dia ingin membeli barang-barang bermerk yang hanya bisa dimimpikannya, lalu mencoba mendapatkannya dengan jalan memalukan." Seseorang menulis di sebuah grup pertemanan senior kampus.
"Harus diselidiki segera. Jangan sampai wartawan mendengar dan mendapatkan nama gadis itu lebih dulu. Kampus harus segera bertindak." Yang lain membalas dengan isi chat berapi-api.
"Benar. Aku tidak mau satu kampus dengan gadis liar tidak tahu malu. Bila ibuku si Nyonya Maha Sempurna tahu, dia pasti akan mendatangi dekan, bahkan rektor kampus. Mungkin dia juga akan menghubungi pihak yayasan. Kau tahu, ibuku salah satu anggota komite kampus. Dia paling benci para perusak citra kampus kebanggaannya." Balasan lain lagi dari seorang anggota grup.
"Pokoknya segera cari tahu siapa gadis itu. Setelahnya pasti pihak kampus tahu apa yang seharusnya dilakukan." Sebuah akun menulis komentarnya.
Ting! Sebuah file media masuk ke dalam obrolan yang langsung terunduh oleh semua pemilik akun di grup.
Celine juga berada di grup senior kampus itu. Dia sedari tadi hanya membaca tanpa ikut berkomentar apa pun. Dalam hatinya juga penasaran sekaligus merasa tidak nyaman. Rumor seperti ini sangat jarang ada di kampus mereka. Lalu saat foto itu terlihat olehnya, mata gadis itu terbelalak dalam ketidakpercayaan.
Meski tidak begitu jelas karena sepertinya gambar tersebut diambil dari sebuah kamera pengawas, Celine bisa mengenali seseorang yang terlihat tengah memasuki sebuah klub malam terbesar kota. Dia bahkan mengenali beberapa orang yang datang bersamanya. Ada lingkaran berwarna merah yang menandai gadis yang jadi sumber masalah dan bahan pembicaraan mereka.
"Siapa dia? Ada yang mengenalnya?"
"Gambarnya tidak jelas. Tapi yang lain di sebelahnya, aku mengenal mereka. Bukankah itu Sally dan teman-temannya? Mereka sudah dikeluarkan dari kampus beberapa bulan yang lalu karena terlibat masalah penjualan gadis-gadis."
"Astaga!"
Lalu seruan-seruan kaget mengikuti penjelasan seseorang itu.
__ADS_1
Kasus beberapa bulan yang lalu memang terkesan ditutupi oleh pihak kampus. Namun tetap saja beberapa orang atau bahkan lebih dari setengah penghuni kampus mengetahuinya. Gadis-gadis yang dijual mungkin dirahasiakan karena dianggap sebagai korban. Tapi tentu saja tidak mustahil mereka melanjutkan kegiatan tidak bermoral itu.
"Aku yakin, tidak lama lagi nama gadis itu akan segera kita ketahui."
"Aku sangat tidak sabar melihat bagaimana tampang genitnya. Dia perlu diberi pelajaran."
Tidak lama kemudian beberapa foto lagi masuk beruntun menyela chat yang ramai dengan makian.
Gadis yang sama turun dari sebuah mobil mewah di dekat gerbang belakang kampus. Beberapa foto yang mirip dengan tanggal pengambilan berlainan. Hanya mobil yang mengantar berbeda-beda.
Beberapa chat menghujat lebih keras lagi. Mereka tidak rela kampusnya dinodai.
Di kamar apartemennya, Celine menepuk dahinya sembari menyumpahi kebodohan si penyebar gosip. Jelas gadis yang dimaksud adalah sahabatnya, Lisle. Dan dia merasa tidak perlu berpikir keras untuk menebak siapa orang yang sudah dengan konyolnya membuat rumor tidak masuk akal itu.
Bukankah anak-anak kaya itu juga sering berganti-ganti kendaraan jika pergi kemana pun?
Yah, tentu saja Lisle yang miskin terlihat mustahil bepergian dengan mobil mewah bahkan berganti-ganti merk. Kenapa juga dia terkesan ingin menyembunyikannya dari banyak mata hingga selalu berhenti di gerbang belakang. Celine ingin menuliskan sesuatu untuk membela sahabatnya. Tapi setiap kalimat justru dibantahnya sendiri. Dia tidak memiliki pembelaan yang cukup kuat.
Celine membayangkan gadis itu tengah tertidur pulas di pelukan tuan Kent setelah bermesraan dengan penuh semangat. Tidak tahu dirinya telah menjadi pembicaraan seisi kampus. Tidak diragukan lagi kalau besok pun namanya akan menjadi sangat terkenal di kampus.
Entah kapan sahabatnya itu akan mulai berkuliah lagi.
Celine mengeluh sendiri. Kejutannya sungguh tidak menyenangkan. Dia ingin memberitahu Lisle saat ini juga tapi merasa tidak enak jika harus mengganggu kebahagiaan sang pengantin baru. Namun membiarkan Lisle menerima kejutan ini nanti saat di kampus sungguh akan membuatnya merasa bersalah. Dia harus memberitahu sahabatnya itu.
***
__ADS_1
Kennard mengawasi istrinya yang tengah terlelap kelelahan. Keringat masih membasahi wajah gadis itu. Sementara rambutnya yang berwarna gelap tersebar di atas bantal di sekitarnya.
Permainan mereka sesaat tadi terlampau seru sampai-sampai gadis itu menangis memohon padanya untuk segera mengakhiri. Tentu saja Kennard tidak mengabulkannya. Dia malah mengulanginya sekali lagi beberapa saat setelah yang kedua itu usai.
Ponsel milik Lisle berbunyi pelan karena suaranya telah dikecilkan sebelumnya. Di ruangan yang sunyi itu tetap saja terdengar jelas oleh Kennard. Alis lelaki itu mengernyit. Siapa yang menelepon istrinya pada pukul satu lewat seperti ini?
Diraihnya benda persegi itu dan melihat nama si pemanggil. Celine.
Kennard menekan ikon terima panggilan dan mulai mendengarkan.
"Hallo, Lisle?" Suara di seberang terdengar ragu-ragu.
"Hallo. Istriku sudah tidur. Ada yang perlu disampaikan?" Suara Kennard terdengar tidak senang saat mengatakan itu.
Di sebelah sana, Celine menelan ludah. Ini pertama kalinya dia berbicara dengn tuan Kent di telepon. Sebelumnya dia hanya pernah berbicara berhadapan langsung. Itu pun hanya sedikit. Dia merasa canggung bila berhadapan dengan sang penguasa itu. Dan kata 'istrku' sungguh membuat Celine semakin merasa tidak nyaman. Tuan Kent seakan hendak menegaskan kepemilikannya pada gadis itu dan memberi isyarat bahwa saat ini Lisle tidak bisa dihubungi sembarangan lagi.
"Oh, kalau begitu besok saja. Ada yang ingin saya tanyakan. Bukan sesuatu yang terlalu penting…."
Dan telepon langsung dimatikan Kennard.
Celine mengutuki dirinya begitu sambungan terputus. Dia merasa telah salah bicara. Jika tidak terlalu penting, kenapa dia menghubungi Lisle di malam selarut ini? Dia benar-benar cari mati. Gadis itu berjanji lain kali tidak akan mengulangi kebodohannya.
Tentu saja ini semua gara-gara gosip murahan itu. Harusnya tadi dia katakan saja pada tuan Kent. Dia penasaran bagaimana reaksi suami sahabatnya itu.
Akhirnya Celine melempar ponselnya ke meja di sebelah tempat tidur setelah mematikan notifikasi chat grup. Dia tidak ingin terjaga sepanjang malam demi menunggui gosip memuakkan itu.
__ADS_1