Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 92. Mengendus Jebakan


__ADS_3

Lisle menggenggam ponselnya lebih kencang. Buku-buku jarinya memutih.


Tidak. Ini tidak benar! Bagaimana mungkin dia menyelinap pergi dari pengawasan orang-orang yang menjaganya. Ini pasti jebakan!


"Bagaimana? Asal kau mau, kau bisa pergi," kejar Bert.


"Apa yang kau katakan benar? Kau benar-benar memiliki kedua benda itu?" Lisle mencoba berpikir sambil mengulur waktu. "Aku ingin kau mengirimkan fotonya."


"Bukan masalah. Sebentar…."


Terdengar bunyi gemerisik. Beberapa saat kemudian....


Ting! Sebuah pesan chat masuk. Sebuah foto. Lisle bergegas meng-klik.


Itu memang benar foto orangtuanya. Terlihat lebih muda. Mungkin diambil sebelum dia lahir.


Lalu foto yang lain. Sebuah kotak musik.


Airmata Lisle kini benar-benar jatuh. Jarinya gemetar meraba layar yang memperlihatkan foto itu.


"Bagaimana? Apa cukup meyakinkan?" ujar Bert ketika tidak terdengar suara dari seberangnya.


Lisle menghapus airmatanya sembari mengangguk. Lalu sadar bahwa Bert tidak bisa melihatnya. "Iya," jawabnya.


"Kapan kau ingin bertemu?" tanya Lisle kemudian. Dia tahu itu bodoh. Tapi dia harus mendapatkan foto itu dengan mengambil kesempatan ini. Hal lain akan dia pikirkan nanti.


"Besok."


"Besok? Itu terlalu cepat." Lisle merasa gugup.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku harus memikirkan caranya," ujar Lisle tidak yakin.


"Aku punya rencana. Kau tidak usah memikirkannya." Bert sedikit tidak sabar.


"Katakan." Lisle ingin tahu. Dia bisa mempertimbangkan jika rencananya cukup masuk akal.


"Besok siang pergilah ke sebuah toko pakaian Barnes di Dax Avenue. Melihat-lihatlah sebentar. Lima belas menit kemudian pergilah ke kamar pas untuk mencoba. Kamarnya terlindung beberapa pilar pajangan. Menyelinaplah lewat pintu belakang. Aku akan menunggumu di sana." Bert memberitahu rencananya.


Kepala Lisle menjadi pening seketika. Dia tidak pernah berpikir untuk mengelabui siapapun itu yang mengawasinya. Dia tahu semua demi kebaikannya.


Dan Kennard, lelaki itu pasti akan marah besar bila mengetahui Lisle menutupi ini semua darinya. 


"Bagaimana menurutmu? Itu tidak sulit, kan?" Bert menyeringai sendiri di ujung sana. Dia tahu Lisle sudah termakan rencananya.


"Iya. Itu tidak sulit. Aku bisa melakukannya," sahut Lisle.


Setelah memastikan waktunya, mereka mengakhiri pembicaraan itu. 


Kennard kembali menjelang makan malam dan menemukan istrinya yang tertidur masih dengan pakaian yang dikenakannya tadi siang. Keningnya berkerut. Biasanya jam begini, Lisle sudah rapi dan bersiap untuk makan malam.


Dia menunduk pada tubuh yang terbaring lelap itu, menyentuh dahi Lisle karena mengira gadis itu mungkin sedikit demam. Tapi suhu tubuhnya normal.


Dan sentuhan itu meski sangat lembut membuat Lisle terjaga.


"Kau sudah pulang?" tegurnya sambil kembali memejamkan mata. 


"Apa kau merasa tidak enak badan?" Kennard tidak menanggapi teguran itu. Dia meraih sejumput rambut yang menutupi pipi istrinya dan menyelipkannya kebelakang telinga.


Lisle menggeleng sedikit. "Aku cuma merasa lelah dan mengantuk. Apa sekarang hampir waktunya makan malam?"


"Masih setengah jam lagi. Sebaiknya kau bangun dan mandi." Kennard melepas dasinya, dan berjalan ke kamar mandi. 

__ADS_1


Lisle membuka mata dan mengamati Kennard yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia menghela napas dalam perasaan resah.


Saat makan malam Lisle menjadi lebih pendiam. Dia sempat mempertimbangkan untuk memberitahu Kennard tentang Bert tapi kemudian mengurungkannya. Lalu teringat olehnya pembicaraan dengan Shopia di kampus. Dia melupakannya saat bertemu Kennard di kantor tadi siang. 


"Aku bertemu Shopia di kampus tadi pagi. Dia terlihat berbeda. Maksudku sikapnya menjadi lebih ramah. Seperti yang kau katakan, dia mengetahui hubungan kita walaupun hanya mengira-ngira." Lisle mulai bercerita. "Katanya dia pergi ke penjara kota dan bertemu Sally. Kau ingat gadis itu, kan? Sally mengatakan sesuatu tentang beberapa orang yang katanya sedang berusaha menghancurkanmu." 


Kennard mendengarkan dengan tenang. Dia tampak tidak terkejut dengan cerita itu. Sejak dulu selalu saja ada orang-orang yang ingin menghancurkannya. Itu sama sekali bukan hal yang mengejutkan baginya.


"Apa kau tidak ingin menyelidikinya?" tanya Lisle. Yang dikatakan Sally membuatnya sedikit takut. Meski respon Kennard terlihat tenang, tapi kadang dia mencemaskan ketenangam itu. Ada hal-hal yang di luar kendali. Kadang segalanya menjadi kacau saat kita menjadi terlalu percaya diri.


Kennard tersenyum. "Kau mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja aku khawatir."


"Biasanya aku tak terlalu peduli. Selalu ada orang-orang atau sekelompok orang yang ingin menjatuhkan. Tapi kalau dengan menyelidikinya kau merasa tenang, aku akan menyelidikinya." Kennard berusaha meredakan kecemasan istrinya.


Walau merasa lega mendengar perkataan suaminya, Lisle masih merasakan ganjalan di hatinya. Mungkin itu karena masalah Bert. Besok setelah dari kampus dia berjanji akan bertemu dengan sepupunya itu. Tentunya setelah mengelabui orang-orang suaminya.


Sepanjang malam itu Lisle merasa gelisah. Tidurnya tidak nyenyak tapi dia berusaha untuk tetap memejamkan mata agar Kennard tidak curiga. Sepertinya lelaki itu mengira dia gelisah karena cerita Shopia. Meski berusaha terlihat biasa tetap saja Kennard menegurnya karena beberapa kali membolak-balikkan badan mencari posisi yang nyaman. Terakhir lelaki itu menarik Lisle ke pelukan agar bisa diam. Dia sendiri tidak akan bisa tidur nyenyak jika istrinya terus bergerak-gerak di sebelahnya. 


***


Lisle sempat ragu saat melangkahkan kakinya memasuki bangunan toko berlantai dua itu. Barnes Fashion. Bukan toko yang menjual pakaian mahal. Dulu Lisle pernah ke sini untuk membeli pakaian. Dia membeli satu dua untuk dipakai sehari-hari.


Tadi William yang mengantarnya seperti hendak protes dengan mengatakan bahwa Barnes hanya menjual barang-barang murahan. Tapi Lisle beralasan bahwa dia tidak ingin kelihatan menyolok saat pergi ke kampus dengan baju-baju bermerk. Dia hendak mencari pakaian murah yang lebih membuatnya nyaman menyembunyikan identitasnya.


Alangkah repotnya nyonya muda ini. Kenapa peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya? William bergumam dalam hati sambil mengatur posisi mobilnya di tempat parkir. Dia akan menunggu hingga nyonya muda selesai berbelanja.


Di dalam, pengunjung lumayan ramai. Beberapa pelayan bahkan kewalahan melayani pembeli. Lisle melihat-lihat di counter bagian pakaian wanita. Sesekali dia memilih, memantaskannya pada tubuh kemudian mengembalikannya lagi pada gantungan saat merasa kurang cocok. Pada akhirnya dia tampak menemukan tiga pakaian dan melangkah ke kamar pas yang terlindung sebuah pilar. 


Di dalam ruang kotak kecil itu, jantung Lisle berdebar kencang.  Dia menempatkan pakaian yang di bawanya pada gantungan lalu mengintip keluar dari celah tirai penutup. Gadis itu melihat sebuah pintu kecil yang disebutkan Bert dan menyelinap keluar dari kamar pas menuju ke sana.

__ADS_1


Lisle merasa sedikit aneh saat tak menemukan seorangpun di dekat pintu dan lorong kecil di baliknya. Setelah berjalan beberapa langkah, gadis itu menemukan sebuah pintu lain. Pintu keluar. Bergegas Lisle membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu. Begitu tiba di luar, Lisle melihat sebuah mobil abu-abu. Kaca jendela di bagian pengemudi tampak diturunkan. Bert melambai memberi tanda pada Lisle.


__ADS_2