Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 45. Hari Pertama di Diamond Group


__ADS_3

Meski masih kesal dengan kejadian kemaren, pagi itu Lisle bangun dengan bersemangat. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya karena akan mulai bekerja di Diamond Group. Berkas lamaran yang sudah disiapkan, disimpannya baik-baik agar tidak menarik perhatian Kennard untuk memeriksanya.


Beberapa kali Lisle mencuri pandang pada lelaki dengan setelan jas hitam yang tampak luar biasa itu. Kennard sedang menikmati sarapannya dengan gaya seorang kaisar. Beberapa pelayan tampak melayani di sekitar meja makan.


Hari ini Lisle merasa suasana sarapan terlihat lebih ramai. Biasanya hanya ada Thomas dan seorang pelayan lain. Pagi ini ada dua orang pelayan lagi yang hilir mudik di ruang makan; seorang wanita berusia empat puluhan dan seorang yang lebih muda lagi.


Mereka menghabiskan sarapan tanpa pembicaraan berarti. Kennard mengatakan jika Lisle tidak suka dengan pekerjaan baru itu nantinya atau mendapatkan masalah, lebih baik berhenti saja.


“Kau tidak akan kelaparan meskipun tidak bekerja. Lagipula aku tidak suka jika mendengar ada yang mengganggu gadisku. Kau tidak ingin seseorang mendapat masalah gara-gara kau ‘kan?” Kennard meletakkan cangkir kopinya di meja. Waktu dia mengangkat pandangan pada Lisle, gadis itu tengah terbatuk.


Gadisnya? Lisle meringis setelah tersedak begitu mendengar ucapan Kennard. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Lisle tidak ingin berbantah karena Kennard sangat licik bila berbicara. Lelaki itu pandai memutarbalikkan kata-kata.


“William akan mengantar dan menjemputmu kuliah dan bekerja. Jangan berjalan kaki dari halte,” sambung Kennard lagi. Perasaan senang Lisle tidak luput dari perhatiannya. Kennard curiga sebuah masalah akan terjadi lagi tapi memutuskan untuk tidak melakukan apa pun.


“Baik.” Lisle mengangguk patuh. Apa William mengadu kalau dia kadang minta diturunkan di depan halte? Lisle bertanya-tanya di dalam hati.


***


Kuliahnya hari ini menjadi sangat membosankan. Lisle juga tidak bertemu Celine karena gadis itu pulang ke kota kecil di sebelah timur Black Mountain. Ibu Celine tiba-tiba sakit hingga gadis itu ijin tidak kuliah. Hal itu mengingatkan Lisle pada bibi Annie yang dulu dikatakan sakit oleh Bert hingga dia terburu-buru pulang ke Glassville.

__ADS_1


William ternyata benar-benar menjemputnya. Sopir itu menunggu dengan mobilnya di gerbang belakang. Lisle bahkan sempat berpikir kalau lelaki itu tidak beranjak pergi pagi tadi setelah mengantarnya. Mungkin William terus menungguinya di sana hingga Lisle pulang.


Bagaimana ini? Pikir Lisle. Tidak mungkin dia meminta diantar ke Diamond Group.


“Antarkan aku ke Jill & Jo.” Lisle menyebutkan sebuah nama gedung yang berdekatan dengan Diamond Group. Jaraknya hanya beberapa puluh meter. Lagipula cuma bangunan itu yang sungguh-sungguh dia ingat karena desainnya yang unik. Sepertinya sebuah perusahaan konstruksi  karena ada embel-embel construction di belakang nama perusahaannya. Jill & Jo Construction.


“Baik, Nona.” William menyahut dengan sopan.


Hanya perlu sepuluh menit untuk sampai ke tempat dimaksud. Lisle merasa berdebar saat melangkah turun dari mobil.


“Terima kasih, William. Aku akan menelepon kalau sudah waktunya pulang.” Lisle kuatir William akan terus tinggal di sana dan menuggguinya selama jam kerja. Bagaimana dia bisa berjalan ke Diamond Group di bawah pengawasan sopir itu?


Untungnya William tidak membantah. Setelah mengangguk hormat, lelaki itu menjalankan mobilnya meninggalkan Lisle yang masih berdiri di trotoar. Gadis itu bergegas berjalan menuju kantor Diamond Group. Dia tak ingin terlambat tiba di hari pertamanya bekerja.


Lisle diberikan seragam terusan berwarna biru muda dengan logo Diamond. Ukurannya sangat pas. Hanya menurut Lisle bagian bawahnya terlalu pendek hingga beberapa senti paha dan kakinya terekspos. Manajer wanita yang semula kaku itu tanpa sadar langsung memuji Lisle ketika gadis itu kembali dari ruang ganti untuk diberi pengarahan tentang tugas-tugasnya.


Hari itu Lisle diberi setumpuk dokumen untuk diantarkan ke beberapa departemen di lantai yang berbeda.


Ternyata kantor Diamond Group tidaklah sesederhana dalam pikiran Lisle dan pekerjaan mengantarkan dokumen juga bukan hal yang mudah. Beberapa kali gadis itu menemukan lantai yang salah dan departemen yang keliru. Sepatu berhak lima senti itu pun sudah membuat kakinya sakit di akhir jam kerjanya. Dan yang membuatnya mulai tidak nyaman adalah beberapa karyawan lelaki yang mencoba menggoda dan meminta nomor ponselnya. Dia mulai memikirkan kata-kata Kennard tadi pagi.

__ADS_1


“Apa kau sudah punya pacar?” tanya seseorang di departemen perencanaan waktu Lisle mengantarkan dokumen ke sana. Lelaki bertampang lumayan itu langsung menanyakannya setelah mengenalkan diri sebagai Dean. Dia terlihat sangat percaya diri.


“Sudah.” Lisle menjawab pendek. Sejak kejadian dengan Ralph, dia tidak ragu lagi menjawab seperti itu jika ada yang bertanya. Entah tuan Kent menyebut Lisle sebagai gadisnya atau tidak, Lisle tidak ingin mengambil resiko seseorang menjadi korban lagi.


Beberapa karyawan yang sempat mendengar percakapan itu terlihat seperti menahan tawa. Dean memang terkenal sebagai playboynya departemen perencanaan. Dia terlibat kencan singkat dengan beberapa karyawan wanita di sana. Lelaki itu juga merayu gadis-gadis yang baru bekerja dengan menawarkan tumpangan pulang menggunakan mobilnya yang terlihat mewah. Sayang, kali ini dia kena batunya.


“Apa dia juga bekerja di sini?” Dean bertanya lagi. Sebenarnya hanya basa-basi karena Lisle tampak serius mengemasi beberapa dokumen yang tersisa dengan meletakkannya sementara di meja Dean dan mengaturnya kembali.


Lisle menghentikan gerakan tangannya seperti tengah berpikir kemudian mengangguk. “Iya. Dia juga bekerja di sini....” Jadi jangan terlalu dekat denganku karena dia tak akan suka, sambung Lisle di dalam hati.


“Siapa? Mungkin aku mengenalnya. Aku sudah lama bekerja di sini.” Dean menjadi penasaran. Lisle adalah gadis paling cantik yang pernah dilihatnya di tempat ini, bahkan lebih cantik dari gadis-gadis yang dia kencani sebelumnya. Siapa lelaki beruntung yang menjadi pacarnya? Konon lelaki itu juga bekerja di Diamond Group, tidak mungkin pacarnya seorang dengan jabatan tinggi karena Lisle cuma karyawan part time dengan gaji rendah. Jika pacarnya memiliki cukup uang tentu gadis ini tidak akan mau bersusah payah bekerja mengantarkan dokumen dari satu lantai ke lantai yang lain.


“Kau tidak akan suka mendengarnya,” ujar Lisle sambil tersenyum dan bergegas meninggalkan ruangan itu. Dia bertekad menghindari lelaki itu lain kali.


Namun trik ‘sudah memiliki pacar’ itu tidak berlaku bagi seorang manajer bernama John Blackton, begitu dia mengenalkan namanya pada Lisle. Dia memberi Lisle kartu namanya yang mencantumkan jabatan manajer humas dan nomor teleponnya. John bahkan tidak bertanya apakah Lisle sudah memiliki pacar atau belum saat mengajak makan malam.


Tentu saja Lisle berusaha menolaknya.


“Maaf, Tuan John. Aku tidak bisa. Pacarku tidak akan suka kalau aku makan malam berduaan dengan lelaki lain.” Lisle menekankan kata ‘pacarku’ agar lelaki itu tidak mengganggunya lagi.

__ADS_1


Namun John memang berbeda. Lelaki menjelang empat puluh tahun itu malah tertawa dan dengan ringan berkata, “Kau bisa mengajak pacarmu sekalian. Aku tak keberatan kita makan bertiga.”


Rasanya Lisle ingin tuan Kent berdiri di sana dan mendengar langsung seorang manajernya mengundang lelaki itu makan malam.


__ADS_2