
Celine berdiri kebingungan di depan gedung tinggi menjulang Diamond Group. Dia sudah masuk dan bertanya pada resepsionis tentang kesempatan menemui sang presdir. Gadis yang berjaga di sana melirik sekilas penampilan Celine dan berkata bahwa tuan presdir tidak bisa ditemui tanpa membuat janji lebih dulu. Lagipula, konon tuan Kent sedang pergi keluar untuk sebuah urusan. Akhirnya Celine memutuskan sebuah cara lain, menunggu mobil tuan Kent datang di parkiran gedung.
Rasanya sangat lama sampai sebuah mobil yang dikenali Celine sebagai mobil yang beberapa kali mengantar Lisle, memasuki area parkir. Sang asisten keluar membukakan pintu belakang untuk tuan Kent. Tidak lama kemudian seorang lelaki dengan wajah dan penampilan menawan disertai aura mendominasi keluar dari mobil. Celine bergegas memburu.
“Tuan Kent, saya teman Lisle. Saya harus bicara dengan, Tuan. Ini soal Lisle, dia....” Celine langsung mencecar dengan kata-kata itu.
Lelaki yang dipanggil tuan Kent itu hanya melirik sekilas tapi tak menghentikan langkahnya. Nama Lisle tampak tidak menarik perhatiannya. Dia masih meneruskan langkah menuju sebuah pintu yang terhubung dengan sebuah lift pribadi.
Celine menghentikan ucapannya. Dalam sekejap tuan Kent telah menjauh. Padahal dia sudah menunggu lama. Dia hendak mengejar, tapi tatapan dingin lelaki itu membuat hatinya ragu dan kemudian putus asa. Apa benar tuan Kent sudah tidak peduli lagi dengan Lisle? Jika memang dia pernah menyukai sahabatnya dulu, setidaknya akan masih tersisa sedikit saja rasa peduli itu.
Tapi Ralph juga pernah jatuh hati pada Lisle. Dia juga tidak peduli lagi pada gadis itu hari ini.
Ah, Lisle. Dulu kau sangat beruntung diperhatikan beberapa lelaki pilihan sekaligus. Hari ini kau sangat malang karena tampaknya mereka semua sudah memalingkan hatinya darimu di saat kau sangat memerlukan perhatian mereka. Celine mengeluh dalam perasaan yang kecewa.
Celine tiba-tiba menemukan bahwa asisten tuan Kent yang kerap bersama lelaki itu masih berada di mobil. Steve tampak mengambil sesuatu dari sana dan menutup pintu mobil. Dia berjalan melewati Celine. Sejenak Celine bimbang lalu menghadang langkah Steve. Tampak sebuah dokumen berada di tangan lelaki itu.
“Tuan, biarkan saya bicara sebentar. Ini tentang sahabat saya Lisle.” Celine memohon dengan wajah memelas.
Steve menghentikan langkahnya. Dia mengamati gadis di depannya sejenak tapi tak mengatakan apa-apa. Hanya saja dia tampak menunggu Celine mengatakan sesuatu.
“Tuan, tolong... sampaikan pada tuan Kent, Lisle menghilang sejak tadi malam. Saya... saya tidak tahu harus mencari kemana lagi. Dia tidak punya siapa-siapa. Mungkin tuan Kent bisa membantu....” Celine bicara dengan terbata-bata.
__ADS_1
Steve mengernyitkan alisnya. Nona Lisle menghilang? “Apa Nona sudah lapor polisi?” tanya Steve. Dulu dia yakin tuannya benar-benar menyukai gadis itu. Setelah beberapa bulan berlalu dan melihat kekerasan hati tuannya, Steve menjadi tidak yakin sang presdir akan mau turun tangan. Dia bahkan tidak pernah mendengar tuannya menyebut nama gadis itu lagi.
Celine menatap lelaki di depannya dengan putus asa. Lapor polisi? Apakah dia harus menunggu sesuatu yang buruk terjadi dulu pada Lisle? “Be... belum. Tapi apa saya harus menunggu sesuatu yang buruk terjadi dulu pada teman saya? Dalam dua puluh empat jam, apa pun bisa terjadi.” Mata Celine berkaca-kaca. Dia gadis yang kuat dan jarang menangis, tapi kali ini dia tidak bisa menahan airmatanya.
“Aku tidak bisa berjanji kalau tuan Kent akan bersedia membantu. Hubungan tuan dan nona Lisle sudah berakhir. Tuan sendiri pernah berkata bahwa apa pun yang terjadi pada nona Lisle, dia tidak akan peduli lagi. Tapi saya akan menyampaikannya pada tuan. Hanya saja, Nona jangan berharap banyak,” ujar Steve setelah berpikir sejenak lalu melangkah menuju pintu yang tadi dilewati tuannya. Dia sempat mendengar gadis itu menggumamkan kata ‘terima kasih’ dengan suara yang nyaris pecah oleh tangis.
Sementara Celine telah pergi dengan perasaan yang gelisah karena terus memikirkan nasib sahabatnya, steve menekan tombol lift yang menuju lantai teratas tempat ruang presdir berada. Begitu tiba di sana, dia mengetuk sebuah pintu besar dan membukanya setelah sebuah suara menyuruhnya masuk.
Tuan Kent tampak mempelajari sebuah dokumen dengan punggung yang ditarik pada sandaran. Dia tidak mengangkat wajahnya untuk melihat pada kehadiran Steve. Pun ketika sang asisten mendekat dan meletakkan dokumen di tangannya ke atas meja, presdir Diamond Group itu masih menatap lembaran di tangannya.
Setelah menimbang sejenak, akhirnya Steve angkat suara, “Tuan, Nona Lisle menghilang sejak tadi malam dan temannya sangat kuatir. Dia berharap, Tuan mau turun tangan membantunya.”
“Apa polisi kota ini sudah tidak bisa lagi mengatasi masalah warganya sehingga harus aku yang turun tangan mengurus hal sepele seperti ini?” Kennard melempar kertas di tangannya ke atas meja dengan kasar. Raut wajahnya tampak kesal.
“Apa bagian orang hilang sudah berpindah ke kantor ini?” Kembali Kennard berujar sinis.
Kata-kata tuan Kent membuat Steve terdiam. Benarkah nona Lisle tidak berarti apa-apa lagi bagi tuannya? Meski tak berharap banyak, Steve kecewa juga dengan penolakan tuan Kent. Diam-diam, dia mulai mengkhawatirkan nasib gadis itu.
Saat itu pintu diketuk dan wajah cantik sang sekretaris muncul. “Tuan presdir, seseorang menelpon di saluran satu. Dia memaksa untuk berbicara dengan Tuan. Apa Tuan mau menerimanya?”
Kennard mengangkat wajahnya dan berkata, “Sambungkan.” Lalu mengangkat telepon di atas meja.
__ADS_1
***
Lisle tidak bisa mengenali suara dua orang yang sedang berbicara di luar sana. Namun mendengar keduanya menghubungkan dirinya dengan tuan Kent membuatnya menjadi sedih sekaligus ketakutan.
Lelaki pertama tampaknya pernah melihat Lisle dan memliki semacam dendam dengan tuan Kent. Sedangkan lelaki temannya adalah orang suruhan, penjahat bayaran yang telah ditugaskan untuk menculik Lisle. Apa mereka tidak tahu bahwa dia dan tuan Kent sudah tidak memiliki hubungan apa pun? Bagaimana mereka bisa berpikir akan memeras laki-laki yang sudah tidak peduli lagi padanya? Biar pun mereka mengancam akan membunuh Lisle, menurut gadis itu, tuan Kent tidak akan memberikan apa yang mereka inginkan. Lisle merasa dirinya tidak sebeharga itu lagi untuk membuat tuan Kent kuatir dan datang menyelamatkannya.
Tak terasa airmata Lisle meleleh turun membasahi kedua pipi halusnya. Perasaan bahwa tuan Kent tidak akan pernah datang untuk menyelamatkannya seperti dulu, membuat dadanya terasa sesak. Kini dia tidak memiliki harapan apa pun pada siapa pun lagi.
Saat itu gagang pintu kamar tampak bergerak dan perlahan pintu kamar didorong dari luar. Mata Lisle melebar menatap seseorang yang melangkah masuk. Ada seringai kejam menghiasi wajah lelaki itu saat bertatapan dengan gadis muda yang terbelenggu di tempat tidur. Matanya menatap penuh gairah pada pada setiap lekuk tubuh Lisle.
------------------------
Selamat siang semuanya. Hai, hallooo....!
Biasanya author upnya rutin pagi-pagi, ya. Sekarang udah ngga tentu, sesempatnya aja. Mau juga sih up dua bab atau lebih sekaligus biar novelnya cepat selesai dan bisa nulis cerita baru lagi. Hanya saja kenyataan tak selalu sesuai harapan. Kalau memang bisa, pasti deh author up yang banyakan. ☺️☺️☺️
Terima kasih yang sudah setia mengikuti cerita ini dari awal up. Selamat datang bagi yang baru tiba dan mampir. Terima kasih buat dukungan kalian yang sudah like, komen, vote, kasih hadiah dan tipnya. Sungguh, kalian semua penyemangatku. 🥰🥰🥰
Semoga semuanya diberi kesehatan dan kebahagiaan untuk hari ini dan seterusnya. Author sayang kalian. 🥰🥰🥰
Salaaaam....
__ADS_1