Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 78. Kesepakatan


__ADS_3

Lisle merasakan kegelapan yang nyaman hingga beberapa saat.


Matanya mengerjap-ngerjap saat mulai sadar. Sebuah bayangan gelap menghalangi pandangannya pada langit-langit ruangan. Kennard. Lisle memalingkan wajahnya menghindari tatapan lelaki itu. Pingsan tidak lantas menghilangkan kekesalannya.


"Kau sudah sadar?" tegur Kennard lembut. Ada perasaan bersalah waktu melihat gadis itu jatuh pingsan.


Lisle tidak menyahut. Dia malah kembali memejamkan mata. Bermaksud tak menanggapi belas kasihan yang melintas di mata lelaki itu. Kemana perasaan itu saat menyuruhnya berlari mengelilingi lintasan di bawah panas matahari? 


"Minumlah dulu." Kennard menyodorkan sebotol air dingin. Dia sengaja menyentuhkannya sedikit ke pipi istrinya yang merajuk. Lelaki itu tahu, Lisle kesal padanya.


Sebenarnya Lisle sangat haus. Saat dia mencoba menelan ludah, tenggorokannya bahkan terasa sakit. Dan bayangan air yang dingin melintasi kerongkongannya sungguh-sungguh menggoda. 


"Bangunlah. Aku tahu kau sedang kesal. Tapi ini untuk kebaikanmu juga. Lagipula, bukankah kau yang meminta? Apa yang sudah dimulai harus kau selesaikan." Kennard kini malah meletakkan botol dingin itu ke leher istrinya hingga gadis itu menggeliat antara geli dan dingin.


Lisle akhirnya mencoba bangun. Tapi sekujur tubuhnya terasa sakit. Terutama betisnya. Hampir tidak bisa digerakkan.


Kennard membantu istrinya bangun dan meletakkan tumpukan bantal di punggungnya. Dibukanya penutup botol yang masih tersegel dan memberikan pada istrinya.


Meski tampak enggan, Lisle menyambut juga botol yang diulurkan suaminya. Dia meminumnya dengan rakus hingga tersedak. Rasanya seperti baru berjalan seharian di gurun yang lering.


"Kau bisa minum sepuasnya. Tapi pelan-pelan." Kennard menegur sikap ceroboh istrinya.


"Haus sekali." Lisle bergumam sambil memberikan kembali botol yang telah kosong, membuat Kennard menggelengkan kepalanya.


"Kau sangat keras kepala kalau sedang marah. Seharusnya kau juga cukup keras kepala untuk meneruskan latihannya. Jadi, apa istriku yang bodoh ini akan menyerah saat baru mulai," ujar Kennard sambil meluruskan punggungnya pada sandaran ranjang. 


"Siapa bilang aku menyerah? Tapi kau langsung menyuruhku berlatih padahal kita baru sampai. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat sebentar. Lagipula cuacanya sangat panas…." Lisle menekuk bibirnya. "Aku perlu menyesuaikan diri."


"Cuacanya akan selalu panas. Itu tidak bisa dijadikan alasan. Jangan mengeluhkan hal yang sama. Kalau ingin istirahat, kau boleh beristirahat sepuasnya sampai besok pagi. Setelah itu kau harus bekerja keras. Waktu kita tidak lama di sini." Kennard menahan diri untuk tidak luluh demi mendengar rengekan istrinya. Dia hanya akan memberi sedikit kelonggaran. 

__ADS_1


Lisle terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Baik. Aku tidak akan mengeluh lagi setelah ini. Tapi kau juga tidak boleh mengganggu waktu istirahatku malam ini." Dia menekankan pada kata 'mengganggu'.


Bisa saja lelaki itu tampak bermurah hati memberinya waktu istirahat tapi membuatnya terjaga sepanjang malam. Berdasarkan pengalamannya selama ini, Kennard sangat licik dalam bernegosiasi.


Mata Kennard menyipit. Sesaat kemudian senyum jahatnya terlihat. "Setuju."


*** 


Celine terjaga oleh bunyi ponselnya. Dia sempat melirik angka di bagian bilah notifikasi. Masih terlalu pagi. Langit di luar bahkan belum terang.


Layar menampilkan nama penelepon. Adiknya Reynard. Jantung gadis itu tiba-tiba berdebar keras. Tidak biasanya sang adik yang masih duduk di SMU itu menghubunginya sepagi ini. Pasti ada yang tidak beres. Apa kesehatan ibunya kembali memburuk?


"Rey? Ada apa?" Celine tidak bisa menyembunyikan rasa panik dalam suaranya.


"Celine. Bisakah kau pulang pagi ini? Ibu mendapat serangan lagi. Sekarang kami sedang di rumah sakit." Pemuda itu bicara dengan suara bergetar. Jelas sekali dia berusaha tidak menangis.


"Ya Tuhan, Rey. Tentu. Tentu saja aku akan pulang secepatnya. Sekarang juga aku akan bersiap-siap. Tapi bagaimana keadaan ibu?" Tangan Celine yang memegang ponsel sudah gemetar. Ibunya sudah pernah mendapat serangan stroke yang pertama. Bila mendapat serangan berikutnya akan berakibat fatal.


"Rey. Tenanglah. Ibu akan baik-baik saja. Aku akan segera ke sana secepatnya." Celine berusaha menenangkan kemudian memutus sambungan.


Dengan bergegas Celine mandi dan berpakaian. Dia bahkan berniat sarapan di perjalanan saja.


Celine tiba di rumah sakit menjelang makan siang. Adiknya Rey menyambutnya dengan wajah kusut. Sementara paman dan bibinya yang selama ini membantu merawat ibunya juga berada di ruangan itu.


Sejak ibunya terkena serangan beberapa bulan yang lalu, Celine rasanya enggan untuk meninggalkan mereka. Tapi bibi meyakinkannya untuk menyelesaikan kuliahnya. Saudara perempuan ibunya itu memang tinggal berdekatan dengan mereka. Jadi akhirnya meski berat, Celine menguatkan hatinya untuk terus kuliah.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Celine pada Rey. Dia memegang lengan ibunya yang sedang terbaring diam di ranjang. Lengan itu terkulai lemas.


"Dokter bilang harus segera dilakukan operasi. Ada masalah dengan pembuluh darah di kepalanya. Dan operasinya tidak bisa dilakukan di sini." Rey memberitahu.

__ADS_1


Hati Celine tergetar. Operasi? Tidak bisa dilakukan di rumah sakit ini? Lalu dimana? Berapa biaya yang harus dia keluarkan untuk semua itu?


"Rumah sakit mana?"


"Health Paradise. Di Black Mountain." Rey mengatakannya dengan berat hati. Dia tahu kesulitan yang sedang mereka hadapi. Sudah lama mereka tidak membayarkan asuransi mereka. Sejak ayah mereka meninggal setahun yang lalu, ibu mereka bekerja sebagai pengasuh anak di sebuah keluarga kaya. Gajinya tak seberapa. Meskipun ditambah dengan uang kiriman Celine, masih belum mencukupi pengeluaran mereka.  


Kini semua biaya rumah sakit harus mereka tanggung sendiri. Rey bisa melihat kepanikan di mata saudarinya.


Celine berusaha menarik napasnya sepelan mungkin. Rasanya dia kesusahan menjaga paru-parunya agar tetap terisi oksigen.


"Kalau begitu kita harus membawanya segera." Celine meyakinkan adiknya bahwa mereka akan membuat ibunya dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya. 


"Bagaimana dengan biayanya?" tanya Rey hati-hati.


"Aku akan menemukan cara untuk mendapatkannya." Walau sebenarnya dia belum menemukan bayangan sebagai solusi dari masalah mereka, tapi Celine tidak ingin adiknya ikut cemas. Dia akan mendapatkan jalan keluarnya.


"Celine." Sang paman yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba memanggil. "Ada yang ingin kami bicarakan denganmu."


Lelaki itu yang sering dipanggil tuan Sam di kota kecil mereka, memberi isyarat pada Celine untuk keluar ruangan.


Celine bangkit dari duduknya, berjalan mengikuti pamannya. Sementara bibinya juga ikut mengiringkan. 


Di luar, pada selasar yang lengang, ketiganya berhenti.


"Paman, ada apa?" Celine merasa akan mendengar sesuatu yang buruk.


Pamannya menatap sejenak keponakannya. Dia menghela napas berat sebelum bicara. "Ini mungkin bisa jadi pemecahan bagi masalah kalian. Tapi kupikir kau akan keberatan."


"Katakan saja. Aku ingin tahu bagaimana ini bisa jadi solusi bagi masalah kami." Celine mencoba menduga-duga.

__ADS_1


"Tuan Eaton tadi kembali mengajukan penawaran untuk rumah kalian. Tapi kali ini harganya lebih rendah dari sebelumnya. Sepertinya dia mencoba memanfaatkan keadaan." Tuan Sam seperti mengeluh sendiri.


__ADS_2