
“Tidak!” Lisle menggeleng, bergegas melangkah hendak keluar kamar. Mana mungkin dia tidur di kamar yang sama dengan lelaki ini? Rumah seluas ini, tidak masuk akal jika tidak punya banyak kamar.
Tadi Kennard menggendongnya masuk rumah hingga kamarnya, meletakkannya di ranjang besar yang ada di tengah kamar yang sangat luas. Pemberontakannya sepanjang jalan masuk terasa sia-sia. Mukanya sudah sangat merah karena menahan malu. Digendong seperti bayi di hadapan banyak orang! Seumur hidup Lisle, bergandengan tangan dengan lawan jenis saja tidak pernah.
Tangannya dicekal dan ditarik dengan keras. Lisle terhuyung ke belakang. Tangan kuat Kennard memeluknya dari belakang. Sementara di sana, pintu kamar ditutupkan dengan perlahan oleh pelayan. Tanpa suara. Seperti takut jika sedikit bunyi akan mengganggu tuannya.
“Mau ke mana?” Bisik Kennard serak di telinga Lisle. Bulu kuduk Lisle sampai meremang mendengarnya. Merasakan napas lelaki itu di kulit lehernya menimbulkan perasaan yang aneh.
“Lepaskan! Aku mau pulang!” Lisle ketakutan. Dia berusaha melepaskan tangan Kennard dari pinggang kecilnya, tapi tangan itu sangat keras dalam sentuhan Lisle. Begitu pas di pinggangnya. Erat mengunci.
“Steve akan memberikan surat kesepakatan itu nanti. Setelahnya kau tak perlu memberontak seperti ini. Kennard mengecup pelan pangkal leher mulus gadis itu.
Lisle merasakan bahkan rambut di kepalanya saja seperti ikut berdiri.
“Tidaaak! Jangan! Hentikan... Aaakh....!”
Kennard meraih wajah Lisle, menariknya ke samping dan menciumnya dari belakang, mengunci jeritan Lisle dalam sebuah sesapan kuat.
“Mphht.....”
Lemas sekujur tubuh Lisle. Napasnya seperti berhenti, seakan dipaksa masuk ke dalam pusaran air. Tenggelam. Kepalanya pening. Rasa panas merambati hingga ke ujung jemarinya.
Ketika dirasakannya perlawanan Lisle mereda, Kennard melepaskan ciumannya, membalik tubuh gadis itu ke hadapannya dengan masih melingkari erat pinggang dengan tangannya.
__ADS_1
“Maksudmu, jangan... berhenti?” goda Kennard. Terlihat senang melihat wajah bersemu merah Lisle.
“Tu... Tuan, lepaskan....” Lisle berusaha menolakkan tubuh lelaki yang memeluknya. Dia tidak menjerit seperti tadi. Hanya mendorong pelan dada yang menekannya. Wajahnya ditundukkan. Dia sempat melihat senyum bermain di bibir yang sudah menciumnya tadi.
Kennard melepaskan pelukannya setelah beberapa saat terdiam.
“Mandi dan beristirahatlah. Baju-bajumu ada di ruangan sebelah.” Kennard menunjuk sebuah pintu di salah satu sisi kamar. “Aku ada di ruang kerja. Ada yang harus kukerjakan sebentar.” Diciumnya kening Lisle dan meninggalkan kamar itu.
Lisle menutup wajahnya dengan perasaan campur aduk. Mereka sudah seperti sepasang kekasih saja sekarang. Kennard main peluk dan cium sesuka hatinya. Payahnya, dia tak berdaya menolak.
Setelah mandi, dengan masih dililit handuk putih besar, Lisle takjub melihat isi walk in closet yang luas. Baju wanita dengan berbagai model dan merk mahal memenuhi lemari yang di tata berjajar sekeliling ruangan. Ada juga beberapa lemari yang dipenuhi baju-baju pria. Lisle bahkan melihat pakaian dalam di beberapa laci bawah. Saat gadis itu mengambil satu baju dengan model sederhana dan mencobanya, ternyata sangat pas.
Apakah semua ini memang disiapkan untuknya? Ataukah memang tuan Kent menyediakan ini untuk wanita-wanita yang naik ke ranjangnya? Dan apakah nanti, Lisle hanya akan menjadi salah satu dari wanita itu?
Lisle bergidik membayangkan hal itu, tapi mungkin dia tidak akan bisa menghindarinya. Surat kesepakatan. Lisle bisa membayangkan seperti apa isinya. Bayangan bibi Annie yang terbaring di rumah sakit memberinya sedikit kekuatan. Pengorbanan ini tak akan terlalu berat. Menjadi wanita tuan Kent mungkin akan cukup menyenangkan. Toh, dia bukan lelaki tua botak dan kelebihan berat badan.
Kennard kembali ke kamar menjelang tengah malam. Dia menemukan gadis itu bergelung di sofa yang ada di kamar itu dengan selimut menutupi seluruh tubuh hingga sebagian wajah. Hanya rambutnya yang menyembul di bagian atas. Lelaki itu tertawa sendiri. Dia tahu Lisle ketakutan dan memilih tidur di sofa daripada berbaring di ranjang.
Setelah melepas kemeja dan celana, Kennard melangkah ke kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa panas membayangkan gadis itu di ranjangnya. Kepolosannya benar-benar membuat gairahnya selalu sulit dikendalikan.
Kennard menyelesaikan mandinya dengan cepat, memakai piyamanya dan bermaksud memindahkan Lisle ke ranjang. Tapi dia tertegun saat menyibakkan selimut yang menutupi tubuh gadis itu. Lisle memakai piyama kebesaran miliknya?
Tiba-tiba dia teringat jika gaun tidur yang ada di lemari adalah gaun tipis setali yang membuat banyak bagian tubuh nyaris terlihat semua. Dalam perasaan takjubnya , dia membopong gadis itu ke ranjang dan membaringkannya dengan hati-hati, kuatir akan membangunkan. Kennard merapikan piyama kebesaran yang malah membuat bagian leher Lisle terbuka, mengekspos hingga belahan dada, diselimutinya kembali hingga sebatas leher. Lisle bergerak memiringkan tubuh menghadap ke arah bagian yang ditempati Kennard, membuat lelaki itu bisa mengamati sepuasnya.
__ADS_1
“Mungkin aku sedikit licik, tapi aku tak akan memaksa untuk memilikimu. Aku akan membuatmu menginginkanku....” Kennard membelai rambut yang terurai itu, meraih sejumput dan mengendus harum yang menguar dari sana.
***
“Aaakh!” Jerit melengking itu terdengar memekakkan telinga Kennard disertai dengan pukulan-pukulan lemah di dadanya. Lelaki itu membuka matanya dan mendapati Lisle yang mencoba melepaskan diri dari pelukannya dengan panik.
“Apa yang kau lakukan? Apa yang sudah kau lakukan padaku?!” Gadis itu memberontak sambil masih histeris.
Kennard hanya mengerutkan alis sedikit tapi kemudian memejamkan mata seakan hanya terusik sedikit lantas bermaksud melanjutkan tidurnya. Pelukannya di tubuh mungil itu justru mengetat hingga tangan gadis itu kini tak bisa digerakkan karena terjepit di antara tubuh mereka.
“Le... lepaskan. Aku... aku tidak bisa bernapas....” Lisle merasa dadanya dihimpit benda keras dan paru-parunya kesulitan mengambil udara.
“Mau kuberi napas buatan?” ujar Kennard tanpa membuka mata.
Mata Lisle melebar. Pipinya memerah mendengar kata-kata Kennard. “Jangan ber....” Lisle mengambil napas sebentar. “... canda....”
Kennard membuka matanya dan melonggarkan pelukannya sedikit begitu melihat Lisle yang kepayahan bernapas. “Makanya jangan berisik. Pagi-pagi sudah menjerit sekencang itu. Sebenarnya apa yang kau ributkan?”
“Kau... apa yang kau lakukan semalam?” Sebenarnyalah posisi berpelukan mereka dan Kennard yang hanya memakai celana piyamanya membuat Lisle kaget setengah mati saat terbangun. Merasakan kulit lengannya bersentuhan dengan dada keras lelaki itu, menghirup aroma asing dari tubuhnya, membuat gadis itu pusing seketika. Berbagai pikiran buruk berputar di kepalanya yang baru terjaga.
Kennard melepaskan pelukannya yang langsung membuat gadis itu bergerak menjauh, menarik selimut menutupi tubuhnya yang sebenarnya masih mengenakan piyama kebesaran. Tingkah Lisle membuat Kennard tertawa geli. Tadi malam entah kenapa dia merasa gerah hanya dengan memandangi Lisle yang tertidur pulas. Akhirnya dia melepaskan piyama atasnya dan hanya menyisakan celana di tubuhnya.
“Apa enaknya melakukan sesuatu pada putri tidur yang bahkan jika sebuah bom diledakkan di kamar ini dia masih akan tertidur manis?” Ujar Kennard dengan pandangan menggoda. “Kau menjadikanku guling sepanjang malam. Terus melilit seperti gurita. Kalau aku tidak memelukmu seperti tadi, aku pasti tidak akan bisa tidur sampai pagi.”
__ADS_1
“I... itu... itu tidak benar. Lagipula siapa suruh kau memindahkanku ke ranjang?” Lisle mencoba membantah hal memalukan yang dituduhkan Kennard padanya. Dia menunduk sambil masih mencengkeram selimut di dadanya.
“Kenapa memangnya? Aku memindahkan milikku sesuka hatiku,” ujar Kennard acuh. Dia bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Di depan pintu dia berhenti. “Aku akan menyuruh orang mencarikanmu baju tidur lain bila kau tak suka dengan baju yang ada. Piyama kebesaran yang kau pakai malah membuatku bisa mengintip isinya dengan mudah.”