Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 32. Ralph Menginterogasi


__ADS_3

Ralph terus memegang lengan Lisle hingga mereka tiba di antara rimbunan pohon besar. Tak akan ada yang menyadari keberadaan mereka di sana.


Lisle mencoba melepaskan pegangan lengan kokoh itu berulang kali tapi selalu gagal. Baru setelah beberapa saat ketika Ralph berhenti menyeret langkahnya, laki-laki itu melepaskan pegangannya dari tangan Lisle.


“A... ada apa?” Lisle menatap Ralph dengan bingung. Sedikit rona merah menghiasi pipinya yang halus. Dia berharap semoga tak ada yang melihat kejadian tadi ketika Ralph tiba-tiba menariknya. Dia bahkan secara refleks melihat sekeliling kalau-kalau ada yang memergoki mereka.


“Siapa yang kau cari?” Ralph mengerutkan alisnya ketika melihat mata gadis itu seperti mencari-cari seseorang di sekitar mereka.


Lisle tersadar dengan pertanyaan itu lantas mengembalikan perhatiannya pada lelaki di depannya. “Tidak ada.... Kenapa membawaku kemari?” tanyanya.


“Apa hubunganmu dengan tuan Kent?” Ralph langsung pada titik masalah. Dia sudah tidak sabar sejak tadi pagi, sejak Ray gagal menemukan hal yang ingin diketahui Ralph. Lelaki itu hanya mengatakan bahwa Lisle sempat terlihat bersama seorang lelaki tua bernama Aaron. Setelahnya berbagai pertanyaan berputar di benak Ralph.


Lisle tersedak air liurnya sendiri, sama sekali tak mengira akan mendapatkan pertanyaan itu. “A... apa maksudmu?” Lisle tidak tahu cara mengelak yang baik. Dia hanya balas bertanya.


“Aku tanya, apa hubunganmu dengan lelaki yang bernama Kennard Kent? Apa dia yang kau maksud sebagai pacar?” Mata Ralph menyipit. Dilihatnya wajah gadis itu menjadi pucat.


“Kau... bagaimana kau tahu? Kau menyelidikiku?” Lisle mundur selangkah ketika dirasakannya tatapan tajam Ralph begitu menusuk.


Tak ada seorang pun yang boleh tahu. Seharusnya tak ada yang tahu. Tuan Kent telah berjanji untuk menutupi hubungan hina ini. Bagaimana lelaki ini bisa dengan mudah mengetahuinya jika bukan dari hasil menyelidiki. Lisle bahkan baru kembali kuliah tiga hari dan hubungan mereka telah diketahui seseorang.


“Kau bilang kau punya pacar. Aku tak percaya. Jadi aku menyelidikinya.” Ralph merasa kasihan dengan gadis di depannya. Dia pernah mendengar jika tuan Kent tak suka gadis-gadis yang menjadi terlalu percaya diri setelah dekat dengannya.


Lisle tak bisa berkata-kata. Dia terlihat sangat menyedihkan di mata Ralph. Mata gadis itu kini bahkan mulai mengembun.


“Bagaimana kau bisa bersamanya? Katakan padaku. Ini tidak seperti yang kukira bukan? Aku tahu kau tidak seperti gadis-gadis murahan itu.” Ralph mencecar dengan banyak pertanyaan yang tak satu pun  dijawab oleh Lisle.


Dan bagaimana dengan lelaki tua bernama Aaron itu? Ray mengatakan jika lelaki itu menghilang setelah sempat terlihat bersama Lisle. Rasanya kepala Ralph seperti mau meledak memikirkannya. Apakah gadis ini tak sepolos tampaknya seperti perkiraan Aland?

__ADS_1


“Aku... aku....” Lisle terbata-bata. “Apa urusanmu? Itu semua tidak ada hubungannya denganmu?!”


Gadis itu mengangkat wajahnya dengan mata berair.  Suaranya gemetar oleh perasaan marah, sedih dan juga malu. Ya, apa hubungannya dengan lelaki ini? Dia bukan siapa-siapa Lisle. Ralph terlihat marah tapi ini sama sekali bukan urusannya.


“Aku menyukaimu. Kau dengar, aku menyukaimu. Karenanya ini menjadi urusanku!” Ralph hampir berteriak mengatakannya.


Wajah Lisle dipenuhi keterkejutan yang luar biasa. Ralph menyukainya? Rasanya tanah yang dipijaknya bergoyang.


‘Kudengar ada seseorang yang menyukaimu di kampus.’ Lisle teringat kata-kata Kennard tadi malam. Dia mengeleng kuat mencoba mengusir rasa pening yang tiba-tiba.


“Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu. Lisle, kalau kau punya  masalah, kau bisa katakan padaku. Aku akan membantumu. Percayalah....” Suara Ralph melembut. Dia  bermaksud mendekati gadis itu tapi Lisle malah melebarkan jarak di antara mereka.


Terlambat, Lisle mengeluh dalam hati. Semuanya sudah menjadi seperti ini. Kalau dia punya seseorang seperti Ralph, ceritanya tentu akan sedikit berbeda.


“Tidak ada yang perlu kau bantu. Aku... aku baik-baik saja....” Suara Lisle terdengar lemah. Selain beberapa hal buruk, segalanya memang terlihat baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikeluhkan.


“Aku tahu!” Lisle menjawab cepat. Sedikit lebih keras. Sebelumnya dia memang tidak tahu tapi kemudian dia cukup mengenalnya setelah beberapa saat di sisinya.


Ralph menggeleng. “Apa kau membaca dari internet? Atau mendengarnya dari Celine? Kau tidak sungguh-sungguh mengenalnya, Lisle. Hidupnya lebih gelap dari yang kau kira. Tinggalkan dia. Lebih cepat lebih baik.”


“Tidak. Aku tidak bisa....” Lisle menyusut sudut matanya.


“Kenapa? Apa yang sudah dilakukannya untuk membuatmu tinggal? Kau berhutang padanya? Aku bisa membayarkan untukmu.” Dalam hatinya Ralph tak yakin semudah itu menyuruh Lisle pergi dari sisi tuan Kent.


“Aku harus pulang sekarang....” Lisle tak menghiraukan perkataan Ralph barusan. Dia beranjak dari tempatnya berdiri bermaksud pergi.


“Pulang ke mana? Ke rumah lelaki itu?” sindir Ralph. Dia kecewa dengan reaksi Lisle.

__ADS_1


“Sekali lagi, maaf, ini benar-benar bukan urusanmu, Ralph.” Setelahnya Lisle bergegas pergi dari tempat itu. Semuanya terlalu tak bisa dimengerti oleh Lisle. Dia ingin segera pergi dari sana dan pulang ke mana pun ke tempat dia bisa memejamkan mata dan melupakan semuanya meski sejenak.


Ralph memandangi kepergian Lisle dengan perasaan tak berdaya. Jika gadis itu meminta bantuannya, dia akan melakukan apa pun asal bisa melepaskan Lisle dari masalah. Meskipun dia tahu menghadapi tuan Kent bukanlah hal yang mudah. Tapi Lisle bahkan tak ingin bercerita. Dia juga mengabaikan perasaan suka Ralph padanya.


Sementara itu Lisle sudah tiba di pintu belakang kampus. Dia melihat mobil yang biasa menjemputnya sudah ada di sana. Bergegas Lisle masuk dan menutup pintu. Airmatanya masih terlihat membasahi sebagian pipi halusnya. Dia sempat melihat kalau William sang sopir memperhatikannya dari kaca spion.


“Nona?” William ragu untuk bertanya.


“Aku tidak apa-apa. Tolong jangan beritahu tuan kalau kau melihat aku menangis,” ujar Lisle dengan suara serak. Perlahan dia menyusut airmatanya yang seperti tak henti mengalir. Dia tak berharap William akan mengadu pada Kennard. Masalahnya akan semakin rumit.


“Tentu, Nona,” sahut William disertai anggukan. “Tapi sebaiknya Nona tidak pulang dulu dengan wajah seperti itu. Thomas pasti akan ribut dan dia pasti tidak bisa dicegah untuk memberitahu tuan.”


Mata Lisle memang terlihat merah dan bengkak. Tampak jelas kalau dia habis menangis.


“Mungkin Nona ingin pergi ke suatu tempat lebih dulu?” William mengusulkan.


Setelah berpikir sejenak, Lisle akhirnya memutuskan, “Aku ingin ke apartemenku dulu. Aku bisa mengambil barang-barangku sekalian.”


William mengangguk. “Baik, Nona,” ujarnya sambil mulai menjalankan mobil.


Sementara itu di sebuah sudut kampus yang tak terlihat, seseorang telah menyaksikan saat Lisle bersama Ralph hingga Lisle pergi meninggalkan kampus. Seseorang itu memandang Lisle dengan mata dipenuhi kebencian dan rasa cemburu.


 ------------------


Hallo readers....! Minta saran dong. Perlu ngga sih bab-bab berikutnya dimunculin seorang cewek lain dari masa lalu Kennard, seorang cewek yang pernah sangat berarti bagi hidupnya. Cewek yang dulu ninggalin Kennard itu tiba-tiba balik lagi dan membuat Lisle cemburu. Hm, gimana jadinya klo Lisle cemburu, ya? 🤔🤔🤔


Ngga bosan-bosannya author ucapkan terima kasih banyak sudah memilih novel ini sebagai bacaan. Semoga bisa menghibur semuanya. Makasih juga yang sudah kasih like , komen, saran, vote dan hadiahnya. Kalian membuat author makin bersemangat lagi.

__ADS_1


Salaaaam 🥰🥰🥰


__ADS_2