Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 23. Sun Imperial


__ADS_3

“Siapa yang akan putus?” Kennard yang baru masuk ke dapur menghampiri keduanya dan menarik lengan Lisle, menghentikan gerakannya yang hendak mencuci piring. “Biar David yang membereskannya. Kau ikut aku. Sebentar lagi kita akan tiba di Sun Imperial.”


Lisle memandang pada David seakan merasa bersalah. Seorang tuan muda mencuci piring?


“It’s Oke.” David seperti mengerti jalan pikiran Lisle. Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti babu oleh Kennard.


“Maaf.” Ujar Lisle lalu bergegas mengikuti langkah Kennard keluar ruangan.


***


Sun Imperial adalah sebuah kota pelabuhan yang ramai sekaligus tempat pariwisata yang mencengangkan. Kota dengan pantai yang indah dan  sebuah teluk di sisi lainnya membuat orang-orang datang dari pelosok negeri. Segala macam bisnis berkembang dengan subur. Lisle tak menyangka bisa melihat dan menginjakkan kakinya di kota ini.


Mereka berjalan-jalan di pantai pada siang yang cerah. Lisle merasa sangat senang hingga tak menyadari jika Kennard terus memperhatikannya. Dia berlari-lari seperti anak kecil sambil menenteng sepatunya sepanjang pantai berpasir putih. Bermain-main di air laut yang dangkal hingga ujung-ujung gaunnya basah. Lisle seperti lupa dengan siapa dia datang ke sana hari ini.


Suatu saat dia tiba-tiba teringat. Lisle berhenti dan berbalik pada Kennard. Lelaki itu tampak berjalan dengan santai sambil kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Kemeja putih lengan pendeknya berkibar-kibar tertiup angin laut.


Pemandangan itu membuat Lisle mengeluh. Beberapa saat tadi dia lupa bahwa orang ini lah yang sudah membawanya pada pantai indah ini. Dia tidak jadi menanyakan sesuatu tapi kembali melanjutkan langkah dengan pandangan tertunduk, tak lagi segembira tadi. Ada kesedihan yang tiba-tiba menyeruak. Dia teringat posisinya saat ini, seseorang yang dibeli.


“Hey!” Di depan sana dari kejauhan, di antara sekelompok orang, sebuah suara memanggil. Ada tangan yang melambai pada mereka. Saat Lisle memperhatikan lebih dekat, ternyata yang memanggil adalah David.


David berlari menghampiri mereka. “Kalian kemana saja? Sudah hampir makan siang. Bagaimana kalau kita mencari sebuah restoran di dekat sini.”


Lalu seorang gadis berbikini biru mendekat. Lekuk tubuhnya indah. Berambut pirang dan bermata biru. Begitu sampai, dia langsung memeluk lengan David. “Sayang, siapa lelaki tampan dan gadis  cantik ini. Apa mereka temanmu?”


Tapi Kennard tampaknya tidak menyukai situasi itu. Dia meraih lengan Lisle dan berujar dingin, “Kalian pergi saja duluan. Kami punya tujuan sendiri. Ayo, sayang!”


David hanya tersenyum masam mendengarnya. Si gadis bermata biru di sebelahnya masih tak sadar kalau dia lah yang membangkitkan rasa tidak suka Kennard. Matanya tak berkedip mengawasi sosok lelaki tinggi yang beranjak meninggalkan mereka. Meski tangannya menggandeng si tuan muda tampan, tapi dia pikir Kennard lebih menawan.

__ADS_1


Lisle sempat berpaling ke belakang, merasa tak enak meninggalkan dua orang itu. David yang melihatnya melambaikan tangan dan tersenyum. Di belakang sana ternyata Nathan dan Benyamin juga sedang menggandeng dua gadis asing. Lisle menoleh pada Kennard yang melangkah cepat  di sampingnya.


“Kenapa kita tidak pergi bersama mereka saja?” tanyanya.


“Kau menyukai gadis-gadis itu? Kau ingin berkumpul dengan mereka?” Kennard malah balik bertanya.


“Tidak. Bukan begitu. Hanya tidak enak saja. Mereka ‘kan teman-temanmu.”


“Ada toko souvenir di sebelah sana. Apa kau ingin melihat-lihat?” Kennard mengalihkan pembicaraan.


Di dekat sebuah restoran yang ramai, beberapa toko berjajar menjual berbagai souvenir. Kennard mengajak Lisle masuk ke sebuah toko yang paling besar.


Di dalam tidak terlalu ramai. Tapi barang-barangnya memenuhi rak dan etalase. Bahkan dinding toko tertutupi aneka pernak-pernik unik. Lislet terlihat takjub  saat melongok pada setiap etalase. Lehernya terasa pegal karena tak henti bergerak ke sekeliling ruangan. Ada aneka macam tas, sepatu, topi, aksesoris dan benda-benda lainnya yang dibuat tangan-tangan terampil.


“Ambillah yang kau suka,” ujar Kennard waktu gadis itu tampak hanya melihat-lihat tanpa berani menyentuh.


Kennard mengangguk. “Kau mau yang mana?” tanyanya sambil menunduk pada etalase yang memamerkan gelang-gelang dari batu.


“Aku ingin membelikan untuk Celine dan Daisy. Aku ambil tiga. Tidak mahal, kok!” Lisle menunjuk sebuah model gelang.


Alis Kennard berkerut. Tidak saja karena jenis barang yang diinginkan Lisle tapi juga karena gadis itu menyinggung soal harga. Sejak kapan seorang Kennard peduli pada harga. Apalagi untuk benda sekecil ini. Tapi Kennard tak mengatakan apa-apa soal itu.


“Ada yang lain?” Ujar Kennard sambil memberi isyarat pada pelayan toko mengambilkan barang yang dimaksud.


Lisle menggeleng. “Itu saja.”


Kennard mengambil sebuah topi berpinggiran lebar dan memasangkannya di kepala Lisle dengan sembarang. “Yang ini juga.” Ujarnya sembari memberikan kartunya pada pelayan untuk pembayaran.

__ADS_1


Setelah menerima barang yang dibeli, Kennard mengajak Lisle ke restoran di sebelah toko. Saat menunggu pesanan, Lisle tampak membuka bungkusan barang yang tadi dibeli. Diambilnya salah satu gelang dan mencoba memakainya di pergelangan tangannya. Kennard memperhatikan tingkah Lisle yang tampak sangat senang dengan benda sesederhana itu. Waktu Lisle menyadari tatapan Kennard, dia tersipu.


“Ini sangat cantik,” ujarnya pelan. Wajahnya menunduk memperhatikan gelang berwarna-warni itu.


“Iya. Sangat cantik.” Kennard mengiyakan untuk obyek yang lain di depannya. Wajah Lisle yang berseri-seri dengan semburat merah itu lebih mengagumkan dari perhiasan termahal sekali pun.


Lisle mengangkat wajahnya. “Aku- akan membayarnya nanti.”


Ada bayang gelap di wajah Kennard. Gadis ini sepolos itukah? Apa dia pikir seorang tuan Kent begitu perhitungan?


***


Mereka semua kembali ke kapal setelah makan malam di sebuah restoran yang menyajikan aneka hidangan laut. Itu adalah makan malam yang penuh kehebohan. Tiga teman Kennard mengajak gadis-gadis yang dilihat Lisle tadi siang. Kennard tampak tak banyak bicara. Dia hanya sesekali mengatakan sesuatu pada Lisle yang duduk di sampingnya dan tak menanggapi para gadis asing yang sesekali mengajaknya bicara.


Lisle sendiri merasa canggung dengan suasana di sekitar meja makan. Nathan sesekali mendekatkan wajah pada gadis di sebelahnya. Saling berbisik. David paling sering melontarkan kata-kata rayuan yang membuat lawan bicaranya tersipu. Tapi Benyamin lebih terlihat tenang. Gadis di sebelahnya lah yang tak bisa diam. Dia kerap bicara sambil mencoba menyentuh apa saja yang bisa dijangkaunya dari tubuh kekar lelaki itu.


Kennard dapat merasakan kalau Lisle tidak menyukai pemandangan itu. “Kalau sudah selesai makannya kita langsung pulang saja.”


Lisle mengangguk. Dia juga tidak terlalu menanggapi bila salah satu dari gadis itu mencoba berbicara dengannya. Hanya menyahut sesekali.


Tiga pasangan itu masih asyik bercengkerama ketika Kennard  menyela. “Kami pulang duluan. Kalian bersenang-senanglah.” Ujarnya dengan senyum dipenuhi kelicikan.


David sempat merasakan ada sesuatu yang tidak beres akan menimpa mereka tapi karena si mata biru terus-menerus menggosok-gosokkan diri ke tubuh lelaki itu seperti kucing yang manja, dia jadi tidak terlalu fokus. Jadi dia hanya memandangi kepergian keduanya sekilas dengan pikiran kosong.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2