
"Bert?!" Ada semacam trauma yang melanda perasaan Lisle. Bert ikut andil atas beberapa kekacauan dalam hidupnya. Dan apa katanya tadi? "Ba… bagaimana kau bisa tahu kalau aku sudah menikah?"
Hanya segelintir orang yang mengetahui hubungan Lisle dan tuan Kent. Bagaimana Bert yang telah lama menghilang tiba-tiba kembali dengan pengetahuan itu?
Bert terkekeh. Suara tawanya menciptakan perasaan ngilu bagi Lisle.
"Seseorang memberitahuku kabar bahagia itu. Aku turut bangga. Adik kecilku ternyata punya kemampuan yang luar biasa. Menikahi tuan Kent bukankah telah menjadi impian para gadis?" Suara Bert terdengar santai seakan dia mendapatkan informasi itu lewat seorang teman yang tidak sengaja ditemuinya.
Lisle menggeleng antara bingung dan tidak percaya. Jawaban Bert begitu ambigu. Seorang teman? Teman seperti apa? Pasti bukanlah orang sembarangan hingga bisa mendapatkan berita itu lebih dulu. Teman-teman, pelayan dan orang-orang tuan Kent telah diperingatkan untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.
Baiklah! Bert sudah tahu tentang pernikahannya. Lalu sekarang apa? Apa yang diinginkan pemuda itu kali ini dengan menghubunginya.
"Kau… kalian kemana saja selama ini? Kalian sudah menipuku." Lisle teringat kelicikan dua anak beranak itu.
Terdengar tawa kecil lagi di seberang sambungan.
"Kenapa kau tidak menanyakannya pada suamimu? Dia yang mengirim kami ke tempat sialan itu. Untunglah seseorang menyelamatkan kami. Kalau tidak, kami tidak tahu lagi bagaimana caranya bertahan. Kau tahu, rumah-rumah di sana bahkan tidak memiliki kakus. Orang-orang buang air sembarangan seperti hewan. Kucing saja akan menutupi kotorannya. Tapi mereka membiarkan lalat merubungi kotoran mereka kemudian hinggap pada makanan yang mereka makan. Ibuku sampai tidak bisa makan berhari-hari." Tidak ada nada marah dalam suara Bert. Dia bercerita seperti seseorang yang baru kembali dari berlibur.
"Ah, Lisle. Bagaimana kalau kita bertemu dan bicara langsung. Banyak yang ingin kuceritakan padamu. Ibu juga merindukanmu. Dia sangat menyesal tentang tuan Aaron. Tapi lelaki itu pasti sudah dapat hukumannya sendiri. Saat itu kami bemar-benar terpaksa melakukannya. Kau tahu sendiri, dia ingin merampas rumah dan toko milik kami. Padahal hanya itu yang tertinggal pada kami."
__ADS_1
Lisle tahu Kennard telah mengirim bibi dan sepupunya pada sebuah tempat yang jauh yang bahkan tidak tersebutkan di peta mana pun. Dia mengetahuinya dari Ralph. Tapi tak sekalipun Lisle mengungkit hal itu pada suaminya. Mereka pantas diberi pelajaran. Biarlah nasib menentukan jalan hidup kedua orang itu. Dan rupanya mereka cukup beruntung bisa kembali. Lisle merasa sedikit lega. Setidaknya hukuman itu tidak sampai mengambil kehidupan keduanya.
"Maaf, Bert. Aku tidak tertarik mendengar ceritamu. Lagipula tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku turut senang kalian bisa kembali. Hiduplah dengan baik. Sampaikan salamku pada bibi " Lisle tidak ingin bertemu pemuda menjijikkan itu. Dan bibi Annie, dia tidak ingin berkata kasar pada wanita yang pernah memeliharanya itu.
Terdapat keheningan yang aneh di antara keduanya.
Lisle bangkit dari berbaringnya dan berjalan ke arah jendela yang terbuka. Ponsel masih menempel di telinganya. Tapi hanya kesunyian yang terdengar dari ujung sana.
Kemudian….
"Kau masih marah pada kami? Bukankah kami sudah mendapat hukuman atas kesalahan yng kami lakukan? Apa adik kecilku juga seorang pendendam? Bukankah dengan kejadian itu kau telah mendapatkan banyak keuntungan? Pada akhirnya tidak terjadi apa-apa denganmu. Kau malah menikahi pria terkaya di Black Mountain." Bert mencoba membujuk. Ya, tentu saja. Kalau bukan karena mereka yang telah menjebak Lisle, tuan Kent tidak akan turun tangan dan menyelamatkan gadis itu.
Di sebuah apartemen mewah, dalam kamarnya yang berukuran besar, Bert menarik punggungnya ke sandaran sofa. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Dia tak mengira adik sepupunya sekarang menjadi lebih pintar dari sebelumnya. Hanya saja, dia tahu Lisle berhati lembut. Dan itu kelemahan seorang gadis yang akan dimanfaatkannya.
"Kau yakin tidak ingin bertemu kami? Apa kau tidak ingin memperbaiki hubungan kekerabatan yang terputus ini. Kau masih ingat bagaimana wajah ayah dan ibumu? Apa kau ingin tahu sebuah rahasia?" Bert tahu Lisle pasti akan tertarik mendengarnya.
"Apa maksudmu?" Lisle merasa Bert ingin dia menebak-nebak. Rumah orangtua Lisle yang mereka tinggalkan di malam kecelakaan itu telah dirampok dan dibakar habis. Tak ada yang tersisa. Bahkan tidak selembar foto yang bisa menjadi pengingat rupa kedua orangtuanya.
"Aku pernah melihat foto mereka di lemari di rumah…."
__ADS_1
"Tidak mungkin!" Lisle tidak percaya sekaligus meragukan keyakinannya. Bisa saja itu merupakan sebuah foto lama orangtuanya saat sebelum dia dilahirkan. Bagaimanapun, foto itu tetap berharga. "Apa… apa kau ingin memerasku? Kau ingin uang?"
Bert di tempatnya duduk, terbahak. Dia merasa kata-kata Lisle sangat lucu. "Ide yang tidak buruk. Tapi saat ini aku sudah tidak perlu memikirkan hal kecil seperti itu lagi. Itu adalah masa lalu. Aku benar-benar ingin kita berbaikan lagi layaknya keluarga. Kau tahu, ada sebuah rahasia lainnya lagi?" Lelaki muda itu mencondongkan tubuhnya ke depan seakan lawan bicaranya benar-benar sedang berada di hadapannya.
Entah kenapa Lisle merasa gugup sendiri. Apa lagi yang akan dikatakan Bert? Rahasia? Rahasia apa lagi? Tapi gadis itu tak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam menunggu.
"Kau ingat hadiah ulang tahun yang diberikan orangtuamu malam itu? Aku juga melihatnya di tempat yang sama. Mungkin seseorang memungutnya dan memberikannya pada ibuku…."
Airmata Lisle menggenang. Hadiah itu adalah hal terakhir yang diberikan orangtuanya. Dia sudah memikirkannya sejak lama dan berpikir bahwa benda itu mungkin telah terlempar entah kemana atau malah ikut hancur berkeping-keping dalam kecelakaan itu. Tak ada yang akan mempedulikannya. Orang-orang akan mendahulukan keselamatan para korban.
"Kau bohong. Kau tidak tahu apa yang kau katakan. Bagaimana kau bisa tahu tentang hadiah itu…." Suara Lisle nyaris pecah.
"Kotak musik dengan boneka penari. Percayalah, aku melihatnya sendiri. Kau bisa mendapatkannya. Gratis. Tapi kau harus mengambilnya sendiri." Suara Bert mendadak jadi penuh tekanan.
Itu benar. Sesaat sebelum kecelakaan, ibunya yang duduk di depan di sebelah ayahnya mengulurkan sebuah kotak hadiah. Lisle yang malam itu diajak keluar untuk makan malam merayakan ulang tahunnya yang ktidak sabar ingin melihat isi kadonya. Gadis itu terpekik senang begitu melihat kotak musik di dalamnya.
"Aku… aku tidak bisa. Ken tidak akan suka jika melihat aku menemui kalian. Dia akan tahu…." Lisle mengemukakan alasannya. Tak mungkin rasanya pergi tanpa pengawasan dari orang-orang suruhan suaminya. Meminta ijinpun rasanya mustahil.
"Kau bisa menipu mereka. Aku akan mengajarimu." Bert hampir bersorak dengan mangsa yang hampir bergerak memasuki jerat.
__ADS_1