Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 70. Suami Penggoda


__ADS_3

Besoknya saat Celine membuka ponselnya, ada 734 chat grup. Rupanya mereka tidak merasa lelah membicarakan rumor itu sepanjang malam. Hebatnya dari beberapa obrolan panjang yang hanya di baca Celine di bagian akhir, mereka tampaknya sudah menemukan sebuah nama.


Oh, rasanya Celine sudah tidak sabar lagi menjambak rambut si pembuat berita tidak benar itu. Siapa lagi yang terang-terangan membenci dan mengancam Lisle. Shopia terlalu berani.


Semula Celine berniat menelepon Lisle lagi pagi ini, tetapi karena merasa sedikit trauma dengan panggilan yang diterima oleh tuan Kent tadi malam, dia mengurungkannya. Ini belum seminggu sejak pernikahan temannya itu. Mungkin Lisle belum akan masuk kuliah selama beberapa hari lagi.


Celine sudah tiba di kampus pagi-pagi sekali. Dia mendapati orang-orang yang bergosip di semua tempat yang bisa didatanginya di kampus. Nyaris seluruhnya membicarakan hal yang sama. Lalu suatu saat dia bermaksud menghindari hal-hal yang membuatnya muak. Celine pikir bagian belakang kampus akan selengang biasanya. Setibanya di sana dia menatap ngeri pada sosok mungil yang turun dari sebuah mobil mewah di luar gerbang belakang. Anehnya, tempat di bagian itu lebih ramai dari biasanya.


***


Beberapa waktu sebelumnya. Kediaman Kennard Kent. Palm Garden.


"Kau yakin pergi ke kampus hari ini?" Kennard mengamati istrinya yang tengah memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya. Itu adalah tas lama Lisle yang membuat lelaki itu jadi berpikir banyak hal.


Mereka belum bepergian kemana pun sejak menikah. Bahkan mereka juga tidak pergi bersama sekedar makan di luar. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa diserahkannya pada Steve. Kennard berencana mengajak Lisle pergi berbulan madu di akhir pekan saat semua pekerjaannya sudah beres.


Belum lagi rencana bulan madu terlaksana, di hari kelima setelah menikah, Lisle sudah hendak masuk kuliah. Gadis itu mengeluh rindu dengan Celine dan juga kampus mereka. Kennard hendak melarang tapi juga tidak bisa menyalahkan jika Lisle merasa bosan di rumah.


"Aku takut ketinggalan banyak materi kuliah. Belum lagi tugas yang menumpuk." Lisle teringat pemberitahuan Kennard tentang panggilan telepon Celine di tengah malam. Dia penasaran untuk menelepon balik tapi merasa lebih baik jika bertemu dan menanyakannya langsung pada Celine.


Kennard bergerak memutari posisi istrinya dan memeluknya dari belakang. "Maaf, jika beberapa hari ini aku terlalu sibuk. Aku tahu kau bosan di rumah."

__ADS_1


"Bukan begitu. Aku saja yang tidak mau mencari kesibukan. Kau tidak pernah melarangku pergi keluar. Tapi akan banyak kuliah yang kulewatkan jika terlalu lama libur." Lisle menyentuh lengan yang melingkari pinggangnya. Tangan yang begitu kuat yang membuatnya kerap merinding jika sudah mulai berjelajah.


"Tapi kita berencana bulan madu akhir pekan ini." Dan itu hanya tinggal dua hari. Kennard mencoba menghalangi niat istrinya. Alangkah lebih baik jika Lisle beristirahat yang banyak sebelum bepergian. "Kau perlu beristirahat sebelum melakukan perjalanan yang melelahkan."


Bibir Lisle mengerucut. Mungkin bukan perjalanannya yang melelahkan. Aktifitas di kamar mereka justru lebih banyak menguras tenaganya dibanding kegiatan apapun.


Kennard mengamati wajah istrinya lewat cermin di depan mereka dan merasa ingin tertawa melihat ekspresi cemberut itu. Teringat olehnya rengekan pilu istrinya tadi malam.


Dia menunduk untuk mencium pipi istrinya dan merasa tiba-tiba menjadi bergairah.


Lisle yang semula diam tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan itu. Wajahnya memerah. Dia pun masih mengingat kejadian semalam. Bagaimana bisa lelaki ini meminta berbagai posisi memalukan dan mengulanginya beberapa kali. Sungguh binatang buas dengan wujud paling tampan.


Kennard tak menahan istrinya lagi lebih lama. Dia membiarkan Lisle melarikan diri dengan cara yang menurutnya sangat lucu, tiba-tiba beranjak ke kamar mandi dan berkata, "Aku mandi dulu."


Di meja makan, Kennard mulai membuat instruksi-instruksi yang menambah kekesalan Lisle.


"Jangan menyuruh William berhenti di halte. Aku tidak mau kau naik bis dan berdesakan dengan banyak orang." Kennard mulai dengan sebuah larangan. Dia tahu Lisle enggan pergi ke kampus dengan diantar William.


Lisle tak mengatakan apa pun. Dia malas membantah. Antara tak ingin berdebat karena pasti selalu kalah, juga tak ingin Kennard punya alasan baru untuk melarangnya pergi.


"Pergilah berbelanja dengan Celine. Belilah sesuatu. Tapi tetap harus diantar William. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Kennard ingin menambahkan bahwa Lisle bak magnet yang akan menarik banyak masalah, tetapi melihat tampang masam di seberangnya dia menahan kalimat itu di belakang lidahnya.

__ADS_1


Tak ada tanggapan apa pun dari istrinya. Gadis itu masih tampak fokus dengan sarapan di depannya.


Kennard menarik napas. Tidak pernah sebelumnya dia merasa harus secerewet ini. Tapi dia terpaksa mengingatkan istrinya beberapa hal agar kejadian lalu tidak akan berulang. 


Meskipun tahu kekesalan istrinya, lelaki itu masih menambahkan juga dengan acuh. "Dan satu hal lagi. Jangan coba-coba menggoda lelaki lain."


Kali ini Lisle mengangkat wajah kecilnya. Matanya membulat mendengar kalimat barusan. "Aku tidak pernah menggoda siapa pun," ujarnya dengan kekesalan yang memuncak.


Ada senyum di sudut bibir lelaki itu begitu mendengar bantahan istrinya. "Tapi kau dulu pernah menggodaku. Kau juga menggoda si brengsek muda Caldwell. Jangan lupa dengan dua karyawan di perusahaanku." Kennard mencondongkan wajah sambil menyipitkan matanya dengan serius saat mengatakan itu.


Lisle terperangah mendengarnya. Sejak kapan dia menggoda lelaki ini? Dia bahkan beberapa kali mencoba menjauhkan diri darinya. Kennardlah yang sudah menahan Lisle di sisinya dengan sebuah kesepakatan konyol. Mengenai yang lainnya, Lisle merasa tidak pernah melakukan apapun yang bisa disebut sebagai sebuah upaya menarik perhatian mereka.


"Sejak kapan aku menggodamu?" Lisle merasa harga dirinya terusik. Biar seribu gadis berebut perhatian lelaki ini, dulu dia tidak peduli. Dia bahkan tidak mengenal seorang lelaki yang dipanggil penduduk kota Black Mountain sebagai tuan Kent.


"Sejak kau memohon padaku minta diselamatkan dari lelaki tua mesum itu. Melihat tampangmu, aku pikir kau memintaku untuk menciummu saat itu." Nada suara Kennard yang rendah terdengar sedikit serak. "Jadi aku menciummu…. Kau ingat?"


Muka Lisle memerah. Tentu saja dia tidak melupakan pertemuan pertama mereka. Malam itu juga, Kennard menciumnya pertama kali.


"Aku…." Lisle menelan ludah. Dia baru sadar suaminya bermaksud menggodanya.


Gadis itu membuang pandang dari senyum jahil di depannya. Dia meletakkan sendok garpunya dan mengambil gelas lalu meminum air di dalamnya.

__ADS_1


"Aku pergi duluan." Lisle bangkit dari kursinya dan berlalu dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.


__ADS_2