
Tiga tuan muda saling berpandangan, lalu melemparkan tatapan meminta penjelasan dari Kennard.
Kennard sendiri tampak tidak peduli. Dia meneguk minuman dari gelasnya hingga tuntas. Tak mempedulikan tatapan yang terarah kepadanya.
Beberapa hari terakhir dia mulai terbiasa dengan tingkah istrinya yang begitu peduli dengan asistennya. Meski kesal juga, dia tidak berdaya untuk melampiaskan kekesalannya. Yang bisa dilakukannya kadang-kadang hanyalah melempar tatapan penuh ancaman pada Steve. Tidak lebih.
Steve sendiri menyadari kecemburuan tuannya dan tahu bahwa seberapa kesalpun tuannya tidak akan melakukan lebih dari sekedar menghadiahinya tatapan mematikan itu.
"Bagaimana hubungan kalian sebagai bos dan bawahan bisa menjadi saudara ipar?" David yang tidak sabar dengan sikap tidak peduli Kennard akhirnya menanyakan juga hal yang membuatnya penasaran itu.
Kennard tidak bermaksud menjawab. Lisle pasti akan dengan senang hati menjelaskan. Dia tidak tahu kenapa istrinya menganggap hebat saudara laki-lakinya itu dan melupakan suaminya yang justru adalah bos dari saudaranya.
"Steve adalah saudara laki-lakiku yang hilang dua puluh tahun yang lalu." Lisle menegakkan punggungnya dan bicara dengan sangat manis. Jelas sekali dia begitu bangga dengan Steve.
Stevelah yang justru merasa mual. Dia berdehem untuk mengurangi rasa canggung yang timbul karena tiga tuan muda secara reflek memperhatikannya demi mendengar penjelasan Lisle.
"Ken menemukannya. Kami juga telah melakukan tes." Lisle menambahkan untuk meyakinkan semua orang di sekitarnya. Dia menilai dari ekspresi mereka bahwa orang-orang itu tampaknya tidak mempercayai perkataannya.
"Kami percaya." Nathan menyela karena tidak ingin penjelasan Lisle berlanjut. Lagipula diamnya Kennard sudah menjelaskan semuanya. Semua yang dikatakan Lisle pasti benar.
Lisle terlihat senang dengan perkataan Nathan. "Menurutmu, apakah kami mirip?" tanyanya.
"Yah, sepertinya begitu." Nathan memperhatikan kakak beradik itu dan memang menemukan kesamaan keduanya di beberapa bagian. Rambut dan mata keduanya memliki warna yang sama. Kalau boleh jujur dan ingin membuat Lisle senang, dia akan berkata kalau keduanya adalah sepasang saudara dengan wajah yang menawan. Tapi dia tak mengatakannya karena melihat Kennard yang tampak tidak senang dengan kenyataan itu.
__ADS_1
David pun menyadari hal yang sama dan tak tahan untuk tidak tertawa keras. Menurutnya itu suatu hal yang lucu. Tuan Kent tiba-tiba saja memiliki saudara ipar. Dan kakak iparnya itu adalah asistennya sendiri.
"Kurasa proyek film dengan Edward masih bisa dibatalkan." Tiba-tiba Kennard berkata dingin. Matanya setengah terpejam. Dia meluruskan punggungnya ke sandaran. Sementara sebelah tangannya merangkul bahu istrinya.
Tak ada yang mengerti dengan perkataan tuan Kent itu. Hanya David yang paham. Dia tiba-tiba berhenti tertawa lalu terbatuk-batuk karena mencoba menahan rasa gelinya. Proyek film dengan sutradara terkenal itu adalah kerjasama kedua terbesar perusahaan milik keluarga David dengan Diamond Group. Kennard memberi isyarat mengancam untuk membatalkannya.
"Tidak. Tidak. Kau tidak boleh membatalkannya. Oke. Ini memang sangat lucu tapi aku tidak akan tertawa lagi." David berhenti tertawa. " Kurasa kau sangat beruntung." David bicara pada Lisle membuat gadis itu menjadi bersemangat.
Lisle yang sekejap merasa bingung dengan perubahan sikap David kini tersenyum senang. Steve menjadi gemas karena gadis itu seperti tidak menyadari kekonyolannya. Pernyataan David terdengar seperti sebuah penghiburan. Apalah Steve di mata tiga tuan muda itu. Dia tak lebih sebagai orang suruhan dengan gaji tak seberapa. Lisle membanggakan saudaranya di depan orang-orang yang keliru.
"Aku memang sangat beruntung. Saudaraku seorang yang hebat." Lisle berujar polos.
Ketiga tuan muda melirik pada Kennard dan diam-diam merasa khawatir. Istrinya memuji seseorang di depannya. Bagaimana mungkin seorang tuan Kent bisa menerima? Tapi yang mereka dapati kemudian sedikit mengecewakan. Kennard hanya diam. Meski sempat juga terlihat oleh mereka lelaki itu melempar tatapan sinis pada Steve.
"Ehm." Steve berdehem. "Saya rasa saya harus ke belakang dulu.
Steve bangkit dari duduknya meski tidak ada reaksi dari Kennard. Di bawah tatapan seisi ruangan, lelaki yang tampak dipenuhi beban perasaan itu berlalu dari ruangan yang membuatnya seperti di neraka.
Di depan wastafel, Steve menghela napas sekuatnya. Perutnya bergolak nyaris tidak bisa dikendalikan. Jika bertahan beberapa menit lagi, mungkin dia akan muntah di ruangan itu. Dia tidak mengerti bagaimana tuannya bisa tahan dengan adiknya. Lebih tidak mengerti bagaimana wajah polos itu bisa membuat tuannya tergila-gila.
Cinta memang aneh!
"Steve, kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?" Tiba-tiba sebuah suara lembut menegurnya.
__ADS_1
Steve langsung berkeringat dingin. Wajahnya seketika pucat. Dari dalam cermin, dia melihat pantulan wajah cantik Lisle. Gadis itu terlihat khawatir.
Tuhan, apa lagi ini? Steve mengeluh. Seharusnya dia senang sekarang ada seseorang yang mencemaskannya, memperhatikannya. Dulu dia kesepian dan berharap sebuah keajaiban apapun membawa seseorang padanya. Kini dia menyesali harapan itu.
Tapi sejak kapan Lisle menyusulnya? Dia baru saja pergi. Kenapa gadis ini sudah berada di sini?
Lisle menyentuh kening Steve. Refleks lelaki itu menepiskan lengan itu seakan Lisle membawa suatu penyakit menjijikkan dan dia takut akan ikut tertular. Tapi kemudian dia menyesalinya. Tatapan tidak percaya Lisle akan sikap Steve yang seperti menolak perhatiannya membuat sakit kepala Steve bertambah.
"Steve, apa… apa kau tak suka menjadi saudaraku?" ujar Lisle terbata-bata. Dia melihat pada tangannya yang tadi disentakkan Steve dengan tiba-tiba. Lalu menyadari sesuatu dan merasa terkejut dengan pemikiran barunya.
Apa Steve tidak menyukainya? Apa Steve tidak senang dengan kenyataan bahwa mereka bersaudara? Sepertinya memang begitu. Sejak awal hasil tes itu diberitahukan pada mereka, saat itu Lisle tidak menemukan sedikitpun senyum di wajah Steve. Lelaki ini tampak tidak bahagia sejak hari itu.
"Lisle, bukan begitu. Aku…."
Steve terlambat. Airmata sudah menggenang di mata Lisle.
"Tentu saja. Kau kecewa saat tahu kalau kita bersaudara, bukan? Siapa yang kau harapkan menjadi adikmu? Seorang nona muda dari keluarga kaya? Seorang putri yang tinggal di istana? Kalau kau merasa jijik padaku, kau bisa mengatakannya langsung. Aku tidak apa-apa. Aku tidak akan dekat-dekat denganmu lagi dan tidak akan mengatakan pada semua orang kalau kita bersaudara." Lisle menceracau sambil berlinangan airmata. Ini kedua kalinya dia merasakan sakit hati. Yang pertama adalah saat Celine tidak mengenali dia sebagai sahabat.
Mulut Steve terbuka hendak mengatakan sesuatu tapi tak ada satu katapun yang keluar dari sana. Ada banyak kalimat panjang yang hendak dia ucapkan. Tapi mendengar kata-kata Lisle, dia menelan semua kalimat itu. Steve merasa hanya akan sia-sia membantahnya.
Saat itulah sebuah suara dingin menyela, membuat seluruh tubuh Steve menggigil.
"Kau boleh saja saudara laki-lakinya. Tapi jika kau sampai membuatnya menangis, aku tak akan mengampunimu." Kennard menatap muram pada kedua orang yang berdiri di depan wastafel.
__ADS_1
Suhu di ruangan sempit itu mendadak turun.