Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 56. Pencarian Celine


__ADS_3

Lisle langsung tak sadarkan diri saat sebuah tangan membekapnya dengan obat bius. Lalu tubuh gadis itu diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil. Selanjutnya dalam udara malam yang makin membekukan tulang, mobil itu dipacu ke suatu tempat di bagian lain kota.


***


Celine merasa cemas di kamarnya. Sudah lewat tengah malam, tapi Lisle belum kembali. Dia sendiri sudah tiba sejak satu jam yang lalu dan telah hampir tak bisa menahan kantuk ketika menyadari bahwa malam sudah terlalu larut. Kemana gadis itu? Apa yang sudah terjadi padanya?


Ponsel Lisle aktif tapi tak diangkat saat dihubungi. Celine bolak-balik menekan nomor yang sama, tapi sama saja, tak ada jawaban. Saat malam hampir mencapai pukul dua dini hari, Celine menggigil oleh rasa cemas yang tak bisa ditahannya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya gadis itu hanya bisa menunggu hingga pagi tiba dan mencoba menghubungi beberapa teman Lisle yang lain.


Hanya saja Lisle tak punya teman lain yang cukup dekat. Celine mendatangi Cloud Cafe pagi sekali bahkan saat tempat itu belum dibuka. Daisy yang tiba hampir satu jam kemudian mengenali Celine sebagai teman satu apartemen Lisle.


“Lisle tidak pernah datang ke sini lagi sejak dua bulan yang lalu. Aku sangat menyesali keputusannya untuk berhenti bekerja lagi di Cloud Cafe. Dia pernah menjadi temanku  satu-satunya saat kafe ini sedang sepi. Tapi aku tidak pernah melihatnya lagi setelah hari itu....” Daisy memberitahu. Dia merasa bersalah karena telah membiarkan Lisle pergi.


“Apa kau punya dugaan lain? Maksudku, apa menurutmu dia punya tempat lain untuk pergi dan bermalam?” Celine tahu bahwa itu mustahil. Lisle tak punya siapa-siapa lagi. Dia bahkan tak punya teman dekat selain Celine.


“Bukankah dia punya kerabat yang baru ditemuinya?” Daisy tiba-tiba teringat. Lisle berkata telah tinggal bersama kerabat itu. Tapi kenapa Celine berkata bahwa Lisle sekarang tinggal di apartemen mereka yang lama?


Celine menggeleng. Tak ada kerabat lain. Semua itu bohong, tapi dia enggan mengatakannya.


“Aku sudah mengeceknya. Dia tidak ada di sana,” ujar Celine berdusta. Ide tentang kerabat itu membuat Celine teringat pada tuan Kent. Seandainya dia bisa menghubungi orang itu? Seandainya tuan Kent tahu, apakah dia peduli?  Seperti kata Lisle, mungkin saja tuan Kent sudah melupakan gadis itu.


Celine bisa melihat pandangan sedih Lisle  saat melihat tuan Kent yang berjalan bersisian dengan seorang gadis cantik. Celine sempat mengira kalau Lisle akan menangis karenanya.


Lalu sebuah pikiran paling buruk tentang Lisle melintas dibenak Celine. Tidak! Gadis itu menggeleng sendiri. Tidak mungkin Lisle menjadi sependek itu pikirannya.


Celine bergegas pamit pada Daisy dan memutuskan pergi ke kampus. Meski merasa mustahil menemukan gadis itu di sana, Celine hanya ingin memastikan sebelum dia menjadi nekat mendatangi tuan Kent untuk meminta bantuan lelaki itu.


Hari ini Celine sengaja bolos kuliah. Dia juga sudah ijin tidak masuk bekerja. Hilangnya Lisle tidak akan membuat Celine tenang melakukan apa pun. Namun dia mendatangi kampus juga, mencek kehadiran Lisle pada teman sekelasnya dan mendapatkan kenyataan bahwa gadis itu memang tidak masuk kuliah.


Celine mencari Ralph di semua bagian kampus yang masih menyisakan perayaan kemaren. Dia akhirnya menemukan lelaki itu sendirian saat menuju ruang dosen. Namun jawaban Ralph membuat Celine kecewa. Dia tidak mengira akan mendengarnya dari mulut lelaki itu.


“Aku pernah menjadi begitu peduli padanya tapi semua sia-sia. Lagipula bukankah sudah ada tuan Kent yang mengurusnya. Dia lebih memiliki kemampuan dariku.” Dan laki-laki itu meninggalkan Celine yang masih tidak percaya mendengar Ralph mengatakan itu.


Celine hendak berkata sesuatu tentang hubungan antara Lisle dan tuan Kent, tapi dia mengurungkannya. Laki-laki itu sudah tidak peduli. Jadi Celine hanya bisa menjatuhkan harapannya pada orang terakhir yang tidak ingin ditemuinya. Lisle pasti akan berkata padanya bahwa ini mungkin akan sia-sia. Namun siapa tahu, siapa tahu keberuntungan masih berpihak pada gadis itu.


***

__ADS_1


Bagian barat kota Black Mountain.


Di salah satu bagian terpadat kota tempat bercampurnya berbagai bangunan besar kecil yang belum tertata rapi, sebuah gudang tua tampak berdiri suram. Bangunan itu terdiri dari dua lantai yang bagian atasnya dijadikan sebagai tempat tinggal, sementara bagian bawahnya dulu adalah tempat menyimpan berbagai onderdil mobil yang sudah tidak terpakai. Pemilik bangunan dulunya juga adalah pemilik bengkel besar di sebelahnya. Saat bengkel itu tutup, gudang itu juga ikut terbengkalai. Terakhir, kepemilikan bangunan telah berpindah tangan pada seorang pengusaha yang hanya menginginkan tanah tempat bangunan itu berdiri.


Lisle membuka matanya. Kepalanya terasa pening. Saat pandangannya terarah pada bagian ruangan asing di sekitarnya, dia mencoba bangun. Namun tangan dan kakinya terikat erat. Dia mengeluarkan pekikan tertahan. Teringat olehnya kejadian terakhir sebelum kesadarannya menghilang.


Dua lelaki yang tak sempat dilihat Lisle wajahnya menyergapnya dari belakang. Sebuah tangan membekap hidungnya dengan kain beraroma asing yang membuat Lisle tidak bisa menyadari kejadian berikutnya. Hingga sekarang dia terjaga entah dimana.


Lisle terbaring di sebuah ranjang kecil dengan kasur yang sudah mengeras termakan usia. Gadis itu mencoba bangun dan melihat sekeliling. Itu adalah kamar yang sempit dengan satu ranjang, meja dan kursi. Kamar itu mirip kamar tahanan. Tak ada jendela, jadi Lisle tidak bisa menentukan apakah sekarang masih gelap ataukah sudah siang. Saat dia menajamkan pendengaran, ada suara orang-orang yang sedang bercakap-cakap di luar kamar.


Dengan beringsut perlahan dia mencoba menggeser posisinya ke bagian kepala ranjang, menempelkan telinga pada tembok, mencoba mengikuti pembicaraan yang terjadi di luar sana.


Siapa yang telah begitu bodohnya menculik dia, seorang gadis yatim piatu lagi miskin. Lisle bahkan tidak punya kerabat yang bisa dimintai tebusan. Apa untungnya mereka melakukan kejahatan ini? Lisle menjadi bertanya-tanya sendiri.


“Kurasa, Tuan, kita harus meluruskan ini sekali lagi. Kau bilang, dia adalah gadis milik tuan Kent dan kau meminta kami menculiknya karena menganggap gadis itu sebagai penyebab kehancuran usahamu. Jadi, kau menginginkan gadis itu atau uang dari tuan Kent? Jika yang kau katakan benar bahwa gadis itu milik tuan Kent, kita sedang membicarakan sejumlah uang yang sangat besar. Tentu saja, resikonya akan sebanding. Tapi aku tak pernah menemukan mangsa sebeharga ini. Jadi kurasa aku akan mengambil resikonya.” Sebuah suara berat dan buruk terdengar dari balik tembok.


“Aku menginginkan gadis itu. Aku juga menginginkan uangnya. Begitu uang didapat, kita tinggalkan gadis itu, tapi sebelumnya, tentu saja dia harus menjadi milikku. Mungkin dia sekarang tidak semurni dulu saat pertama kali aku melihatnya, tapi setidaknya aku tidak lagi penasaran dan mengira-ngira seperti apa rasanya,” ujar sebuah suara lain.


Lisle langsung tak sadarkan diri saat sebuah tangan membekapnya dengan obat bius. Lalu tubuh gadis itu diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil. Selanjutnya dalam udara malam yang makin membekukan tulang, mobil itu dipacu ke suatu tempat di bagian lain kota.


***


Celine merasa cemas di kamarnya. Sudah lewat tengah malam, tapi Lisle belum kembali. Dia sendiri sudah tiba sejak satu jam yang lalu dan telah hampir tak bisa menahan kantuk ketika menyadari bahwa malam sudah terlalu larut. Kemana gadis itu? Apa yang sudah terjadi padanya?


Ponsel Lisle aktif tapi tak diangkat saat dihubungi. Celine bolak-balik menekan nomor yang sama, tapi sama saja, tak ada jawaban. Saat malam hampir mencapai pukul dua dini hari, Celine menggigil oleh rasa cemas yang tak bisa ditahannya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya gadis itu hanya bisa menunggu hingga pagi tiba dan mencoba menghubungi beberapa teman Lisle yang lain.


Hanya saja Lisle tak punya teman lain yang cukup dekat. Celine mendatangi Cloud Cafe pagi sekali bahkan saat tempat itu belum dibuka. Daisy yang tiba hampir satu jam kemudian mengenali Celine sebagai teman satu apartemen Lisle.


“Lisle tidak pernah datang ke sini lagi sejak dua bulan yang lalu. Aku sangat menyesali keputusannya untuk berhenti bekerja lagi di Cloud Cafe. Dia pernah menjadi temanku  satu-satunya saat kafe ini sedang sepi. Tapi aku tidak pernah melihatnya lagi setelah hari itu....” Daisy memberitahu. Dia merasa bersalah karena telah membiarkan Lisle pergi.


“Apa kau punya dugaan lain? Maksudku, apa menurutmu dia punya tempat lain untuk pergi dan bermalam?” Celine tahu bahwa itu mustahil. Lisle tak punya siapa-siapa lagi. Dia bahkan tak punya teman dekat selain Celine.


“Bukankah dia punya kerabat yang baru ditemuinya?” Daisy tiba-tiba teringat. Lisle berkata telah tinggal bersama kerabat itu. Tapi kenapa Celine berkata bahwa Lisle sekarang tinggal di apartemen mereka yang lama?


Celine menggeleng. Tak ada kerabat lain. Semua itu bohong, tapi dia enggan mengatakannya.

__ADS_1


“Aku sudah mengeceknya. Dia tidak ada di sana,” ujar Celine berdusta. Ide tentang kerabat itu membuat Celine teringat pada tuan Kent. Seandainya dia bisa menghubungi orang itu? Seandainya tuan Kent tahu, apakah dia peduli?  Seperti kata Lisle, mungkin saja tuan Kent sudah melupakan gadis itu.


Celine bisa melihat pandangan sedih Lisle  saat melihat tuan Kent yang berjalan bersisian dengan seorang gadis cantik. Celine sempat mengira kalau Lisle akan menangis karenanya.


Lalu sebuah pikiran paling buruk tentang Lisle melintas dibenak Celine. Tidak! Gadis itu menggeleng sendiri. Tidak mungkin Lisle menjadi sependek itu pikirannya.


Celine bergegas pamit pada Daisy dan memutuskan pergi ke kampus. Meski merasa mustahil menemukan gadis itu di sana, Celine hanya ingin memastikan sebelum dia menjadi nekat mendatangi tuan Kent untuk meminta bantuan lelaki itu.


Hari ini Celine sengaja bolos kuliah. Dia juga sudah ijin tidak masuk bekerja. Hilangnya Lisle tidak akan membuat Celine tenang melakukan apa pun. Namun dia mendatangi kampus juga, mencek kehadiran Lisle pada teman sekelasnya dan mendapatkan kenyataan bahwa gadis itu memang tidak masuk kuliah.


Celine mencari Ralph di semua bagian kampus yang masih menyisakan perayaan kemaren. Dia akhirnya menemukan lelaki itu sendirian saat menuju ruang dosen. Namun jawaban Ralph membuat Celine kecewa. Dia tidak mengira akan mendengarnya dari mulut lelaki itu.


“Aku pernah menjadi begitu peduli padanya tapi semua sia-sia. Lagipula bukankah sudah ada tuan Kent yang mengurusnya. Dia lebih memiliki kemampuan dariku.” Dan laki-laki itu meninggalkan Celine yang masih tidak percaya mendengar Ralph mengatakan itu.


Celine hendak berkata sesuatu tentang hubungan antara Lisle dan tuan Kent, tapi dia mengurungkannya. Laki-laki itu sudah tidak peduli. Jadi Celine hanya bisa menjatuhkan harapannya pada orang terakhir yang tidak ingin ditemuinya. Lisle pasti akan berkata padanya bahwa ini mungkin akan sia-sia. Namun siapa tahu, siapa tahu keberuntungan masih berpihak pada gadis itu.


***


Bagian barat kota Black Mountain.


Di salah satu bagian terpadat kota tempat bercampurnya berbagai bangunan besar kecil yang belum tertata rapi, sebuah gudang tua tampak berdiri suram. Bangunan itu terdiri dari dua lantai yang bagian atasnya dijadikan sebagai tempat tinggal, sementara bagian bawahnya dulu adalah tempat menyimpan berbagai onderdil mobil yang sudah tidak terpakai. Pemilik bangunan dulunya juga adalah pemilik bengkel besar di sebelahnya. Saat bengkel itu tutup, gudang itu juga ikut terbengkalai. Terakhir, kepemilikan bangunan telah berpindah tangan pada seorang pengusaha yang hanya menginginkan tanah tempat bangunan itu berdiri.


Lisle membuka matanya. Kepalanya terasa pening. Saat pandangannya terarah pada bagian ruangan asing di sekitarnya, dia mencoba bangun. Namun tangan dan kakinya terikat erat. Dia mengeluarkan pekikan tertahan. Teringat olehnya kejadian terakhir sebelum kesadarannya menghilang.


Dua lelaki yang tak sempat dilihat Lisle wajahnya menyergapnya dari belakang. Sebuah tangan membekap hidungnya dengan kain beraroma asing yang membuat Lisle tidak bisa menyadari kejadian berikutnya. Hingga sekarang dia terjaga entah dimana.


Lisle terbaring di sebuah ranjang kecil dengan kasur yang sudah mengeras termakan usia. Gadis itu mencoba bangun dan melihat sekeliling. Itu adalah kamar yang sempit dengan satu ranjang, meja dan kursi. Kamar itu mirip kamar tahanan. Tak ada jendela, jadi Lisle tidak bisa menentukan apakah sekarang masih gelap ataukah sudah siang. Saat dia menajamkan pendengaran, ada suara orang-orang yang sedang bercakap-cakap di luar kamar.


Dengan beringsut perlahan dia mencoba menggeser posisinya ke bagian kepala ranjang, menempelkan telinga pada tembok, mencoba mengikuti pembicaraan yang terjadi di luar sana.


Siapa yang telah begitu bodohnya menculik dia, seorang gadis yatim piatu lagi miskin. Lisle bahkan tidak punya kerabat yang bisa dimintai tebusan. Apa untungnya mereka melakukan kejahatan ini? Lisle menjadi bertanya-tanya sendiri.


“Kurasa, Tuan, kita harus meluruskan ini sekali lagi. Kau bilang, dia adalah gadis milik tuan Kent dan kau meminta kami menculiknya karena menganggap gadis itu sebagai penyebab kehancuran usahamu. Jadi, kau menginginkan gadis itu atau uang dari tuan Kent? Jika yang kau katakan benar bahwa gadis itu milik tuan Kent, kita sedang membicarakan sejumlah uang yang sangat besar. Tentu saja, resikonya akan sebanding. Tapi aku tak pernah menemukan mangsa sebeharga ini. Jadi kurasa aku akan mengambil resikonya.” Sebuah suara berat dan buruk terdengar dari balik tembok.


“Aku menginginkan gadis itu. Aku juga menginginkan uangnya. Begitu uang didapat, kita tinggalkan gadis itu, tapi sebelumnya, tentu saja dia harus menjadi milikku. Mungkin dia sekarang tidak semurni dulu saat pertama kali aku melihatnya, tapi setidaknya aku tidak lagi penasaran dan mengira-ngira seperti apa rasanya,” ujar sebuah suara lain.

__ADS_1


__ADS_2