Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 75. Keinginan Lisle


__ADS_3

"Kau terlihat sangat takut dengan tuan Kent." Sally menatap Shopia dari balik kaca dengan pandangan menuduh.


"Apa maksudmu? Kau sendiri apa kau tidak takut? Aku yakin, kau ada di sini juga karena campur tangan tuan Kent." Shopia membalas dengan sengit.


"Karenanya aku membencinya. Aku menyimpan dendam padanya. Seseorang pernah ke sini dan menceritakan beberapa hal menakutkan yang sudah dilakukan tuan Kent pada beberapa orang yang kini menjadi musuhnya. Mereka mengajakku untuk bersama-sama membalas dendam. Hanya sebuah peran kecil. Tapi itu akan sangat membantu untuk kehancuran iblis itu." Sally berbicara nyaris berbisik. 


Penjaga di dekat pintu tampak sesekali melirik dua gadis yang tengah serius membicarakan sesuatu. Lalu dia mulai melihat jam di tangannya, menghitung lama waktu berkunjung.


Shopia tampak tertarik. Pembalasan memang sangat manis. Meski sebenarnya dia tidak setuju dengan kehancuran tuan Kent. Lislelah targetnya. Dia berharap suatu saat entah dengan perantaraan apa lelaki yang sangat berpengaruh itu akan tertarik padanya.


"Apa rencananya?" tanya Shopia hati-hati.


"Aku tidak tahu. Tapi waktunya akan segera tiba. Seseorang akan datang dengan sebuah tugas kematian."


Sesaat Shopia mengira otak gadis di sebelah sana telah terganggu. Mungkin seseorang telah membenturkan kepalanya ke tembok sel yang dingin. Tapi mata gadis itu terlihat cukup waras. Bukan menyiratkan pandangan seorang yang gila.


Kalimat tentang kematian membuat ngilu perasaan Shopia. Ini seperti sebuah persekongkolan dengan resiko tingkat tinggi. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan ayahnya bila mendengar ini.


Karenanya Shopia buru-buru mengakhiri pembicaraan yang mulai membuatnya takut itu. "Aku harap gadis itu segera mendapatkan balasannya. Karena semuanya dimulai dengan kedatangannya di kampus, di kota ini. Aku hanya tidak ingin melihatnya lagi."


"Percayalah. Kita semua tidak akan melihatnya lagi. Waktunya akan segera tiba…." Suara Sally terputus dari pendengaran Shopia. Gadis itu telah meletakkan gagang telepon ke tempat semula dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Ada berbagai ide baru memenuhi benaknya.


Tidak! Shopia menggeleng untuk yang ke sekian kalinya dari balik kemudinya. Sepanjang perjalanan dia sibuk memikirkan kata-kata Sally barusan. Gadis itu berbicara seperti orang sinting. Dan persekongkolan ini terlalu menakutkan bagi Shopia. Bukan sesuatu yang bisa ditanganinya sendiri. Dia mempertimbangkan untuk memberitahu ayahnya nanti.


*** 


Lisle mendorong pintu ruang kerja suaminya, mendapati lelaki itu tengah tenggelam dalam konsentrasinya pada layar komputer di depannya. Dia bahkan tidak mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang.


Dengan setengah berjingkat, gadis itu melangkah mendekati meja kerja. Baru setengah jalan, dia sudah ditegur. 

__ADS_1


"Apa kau pikir dengan berjalan seperti anak kucing begitu aku tidak akan terganggu?" ujar Kennard. Dia masih tak mengalihkan tatapannya pada layar.


Lisle cemberut. Kini dia berjalan setengah mengentakkan kakinya meski tetap saja tak menimbulkan suara karena lantai ruangan ditutupi karpet tebal berbulu. Gadis itu menuju sebuah sofa dan bermaksud duduk di sana. 


"Kemarilah." Kennard mengetikkan sesuatu sebelum kemudian mengangkat wajahnya. Dia menemukan wajah istrinya yang tampak tidak bersemangat.


"Ayo!" ujar Kennard lagi ketika Lisle tidak juga bergerak dari tempatnya.


Lisle akhirnya bangkit. Dengan enggan mendekat.


Kennard meraih pinggang kecil istrinya, meletakkan gadis itu di pangkuannya. "Ada apa?" ujarnya di telinga Lisle. "Tidak bisa tidur?"


Napas Kennard menggelitik telinga Lisle. Gadis itu menjauhkan wajahnya sedikit. Dia tidak tertarik menanggapi godaan suaminya.


"Kau yakin Shopia dan keluarganya tidak akan menuntut? Aku sudah membuatnya malu. Perasaanku sangat tidak nyaman sekarang ini." Lisle mengemukakan kegelisahannya.


"Itu bukan masalah besar. Kau tak perlu melakukan apapun. Mereka tidak akan berani macam-macam." Kennard berusaha meyakinkan istrinya. Jari-jarinya yang panjang menyentuh rambut gelap Lisle.


"Tidak secara langsung. Tapi sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membiarkan mereka tahu bahwa kau memiliki hubungan yang istimewa denganku. Tentu saja mereka hanya akan menduga-duga. Tapi tetap saja mereka tidak akan berani bertindak sembarangan." Kennard menunduk, mencium kening Lisle.


"Para penguntit itu?" Lisle mendorong Kennard, melonggarkan pelukan yang terasa membuatnya sedikit sulit bernapas.


"Hmm." Kennard menanggapi pertanyaan istrinya dengan gumaman. Penolakan Lisle membangkitkan keinginannya. "Jam segini belum bisa tidur. Apa kita perlu berolahraga sebentar?"  


Lisle mendelik sengit. Dia bahkan merasa belum pulih dari efek serangan Kennard semalam. Tergesa dia turun dari pangkuan nyaman itu. Udara baginya terasa gerah. 


"Kurasa aku sudah mengantuk," ujar Lisle sembari bergegas pergi dari ruang kerja itu. Di pintu keluar, dia berhenti tiba-tiba. Teringat sesuatu yang tadi siang sempat melintas di kepalanya. "Menurutmu, apa aku bisa berlatih menembak dan semacamnya. Aku ingin belajar melindungi diri sendiri."


Kennard sedikit terkejut mendengar keinginan istrinya. Lisle tidak kelihatan sebagai gadis yang cukup berani terlibat dalam hal-hal berbau kekerasan. Tapi lelaki itu segera menyadari sesuatu. Meski dia sudah berupaya memberikan perlindungan terbaik, Kennard tahu ada saatnya dia akan kehilangan kendali pada keselamatan istrinya.

__ADS_1


Jari-jari Kennard mengetuk meja perlahan sembari berpikir sejenak. Dia tidak bisa membayangkan jari-jari halus Lisle bersentuhan dengan senjata mematikan itu. Namun memikirkan lebih jauh, dia juga tidak akan mampu membayangkan jika sesuatu terjadi suatu hari karena istrinya tidak memiliki sedikitpun kemampuan menjaga dirinya sendiri. 


"Kenapa tidak? Tapi apa kau yakin ingin mempelajarinya?" Kennard mencari kesungguhan pada wajah cantik yang masih berdiri di ambang pintu.


"Aku sangat yakin." Lisle mengangguk kuat-kuat. Tapi kemudian dia berujar juga. "Tentu saja kau harus maklum kalau awalnya aku akan sedikit takut dalam berlatih. Kau tahu, aku agak trauma setelah beberapa kejadian sebelumnya."


"Kau tidak takut terluka? Pelatihan fisik yang sederhana juga akan menguras banyak tenaga. Aku tidak ingin kau pingsan hanya setelah berlari beberapa kilometer." Kennard memberi sedikit gambaran tentang pelatihan yang akan didapatkan Lisle.


Lisle terdiam setelah mendengar penjelasan Kennard. Raut wajahnya tampak berubah-ubah. 


Kennard tertawa ketika dilihatnya Lislemenjadi ragu-ragu. "Pikirkanlah lagi. Kalau kau yakin menginginkannya, aku akan merubah tujuan bulan madu kita."


"Eh, maksudnya?"


"Ada sebuah pulau kecil tempat orang-orangku berlatih. Fasilitas di sana sangat lengkap. Tempatnya juga tidak kalah indahnya dengan tujuan kita sebelumnya. Walau mungkin sedikit lebih ramai. Tapi tak masalah. Kita bisa sekalian berbulan madu sekaligus berlatih." Kennard memberitahu Lisle rencananya. 


Sebenarnya Lisle agak malu dengan rencana bulan madu itu, tapi dia tidak membantah ide Kennard. Di rumah atau di manapun tetap saja dia yang teraniaya.


"Baiklah. Aku akan memikirkannya lagi," ujar Lisle sambil menarik pegangan pintu. Dia membayangkan banyak hal di kepalanya.


Bagaimana rasanya berlatih menembak dengan senjata asli? Dia pernah bersentuhan dengan benda dingin itu saat senjata itu ditodongkan di kepalanya. Seketika bulu kuduknya meremang.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2